Ulat Pada Tanaman Labu Cara Pengendalian

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH
https://www.kampustani.com/wp-content/uploads/2019/01/Pengendalian-Hama-dan-Problem-Pohon-Bawang-Merah.jpg

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Pohon BAWANG MERAH

Hama adalah organisme pengganggu tanaman nan dibudidayakan.

Penyakit adalah mikro organisme pengganggu pokok kayu secara fisiologis pokok kayu yang dibudidayakan.

Internal budidaya bawang sirah, kita bagi menjadi dua yaitu hama utama dan keburukan penting.

HAMA Utama Plong Pokok kayu BAWANG MERAH

  1.    Orong-orong (Gryllotalpa spp.)

Gejala serangan anjing tanah ditandai dengan layunya pokok kayu, karena akar tanaman dirusak makanya orong-orong

  1.    Ulat berambang ( Spodoptera exigua )
  2.    Ulat Grayak ( Spodoptera litura )

Gejala ofensif lega spodoptera hampir selaras yaitu adanya gua-lubang lega patera mulai dari siring patera meres atas ataupun sumber akar. Pohon inang spodoptera antara lain kacang-kacangan, bit, brokoli, bawang ahmar, berambang kalis, cabai, kentang dan sebagainya.

  1.    Lalat pengorok patera ( Liriomyza chinensis )

Gejala serangannya adalah positif totot putih akibat tikaman ovipositor dan berupa terowongan korokan larva yang berkelok-kelok. Pada kejadian serangan berat, dempang seluruh helaian patera mumbung dengan kelokan, sehingga menjadi kering dan berwarna coklat sama dengan terbakar.

  1.    Thrips ( Thrips Tabaci )

Gejala serangan daun bercat putih keperak-perakan, puas serangan hebat seluruh tanaman bercelup putih dan akhirnya tumbuhan antap. Gempuran hebat terjadi pada hawa gegana umumnya di atas normal dan kelembaban kian berpokok 70%.

PENYAKIT Terdahulu Sreg TANAMAN Umbi lapis MERAH

  1.    Bercak ungu/trotol ( Alternaria porri )

Patogennya merupakan serabut alternaria porri, gejala serangannya adalah, infeksi semula pada daun menimbulkan noda berformat kecil, melekuk ke kerumahtanggaan, berwarna putih dengan pusat bercelup ungu ( kelabu ).

  1.    Ki aib antraknosa/otomatis ( Colletotrichum gloeosporioides )

Penyebabnya adalah cendawan colletotrichum gloeosporioides, gejala terjangan nan ditimbulkan ialah ditandai dengan terlihatnya bercak berwarna tulus pada patera, selanjutnya terbentuk kelukan ke dalam ( invaginasi ), bertembuk dan abtar karena terkulai tepat pada noda tersebut. Jikalau infeksi berlangsung maka terbentuklah koloni konidia yang bercat merah cukup umur yang kemudian berubah menjadi coklat mulai dewasa, coklat sepuh dan akhirnya kehitam-hitaman.

  1.    Penyakit layu fusarium/moler/twisting disease ( Fusarium oxysporum )

Penyebabnya ialah baja fusarium oxysporum, gejala serangannya adalah sreg bagian bawah kucai, risikonya pertumbuhan akar alias umbi terganggu. Gejala visualnya yaitu daun nan masak dan mengarah terpelintir (terputar), tumbuhan lewat mudah tercabut karena pertumbuhan akar terganggu bahkan membusuk.

  1.    Penyakit calit patera Serkospora ( Cercospora duddiae )

Patogennya adalah cendawan cercospora duddiae, gejalanya adalah bercak klorosis rata-rata terkumpul sreg ujung daun dan rajin terbantah terpisah dengan yang menginfeksi sumber akar daun, sehingga gejala

PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu konsepsi alias cara berpikir adapun pengendalian Organisme Pengganggu Pohon (OPT) dengan pendekatan ekologi yang bersifat multidisiplin cak bagi mengelola populasi wereng dan problem dengan memanfaatkan beragam taktik pengendalian yang kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi manajemen.

Karena PHT yaitu suatu sistem pengendalian nan memperalat pendekatan ekologi, maka pemahaman adapun biologi dan ekologi hama dan penyakit menjadi silam terdepan.

Ada catur prinsip radiks yang menolak penerapan PHT secara nasional,terutama internal rangka acara pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

  1.  Budidaya tanaman cegak

Budidaya tumbuhan yang sehat dan kuat menjadi bagian bermakna kerumahtanggaan program pengendalian hama dan penyakit. Tanaman yang sehat akan berlimpah bertahan terhadap serbuan hama dan penyakit dan kian cepat mengatasi kerusakan akibat terjangan hama dan ki aib tersebut. Maka dari itu karena itu, setiap usaha privat budidaya tumbuhan, sebagaimana penyortiran varietas, penyemaian, konservasi tanaman sampai penanganan hasil panen perlu diperhatikan seyogiannya diperoleh pertanaman yang sehat, kuat dan produktif, serta hasil panen yang tinggi.

  1. Pemanfaatan tampin alami

Pengendalian hayati dengan memanfaatkan p versus alami nan potensial merupakan lemak tulang jejak kaki PHT. Dengan adanya musuh alami nan rani menekan populasi hama, diharapkan di dalam agroekosistem terjadi keseimbangan populasi antara wereng dengan padanan alaminya, sehingga populasi wereng tidak melampaui ambang ketabahan pokok kayu.

  1.  Pengamatan rutin alias pemantauan

Agroekosistem bersifat dinamis, karena banyak faktor di dalamnya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Bikin bisa mengikuti perkembangan populasi hama dan lawan alaminya serta bagi mengetahui kondisi pohon, harus dilakukan pengamatan secara rutin. Mualamat nan diperoleh digunakan sebagai dasar tindakan nan akan dilakukan.

  1.  Petani sebagai ahli PHT

Penerapan PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem setempat. Rekomendasi PHT hendaknya dikembangkan oleh petani sendiri. Semoga pekebun congah menerapkan PHT, diperlukan kampanye sosialisasi PHT melangkaui pelatihan baik secara legal maupun informal.

Hal-hal yang diperlukan cak bagi penerapan PHT

Berdasarkan prinsip-prinsip nan telah dikemukakan, maka kerjakan penerapan PHT diperlukan onderdil teknologi, sistem pemantauan yang tepat, dan petugas atau peladang yang terampil dalam penerapan komponen teknologi PHT.

Namun tak lepas berpangkal itu cak semau 7 komponen penting dalam PHT merupakan :

  1. Pengendalian secara fisik
  2. Pengendalian secara mekanik
  3. Pengendalian secara kebudayaan teknik
  4. Pengendalian secara varietas tahan
  5. Pengendalian secara hayati
  6. Pengendalian dengan kanun/regulasi/karantina
  7. Pengendalian secara kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan umpama alternatif bontot, sahaja intern penggunaan racun hama kimia juga harus tepat sasaran, tepat waktu dan tepat dosis.

Demikian ulasan tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman bawang merah secara ringkas dan jelas, moga bisa membukit wawasan dalam bidang pertanaman dan bermanfaat untuk dia.

Source: http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/77942/PENGENDALIAN-HAMA-DAN-PENYAKIT-TANAMAN-BAWANG-MERAH/

Posted by: holymayhem.com