Yang Dimaksud Tanam Padi Cara Lama

Pada pertengahan abad ke-20, turunan sudah mencapai kecukupan teknologi untuk kali pertama menyingkir ruang angkasa Bumi dan menjelajahi bentangan langit.

Teknologi
adalah keseluruhan sarana bagi menyempatkan produk-komoditas yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan sukma sosok.[1]

Penggunaan teknologi oleh manusia dimulai dengan pengubahan sumber pokok alam menjadi alat-alat sederhana. Rakitan prasejarah tentang kemampuan memecahkan api telah menaikkan kesiapan perigi-sumber hutan, sedangkan invensi kereta angin sudah membantu manusia dalam bepergian dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia lakukan berinteraksi secara objektif dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan bikin maksud damai. Pengembangan senjata pemusnah yang semakin hebat sudah berlangsung sepanjang album dari pentungan sampai senjata nuklir.

Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak kaidah. Di banyak kerumunan masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tak dikehendaki yang disebut pencemar dan menguras mata air daya liwa, merugikan, dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berjenis-jenis keberagaman penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru sering kali mencuatkan tanya-pertanyaan etika baru. Sebagai pola: meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas cucu adam, satu istilah yang pada awalnya sekadar menyangkut permesinan. Contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional.

Bahwa situasi ini membahayakan mileu dan mengucilkan manusia. Penyokong reseptif-tanggap seperti transhumanisme dan tekno-progresivisme memandang proses teknologi yang terus-menerus sebagai hal yang menguntungkan buat mahajana dan kondisi insan. Tentu cuma, paling sedikit hingga ketika ini diyakini bahwa pengembangan teknologi hanya minus bagi umat manusia, tetapi kajian-kajian ilmiah terbaru mengisyaratkan bahwa primata lainnya dan peguyuban dolfin tertentu telah berekspansi perkakas-alat sederhana dan belajar kerjakan mewariskan pengetahuan mereka kepada pertalian keluarga mereka.

Definisi dan penggunaan

[sunting
|
sunting sendang]

Penemuan mesin cetak sudah lalu memungkinkan para intelektual dan politisi mengomunikasikan gagasan-gagasan mereka secara kian mudah, pusat pembuka untuk Abad Pencerahan; sebuah model teknologi perumpamaan kekuatan budaya.

Penggunaan istilah ‘teknologi’ (bahasa Inggris:
technology) telah berubah secara signifikan lebih bersumber 200 waktu terakhir. Sebelum abad ke-20, istilah ini tidaklah lazim n domestik bahasa Inggris, dan biasanya merujuk sreg penggambaran ataupun pengkajian seni terapan.[2]
Istilah ini sering kali dihubungkan dengan pendidikan teknik, seperti di Institut Teknologi Massachusetts (didirikan lega tahun 1861).[3]
Istilah
technology
mulai menonjol pada abad ke-20 seiring dengan bergulirnya Distribusi Industri Kedua. Pengertian
technology
berubah pada permulaan abad ke-20 saat para ilmuwan sosial Amerika, dimulai oleh Thorstein Veblen, menerjemahkan gagasan-gagasan dari konsep Jerman, Technik, menjadi
technology. Kerumahtanggaan bahasa Jerman dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, perbedaan hadir di antara
Technik
dan
Technologie
yang saat itu apalagi nihil dalam bahasa Inggris, karena kedua istilah itu biasa diterjemahkan sebagai
technology.

Lega dasawarsa 1930-an,
technology
bukan hanya merujuk pada ‘pengkajian’ seni-seni pabrik, tetapi kembali pada seni-seni industri itu sendiri.[4]
Pada masa 1937, koteng sosiolog Amerika, Read Bain, menulis bahwa
technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, clothing, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them
(“teknologi membentangi semua alat, mesin, aparat, organ, senjata, perumahan, busana, alat pengangkut/pengganti dan pengomunikasi, dan keterampilan nan memungkinkan kita menghasilkan semua itu”).[5]

Definisi yang diajukan Bain masih lazim dipakai maka itu kaum terpelajar sebatas detik ini, terkhusus ilmuwan sosial. Tetapi ada juga definisi yang setara menonjolnya, yakni definisi teknologi bak sains terapan, khususnya di galangan para jauhari, dan insinyur, sungguhpun sebagian besar intelektual sosial nan mempelajari teknologi menolak definisi ini.[6]
Nan lebih baru, para kaum terasuh telah meminjam berpangkal para filsuf Eropa,
technique, untuk memperluas makna
technology
ke berbagai diversifikasi rajah nalar instrumental, seperti dalam karya Foucault tentang
techniques de soi, nan diterjemahkan sebagai
technologies of the self
atau
teknologi diri.

Kamus-kamus, dan para intelektual mutakadim memberikan bervariasi definisi. Kamus Merriam-Webster mengasihkan definisi “technology” seumpama
the practical application of knowledge especially in a particular area
(terapan praktis maklumat, khususnya dalam ruang lingkup tertentu) dan
a capability given by the practical application of knowledge
(kemampuan yang diberikan maka dari itu terapan praktis pengetahuan).[7]
Ursula Franklin, privat karyanya dari tahun 1989, ceramah “Real World of Technology”, menerimakan definisi tidak konsep ini; yakni
practice, the way we do things around here
(praktis, cara kita memperbuat ini semua di sekitaran sini).[8]
Istilah ini sering kali digunakan kerjakan mengimplikasikan satu lapangan teknologi tertentu, atau untuk merujuk teknologi tinggi atau sekadar elektronik pengguna, bukannya teknologi secara keseluruhan.[9]
Bernard Stiegler, privat
Technics and Time, 1, mendefinisikan
technology
kerumahtanggaan dua cara: sebagai
the pursuit of life by means other than life
(pencarian kehidupan, dalam artian lebih berusul sekadar hidup), dan sebagai
organized inorganic matter
(zat-zat anorganik yang tersusun rapi).[10]

Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tidak benda yang diciptakan secara terpadu melalui ragam, dan pemikiran untuk mengaras satu ponten. Kerumahtanggaan pemakaian ini, teknologi merujuk puas alat, dan mesin yang dapat digunakan kerjakan menyelesaikan masalah-masalah di dunia faktual. Kamu yakni istilah nan mencakupi banyak kejadian, dapat juga meliputi alat-alat terbelakang, seperti linggis alias sendok kayu, ataupun mesin-mesin yang jarang, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat, dan mesin tak perlu positif benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga tersurat ke dalam definisi teknologi ini.[11]

Prolog “teknologi” juga digunakan bagi merujuk sekumpulan teknik-teknik. Dalam konteks ini, ia merupakan peristiwa pengetahuan manusia saat ini tentang bagaimana pendirian bikin memadukan perigi-sumber, guna menghasilkan produk-produk yang dikehendaki, menyelesaikan penyakit, memenuhi kebutuhan, atau memuaskan kerinduan; dia menutupi metode teknis, keterampilan, proses, teknik, perangkat, dan bahan mentah. Ketika dipadukan dengan istilah lain, seperti “teknologi medis” atau “teknologi asing angkasa”, sira merujuk lega kejadian informasi, dan perangkat disiplin pengetahuan masing-masing. “Teknologi state-of-the-art” (teknologi termutakhir, refleks tercanggih) merujuk pada teknologi jenjang yang tersedia bakal kemanusiaan di sirep manapun.

Teknologi dapat dipandang ibarat kegiatan yang membuat ataupun mengubah kultur.[12]
Selain itu, teknologi adalah terapan matematika, sains, dan berbagai seni bagi fungsi hidup seperti yang dikenal saat ini. Sebuah konseptual modern yakni bangkitnya teknologi komunikasi, yang memperkecil rintangan bikin interaksi sesama manusia, dan ibarat balasannya, telah membantu bersalin sub-sub kebudayaan baru; bangkitnya budaya dunia internet yang berbasis pada perkembangan Internet dan komputer.[13]
Tidak semua teknologi memperbaiki budaya dalam cara yang fertil; teknologi dapat lagi membantu mempermudah penindasan strategi dan penolakan melalui alat seperti pistol atau senapan. Sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi memangsa mantra dan rekayasa, nan sendirisendiri memformalkan beberapa aspek kerja persisten teknologis.


Ilmu, kolusi, dan teknologi

[sunting
|
sunting sumber]

Perbedaan antara ilmu, persekongkolan dan teknologi tidaklah selalu jelas. Guna-guna adalah penyelidikan bernalar atau pengkajian fenomena ditujukan bikin menemukan prinsip-prinsip nan terpaku di antara unsur-unsur dunia fenomenal dengan membekerjakan teknik-teknik formal begitu juga metode ilmiah.[14]
Teknologi bukan mesti hasil hobatan sekadar maka itu karena teknologi harus menetapi persyaratan seperti utilitas, kebergunaan dan keselamatan.

Rekayasa ialah proses membidik tujuan semenjak perancangan dan pembuatan peralatan dan sistem buat memperkuda fenomena alam dalam konteks praktis bagi manusia, comar barangkali (tetapi tidak selalu) menggunakan hasil-hasil dan teknik-teknik semenjak ilmu. Pengembangan teknologi boleh dilukiskan pada banyak hening informasi, termasuk keterangan ilmiah, konspirasi, matematika, linguistika, dan album guna mencapai suatu hasil nan praktis.

Teknologi camar mungkin merupakan konsekuensi dari guna-guna, dan rekayasa—meskipun teknologi sebagai kegiatan turunan sering kali justru memandu kedua ranah tersebut. Misalnya, ilmu boleh mengkaji aliran elektron di dalam penghantar listrik, dengan menggunakan peralatan, dan pengetahuan nan sudah lalu terserah sebelumnya. Pengetahuan yang baru ditemukan ini kemudian dapat digunakan oleh para insinyur, dan teknisi kerjakan menciptakan peralatan, dan mesin-mesin baru, seperti semikonduktor, komputer, dan rajah-rang teknologi tingkat lanjur lainnya. Dalam mandu pandang sebagai halnya ini, para cendekiawan dan rekayasawan kedua-duanya dapat dipandang laksana “teknologi”, ketiga senyap ini berulangulang dapat dipandang ibarat satu bagi tujuan pendalaman dan teks.[15]

Hubungan pasti antara ilmu dan teknologi secara spesifik telah diperdebatkan oleh para ilmuwan, sejarawan dan pelaksana kebijakan puas penghujung abad ke-20, sebagiannya karena debat dapat mengabarkan pembiayaan hobatan asal dan ilmu terapan. Dalam kebangkitan setelah Perang Manjapada II, misalnya di Amerika Serikat terletak anggapan nan meluas bahwa teknologi hanyalah “ilmu terapan” dan untuk mendanai ilmu dasar yaitu dengan cara menuai hasil-hasil teknologi pada waktunya. Artikulasi filsafat ini dapat ditemukan secara eksplisit di dalam risalah yang ditulis Vannevar Bush mengenai kebijakan ilmu pascaperang, “
Science—The Endless Frontier
“. Komoditas bau kencur, industri plonco dan lebih banyak pelan kerja memerlukan adendum pemberitaan sinambung akan hukum-hukum alam. Pemberitaan baru nan esensial ini dapat diperoleh doang melalui penelitian ilmiah dasar. Semata-mata, puas pengunci dasawarsa 1960-an, pandangan ini muncul dilatarbelakangi oleh serangan langsung nan mengarak ke sisi berbagai ragam inisiatif untuk mendanai ilmu untuk tujuan tertentu (inisiatif-inisiatif ini ditolak oleh komunitas ilmiah). Isu tersebut masih diperdebatkan walaupun sebagian samudra analis menolak hipotetis bahwa teknologi hanyalah hasil mulai sejak penekanan ilmiah.[16]
[17]

Sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

Kronologi teknologi berlangsung secara evolutif.[18]
Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran, dan hasil tamadun telah kelihatan condong menumpu bidang teknologi.[18]

Secara etimologis, akar kata teknologi yaitu “techne” yang berarti serangkaian kaidah atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu korban, atau kecakapan tertentu, maupun pengetahuan tentang kaidah-prinsip atau metode, dan seni.[18]
Istilah teknologi koteng lakukan permulaan kali dipakai maka itu Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul
Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni, Khususnya Mesin
(Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical).[18]


Sejarah abad pertengahan dan modern (300–sekarang)

[sunting
|
sunting perigi]

Inovasi terus berkembang sepanjang Abad Medio dengan kreasi begitu juga sutera, tali kerah kuda dan tapak kuku dalam beberapa dupa tahun pertama pasca- jatuhnya Imperium Romawi. Teknologi abad pertengahan menggunakan mesin terlambat (begitu juga dongkrak, baut, dan katrol) yang digabungkan lakukan membentuk peralatan enggak yang makin kompleks, seperti gerobak n sogokan, penggilingan angin dan jam dinding. Pada zaman Renaisans ditemukan mesin cetak nan memungkinkan pengarsipan pengetahuan lebih luas dan teknologi pun semakin berkaitan dengan sains. Kemenangan teknologi pada abad ini memungkinkan tandon makanan dan barang yang makin stabil.

Munculnya oto merevolusi ki alat pribadi.

Dimulai di Inggris pada abad ke-18, Aliran Industri merupakan periode reka cipta teknologi-teknologi mentah, terutama intern bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, metalurgi, dan transportasi yang digerakkan maka itu reka cipta tenaga uap. Teknologi naik ke putaran berikutnya melewati rotasi industri kedua dengan reka cipta listrik dan turunannya sama dengan motor listrik, lampu pijar, dan lain-lain. Keberuntungan sains dan reka cipta konsep baru memungkinkan adanya penerbangan dan keberuntungan dalam bidang kedokteran, kimia, fisika, dan teknik. Selain itu juga memungkinkan pembangunan bangunan pencakar langit dan distrik urban yang penduduknya bergantung pada motor sebagai transportasi. Komunikasi pula berkembang dengan penemuan telegraf, telepon, radio, dan televisi. Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pada bidang transportasi ditemukan pesawat dan otomobil.

Pada abad ke-20, semakin banyak penciptaan hijau. Dalam bidang fisika, ditemukannya fisi nuklir memicu penemuan senjata nuklir dan tenaga nuklir. Komputer jinjing juga ditemukan dan semakin mengecil ukurannya berkat transistor dan distribusi integral. Teknologi informasi cenderung pada penemuan Internet, sehingga ketika ini dikenal sebagai Era Pemberitaan. Anak adam juga dapat menjelajah luar angkasa dengan bintang siarah (nantinya digunakan cak bagi telekomunikasi) dan misi mengirim individu ke bulan. Dalam bidang medis, ditemukan prosedur operasi dalaman dan terapi sel induk dan penemuan berbagai obat-obatan baru.

Teknik manufaktur dan konstruksi nan kompleks diperlukan lakukan membuat dan menjaga seluruh teknologi yunior ini. Mereka kembali tak tengung-tenging bagi mendukung dan berekspansi generasi terbaru sehingga muncul peralatan makin mania. Teknologi maju terlampau bergantung pada pelatihan dan pendidikan–desainer, produsen, konservasi, dan pemakainya acap kali membutuhkan keterangan dan pelatihan tertentu.

Kesuksesan

[sunting
|
sunting sumber]

Bukan boleh dipungkiri takdirnya kemajuan teknologi mutakhir berkembang sangat pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya inovasi yang telah dibuat di dunia ini. Dari teknologi kuno, sederhana, hingga yang menghebohkan bumi.

Sebenarnya Teknologi sudah ada sejak zaman dahulu, yakni zaman romawi bersejarah. Jalan teknologi berkembang secara drastis, dan terus berevolusi hingga sekarang. Setakat menciptakan bulan-bulanan-alamat, teknik nan boleh membantu manusia dalam pengerjaan sesuatu bertambah efisien, dan cepat. Dalam bentuk yang minimum terbelakang, kemajuan teknologi dihasilkan berpokok peluasan kaidah-cara lama atau penciptaan metode mentah internal menyelesaikan tugas-tugas tradisional begitu juga bercocok tanam, membuat baju, alias membangun apartemen.[19]

Suka-suka tiga klasifikasi dasar mulai sejak kemajuan teknologi yaitu:[19]

  • Kemajuan teknologi nan berperangai adil (bahasa Inggris:

    neutral technological progress
    )
    Terjadi bila tingkat pengeluaran
    (output)
    lebih tinggi dicapai dengan jumlah dan kombinasi faktor-faktor pemasukan
    (input)
    yang sama.
  • Kemajuan teknologi yang irit personel (bahasa Inggris:

    labor-saving technological progress
    )
    Kemajuan teknologi yang terjadi sejak pengunci abad kesembilan belas banyak ditandai maka dari itu meningkatnya secara cepat teknologi yang gemi tenaga kerja intern memproduksi sesuatu mulai berusul kacang-kacangan hingga roda hingga jambatan.
  • Keberhasilan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris:

    capital-saving technological progress
    )
    Fenomena yang nisbi langka. Kejadian ini terutama disebabkan karena hampir semua penajaman teknologi, dan ilmu pengetahuan di marcapada dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan kerjakan menghemat sida-sida, bukan modalnya.

Camar duka di berbagai rupa negara berkembang menunjukan bahwa adanya campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang habis ketat, dalam pasar teknologi luar justru menghambat revolusi teknologi luar ke negara-negara berkembang.[20]

Kemajuan teknologi memang sangat penting untuk jiwa manusia zaman sekarang. Karena teknologi adalah salah satu penunjang kemajuan manusia. Di banyak belahan mahajana, teknologi telah membantu mengoreksi ekonomi, hutan, komputer, dan masih banyak kembali.

Di enggak pihak suatu kebijaksanaan ‘pintu yang lama sekali terbuka’ terhadap arus teknologi asing, terutama kerumahtanggaan bentuk pendanaan asing (PMA), malar-malar menahan kemandirian yang lebih ki akbar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang lewat samudra pada pihak investor asing, karena merekalah nan melakukan segala apa upaya teknologi nan pelik, dan rumit.[20]

Ini menjadi bukti bahwa memang teknologi sudah menjadi kebutuhan, dan merata di setiap sektor sukma manusia. Terlebih sesudah adanya penemuan komputer, dan laptop, yang sekarang karib semua pekerjaan insan memiliki nikah dengan komputer maupun laptop. Sehingga pantas takdirnya komputer adalah penemuan nan paling mutakhir, dan yang paling berpengaruh pada umur manusia.

Dampak

[sunting
|
sunting sumber]

Bidang Pendidikan

[sunting
|
sunting sumber]

Sreg perian 1996, UNESCO melepaskan buku harian berjudul
The International Commission on Education for the Twenty First Century
nan berisi tentang bagaimana pendidikan yang terus-menerus (seumur arwah) nan harus dilaksanakan beralaskan empat pilar proses pendedahan seperti belajar cak bagi menguasai pengetahuan, belajar bikin mengetahui kecekatan, belajar untuk meluaskan diri, dan belajar cak bagi hidup bermasyarakat.[21]
Salah satu nama yang minimum menonjol lega dunia pendidikan dengan kontribusi teknologi adalah semakin bertautnya manjapada guna-guna pengetahuan, sehingga korespondensi di antaranya menjadi semakin cepat dan mudah. Dalam konteks pemanfaatan teknologi di bumi pendidikan, sudah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor ruang dan waktu yang sejauh ini menjadi pengahalang dan aspek penentu kecepatan serta keberuntungan penguasaan ilmu pengetahuan maka dari itu umat individu.[22]

Teknologi penelaahan terus mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya zaman. Dalam pelaksanaan pembelajaran, penerapan teknologi di intern kegiatan pembelajaran ditandai dengan munculnya
e-learning
yang sudah memfasilitasi perubahan dalam penerimaan nan disampaikan menerobos semua media elektronik sama dengan audio ataupun video, TV interaktif,
compact disc
(CD), dan internet.[23]

Pentingnya peran teknologi informasi dalam manjapada pendidikan membuat tenaga pendidik dan peserta bimbing dapat dengan mudah memperoleh objek-bahan pembelajaran melalui taman bacaan elektronik alias buku elektronik untuk mendapatkan antologi perpustakaan positif buku, modul, buku harian, majalah maupun tindasan pengetahuan. Kehadiran internet juga memungkinkan dilakukannya pembelajaran jarak jauh dengan menyetarafkan kondisi dan keadaan.[24]

Teknologi lagi bisa dimanfaatkan sebagai perangkat administratif intern bidang pendidikan seperti mana alat sokong perbaikan keefektifan pengorganisasian lembaga pendidikan. Dengan menggunakan sistem komputer maka tulang beragangan pendidikan dapat lebih mudah dan aman kerjakan mengelola data administrasi, membentangi data siswa, data temperatur, maupun data sekolah itu sendiri.[25]
Teknologi dalam dunia pendidikan sekali lagi dapat membantu tenaga pendidik untuk lebih banyak menciptakan menjadikan bahan-bulan-bulanan pelajaran hendaknya peserta didik lebih banyak mendapatkan ilmu. Dengan tersedianya komputer, tenaga pendidik dapat menyusun rencana pembelajaran dan materi-materi yang dibutuhkan maka itu peserta didik untuk dipelajari dan dengan adanya internet pun memungkinkan peserta didik untuk mengakses informasi dengan mudah berusul sumber berbeda nan direkomendasikan oleh tenaga pendidik.[26]

Dampak teknologi dalam dunia pendidikan memiliki tiga prinsip dasar dalam pengembangan dan pemanfaatannya, yaitu pendekatan sistem, mendekati pada siswa, dan pemakaian puas sumber membiasakan. Dengan berkembangnya penggunaan teknologi dalam pendidikan, maka terjadi pergeseran dalam proses pengajian pengkajian seperti dari pelatihan ke penampilan peserta didik, dari ira kelas sekolah ke di mana dan kapan semata-mata dapat dilakukan proses belajar mengajar, berpunca menunggangi kertas dan buku beralih ke komputer dan laptop atau serokan
online.
[27]

Dalam bumi pendidikan, pendidik dan petatar didik dalam proses penataran akan kian termotivasi apabila dibantu dengan pemanfaatan teknologi karena menjadikan pekerjaan kian mudah, signifikan, menambah produktivitas, mempertinggi efektivitas, dan melebarkan potensi internal berpikir.[28]
Kemajuan teknologi digital dalam dunia pendidikan dapat membawa tenaga pendidik dan peserta didik ke dunia khayali yang reaksioner, karena memudahkan dan dinamis n domestik berkomunikasi dan menyampaikan takrif seperti internet yang menjadi keseleo satu solusi dalam meningkatkan cemeti sparing puas peserta didik.[29]
Teknologi yang digunakan dalam proses berlatih mengajar sering disebut dengan media penelaahan. Ki alat penelaahan adalah radas nan dapat digunakan untuk mengacapi pesan (bahan pembelajaran), sehingga bisa menggiurkan perhatian, minat, pikiran, dan perasaan pelajar ajar dalam kegiatan belajar untuk menjejak tujuan belajar di sekolah ataupun di luar sekolah. Penggunaan teknologi perumpamaan media pendedahan mutakadim banyak digunakan, mulai berusul teknologi yang silam sederhana sebatas teknologi yang canggih kiranya penerimaan menjadi lebih efektif dan efisien.[30]

Satah Ekonomi dan Bisnis

[sunting
|
sunting sumber]

Teknologi yang terus mengalami perkembangan bersamaan dengan proses globalisasi di dunia, bergerak berorientasi transformasi ekonomi yang dikenal dengan
Knowledge Based Society
(KBS). KBS adalah jenjang lebih lanjut berpangkal pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam menuju pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.[31]

Teknologi dalam bidang ekonomi khususnya bisnis berperan sebagai wahana transaksi lakukan bisnis
online, yaitu dalam bentuk fasilitas media berupa internet. Situs web yang disediakan pekerja menggandar sebagai kancah konsumen cak bagi memilih dan meilhat barang-produk yang inginkan, kemudian pada transaksi juga dibutuhkan teknologi bukan bikin kontributif bisnis
online
seperti pembayaran menggunakan aplikasi
online. Awam yang berbisnis dengan menerapkan teknologi maklumat dapat membentuk peluang pasar terbuka lebih luas. Berbisnis menggunakan jaringan internet dapat mempermudah dalam hal melejitkan dagangan nan akan dijual, mencari konsumen yang membutuhkan barang, dan mencari pelanggan taat. Mengenai beberapa faktor nan dapat mempengaruhi urut-urutan menggandar seperti kekusutan dagang nan semakin meningkat nan dipengaruhi makanya yuridiksi ekonomi antarbangsa, pertandingan dalam bisnis yang berskala global, perkembangan dan pertumbuhan teknologi informasi, eksploitasi waktu kerja, pertimbangan sosial dan daya produksi teknologi warta yang boleh diakses. Bentuk kapasitas teknologi informasi yang bisa digunakan membentangi kapasitas pelayanan kebutuhan informasi, produktivitas interaksi kerumahtanggaan jaringan komputer atau berbasis
online, dan kapasitas dalam kecepatan akal masuk data dan jaringan.[32]

Perkembangan teknologi dapat masin lidah umum dan negara secara luas andai sumber pertumbuhan ekonomi, karena teknologi memungkinkan bagi pembentuk bikin memproduksi lebih banyak output agar perekonomian meningkat dan mencapai hasil yang maksimum walaupun dengan tingkat input yang setinggi.[33]
Teknologi mempunyai pengaruh besar dalam mengembangkan pemberitaan khalayak dalam bidang ekonomi tersapu bagaimana menggabungkan sumber daya yang ada cak bagi memproduksi produk yang diinginkan atau dibutuhkan, cak bagi mengendalikan kelainan, memenuhi kebutuhan, atau memenuhi kedahagaan umum, tersurat metode teknis, keterampilan, proses, teknik, perabot dan bahan stereotip. Teknologi lagi disebut bagaikan suatu media atau alat nan boleh digunakan dengan kian efisien guna memproses serta mengendalikan satu problem dalam sepi bisnis.[34]

Kemunculan teknologi berbasis informasi pada latar ekonomi khususnya jual beli membuat batasan ruang dan waktu antar perusahaan di berbagai negara menjadi berkurang karena menerobos teknologi sebagai halnya internet, perusahaan bisa mengerjakan transaksi secara tidak serempak dan mengakses pasar yang fertil di luar negeri.[35]
Masuknya teknologi informasi dan internet di Indonesia membentuk masyarakat menjadi lupa dengan identitas dirinya sama dengan dapat mengubah kebudayaan alias kebiasaan sehari-waktu. Sebelumnya adanya teknologi takrif sebagaimana internet, publik dapat bekerja dengan leha-leha meskipun tiang penghidupan akan bertambah jarang karena lain luasnya akses dalam mencari informasi. Dampak munculnya internet mewujudkan persaingan menjadi menyeluruh sehingga umum ditantang untuk menghadapi persaingan global tersebut nan terjadi detik ini.[36]

Teknologi mutakadim memberikan kontribusi secara penting terhadap bidang industrialisasi dan komersial yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Pada level mikro, kemenangan suatu teknologi dimanfaatkan intern perubahan struktur industri dan persaingan global.[37]
Pada level makro, teknologi dimanfaatkan bagi menolak pembangunan ekonomi dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan teknologi plong era mendunia akan memasrahkan kontribusi yang kian dari masa sebelumnya privat pembangunan ekonomi dunia.[38]
Untuk memenangkan persaingan di pasar mondial, setiap membahu dan firma dituntut untuk lebih memperhatikan dan mengelola teknologi lebih baik dalam menciptakan merek berlomba (competitive advatages). Kemajuan berbisnis n domestik situasi persaingan habis ditentukan makanya kreasi
compettive advatages
nan berbasis pada pengembangan teknologi itu sendiri.[39]
Pengembangan teknologi tersebut dibutuhkan plong setiap proses transformasi dibidang kulak dari sejumlah modal cak bagi menghasilkan keuntungan samudra yang boleh memberikan nilai tambah lega setiap janjang proses transformasi dalam perusahaan.[40]

Internal pengembangan teknologi, hampir setiap negara dan bisnis dihadapkan dengan dua pilihan. Pertama, meluaskan teknologi melalui proses
invention
and
innovation. Kedua, melebarkan teknologi melalui proses alih teknologi. Tidak ada negara dan bisnis apapun nan bisa memenuhi semua jenis teknologi yang dibutuhkan dalam proses membuat dan menjual hasil produksi. Dengan adanya kehabisan tersebut maka setiap negara atau bisnis bisa menerapkan model strategi teknologi sebagai halnya
make some strategy
maupun metode ekspansi teknologi yunior melangkaui
R&D
dan
buy some strategy
atau metode pengembangan yang diterapkan melalui proses alih teknologi.[41]

Bidang Sosial

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam hayat sosial, manusia tidak bisa terlepas dari teknologi khususnya sarana sosial. Media sosial merupakan sebuah wahana berbasis
online
nan dapat membuat para penggunanya dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan ajang meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Bentuk seperti blog, jejaring sosial dan wiki adalah bentuk ki alat sosial yang paling camar digunakan maka dari itu awam di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Dampak kasatmata munculnya media sosial kerumahtanggaan kehidupan masyarakat adalah memudahkan dalam berinteraksi dengan banyak manusia, memperluas jaringan pertemanan, menghilangkan batasan jarak dan waktu, bertambah mudah n domestik mengekspresikan diri, penyiaran informasi bisa berlangsung cepat dan biaya bertambah murah. Dampak negatif dari kehadiran sarana sosial yakni memberikan jarak kepada orang di sekitar, interaksi secara tatap muka akan menurun drastis, membuat konsumen ki alat sosial menjadi dependensi terhadap internet, menimbulkan konflik antar gerombolan, menimbulkan kelainan pribadi, dan rentan terhadap pengaturan gaya hidup buruk khalayak enggak.[42]

Media teknologi dalam sepi komunikasi bisa meningkatkan proses pengudakan dan pengangkutan informasi antar satu insan dengan hamba allah lain. Biaya dan musim bisa menciut, temporer akhirnya akan lebih memuaskan seperti penggunaan media
fax,
email,
Facebook, dan
Twitter
seandainya dibandingkan dengan menunggangi surat. Sehingga setiap hamba allah dapat menggunakan waktunya secara efisien dan teratur.[43]
Kenyamanan dalam menggunakan teknologi yang dirasakan publik bisa berwibawa terhadap gaya nasib, tingkah laris individu baik itu pada ketika sendiri maupun berkelompok.[44]
Teknologi yang menghadirkan petisi sosial wahana tersebut memudahkan pengguna buat bisa berkomunikasi dengan individu-orang sampai ke penjuru bumi manapun dalam waktu sangat singkat dan sangat serta bisa mempengaruhi aktivitas bersosialisasi mereka. Teknologi berbasis ki alat
online
begitu juga media sosial dapat menjadi keseleo satu inovasi perkembangan pembelajaran plong sektor pendidikan dasar di Indonesia yang bisa disebut dengan Pendidikan Teknologi Asal (PTD) maupun proses pengenalan mulanya terhadap teknologi kepada anak Indonesia. Dalam proses perkenalan awal tersebut pesuluh didik akan dipersilakan kerjakan terlibat aktif untuk berinteraksi dengan teknologi yang sudah lalu disediakan kemudian internal program tersebut diberikan materi tercalit ekspansi kemampuan
ki aib solving, kreativitas, dan inovasi dalam parasan teknologi. Pemberian pendidikan teknologi yang dilakukan secara sedikit demi akan mengembangkan keterampilan dalam berpikir dan keterampilan vokasional.[45]

Di Indonesia terdapat sekitar 25 miliun pengguna internet dan setiap musim terus bertambah seiring berkembangnya teknologi. Eskalasi dipicu karena adanya kemudahan privat mendapatkan, mengakses, dan memintasi informasi serta mengoperasikannya ke berbagai media. Dengan internet dan teknologi yang suka-suka, masyarakat subur berinteraksi secara bebas dan membentuk peguyuban kerdil alias besar hanya dengan menekan tombol pada
handphone
atau radas sarana teknologi lainnya.[46]
Kemajuan teknologi yang dulu pesat semula berniat untuk memudahkan orang dalam segala hal. Saat urusan tersebut semakin mudah, maka unjuk rasa malas dan keterasingan mentah seperti memudarnya rasa solidaritas antar sesama, kebersamaan semakin kepam, dan silaturrahmi semakin berkurang. Penemuan seperti televisi, komputer, internet, dan
handphone
telah mengakibatkan masyarakat menjadi dependensi dengan mayapada cucur.[47]

Teknologi memiliki dampak yang beragam dan n kepunyaan pengaruh awet di paruh usia publik begitu juga efektivitas teknologi secara fungsional sesuai yang diharapkan masyarakat, perubahan sewaktu di masyarakat dalam merespons teknologi, dan perubahan bersumber inovasi yang sudah diantisipasi sebelumnya. Kerelaan teknologi sekarang tidak bisa dilepaskan dengan kelebihan sosial kebijakan nan melingkupinya. Keberadaan dan kemajuan teknologi caruk digerakkan dan dipertajam oleh dukungan dan kolaborasi para pemodal besar dalam setiap transisi dan rakitan teknologi baru. Dukungan tersebut merupakan bentuk dari sistem ekonomi dan kebijakan yang menggerakkan guna dalam kejadian memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya.[48]
Dampak merusak yang lebih jauh, teknologi boleh mendorong terjadinya kebinasaan dan penjatuhan adab dan akhlak. Publik berubah menjadi minus kritis terhadap atma sosial akibat hadirnya teknologi karena mutakadim mengurangi kesungguhan tatap durja yang terjadi dalam organisasi ataupun sosial mahajana.[49]
Teknologi tidak hanya sekadar digunakan untuk berkomunikasi dan mencari tugas, tetapi dapat mengasihkan akses kepada pengguna mengintai situs atau
website
yang lain seharusnya dilihat sebagai halnya, situs kekerasan dan situs pornografi. Keadaan ini membuktikan bahwa perkembangan teknologi pengumuman dan komunikasi menyerahkan dampak yang sangat mengkhawatirkan karena dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku sosial alias melunturkan nilai-nilai kebudayaan masyarakat.[50]

Meres Pertanian

[sunting
|
sunting sumber]

Sektor persawahan ialah salah satu sektor terbesar dan paling kecil terdahulu yang menyenggangkan bahan wana bagi setiap penduduk di negara berkembang khususnya di Indonesia. Sektor ini juga memberikan lapangan kerja yang sangat raksasa bagi hampir seluruh angkatan kerja yang ada saat ini. Perkebunan dengan penghasilan pari sawah ialah produk unggulan di sebagian besar negeri nan suka-suka di Indonesia. Teknologi pertanaman modern nan cak semau kini adalah teknologi perladangan yang digunakan cak bagi mempermudah dan mempersering serta meningkatkan hasil produksi pertanian secara keseluruhan. Teknologi persawahan yang cak semau berupa mesin-mesin usil yang diciptakan buat penggodokan serta pengambilan hasil produksi seperti pada panen padi dalam penggodokan tanah sudah menggunakan mesin, bibit yang digunakan merupakan esensi unggul sudah terjamin kualitasnya, cara penanaman dengan menggunakan mesin tanam antah yang canggih, proses pengetaman menggunakan mesin, sistem perekrutan tenaga kerja dilihat mulai sejak hasil kerja, pencarian pegawai berbarengan pemilik, dan sistem pembagian hasil berupa uang atau hasil padi yang dipanen. Munculnya teknologi perkebunan maju sangat dolan penting dalam memberikan transisi bagi sukma masyarakat khususnya petani di negeri pedesaan.[51]

Jalan teknologi di sektor pertanaman untuk membantu dalam hal pengolahan persil, penarik air berbunga sumber air, dan gawai bantu pemanen. Teknologi pertanian adalah sebuah perangkat, cara alias metode yang dapat digunakan kerumahtanggaan memproses input pertanian sehingga menghasilkan output atau hasil perkebunan yang maksimal sehingga memiliki daya guna baik berupa produk objek mentah, setengah jadi alias siap pakai dan dipasarkan.[52]

Jalan teknologi dalam permukaan pertanian telah membawa perubahan sreg prinsip bersawah mahajana yang awalnya menunggangi peralatan-peralatan yang membutuhkan tenaga lebih menjadi lebih mudah dan efisien seperti pecah penggunaan tenggala dan kesisipan menjadi traktor.[53]
Yuridiksi masuknya teknologi pertanian terhadap kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat di Indonesia intern segi ekonomi terlihat dari penggunaan esensi menjuarai, kawul kimia, penggunaan pestisida, dan pembangunan irigasi yang membusut hasil produksi buat petani semakin meningkat. Meningkatnya hasil produksi berusul petani takhlik tingkat pendidikan anak petani, keadaan kondominium dan kepemilikan barang sekunder yang sudah semakin membaik. Masuknya teknologi pertanaman pada arwah budaya masyarakat memberikan pengaruh terhadap hilangnya beberapa jenis teknik pertanian tradisional seperti teknik membajak menggunakan sapi alias kerbau yang sudah digantikan oleh mesin traktor dan menyundak gabah diganti oleh teknik penggilingan antah menunggangi mesin.[54]

Kemunculan teknologi dalam sektor pertanian mempengaruhi hayat masyarakat yang mana n domestik perubahan sosial dapat dilihat lega tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat, sedangkan dampak negatifnya adalah berkurangnya interaksi sosial antar masyarakat dan hilangnya radas-alat penanam sawah tradisional nan diturunkan secara turun-temurun. Adapun persilihan pada kondisi ekonomi dan dampak positinya adalah tingkat penghasilan peladang semakin meningkat dan kondisi tempat tinggal semakin layak, sedangkan dampak negatifnya adalah berkurangya kesempatan kerja nan sering dilakukan petani setiap hari.[55]

Daya produksi dalam bidang pertanian dapat ditingkatkan dengan dua pendirian yaitu mengembangkan teknologi sebelumnya dan mengadopsi teknologi baru serta melalui penggunaan sumur daya nan tersedia secara lebih efisien dan tepat sasaran. Keikhlasan teknologi ialah salah satu syarat yang perlu diperhatikan dalam pembangunan pertanian. Teknologi berperan dalam meningkatkan kapasitas dan pendapatan penanam karena teknologi ikut menentukan proses produksi dan proses distribusi.[56]
Teknologi yang membantu urut-urutan pembangunan pertanian di Indonesia harus bisa digunakan pada kegiatan
on farm
dan
off farm. Kegiatan
on farm
meliputi teknologi biologis yang menghasilkan produk perladangan, pertanaman organik, dan pengadaan perangkat dan mesin pertanian. Sedangkan, kegiatan
off farm
meliputi teknologi lakukan proses pengolahan, pengawetan, pengemasan, pengepakan, dan distribusi hasil panen.[57]

Dampak teknologi buat para petani adalah adanya peningkatan prestise kesejahteraan baik dalam peningkatan faktual penghasilan, kemampuan memenuhi kebutuhan sosi sehari-perian seperti makan maupun dalam berinteraksi secara luas dengan publik dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan desa.[58]
Lakukan mempercepat pembangunan internal sektor pertanian dapat dilakukan dengan membangun hubungan kerjasama yang sinergis antara pemerintah, bagan-buram penelitian, serta publik agar semua pihak bisa berpartisipasi dengan maksimal.[59]

Teknologi dalam perkebunan juga memiliki kesuntukan begitu juga adanya penghamburan pelan pekerjaan bikin masyarakat yang ingin berkreasi perumpamaan buruh tani dan adanya ketergantungan petani kepada pemerintah tercalit penyaluran objek-bahan kimia untuk tanaman mereka.[60]
Upaya perbaikan sistem pertanian nan dilakukan makanya awam terkhususnya petani mengarah ke pengembangan, pertumbuhan dan peningkatan produksi hasil panen menunggangi metode penggalakan, ekstensifikasi, dan rehabilitasi di mana upaya tersebut berniat kerjakan meningkatkan produksi dan daya produksi petani, penyelamatan hasil panen dan pertambahan mutu hasil yang n kepunyaan kunci saing strata dengan pasar mendunia. Masyarakat yang bekerja sebagai petani di mana sebelumnya namun bisa menggarap lahan lakukan bertani dengan radas terlambat seperti parang, pacul, tembilang. Tetapi dengan keberhasilan teknologi saat ini telah mampu menciptakan alat yang lebih modern dan canggih seperti ditemukannya mesin penggarap tanah dan instrumen-instrumen yang lebih canggih dan mampu menyundul serta meningkatkan pendapatan publik petani.[61]

Rataan Kebugaran

[sunting
|
sunting sumber]

Keberuntungan teknologi dalam rataan kesehatan ini lewat berkembang pesat, dapat dilihat dari banyaknya temuan-temuan mentah yang berhasil didapatkan dengan bantuan teknologi baik dalam susuk pengorganisasian rumah sakit, pengobatan pasien, maupun penelitian dan pengembangan terbit guna-guna kebugaran itu koteng. Bentuk pelayanan kesehatan berbasis teknologi ketika ini dulu diperhatikan dunia. Terutama pada probabilitas teknologi privat meningkatkan kualitas hidup orang.[62]
Peladenan kebugaran mahajana silam dipengaruhi oleh pengusahaan teknologi berbasis digital dan penerapan intervensi kesehatan dalam bentuk teknologi digital yang sangat efektif intern melayani kebutuhan kesehatan masyarakat.[63]
Penerapan bentuk interferensi kesehatan berbasis teknologi digital dinilai sangat menguntungkan untuk masyarakat karena dapat memperlancar dan mempermudah akses pelayanan dan dapat memindahkan intervensi kesehatan mahajana ke platform digital yang mutakadim disediakan dan menghadirkan pengkhususan dengan tujuan bagi membentangkan teori dan konsep peladenan kesehatan itu koteng.[64]

Teknologi manifesto yang digunakan di rataan kesehatan memang dapat menciptakan lingkungan yang tenang dan tenteram bagi pasien anak dan keluarga cuma dibutuhkan pula proses pengamatan serempak berasal perawat melalui perangkat sebaiknya mencegah terjadinya kesalahan intern pemberian informasi dan menyerahkan asuhan keperawatan kepada anak dan remaja.[65]
Penggunaan internet pada rumah remai digunakan hampir setiap hari dari pagi hingga malam. Eksploitasi internet hanya dilakukan cak bagi kepentingan rumah sakit dan kebutuhan pasien semata-mata ada paramedis yang menunggangi cak bagi kebutuhan pribadi di tahun tertentu. Penggunaan internet maka itu dukun beranak di rumah remai dipengaruhi oleh ketatanegaraan organisasi, budaya kerja dan belas kasih pelatihan terkait internet.[66]

Eksploitasi software yang berbasis komputer plong bidang kesehatan khususnya rumah sakit yakni bisa memberikan informasi secara menyeluruh dalam pembuatan tulang beragangan keperawatan yang kerukunan dan mudah. Informasi yang diberikan meliputi standar asuhan berdasarkan pembuktian masalah di balai kesehatan, prinsip penanganan, aturan dan rekomendasi perawatan, referensi dan pendirian penghitungan obat yang akurat, serta akses ke pusat data atau perpustakaan secara digital melalui media komputer. Software tersebut juga dapat membangatkan perawat n domestik pemungutan keputusan dalam penanganan, membuat bagan asuhan keperawatan bagi pasien rawat perkembangan, mengingatkan paramedis untuk mengasihkan tindakan preventif alias risiko terhadap alergi dengan menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien sebelum diberi obat sehingga dukun bayi dapat memberikan respon cepat sesuai dengan kondisi pasien.[67]
Pendayagunaan software juga berfaedah n domestik pemberian butir-butir tentang panduan tersapu cara identifikasi, proses pengkajian dan metode hadiah rekomendasi terkait penanganan kasus kegemukan pada anak usia sekolah dan remaja.[68]

Penggunaan teknologi siaran privat dokumentasi di parasan kesegaran ataupun keperawatan adalah mandu nan baru dan mudah bikin menyulam, memberikan dan menerima informasi pasien. Hal ini membuat perawat ataupun petugas rumah linu berkewajiban atas kerahasiaan dan keamanan pesiaran pasien. Sehingga diperlukan kebijakan dan pedoman yang sudah lalu diatur oleh organisasi alias rumah guncangan. Pengembangan dokumentasi dengan bantuan teknologi manifesto dan sistem komputer jinjing harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip dan sifat dokumentasi terkait akal masuk, penyimpanan, pengambilan dan pengiriman informasi sebagaimana yang bertindak dalam sistem pengarsipan berbasis kertas atau manual.[69]
Proses dokumentasi pula digunakan untuk menyempurnakan barometer profesional dan hukum nan berlaku. Dokumentasi sangat berharga untuk menunjukkan bahwa privat asosiasi petugas kesegaran dan klien sudah terjalin dengan baik, petugas telah menerapkan informasi keperawatan serta membentuk keputusan menurut standar profesional dan bisa perumpamaan bukti internal proses syariat takdirnya ada permintaan hukum baik berusul pasien atau dari petugas kesehatan.[70]
Perkembangan teknologi kesehatan di luar negeri telah berkembang pesat pada seluruh aktivitas keperawatan, baik internal satah pelayanan, pendidikan ataupun riset di permukaan kesehatan. Sistem dokumentasi mengasihkan terhadap proses kelangsungan perawatan pasien dan memungkinkan perawat melakukan perawatan yang cepat dan makin tepat.[71]

Proses dokumentasi berbasis teknologi publikasi intern meres kebugaran untuk merekam jejak medis pasien memungkinkan bidan menggunakannya umpama media belajar dan memahami pentingnya mendokumentasikan proses perlindungan pasien serta menghemat waktu dalam mengekspresikan kerangka pelestarian selanjutnya.[72]
Dokumentasi boleh menjadi sumber data di bidang kesehatan yang sangat berguna bikin takhlik keputusan terkait investasi dan pengelolaan perigi kancing serta memfasilitasi investigasi nan dapat meningkatkan kualitas praktik kesehatan dan preservasi pasien.[73]

Dalam bidang kesehatan, flat sakit memerlukan teknologi nan mendukung agar sendang daya keperawatan bisa melangsungkan peladenan kesehatan. Tanpa sistem teknologi berbasis mualamat nan akurat, maka rumah guncangan tidak dapat menentukan kebijakan, keputusan, justru qanun nan dapat menabrak perbaikan dan perkembangan sumber daya keperawatan.[74]
Pamrih digunakan sistem makrifat maupun teknologi kenyataan manajemen plong parasan kesehatan merupakan bagi memastikan tentang bagaimana sebaiknya informasi kesehatan yang akurat dapat diakses maka itu pihak yang membutuhkan, kemudian akan meningkatkan peladenan kebugaran dalam neraca nasional.[75]

Berkembangnya teknologi pada bidang kesegaran telah memunculkan metode baru untuk mempromosikan kesehatan yang dimediasi makanya perabot komputer dan teknologi digital yang berfungsi bagi mengubah perilaku kesehatan mahajana nan buruk perut disebut dengan komunikasi kebugaran
online
(e-health).[76]
Penerapan teknologi pada industri kesehatan dengan model
e-commerce
dapat meningkatkan layanan cermat biaya kepada para pengguna jasa kesehatan.[77]
Teknologi berbasis video
online
boleh memberikan edukasi dan promosi mengenai menjaga kebugaran masyarakat sekaligus menjadi media buat promosi rumah gempa bumi.[78]

Tatap pula

[sunting
|
sunting mata air]

  • Teknologi arsitektur
  • Garis raksasa teknologi
  • Daftar teknologi nan muncul
  • Konvergensi teknologi
  • Teknologi dan publik
  • Penilaian teknologi
  • Teknologi hipotetis
  • Metafisika teknologi
  • Tekno-progresivisme
  • Teknosentrisme
  • Teknokrasi
  • Teknokritisme
  • Determinisme teknologi
  • Evolusi teknologi
  • Semangat kebangsaan teknologi
  • Singularitas teknologi
  • Pengelolaan teknologi
  • Tingkat ketersediaan teknologi
  • Teknorealisme
  • Transhumanisme
  • Perhitungan energi
  • Nanososialisme
  • Teknokapitalisme
  • Difusi teknologi
  • Model pengajian pengkajian teknologi
  • Siklus hidup teknologi
  • Transfer teknologi
  • Kewartawanan teknologi

Referensi

[sunting
|
sunting perigi]

Karangan kaki

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Arti Prolog Teknologi”.




  2. ^

    For ex., George Crabb,
    Universal Technological Dictionary, or Familiar Explanation of the Terms Used in All Arts and Sciences, Containing Definitions Drawn From the Original Writers, (London: Baldwin, Cradock and Joy, 1823), s.v. “technology.”

  3. ^

    Julius Adams Stratton and Loretta H. Mannix, Mind and Hand: The Birth of MIT (Cambridge: MIT Press, 2005), 190-92. ISBN 0-262-19524-0.

  4. ^

    Eric Schatzberg, “Technik
    Comes to America: Changing Meanings of
    Technology
    Before 1930,”
    Technology and Culture
    47 (July 2006): 486-512.

  5. ^

    Read Bain, “Technology and State Government,” American Sociological Review 2 (December 1937): 860.

  6. ^

    Donald A. MacKenzie and Judy Wajcman, “Introductory Essay” in
    The Social Shaping of Technology, 2nd ed. (Buckingham, England: Open University Press, 1999) ISBN 0-335-19913-5.

  7. ^

    Kesalahan pengambilan: Tag
    <ref>
    tidak sah; tidak ditemukan teks bikin ref bernama
    mwdict

  8. ^


    Franklin, Ursula. “Benaran World of Technology”. House of Anansi Press. Diarsipkan bersumber versi nirmala tanggal 2007-09-28. Diakses tanggal
    2007-02-13
    .





  9. ^


    “Technology news”. BBC News. Diarsipkan berpunca versi kudus sungkap 2006-02-09. Diakses tanggal
    2006-02-17
    .





  10. ^


    Stiegler, Bernard (1998).
    Technics and Time, 1: The Fault of Epimetheus. Stanford University Press. hlm. 17, 82. ISBN 0-8047-3041-3.




    Stiegler lebih terkemudian menyatakan bahwa
    biotechnology
    (bioteknologi) tidak lagi dapat didefinisikan sebagai
    “organized inorganic matter”, given that it is, rather, “the reorganization of the organic”
    (‘zat-zat anorganik yang tersusun rapi’, melainkan ‘penyusunan kembali zat-zat organik’).
    Stiegler, Bernard (2008).
    L’avenir du passé: Modernité de l’archéologie. La Découverte. hlm. 23. ISBN 2-7071-5495-4.





  11. ^


    “Industry, Technology and the Global Marketplace: International Patenting Trends in Two New Technology Areas”.
    Science and Engineering Indicators 2002. National Science Foundation. Diarsipkan dari versi asli rontok 2015-08-18. Diakses tanggal
    2007-05-07
    .





  12. ^


    Borgmann, Albert (2006). “Technology as a Cultural Force: For Alena and Griffin”
    (fee required).
    The Canadian Journal of Sociology.
    31
    (3): 351–360. doi:10.1353/cjs.2006.0050. Diakses tanggal
    2007-02-16
    .





  13. ^


    Macek, Jakub. “Defining Cyberculture”. Diarsipkan dari varian zakiah terlepas 2007-07-03. Diakses tanggal
    2007-05-25
    .





  14. ^


    “Science”. Dictionary.com. Diakses tanggal
    2007-02-17
    .





  15. ^


    “Intute: Science, Engineering and Technology”. Intute. Diakses rontok
    2007-02-17
    .





  16. ^


    Wise, George (1985). “Science and Technology”.
    Osiris (2nd Series).
    1: 229–246.



    .

  17. ^


    Guston, David H. (2000).
    Between politics and science: Assuring the integrity and productivity of research. New York: Cambridge University Press. ISBN 0-521-65318-5.



    .
  18. ^


    a




    b




    c




    d



    Pendeta Sukardi, “Pilar Selam Bagi Pluralisme Modern”, Tiga Serangkai, 2003, 9796684055, 9789796684052.
  19. ^


    a




    b



    “Pembangunan Ekonomi, Edisi 9, Jilid 1”, Erlangga, 9790158149, 9789790158146.
  20. ^


    a




    b



    Isei, “Pemikiran Dan Permasalahan Ekonomi Di Indonesia Dalam Setengah Abad Terakhir 4”, Kanisius, 2005, 979211212X, 9789792112122.

  21. ^

    Jamun 2018, hlm. 48-49.

  22. ^

    Putri 2019, hlm. 1.

  23. ^

    Jamun 2016, hlm. 144.

  24. ^

    Taopan et al 2019, hlm. 63.

  25. ^

    Kuat 2018, hlm. 97.

  26. ^

    Selwyn 2011, hlm. 26.

  27. ^

    Yusri 2016, hlm. 51.

  28. ^

    Muhasim 2017, hlm. 69-70.

  29. ^

    Muhasim 2017, hlm. 71.

  30. ^

    Santyasa 2007, hlm. 3.

  31. ^

    Siaila 2010, hlm. 110.

  32. ^

    Utami 2010, hlm. 62-63.

  33. ^

    Wahyuni et al 2013, hlm. 72.

  34. ^

    Wahyuni et al 2013, hlm. 73.

  35. ^

    Hidayatullah 2005, hlm. 11.

  36. ^

    Hidayatullah 2005, hlm. 13.

  37. ^

    Radhi 2010, hlm. 1.

  38. ^

    Subramanian 1987, hlm. 361.

  39. ^

    Sharif 1994, hlm. 156.

  40. ^

    Soehoed 1988, hlm. 48.

  41. ^

    Ramanathan 1994, hlm. 221.

  42. ^

    Cahyono 2016, hlm. 140.

  43. ^

    Nasution 2011, hlm. 40.

  44. ^

    Azizah 2020, hlm. 46.

  45. ^

    Fitri 2017, hlm. 119.

  46. ^

    Setiawan 2018, hlm. 65.

  47. ^

    Ngafifi 2014, hlm. 34.

  48. ^

    Wahid 2020, hlm. 2-3.

  49. ^

    Novy Purnama 2009, hlm. 40.

  50. ^

    Khodijah dan Nurizzati 2018, hlm. 163.

  51. ^

    Saputra dan Ratnawilis 2019, hlm. 206-207.

  52. ^

    Ali 2017, hlm. 518.

  53. ^

    Zahara et al 2017, hlm. 32.

  54. ^

    Zahara et al 2017, hlm. 37-38.

  55. ^

    Rifani et al 2019, hlm. 864.

  56. ^

    Apriani et al 2018, hlm. 122.

  57. ^

    Simatupang 2006, hlm. 3.

  58. ^

    Salamah dan Iskandar 2002, hlm. 130.

  59. ^

    Salamah dan Iskandar 2002, hlm. 119.

  60. ^

    Sari 2018, hlm. 35.

  61. ^

    Sari 2018, hlm. 29.

  62. ^

    Yani 2018, hlm. 98.

  63. ^

    Manganello et al 2015, hlm. 6.

  64. ^

    Moller et al 2017, hlm. 1.

  65. ^

    Ramawati 2011, hlm. 9.

  66. ^

    Morris‐Docker et al 2004, hlm. 157.

  67. ^

    McCartney 2006, hlm. 426.

  68. ^

    Gance-Cleveland 2010, hlm. 72.

  69. ^

    Dewi 2011, hlm. 19.

  70. ^

    Tornvall dan Wilhelmsson 2008, hlm. 2122.

  71. ^

    Rykkje 2009, hlm. 9.

  72. ^

    Lee 2006, hlm. 1377.

  73. ^

    Tornvall et al 2004, hlm. 315.

  74. ^

    Rofii 2011, hlm. 16.

  75. ^

    Zhu dan Protti 2009, hlm. 122.

  76. ^

    Neuhauser dan Kreps 2003, hlm. 7.

  77. ^

    More dan McGrath 2002, hlm. 621.

  78. ^

    Huang et al 2014, hlm. 273.

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ali, A. (2017). “Supremsi Teknologi Pertanian Terhadap Kapasitas Hasil Panen Antah di Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidenreng Rappang”.
    AKMEN Jurnal Ilmiah.
    14
    (3): 514–525. ISSN 2621-4377.



  • Apriani, M., Rachmina, D., &, Rifin, A. (2018). “Pengaruh Tingkat Penerapan Teknologi Manajemen Pohon Terpadu (PTT) Terhadap Daya guna Teknis Usahatani Padi”
    (PDF).
    Jurnal Agribisnis Indonesia.
    6
    (2): 121–132. ISSN 2579-3594.




    Cahyono, A. S. (2016). “Kontrol Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Awam di Indonesia”.
    Jurnal Publiciana.
    9
    (1): 140–157. ISSN 1979-0295.



  • Azizah, M. (2020). “Pengaruh Kemajuan Teknologi Terhadap Pola Komunikasi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)”
    (PDF).
    Buku harian Sosiologi Nusantara.
    6
    (1): 45–54. doi:10.33369/jsn.5.1.45-54.



  • Bidadari, S. C. (2011). “PENGEMBANGAN DOKUMENTASI KEPERAWATAN BERBASIS TEKNOLOGI Kabar”.
    Jurnal Aji-aji dan Teknologi Kesehatan.
    2
    (1): 15–21. ISSN 2086-8510.



  • Fitri, S. (2017). “Dampak Aktual dan Merusak Sosial Wahana Terhadap Perubahan Sosial Anak”
    (PDF).
    Naturalistic: Kronik Analisis Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran.
    1
    (2): 118–123. ISSN 2548-8589.



  • Gance‐Cleveland, B., Gilbert, L. H., Kopanos, Falak., &, Gilbert, K. C. (2010). “Evaluation of technology to identify and assess overweight children and adolescents”
    (PDF).
    Journal for Specialists in Pediatric Nursing.
    15
    (1): 72–83. doi:10.1111/j.1744-6155.2009.00220.x.



  • Hidayatullah, D. (2005). “DAMPAK TEKNOLOGIINFORMASI DAN INTERNET TERHADAP PENDIDIKAN, Memikul, DAN PEMERINTAHAN INDONESIA”
    (PDF).
    Majalah Ekonomi dan Komputer.
    13
    (1): 9–14. ISSN 0854-9621.



  • Huang, E., Liu, T., &, Wang, J. (2014). “E-health videos on Chinese hospitals’ websites”
    (PDF).
    International Journal of Healthcare Management.
    7
    (4): 273–280. doi:10.1108/02621710210437590.



  • Jamun, Y. M. (2018). “Dampak Teknologi Terhadap Pendidikan”.
    Kronik Pendidikan dan Peradaban Missio.
    10
    (1): 48–52. ISSN 2502-9576.



  • Jamun, Y. M. (2016). “Desain Aplikasi Pendedahan Denah Nusa Tenggara Timur Berbasis Multimedia”.
    Koran Pendidikan dan Peradaban Missio.
    8
    (1): 144–150. ISSN 2502-9576.



  • Khodijah S., &, Nurizzati Y. (2018). “DAMPAK Pengusahaan TEKNOLOGI Mualamat DAN KOMUNIKASI TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA DI MAN 2 Kuningan”.
    Jurnal Edueksos.
    7
    (2): 161–176. ISSN 2548-5008.



  • Lee, Horizon. T. (2006). “Nurses’ perceptions of their documentation experiences in a computerized nursing care planning system”
    (PDF).
    Journal of Clinical Nursing.
    15
    (11): 1376–1382. doi:10.1111/j.1365-2702.2006.01480.x.



  • Awet, S. (2018). “Peran Teknologi intern Pendidikan di Era Kesejagatan”.
    Edureligia.
    2
    (2): 94–100. ISSN 2579-5694.



  • Manganello, J., Gerstner, G., Pergolino, K., Graham, Y., Falisi, A., &, Strogatz, D. (2015). “The relationship of health literacy with use of digital technology for health information: implications for public health practice”
    (PDF).
    Journal of public health management and practice.
    0
    (0): 1–8. doi:10.1097/PHH.0000000000000366.



  • McCartney, P. R. (2006). “Using technology to promote perinatal patient safety”
    (PDF).
    Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing.
    35
    (3): 424–431. doi:10.1111/j.1552-6909.2006.00059.x.



  • Moller, A. C., Merchant, G., Conroy, D. E., West, R., Hekler, E., Kugler, K. C., &, Michie, S. (2017). “Applying and advancing behavior change theories and techniques in the context of a digital health revolution: proposals for more effectively realizing untapped potential”
    (PDF).
    Journal of behavioral medicine.
    40
    (1): 1–14. doi:10.1007/s10865-016-9818-7.



  • More, E., &, McGrath, M. (2002). “An Australian case in e‐health communication and change”
    (PDF).
    Journal of Management Development.
    21
    (8): 621–632. doi:10.1108/02621710210437590.



  • Morris‐Docker, S. B., Tod, A., Harrison, J. M., Wolstenholme, D., &, Black, R. (2004). “Nurses’ use of the Internet in clinical ward settings”
    (PDF).
    Journal of Advanced Nursing.
    48
    (2): 157–166. doi:10.1111/j.1365-2648.2004.03183.x.



  • Muhasim (2017). “Otoritas Tehnologi Digital Terhadap Lecut Membiasakan Peserta Ajar”
    (PDF).
    Palapa: Surat kabar Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan.
    5
    (2): 53–77. ISSN 2540-9697.



  • Nasution, Z. (2011). “KONSEKUENSI SOSIAL Kendaraan TEKNOLOGI KOMUNIKASI BAGI MASYARAKAT”.
    Jurnal Reformasi.
    1
    (1): 37–41. ISSN 2407-6864.



  • Neuhauser, L., &, Kreps, G. L. (2003). “Rethinking communication in the e-health era”
    (PDF).
    Journal of Health Psychology.
    8
    (1): 7–23. doi:10.1177/1359105303008001426.



  • Ngafifi, M. (2014). “KEMAJUAN TEKNOLOGI DAN POLA HIDUP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA”.
    Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Tuntutan.
    2
    (1): 33–47. ISSN 2502-1648.



  • Novy Purnama, Horizon. (2009). “DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI TERHADAP Spirit SOSIAL BUDAYA”
    (PDF).
    Gema Eksos.
    5
    (1): 39–46. ISSN 1858-4071.



  • Putri, T. D. (2019-12-18). “Pengaruh Teknologi terhadap Pendidikan di Era sekarang”.
    INArxiv. doi:10.31227/osf.io/72sqb. Diakses tanggal
    2021-01-27
    .



  • Radhi, F. (2010). “PENGEMBANGAN APPROPRIATE TECHNOLOGY SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN PEREKONOMIAN INDONESIA SECARA MANDIRI”.
    Jurnal Ekonomi Kulak.
    15
    (1): 1–8. ISSN 2089-8002.



  • Ramanathan, K. (1994). “An integrated approach for the choice of appropriate technology”
    (PDF).
    Science and Public Policy.
    21
    (4): 221–233. doi:10.1093/spp/21.4.221.



  • Ramawati, D. (2011). “PENGGUNAAN PERANGKAT TEKNOLOGI INFORMASI Lega Peladenan Kesegaran Momongan DAN REMAJA”.
    Buku harian Mantra dan Teknologi Kesehatan.
    2
    (1): 9–13. ISSN 2086-8510.



  • Rifani, M. Tepi langit., Kasim, S. S., &, Tanzil (2019). “DAMPAK Pemakaian TEKNOLOGI PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI DALAM Nyawa Publik Petani SAWAH (Penyelidikan di Desa Ombu-Ombu Jaya Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan)”.
    Buletin Neo Societal.
    4
    (3): 862–870. ISSN 2503-359X.



  • Rofii, M. (2011). “PENGEMBANGAN SISTEM Takrif SUMBER DAYA MANUSIA KEPERAWATAN RUMAH Ngilu”.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan.
    2
    (1): 15–21. ISSN 2086-8510.



  • Rykkje, L. (2009). “Implementing electronic patient record and VIPS in medical hospital wards: evaluating change in quantity and quality of nursing documentation by using the audit instrument Pewarna-ch-Ing”
    (PDF).
    VARD I NORDEN.
    29
    (2): 9–13. doi:10.1177/010740830902900203.



  • Salamah U., &, Iskandar J. (2002). “KAJIAN Kekuasaan Ketatanegaraan TEKNOLOGI PERTANIAN DAN PETERNAKAN TERHADAP Peralihan SOSIAL DALAM PENINGKATAN Ketenteraman PETANI/PETERNAK”.
    Jurnal Sosiohumaniora.
    4
    (2): 116–133. ISSN 2443-2660.



  • Santyasa, I W. (2007). “LANDASAN Kamil MEDIA Penelaahan”
    (PDF).
    Direktori File UPI
    . Diakses tanggal
    2021-01-27
    .



  • Saputra M D., &, Ratnawilis (2019). “DAMPAK TEKNOLOGI Pertanian MODERN TERHADAP AKTIVITAS Perladangan PADI MASYARAKAT JORONG PIRUKO UTARA KECAMATAN SITIUNG KABUPATEN DHARMASRAYA”.
    Buku harian Buana.
    3
    (2): 205–216. ISSN 2615-2630.



  • Sari, R. P. (2018). “DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI Perkebunan TERHADAP PERUBAHAN PENDAPATAN Publik Petambak JAGUNG DI KELURAHAN WATALIKU KABUPATEN MUNA (Studi Di Kelurahan Wataliku Kecamatan Kabangka Kabupaten Muna)”
    (PDF).
    Jurnal investigasi Pendidikan Geografi.
    3
    (3): 283–294. doi:10.36709/jppg.v3i3.9171.



  • Selwyn, N. (2011).
    Education and Technology Key Issues and Debates
    (PDF). India: Replika Press Pvt Ltd. hlm. 26. ISBN 978-1-4411-5036-3.



  • Setiawan, D. (2018). “Dampak Kronologi Teknologi Butir-butir dan Komunikasi Terhadap Budaya”.
    SIMBOLIKA.
    4
    (1): 62–72. ISSN 2442-9996.



  • Sharif, N. (1994). “Integrating business and technology strategies in developing countries”
    (PDF).
    Technological Forecasting and Social Change.
    45
    (2): 151–167. doi:10.1016/0040-1625(94)90091-4.



  • Siaila, S. (2010). “PENGARUH Pergantian TEKNOLOGI TERHADAP Transformasi EKONOMI DAN TRANSFORMASI SOSIAL”.
    Soso-Q.
    2
    (2): 102–120. ISSN 2086-390X.



  • Simatupang, J. Kaki langit. (2006). “Pengembangan dan aplikasi iptek dalam pembangunan pertanian Indonesia”
    (PDF).
    Jurnal Penelitian Bidang Hobatan Pertanian.
    4
    (1): 1–7. Diarsipkan dari versi tulus
    (PDF)
    tanggal 2017-12-15. Diakses copot
    2021-01-28
    .



  • Soehoed, A. R. (1988). “Reflections on Industrialisation and Industrial Policy in Indonesia”
    (PDF).
    Bulletin of Indonesian Economic Studies.
    24
    (2): 43–57. doi:10.1080/00074918812331335379.



  • Subramanian, S. K. (1987). “Technology, productivity, and organization”
    (PDF).
    Technological Forecasting and Social Change.
    31
    (4): 359–371. doi:10.1016/0040-1625(87)90064-3.



  • Taopan, Y. F., Oedjoe, M. R., &, Sogen, A. N. (2019). “Dampak Kronologi Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Perilaku Moral Remaja di SMA Wilayah 3 Daerah tingkat Gelinggang”.
    Kronik Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran.
    5
    (1): 61–74. ISSN 2442-7667.



  • Törnvall, E., Wilhelmsson, S., &, Wahren, L. K. (2004). “Electronic nursing documentation in primary health care”
    (PDF).
    Scandinavian journal of caring sciences.
    18
    (3): 310–317. doi:10.1111/j.1471-6712.2004.00282.x.



  • Tornvall, E., &, Wilhelmsson, S. (2008). “Nursing documentation for communicating and evaluating care”
    (PDF).
    Journal of clinical nursing.
    17
    (16): 2116–2124. doi:10.1111/j.1365-2702.2007.02149.x.



  • Utami, S. S. (2010). “Kontrol TEKNOLOGI Butir-butir DALAM Jalan BISNIS”.
    Koran Akuntansi dan Sistem Teknologi Informasi.
    8
    (1): 61–67. ISSN 2656-3797.



  • Wahid, A. (2020). “DAMPAK SOSIAL TEKNOLOGI KOMUNIKASI BARU: Mempertimbangkan ULANG KONSEP COPYRIGHT DI INTERNET”.
    Buletin Ilmu Komunikasi.
    6
    (1): 1–16. ISSN 2502-0579.



  • Wahyuni, S., Hamzah, A., &, Syahnur, S. (2013). “ANALISIS PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI Distrik ACEH (AK Abstrak)”.
    Buku harian Ilmu Ekonomi.
    1
    (3): 71–79. ISSN 2302-0172.



  • Yani, A. (2018). “PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM Latar Kesegaran Mahajana”
    (PDF).
    PROMOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat.
    8
    (1): 97–103. ISSN 2503-1139.



  • Yusri (2016). “PENGARUH Penggunaan MEDIA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DENGAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS Peserta DIDIK KELAS X DI SMAN I DEKAI KABUPATEN YAHUKIMO”.
    Buletin Ilmiah ILKOM.
    8
    (1): 49–56. ISSN 2548-7779. Diarsipkan dari versi kalis tanggal 2020-02-14. Diakses rontok
    2021-01-27
    .



  • Zahara I., Yoesoef A., &, Nurasiah (2017). “TEKNOLOGI PERTANIAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP Roh EKONOMI DAN BUDAYA Publik DI KECAMATAN MONTASIK KABUPATEN ACEH Samudra (1985-2016)”.
    Harian Ilmiah Mahasiswa.
    2
    (3): 31–38. ISSN 2614-3658.



  • Zhu, J. Y., &, Protti, D. J. (2009). “National health information management/information technology strategies in Hong Kong, Taiwan and Singapore”.
    Studies in health technology and informatics
    (143): 122–128. doi:10.3233/978-1-58603-979-0-122.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia) Arti kata
    Teknologi
    dalam situs web Kamus Besar Bahasa Indonesia maka dari itu
    Badan Ekspansi dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kultur Republik Indonesia.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi

Posted by: holymayhem.com