Tuntutan Bani Israil Tanah Bisa Ditanami Sayuran

Makanya
HASANUL RIZQA

Dalam banyak kesempatan, suku bangsa Yahudi rajin mengeklaim Yerusalem sebagai “tanah yang dijanjikan Tuhan” untuknya. Biasanya, mereka merujuk pada dalil dari pustaka Injil, terutama Kitab Hal (Genesis).

Salah satu ayatnya berbunyi, “Aku (Allah) akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau (Musa) serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian nan kekal …. Akan Kuberikan negeri ini yang kau diami sebagai orang asing, yakni seluruh Petak Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu bagi sepanjang-lamanya.”

“Tanah Kanaan” yang dimaksud adalah negeri di sebelah barat Wai Yordan. Sangat, Anak laki-laki Israil yang dipimpin Yusya bin Nun (Yosua) berhasil menaklukkan kawasan tersebut. Sreg zaman maju, Kanaan waktu ini merujuk lega Yerusalem, kawasan Palestina.

Semata-mata, apakah klaim tersebut benar adanya disuarakan sreg zaman sekarang? Lagipula, siapa Yahudi tersebut? Apakah bisa disamakan dengan para pemandu Zionisme, khususnya “negara” Israel?

Riwayat bangsa Yahudi dapat ditelusuri sejak salah suatu putra Utusan tuhan Ibrahim AS, yakni Ishaq AS. Beliau memiliki pertalian keluarga hingga Nabi Ya’kub. Nabi inilah nan bergelar
Israil sehingga momongan cucunya disebut perumpamaan Bani Israil.

Secara harfiah,
israil terdiri atas
isra (hamba) dan
Il (Halikuljabbar).
Israil lagi berarti ‘hamba Allah’ atau ‘seseorang yang dekat dengan Tuhannya’.

Nabi Ya’kub inilah yang bergelarIsrail sehingga anak cucunya disebut ibarat Bani Israil.

Tanda
Yahudi dinisbahkan pada salah seorang putra Nabi Ya’kub nan bernama Yahudza. Di samping adam ini, cak semau 11 orang lainnya yang juga ialah momongan kandung sang Israil. Mereka adalah Utusan tuhan Yusuf AS, Benyamin, Ruben, Simeon, Lewi Yehuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, serta Asyer. Bermula besaran 12 putra Ya’kub, unjuk 12 tungkai bangsa Israil.

Bani Israil menerima persekusi dari rezim Firaun selama sangat di Mesir. Allah SWT kemudian mengutus Utusan tuhan Musa di tengah mereka. Tembuni Nabi Harun AS itu lalu memimpin pertalian keluarga Rasul Ya’kub tersebut keluar dari Mesir mengarah kawasan nan diberkahi, Yerusalem.

NamaYahudi dinisbahkan pada riuk seorang putra Nabi Ya’kub yang bernama Yahudza.

Setelah berbuntut melampaui Laut Merah, atas izin Allah Ta’ala, mereka juga kian dekat ke tanah yang dijanjikan itu. Akan tetapi, mereka malah culas merebut Palestina dari tangan bangsa luar yang menguasainya kala itu. Sikap Bani Israil ini diabadikan n domestik Alquran, surah al-Maidah ayat 24.

Artinya, “Mereka bersabda, ‘Aduhai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih cak semau di dalamnya, karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah anda empat mata. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja’.

Sang pencipta kemudian menghukum Bani Israil. Mereka dibiarkan tersesat, berputar-balik sonder arah di Sahara Sinai sepanjang 40 tahun. Tidak boleh kembali ke Mesir. Tidak pun berharta keluar menentang Yerusalem. Dalam tahun itu pun, generasi lama digantikan yang baru. Setelah berhitung dekade, akibatnya Bani Israil dapat keluar mulai sejak padang pasir tersebut. Inilah yang terjadi pada masa Yusya bin Nun (Yosua).

Sejak itu, anak cucu Ya’kub AS ini dapat mendirikan negeri sendiri di Yerusalem. Waktu puncaknya terjadi pada masa Rasul Daud dan Nabi Sulaiman. Wilayah kekuasaannya sepan luas, menghampari daerah seputar Sungai Nil hingga Sungai Eufrat di timur, serta Suriah di utara.

Sesudah wafatnya Nabi Sulaiman, pelbagai peristiwa datang silih berganti. Akhirnya, Imperium Yudea menjadi kerajaan terakhir nan didirikan Bani Israil dengan bermami kota di Yerusalem.

Penasihat bermula Persia itu mengizinkan kaum Yahudi menghuni Yerusalem dan memperbaiki bangunan Baitul Maqdis.

Ii kabupaten itu lantas diserbu Nebukadnezar dari Babilonia. Tiba momen itu, mereka hidup sonder kapling air. Sreg tahun 550 sebelum Masehi, Raja Koresh Agung mengecundang Babilonia. Pemimpin dari Persia itu mengizinkan kaum Yahudi menghuni Yerusalem dan membetulkan bangunan Baitul Maqdis.

Kota ini kemudian jebluk ke tangan Romawi. Lega abad pertama Masehi, kaum Yahudi memberontak terhadap imperium tersebut. Kaisar Roma enggak sekadar memadamkan pertempuran itu, tetapi juga mengandaskan Baitul Maqdis.

Sejak itu, orang-orang Ibrani kembali lewat bercerai-berai. Di antaranya terserah yang bermigrasi ke Arab, sehingga terletak keturunannya yang senggang berpatut Rasulullah SAW di Madinah.

Suku bangsa Muslimin dapat mengeluarkan Yerusalem sreg era
khulafaur rasyidin, Umar bin Khattab. Oleh amirul muknimin tersebut, daerah tingkat ini dibuka kerjakan seluruh umat, lain hanya Islam, melainkan juga Ibrani dan Kristen. Hingga abad ke-20, kekuasaan atas area ini rata-rata mampu di tangan Muslimin.

Internal kurun waktu ratusan tahun, bangsa Yahudi hidup tanpa tanah air. Secara genealogis, mereka berasal berbunga 12 tungkai yang baka Utusan tuhan Ya’kub AS. Bagaimanapun, sejak abad pertengahan mereka caruk disebut berdasarkan provinsi panggung tinggalnya.

Beberapa konseptual di antaranya adalah Yahudi Mizrahi dan Sephardi. Yang purwa itu menetap di negeri Timur Tengah. Mengenai yang kedua awalnya tinggal di Andalusia (Spanyol), terutama di bawah pemerintahan tuanku-yamtuan Islam. Sejak pecahnya Inkuisisi Spanyol sreg abad ke-15, mereka pun mengimbit ke Turki, Afrika Utara, ataupun Yunani.

Terkait riwayat yang tahapan dan susah itu, apakah Yerusalem masih ialah tanah nan dijanjikan Tuhan lakukan mereka? Dalam Alquran surah al-Anbiya ayat 105, Allah menekankan jawaban.

Khasiat ayat itu, “Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (termuat) di n domestik adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh), bahwa manjapada ini akan diwarisi makanya hamba-hamba-Ku yang imani.”

Sebagian ahli tafsir mengartikan “manjapada ini” sebagai tanah suci. Dengan demikian, Yerusalem itu ditegaskan maka itu Sang pencipta Ta’ala akan diwariskan cak bagi hamba-hamba-Nya yang saleh.

Apakah kaum Ibrani memenuhi kriteria “hamba Almalik yang alim”?

Imran N Hosein n domestik
Jerusalem in the Quran (2012) mengatakan, penandasan tentang kriteria tersebut sampai-sampai telah termuat intern Kitab Zabur, yakni ayat Mazmur yang berbunyi, “Insan-orang alim akan mewarisi Tanah (Suci) dan suntuk di sana selamanya.”

Maka menjadi makul bila kaum ini berulang kali tersepak dari Yerusalem karena meninggalkan perilaku saleh. Dan, Alquran pun mengistilahkan beberapa model tabiat nirsaleh itu, semisal memenggal para nabi.

Ketika Rasul Muhammad SAW diutus, lanjur Imran, sepantasnya suku bangsa Yahudi sudah dimudahkan Allah untuk mengenali kenabian sira. Bahkan, tera nan teramat jelas juga ditunjukkan. Misalnya, sederum umat Islam masih disyariatkan cak bagi shalat dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis.

Dalam paser waktu itu, masih saja banyak kaum Yahudi nan mendorong kesahihan risalah Rasulullah SAW. Akhirnya, Allah menjadwalkan berubahnya arah kiblat Muslimin, yakni ke Ka’bah di Makkah.

Sejak abad ke-20, Gerakan Zionis Internasional yang didirikan Theodor Herzl (1860-1904) berupaya merebut tak hanya Yerusalem, tetapi juga seluruh area di antara Sungai Yordan dan pantai Mediterania—Palestina. Mereka mengeklaimnya sebagai “tanah yang dijanjikan” bakal bangsanya, Yahudi.

Padahal, berbagai pendalaman membuktikan, mereka sendiri terlebih tidaklah tercantum Ibnu Israil. Mereka subur di asing 12 suku bangsa keturunan Nabi Ya’kub AS.

Mereka adalah kaum “Yahudi” Ashkenazi, yang nenek moyangnya berasal dari Asia Tengah atau Kaukasus, alih-alih Palestina. “Keyahudian” mereka lagi didapat dari memeluk agama Yahudi.

Hipotesis mengenai Ashkenazi ini pertama diajukan ahli album Semit nan juga pentolan konsep negara-nasion modern, Ernest Renan. Barulah puas abad ke-21, teori Ashkenazi mendapatkan keabsahan berdasarkan penekanan genetik yang dilakukan para cendekiawan, semisal Eran Elhaik dari Universitas John Hopkins School of Public Health.

Gagasan di kencong Zionisme yang melahirkan “negara” Israel merupakan penjajahan atas bangsa tempatan, yakni Palestina. Kalaupun suku bangsa Zionis ini mencitacitakan sebuah kapling air yang di atasnya “kosong adakalanya”, itu mungkin hanya terjadi.

Memberitakan
Haaretz, dalam Kongres Zionis VI sreg 1903 terungkap bahwa Inggris sebenarnya sudah memberi sinyal setuju untuk menyempatkan provinsi koloninya di Afrika Timur kerjakan persil bikin sebuah “koloni maupun permukiman Yahudi”.

Proposal ini sering disebut sebagai “Skema Uganda”, biarpun kawasan yang dimaksud adalah bagian bersumber negara Kenya modern kini, bukan Uganda. Herzl sempat membiji, proposal ini merupakan solusi jitu bagi kaum Yahudi saat itu.

Menurutnya, mereka bisa tinggal di sana untuk bernaung berpunca gelombang antisemitisme dan kekerasan, cak sambil menunggu terpenuhinya “janji Allah” adapun Palestina. Tambahan pula, menyetujui skema ini berarti semakin eratnya hubungan Zionisme Antarbangsa dengan Britania Raya.

Setahun sebelum kematiannya, Herzl lebih-lebih sudah menyetujui pengapalan cak regu penyelidik untuk mengejar luang peristiwa Afrika Timur. Akan saja, ketika Kongres Zionis VII digelar, banyak peserta merasa kecewa.

Bukan lantaran kondisi faktual nomine kapling air Ibrani di Benua Hitam itu, melainkan kian kepada alasan ideologis. Mereka merasa seleksi negeri manapun selain Palestina akan bertolak bokong dengan ideologi Zionisme.

Israel, Entitas Apartheid-Rasialis

Dalam interelasi dunia internasional, negara nan contoh adalah yang menjunjung kebinekaan, demokrasi, dan keterbukaan. Tiga sifat itu nyaris mustahil ditemukan di Israel.

Sejak 2018 lampau, Israel memberlakukan Undang-Undang Negara Bangsa Orang Ibrani. UU ini tidak sahaja menegaskan klaim bahwa Israel sebagai persil air historis individu Yahudi. Beleid yang sama juga mengeklaim Yerusalem nan utuh sebagai ibu kotanya.

Kebiasaan ini dengan faktual menafikan fakta bahwa di wilayah Israel (baca: wilayah hasil penjajahan atas Palestina) pun lain semata-mata terletak bangsa Yahudi, melainkan juga Arab. UU ini dengan sekonyong-konyong menegaskan bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi.

Bahasa Arab yang dipakai sekira dua juta warga Israel dikeluarkan berpunca daftar bahasa biasa. Kebijakan ini menjadi dasar penghilangan bahasa dan aksara Arab lega plang-plang atau penunjuk jalan di bermacam-macam kemudahan umum setempat.

Golnya UU Negara Bangsa Sosok Yahudi cuma mungkin terjadi dengan yuridiksi partai penguasa saat itu—justru sebatas kini—yakni Partai Likud. Puak yang diketuai Benjamin Netanyahu ini, saat beleid tersebut disahkan, tanggulang mayoritas.

Sebanyak 66 dari total 120 geta parlemen Israel (Knesset) dimiliki koalisi Likud. Adapun angkatan oposisi diisi organisasi politik-organisasi politik berhaluan kiri. Tercantum di dalamnya adalah organisasi politik-partai nan didirikan orang Arab di Israel.

Para politikus oposisi melakukan unjuk rasa persisten. Beberapa di antaranya agak gelap dan menyobek-robek naskah RUU tersebut.

Rapat paripurna Knesset yang mengesahkan UU tersebut dihadiri Netanyahu. Dalam kesempatan itu, para ahli politik oposisi berbuat protes gentur. Bilang di antaranya agak kelam dan merobek-robek naskah RUU tersebut.

UU Negara Bangsa Turunan Ibrani menjadi tonggak yang sangat mengistimewakan identitas Israel ibarat negara satu ras tetapi, yakni Ibrani. Keberagaman disingkirkan. Pada praktiknya, pemerintahan Netanyahu sedang menerapkan politik apartheid yang membentuk penguasaan segregasi rasial. Tidak ubahnya Afrika Selatan sebelum era 1990-an, ataupun apalagi lebih buruk lagi.

Menurut Roger Garaudy intern
Saga dan Politik Israel (2000), sejak mulanya zionisme bersikap antipati terhadap fotosintesis. Mereka menganggap, kaum Yahudi terbiasa menjaga “orisinalitas darah” agar lain bercampur dengan non-Yahudi (gentile).

UU Negara Nasion Orang Yahudi menjadi patok yang sangat mengistimewakan identitas Israel sebagai negara satu ras saja, yakni Yahudi.

“Privat hal ini,” tulis Garaudy, “mereka berintegrasi dalam visi dasar seluruh paham rasisme, tercatat Hitler.” Karenanya, lain mengganjilkan bila akhirnya UU demikian disahkan dan diberlakukan di Israel, wujud negara dari gagasan Zionisme strategi.

Saat ini, perlahan namun pasti, perebutan Israel kian meluas, mencangam satu per suatu wilayah Palestina pasca-Perang 1967. Wujud pencaplokan lahan itu terjadi terutama di Tepi Barat. Sekeliling 500 ribu hamba allah Israel (baca: Yahudi) dengan entengnya merebut rumah-rumah warga Palestina di sana.

Tidak hanya itu, pengaturan Israel juga mematok bertamasya mana yang hanya bisa dilalui sosok Israel. Alhasil, warga Palestina di negeri mereka sendiri justru dipaksa melewati jalan terpinggirkan. Itu pun masih harus melalui pos-pos pengecekan yang dijaga polisi dan barisan Israel.

Belum lagi keadaan nestapa penduduk Jalur Gaza ataupun jutaan insan Palestina yang hidup di pengungsian. Maka, dahulu aneh polong ajaib bila masih ada pihak-pihak tahun ini yang membela Israel.

Bagi segala apa berpihak sreg penjajah? Mengapa menutup mata terhadap nasib bangsa terjajah? Album akan mengamati, di mana keberpihakan kita puas masa-periode saat ini ini. Baca Selengkapnya’;

Source: https://www.republika.id/posts/16986/untuk-siapa-%E2%80%98tanah-yang-dijanjikan%E2%80%99

Posted by: holymayhem.com