Jakarta (ANTARA) – Deru suara miring mesin perontok padi meraung kencang, seolah sedang berpesta menyambut hasil panen petani di Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Perdua.

Di pangkal berat Mentari, Waluyo, bersama sejumlah orang tani anggota Gabungan Gerombolan Tani Maju Makmur, perdua memetik hasil pada masa penuaian ketiga.

Bagi Waluyo dan sejumlah peladang anggota Gabungan Kelompok Tani Maju Makmur, datangnya waktu panen kali ini dirasa sangat berbeda berasal sebelumnya.

Terlebih berbunga mereka beralih budi sentral antah menggunakan tolok podium pari berkelanjutan (sustainable rice platform/SRP) bilang tahun belakangan ini.

Masa ini, ada sekitar 25 uang lelah berpunca total 50 petambak internal kelompoknya yang telah menerapkan standar SRP tersebut.

Sejumlah penanam memanen padi di lahan sawah Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (5/11/2022). ANTARA/Yogi Rachman

Ada peningkatan hasil produksi padi menggunakan standar SRP dengan sistem jajar legowo 2 : 1, adalah kaidah tanam padi di mana setiap dua jajar pohon diselingi makanya satu tentara kosong yang mempunyai jarak dua kali mulai sejak jarak tanaman antarbaris.

Jika rata-rata dengan metode konvensional sahaja mendapatkan 30 karung, bisa jadi ini dengan standar SRP boleh 33 karung.

Peningkatannya tiga sampai empat karung hasil pengetaman, atau sekitar dua hingga tiga kuintal.

Silih acuan pikir

Gerombolan tani enggak di Klaten yang sudah lalu merasakan kurnia terbit budi buku padi menggunakan standar SRP adalah nan tergabung dalam Koperasi Tani Pangan Langgeng (KTPL) di Kecamatan Cawas.

Ketua KTPL Rustamaji mengklarifikasi ada selingkung 360 petani yang tergabung dalam koperasi tersebut. Penerapan SRP di kelompok bertanam itu telah dilakukan sejak satu tahun belakangan ini.

Selain peningkatan produksi padi, metode SRP pun mampu menjawab cak bertanya nan sejauh ini para petani keluhkan, misalnya kondisi lahan nan sudah parah akibat residu kimia.

Sebab, dalam tolok SRP para peladang diarahkan lakukan menggunakan pupuk organik. Pengendalian hama dengan standar SRP dilakukan secara alami. Penggunaan bahan ilmu pisah tidak diizinkan, kecuali dalam kondisi terpaksa.

Penggunaan lengkap tanam baris legowo n domestik barometer SRP tersebut juga bisa mengantisipasi serangan wereng karena jarak yang tidak terlalu rapat, sehingga pendayagunaan pestisida dapat dikurangi.

Dengan pola itu peladang boleh merevisi lagi struktur petak. Petani sudah merasakan di tingkat orang tani petak sudah tidak sesubur dulu.

Penggunaan serabut organik itu juga membentuk peladang tak juga kegalauan di perdua pembatasan rabuk bersubsidi saat memasuki masa tanam.

Lain hanya itu, biaya produksi yang dikeluarkan maka itu petani pula menjadi jauh bertambah murah 20 uang lelah jika dibandingkan dengan metode konvensional.

Konsep budi ki akal gabah dengan standar SRP sepatutnya ada bukan jauh berbeda dengan metode sah yang sebelumnya sudah lalu dilakukan orang tani secara drop-temurun.

Khuluk muslihat padi dengan kriteria SRP lebih tertata karena memiliki pola administrasi yang baik, tiba dari persiapan tadinya tanam hingga pencatatan yang lebih detail.

Dengan persiapan awal yang lebih terencana itu membuat para penanam mudah untuk ikutikutan lahannya, tertulis lakukan urusan memilih benih yang disesuaikan dengan kebutuhan musim tanam.

Sejumlah petani memanen antah di lahan sawah Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Perdua, Sabtu (5/11/2022). ANTARA/Yogi Rachman

Secara tidak langsung pun fiil daya pari dengan standar SRP kaya memungkiri pola pikir peladang dalam menggarap lahannya mudahmudahan bertambah terencana dan mendapatkan hasil yang maksimal.

Petani merasakan, beras hasil panen dengan metode SRP juga jauh lebih bagus dan segar dibandingkan dengan metode konvensional.

Meski demikian, petani enggak menampik bahwa mereka masih kesulitan bakal mengenalkan beras hasil panen dengan metode SRP kepada masyarakat mahajana.

Karena ini konsep baru, baik terbit produsen dan konsumen belum terserah yang luang SRP. Hasilnya, kesulitan mereka tak boleh mem-branding.  Beras hasil SRP perlakuannya semi organik, namun petani nan hendak menaikkan harga kesulitan. Maka, beras hasil SRP itu dijual dengan harga seperti mana beras biasa.

Bikin menyiasati peristiwa tersebut, Rustamaji dan peladang di kelompoknya menggunakan benih padi varietas unggul, sama dengan Rojolele Srinuk yang memiliki harga jual panjang di pasar.

Sertifikasi SRP

Podium Padi Berkelanjutan diciptakan pertama kali makanya Program Lingkungan Sekolah tinggi Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Lembaga Penelitian Pari Sejagat (IRRI) pada masa 2011.

SRP bertujuan untuk membantu orang tani padi, baik yang subsisten atau nan berpusat pada pasar, agar dapat memproduksi padi dengan makin efisien, meningkatkan pendapatan dan menjaga lingkungan tetap fit.

SRP diperkenalkan pertama kali di Indonesia makanya NGO Internasional Rikolto nan berpusat di Belgia, pada Tahun 2018.

Untuk di Indonesia, menurut Rice Program Manager Rikolto Indonesia, Nana Suhartana, cak semau tiga kabupaten yang masuk program beras berkelanjutan, yaitu di Boyolali, Klaten, dan Blitar (Jatim).

Rikolto Indonesia masa ini telah memiliki tiga organisasi hampiran di dua Kabupaten di Jawa Tengah, ialah Boyolali dan Klaten. Mereka menjadi pelopor dalam mengadopsi praktik budi daya menggunakan standar SRP.

Penanam menunjukkan hasil produksi pari dengan metode SRP di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (5/11/2022). ANTARA/Yogi Rachman

Ketiga organisasi dampingan Rikolto ialah, Asosiasi Pembajak Organik Boyolali (APOLI), Kabupaten Boyolali; Relasi Pekebun Organik Boyolali (APOB), Kabupaten Boyolali; dan Koperasi Tani Wana Abadi (KTPL), Kabupaten Klaten.

SRP diterapkan di Indonesia dengan model demplot (demonstration plot), start diterapkan 2018. Saat ini sudah terserah sekitar 1.700 petani nan berbuat tolok SRP.

Sejak diperkenalkan pertama kali hingga momen ini, telah terjadi peningkatan kemampuan petani internal menjalankan metode SRP.

Dalam metode SRP itu ada kriteria yang berisi 41 permintaan nan harus dipenuhi penanam. Sejauh ini para petani karib menjalankan 41 permintaan yang harus dipenuhi dalam metode SRP tersebut.

Berasal model survei yang dilakukan waktu mulanya tahun 2018, nilai rata-rata petani seputar 60. Kemudian meningkat bintang sartan 70, 80. Harapannya tahun depan boleh mendapatkan ponten di atas 90.

Penilaian itu nantinya dapat dijadikan modal oleh petani bikin mendapatkan sertifikasi SRP dari hasil panen padi miliknya yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi SRP internasional.

Sehingga belakang hari harapannya kita bisa dapatkan harga yang cukup baik dibandingkan harga padi sahih. Kemudian kesentosaan petani bisa ditingkatkan dengan model peningkatan produksi dan model sertifikasi.

Kualitas tanah

Penerapan budi daya padi dengan tolok SRP di Kabupaten Klaten tersebut juga berkat perhatian mulai sejak pemerintah daerah setempat.

Pengarah Dinas Pertanian Kesabaran Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten, Widiyanti, menjelaskan bahwa pemerintah distrik mempunyai misi, salah satunya membangun perekonomian rakyat berbasis dari sumber daya lokal.

Salah satu program utama dari Dinas Pertanian Klaten dalam melaksanakan misi tersebut adalah melalui program Klaten Mandiri Pangan (Mapan).

Data dinas pertanian menunjukkan luas area pangan berkelanjutan di Klaten ada 32 ribu hektare. Namun buat dapat takhlik mandiri pangan itu luas persil doang tidak cukup.

Perhatian utama dinas perladangan dalam mewujudkan mandiri pangan adalah kondisi lingkungan berasal tanah nan ada. Bagaimana lahan tersebut bisa menyediakan keadaan dan kondisi yang sehat, sehingga baik bakal produksi alas.

Di satu sisi, dengan adanya SRP itu sememangnya intim sama, yakni persawahan presisi dengan pendayagunaan anasir hara yang tepat cak bagi tanaman.

Pendayagunaan pupuk organik yang ditekankan n domestik metode SRP sejalan dengan program mandiri hutan dalam upaya menciptakan kapling yang bebas residu ilmu pisah.

Pemanfaatan pupuk organik dapat merevisi struktur dan tekstur tanah sehingga kondisi lahan tidak jenuh akibat pemanfaatan incaran kimia.

Harapannya dengan ini petani akan makin efisien dalam pendayagunaan rabuk karena sebanyak apapun pupuk nan diaplikasikan, kalau tanahnya tak bagus, maka bukan akan dapat berproduksi dengan baik.

Lebih lanjur, budi pusat padi dengan standar SRP bisa cacat demi invalid menidakkan pola pikir dari petani dalam hal penggarapan lahan.

Denagn penerapan itu, semuanya berproses bagi dapat mengubah contoh pikir biar petambak bisa menggunakan teknologi secara tepat, sehingga dari aspek sarana lebih efisien dan dari aspek produksi bisa ditingkatkan lagi.

Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2022