Tindakan Perlindungan Tanaman Dengan Cara Budidaya

PERLINDUNGAN
tanaman berperan penting dan diplomatis dalam membantu ketahanan pangan. Peran taktis dimaksud adalah menekan kehilangan hasil sehingga pertambahan produksi pangan tetap terjaga. Kualitas pun lagi demikian.

‘Langkah pemeliharaan tana­man ini lebih efektif pun jikalau petani dilibatkan secara aktif. Oleh karena itu pemberdayaan penanam sekaligus meningkatkan kelincahan terus dilakukan semoga paham terhadap perlindungan tanaman tersebut,” kata Gubernur Irwan Prayitno belum lama ini.

Upaya peningkatan informasi dan keterampilan petani itu dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT). Dilaksanakan selama 1 hari tanam dengan frekuensi pertemuan berkala 1 kali seminggu.

Ditambahkan Pemimpin Jawatan Pertanian Tumbuhan Wana Sumbar, Ir. H. Djoni, prinsip dasar SL-PHT ialah cara berlatih orang dewasa. Tidak ada guru dan murid. Hanya warga dan mitra belajar.

“Lahan persuasi tani misal sarana belajar dan persoalan nan ditemukan menjadi topik bahasan serta dilakukan pengambilan keputusan untuk ditindaklanjuti,” kata Djoni sembari menjuluki melalui SL-PHT ini telah dilatih petambak Sumbar sekitar 2.500 orang saban tahun.

Apalagi dalam tulangtulangan memeriahkan gerakan penerapan PHT ini, Gubemur Irwan Prayitno mencanangkan pelaksananaan SLPHT dengan menibuka SLPHT Padi di Gerombolan Bersawah Hamparan Sigata, Kelurahan Gantiang, Kecamatan Padang Panjang Timur, 14 Mei 2013.

Dalam kesempatan itu, Irwan mengimbau petani bakal mengikuti SL-PHT dengan bukan main-bukan main dan mencaci setiap anjuran petugas lapangan dan meminta pada petani lakukan melaksanakan konsep PHT dan mengembangkan pertanian organik serta tidaklagi membakar jerami.

Hlmbauan gubernur dan komitmen preservasi tanaman yang terus diimplementasikan berbuah kepada dapat ditekannya serangan wereng dan kelainan tanaman nan plong gilirannya bisa menekan angka kerugian petani.

Sejak 2010 sampai 2014, luas terjangan hama dan penyakit tanaman pari tidak lebih dari 1%. Selain itu pemakaian racun hama pun terlihat lampau abnormal berkisar antara 0,13 sampai 0,36 kali sendirisendiri perian tanam.

Ditambahkan Kepala Balai Perawatan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar, Ir. Arzal, MP sesuai amanat UU No. 12 tahun 1992 dan PP No.6 tahun 1995, perlindungan pokok kayu dilaksanakan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Internal konsep ini, perlindungan tumbuhan dilaksanakan dengan memadukan beraneka rupa teknik pengendalian hama berlandaskan pertimbangan efektivitas, efisiensi dan mencaci kekekalan mileu nasib.

N domestik menekan kekeringan hasil dilakukan beragam upaya, antara enggak pemantauan serangan hama kebobrokan tanaman (organisme pengganggu pohon/ OPT) dan dampak pergantian iklim (DPI), peramalan OPT dan kejadian provokasi duaja, serta kenyataan dini.

Kemudian untuk mendukung pertambahan kualitas rimba dilakukan sekali lagi penerapan teknik pengendalian hama yang ramah lingkungan, sehingga komoditas persawahan aman dikonsumsi dan tidak membahayakan lingkungan.

Di Sumbar dikembangkan agens hayati (organisme pengendali hama) dan bahan nabati perumpamaan sarana pengendalian hama. Implimentasinya melalui institusi masyarakat, ialah Pos Informasi dan Pelayanan Agens Hayati (Pos IPAH). Secara teknis Pos IPAH merupakan perpanjangan tangan Laboratorium Pengamatan Hama Komplikasi dan Ekspansi Agens Hayati (LPHP dan PAH).

Lakukan menyiapkan rimba yang sehat dan berkualitas serta bernilai gizi tinggi dikembangkan persawahan organik. Di Sumbar tiba dikembangkan pada awal 2000 dengan didirikannya Institut Pertanian Organik (IPO) di Aie Angek Tanah Datar dan terus berkembang ke bermacam rupa area.

Untuk kontributif ekspansi pertanian organik, khusus untuk mengerjakan penilaian dan sertifikasi didirikan Rancangan Sertifikasi Organik (LSG) Sumbar.

Urut-urutan pertanian organik sejak 2010 setakat 2014 tertumbuk pandangan mengalami keberuntungan. Jikalau dilihat dari luas pertanian organik mengalami peningkatan, puas 2010 mencapai 750 hektare di 2014 mencecah 1.445,5 hekta dengan pertambahan rata-rata I5% sendirisendiri tahun.

Di sisi lain dipaparkan Kepala Tubuh Ketabahan Alas Sumbar Ir. H. Efendi, MP, upaya meminimalisir serangan wereng problem berbuah kepada produksi gabah panjat terus. Dengan demikian selain dijual ke konsumen dan bakal memenuhi kebutuhan sehari-perian lagi dapat dijadikan umpama csdangan alas

Source: https://dinaspangan.sumbarprov.go.id/details/news/309

Posted by: holymayhem.com