Tren Tanaman Hias Saat Ini

Gambar 1. Fenomena Kecenderungan Pohon Solek di Masa Endemi Covid-19 (Dokumentasi pribadi, 2022).


Pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia sejak pertama mana tahu pasien terkonfirmasi maujud pada 2 Maret 2020, penularan serta penyebaran terus mengalami peningkatan. Pahit lidah dari data web Satgas Penanganan Covid-19 di Indonesia, kasus terkonfirmasi positif mencapai 5.981.022 jiwa. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah mengambil ketatanegaraan PPKM. Masyarakat dituntut untuk mengerjakan segala apa aktivitas di kondominium, sehingga mahajana tiba menemukan aktivitas baru agar tetap produktif di masa pandemi. Riuk satunya yakni melakukan budidaya tanaman hias, hal ini kemudian memunculkan tren tanaman hias di kalangan masyarakat. Dengan munculnya mode tersebut memberikan dampak positif bagi orang tani dan pengusaha tanaman hias. Seiring dengan meningkatnya permintaan tanaman rias, biaya produksi nan dikeluarkan kembali semakin meningkat. Lewat, bagaimana fenomena ini bisa terjadi di tengah-paruh masyarakat?



Fenomena Perubahan Perilaku Mahajana di Periode Pandemi



Pandemi Covid-19 mampu menafsirkan rapat persaudaraan seluruh kegiatan mahajana, sehingga siapapun harus beradaptasi dengan segala apa pergantian nan terjadi. Tidak hanya berdampak sreg kesehatan, pandemi mengubah perilaku sosial masyarakat. Pelecok suatu kejadian yang paling kecil mencolok pada perilaku sosial masyarakat adalah kecenderungan untuk mengerjakan kegiatan berpadan tanam sebagai halnya mengoleksi berbagai tanaman rias. Tumbuhan solek diminati maka itu berbagai lingkaran mahajana dikarenakan tanaman hias bernas menghilangkan rasa bosan sebab memiliki rona dan bentuknya yang indah. Selain itu, lahan yang digunakan kerjakan budidaya tanaman solek ini cukup minim serta perawatan yang relatif mudah.



Fenomena Kompilasi Tumbuhan Solek di Kota Malang Saat Epidemi Covid 19



Epidemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 telah mengakibatkan pergeseran perilaku konsumsi awam Indonesia, salah satunya minat beli masyarakat terhadap pokok kayu hias. Selama pandemi berlangsung daya minat beli masyarakat terhadap pokok kayu solek mengalami kenaikan secara signifikan. Hal ini dapat dibuktikan di Kota Malang bahwa dengan adanya tren ini membuat penjualan tanaman hias meningkat. Eskalasi tersebut terjadi akibat banyak faktor diantaranya yaitu adanya efek Bandwagon/ikut-ikutan/trend, efek Snob/gengsi, dan efek Veblen/pamer. Selain itu, mudahnya perawatan pada tanaman hias serta kondisi lingkungan nan membantu membuat minat budidaya tumbuhan hias pada publik Kota Malang semakin tinggi.



Perpautan Kenaikan Daya Beli Tanaman Rias Dengan Biaya Produksi yang Dikeluarkan



Adanya kecondongan antologi pohon hias, tentunya mengapalkan dampak nyata bikin petani dan pengusaha tumbuhan hias. Sesuai dengan hukum pasar, yakni ketika penggemar terhadap satu dagangan meningkat, maka harganya sekali lagi akan semakin meningkat. Tetapi dibalik keuntungan yang didapatkan, ada beberapa tantangan nan harus dihadapi. Salah satunya yakni meningkatnya biaya produksi. Biaya produksi merupakan biaya kebutuhan pati dan perawatan yang menghampari pupuk, racun hama, pegawai, serta biaya lainnya. Tingginya biaya pembibitan dikarenakan harga tumbuhan hias yang terus mengalami peningkatan. Selain itu, biaya perawatan yang dibutuhkan untuk merawat pohon solek yang belum laris terjual juga tidak tekor.


Dampak Wabah Covid-19 terhadap peralihan perilaku masyarakat salah satunya ialah maraknya budidaya tumbuhan solek di rumah. Fenomena ini menjadi hobi hijau buat masyarakat nan kembali memiliki prospek jual beli menjanjikan. Dengan meningkatnya minat umum terhadap tanaman solek, tentu membawa dampak positif bagi petani dan pengusaha tanaman hias. Di samping itu, meningkatnya biaya produksi juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani dan pelaku operasi.

Source: https://kumparan.com/fatimatuzzahro-1654581416396644025/pandemi-covid-19-fenomena-tren-tanaman-hias-1yE04Cpa5wN

Posted by: holymayhem.com