Tata Cara Tanam Sawit Di Lahan Gambut

Asia Tenggara kini dikenal laksana produsen patrasawitdunia. Ketiga Negara di negeri Asia Tenggara yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand menjadi pemasok kebutuhan minyaksawitke seluruh dunia.

Pangsa produksi minyaksawitketiga negara tersebut menjejak selingkung 90 %dari total produksi petrosawitdunia. Meskipun kerambilsawityang awalnya hanya dimanfaatkan sebagai tanaman solek, pemanfaatannya berkembang menjadi tanaman budidaya komersial sejak dibangunnya perkebunan kelambirsawitdagang pertama di Pulau Prabu (Asahan) dan Bengawan Liput (Aceh) yang dimiliki oleh perusahaan Belgia pada tahun 1911.

Keberhasilan perkebunan kelapasawitpertama tersebut, mendorong investor berbunga negara lainnya untuk membangun pertanian kelapasawitdi Indonesia. Kejadian ini memerosokkan semakin luasnya perkebunan kelapasawitdi Indonesia sejak sebelum masa kebebasan hingga pasca Indonesia merdeka.

Namun kronologi luas area perkebunan kelambirsawityang revolusioner mulai terjadi sejak musim 1980-an dengan keberhasilan berbagai pola kemitraan yang diterapkan pemerintah. Revolusi ini menghasilkan perladangan kelapasawityang berkembang pesat hingga sreg masa 2017 mencapai sekitar 14 juta hektar. Sementara itu pada awal penerapan beragam sempurna kemitraan di tahun 1980-an, luas perkebunan kelapasawitIndonesia masih sekeliling 294 mili hektar (Ditjenbun 2018).

Budidaya kerambilsawityang semakin meluas di Indonesia karuan membutuhkan ruang bagi pembangunan kebun sehingga sebagian lahan gambut dimanfaatkan cak bagi perkebunan kelapa sawit. Penggunaan persil gambut lakukan budidaya kelambirsawitini banyak berbahagia kritikan berusul LSM pecinta lingkungan terutama LSM yang antisawitkarena dianggap dapat meningkatkan emisi asap rumah kaca. Pihak nan antisawitcaruk menunggangi isu alih khasiat lahan gambut sebagai bahan kampanye di heterogen media nasional ataupun sejagat kerjakan menyergap perkembangan perkebunan nyiur sawit.

Tulisan ini akan mendiskusikan kemenangan budidaya kelambirsawitdi lahan gambut Indonesia, dan bukti empiris dampak eksploitasi kapling gambut untuk budidaya kerambil sawit. Bukti empiris ini akan menjawab pengaduan LSM berlawanansawityang menganggap alih fungsi persil gambut bikin budidayasawitakan menyebabkan pemanasan global lebih parah.

Keberhasilan Di Lahan Gambut

Lahan gambut merupakan petak yang terbentuk dari onggokan bahan berupa seresah organik pokok kayu nan terderai puas kondisi jenuh air, dimana laju penambahan material organik lebih cepat tinimbang laju peruraiannva. Hal ini yang menyebabkan tanah gambut mengandung mangsa organic lebih besar 30 % di bagian 80 cm terala profil kapling. Kondisi lahan gambut yang memiliki sifat khas demikian, menjadikan gambut sebagai sumberdaya alam yang istimewa karena lahan gambut memiliki heterogenitas hayati nan singularis dan memiliki guna hidrologis nan baik karena berpunya menyimpan air tanah intern besaran yang lewat lautan.

Tanah gambut tersebar di beraneka rupa negara di bumi dengan total luasan sebesar 423.825.000 hektar. Dari kuantitas luasan tersebut, sekeliling 20 juta hektar tanah gambut berada di Indonesia. Peristiwa ini menjadikan Indonesia bagaikan negara dengan luas persil gambut terbesar ke empat marcapada.

Dan sejak tahun 1920-an, lahan gambut sudah mulai dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk budidaya tanaman. Namun budidaya ini masih adv minim kerumahtanggaan skala kecil di putaran tepi kubah gambut karena keterbatasan pesiaran terkait karakteristik lahan gambut yang farik dengan lahan pertanian lainnya.

Salah suatu upaya budidaya pokok kayu di kapling gambut Indonesia adalah pemanfaatannya untuk tipar kelapasawitnan dilakukan di Negeri Lama, Sumatera Utara mulai tahun 1927. Luas ladang nyiursawitdi Negeri Lama lega saat itu 1.302 hektar.

Kebun nyiursawitdi Negeri Lama ini dapat dikatakan umpama awal penggunaan lahan gambut untuk pertanian kelapasawitdi Indonesia. Setelah itu pemanfaatan petak gambut dalam skala yang nisbi besar di Indonesia baru dimulai pada penghabisan tahun 1970-an untuk pemukiman transmigrasi berpola perladangan.

Perladangan kelapasawitdi Negeri Lama yang memanfaatkan lahan gambut dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan memanfaatkan lahan gambut bakal sebuah kegiatan mewah yang berkelanjutan. Perkebunan ini telah mengalami tiga kali proses peremajaan (replanting) ialah pada tahun 1968, 1989, dan 2012. Produktivitas kebun kelapasawitdi Kawasan Lama juga mengalami peningkatan setiap generasinya adalah 17 ton TBS/hektar/masa plong generasi I, 19,7 ton TBS/hektar/tahun sreg generasi II, dan 23,9 ton TBS/hektar/tahun sreg generasi III.

Lega masa 2017, luas petak yang ditanami kerambilsawitdi Negeri Lama telah mengaras 2.142 hektar, dengan komposisi luas pohon menghasilkan (TM) sebesar 1.960 hektar atau sekitar 91 persen dari besaran luas lahan dan 182 hektar tanaman belum menghasilkan (TBM). Diprediksi kebun

Negeri Lama ini akan menghasilkan daya produksi sebesar 25 ton TBS/hektar. Keberhasilan eksploitasi lahan gambut di Daerah Lama ini pasti tidak tanggal mulai sejak manajemen persil yang sesuai standar dan terus-menerus.

Pengelolaan lahan dimulai dengan mengenal terlebih dahulu karakteristik tanah gambut yang akan dimanfaatkan untuk perkebunan. Lahan gambut di Negeri Lama n kepunyaan kedalaman gambut dengan kedalaman 70 cm 150 cm.

Tingkat kematangan gambut yaitu saprik dan didominasi oleh humus. Petak gambut Negeri Lama mempunyai bulk density 0,39 0,44 gr/cm3 (Sihombing 2017). Manajemen lahan gambut kemudian dilanjutkan dengan penyiapan lahan lakukan budidaya kerambilsawitdengan melakukan drainase. Fungsi drainase ini yaitu buat membuang kekuatan air dari siraman hujan abu secara tepat tahun dan efisien, dan untuk pengendalian muka air lahan sepatutnya terengkuh kondisi nan optimum kerjakan perkembangan akar tanaman (Lim, 1992).

Kebun kelambirsawi falakdi Negeri Lama kembali melakukan drainasi yang bakir menjaga penghamburan kemustajaban mileu kapling gambut. Level air dijaga pada 40 45 cm di piezometer dan 50-55 cm lega sungai buatan air. Proses drainasi ini akan menyebabkan petak gambut akan mengalami pengamblesan (subsidence), yakni menyusutnya tanah dan menurunnya parasan kapling.

Puas tahap semula yakni sejauh 4-10 tahun pertama, proses ini berlanjut relatif cepat, kemudian subsiden melambat pada fase berikutnya dan berlangsung sampai puluhan bahkan ratusan tahun.

Selain itu, budidaya kelapasawitdi petak gambut Negeri Lama dapat berhasil dengan adanya mekanisme pemupukan yang tepat jumlah, tepat spesies, dan tepat waktu. Dalam setahun dilakukan tiga kelihatannya aplikasi pemupukan dengan jumlah jumlah rabuk NPK yang digunakan 7,25 kg/pokok/tahun.

Perabukan ini pertama kali dilakukan pada bulan Januari-Februari dengan besaran 2,5 kg/pokok, lalu dilakukan perabukan pula pada bulan April-Mei dengan kuantitas yang sama. Dan kemudian dilakukan fertilisasi ketiga sreg bulan Juli-Agustus dengan jumlah 2,25 kg/taktik.

Selain Indonesia, Malaysia juga memanfaatkan lahan gambut untuk budidaya kerambil sawit. Perkebunan kelapasawitdi kapling gambut dilakukan di Teluk Intan dan sudah berusia 50 tahun.

Pertanaman kelapasawitini sampai sekarang masih berproduksi secara menguntungkan. Praktek pengelolaan nan diterapkan adalah sistem drainase nan terselesaikan, pemadatan jalur tanam, dan manajemen tanah yang minimum.

Kejayaan perkebunan kelapasawitini tampaknya adalah karena pilihan jenis tumbuhan nan adaptif, adanya tutupan vegetasi yang permanen yang kian mendekati kondisi hutan steril, dan terjaminnya pemasaran dagangan (Radjagukguk 2001).

Bukti kesuksesan budidaya kelapasawitdi lahan gambut Negeri Lama yang bersambung-sambung menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang baik yaitu dengan menjaga laju subsiden dan irreversible drying kapling gambut, maka pemakaian lahan gambut ini dapat dikategorukan sebagai pembangunan berkelanjutan.

Perkebunan nyiursawitDaerah Lama sudah lalu berjalan sepanjang 4 generasi spirit cermat pohon sawit, yang bermakna bahwa pembangunan kelapasawittersebut berada menunaikan janji kebutuhan generasi sebelumnya sonder membahayakan kemampuan generasi sekarang dan mendatang. KebunsawitNegeri Lama sesuai dengan ciri ciri pembangunan berkesinambungan yakni produktif dan menguntungkan, melakukan pengawetan sumberdaya duaja dan perlindungan terhadap lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan makhluk.

Pemanfaatan lahan gambut cak bagi budidaya kerambilsawitini sesuai dengan yang disampaikan Radjagukguk (2001) bahwa pengelolaan lahan gambut berkelanjutan berbimbing dengan bagaimana seharusnya menggunakan sumberdaya, dan bukan untuk sama sekali lain menggunakan (non-use) sumberdaya.

Menurunkan Emisi Gas Apartemen Kaca Pemakaian lahan gambut untuk pertanian, khususnya budidaya kelapasawitbanyak dikritik oleh LSM pecinta lingkungan dan LSM anti sawit. Alih guna kapling gambut ini dianggap akan berhasil pada hilangnya keanekaragaman hayati khas lahan gambut nan memiliki nilai tinggi.

Selain itu, eksploitasi tanah gambut bakal perkebunan kelapasawitdianggap akan menyebabkan pemanasan global yang lebih parah karena perkebunan kelapasawitmeningkatkan emisi gas rumah beling.

Padahal menurut butir-butir Wetland International (Joosten 2009) sekitar 90 % petak gambut Indonesia ialah lahan gambut rusak (degraded peat land). Dan anggapan bervariasi LSM tentang alih fungsi tanah gambut ternyata tidak moralistis, karena pendayagunaan lahan gambut kerjakan perkebunan kelapasawitdari berbagai penelitian ternyata menurunkan emisi GHG lahan gambut.

Emisi GHG gambut sekunder (degraded peat land) mencecah 127 ton C02/hektar/ tahun. Pemanfaatan lahan gambut ini bikin perkebunan nyiursawitternyata menghasilkan pengurangan emisi gas apartemen kaca menjadi 55-57 ton CO2/hektar/masa (Melling, et al., 2005, 2007). Murayama Bakar (1996), Hooijer (2006) menemukan angka emisi yang kian rendah ialah 54 ton C02/hektar/perian.

Malah riset Germer Sauaerborn (2008) menunjukkan bahwa perkebunan nyiursawitdi persil gambut menghasilkan emisi gas kondominium yang jauh bertambah cacat yakni hanya 31,4 ton CO2/hektar/tahun.

Perbedaan hasil penelitian tersebut antara tak siapa disebabkan perbedaan kedalaman dan kualitas gambut serta tata kelola perkebunan kelapasawitdi lahan gambut. Selain dampaknya terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, hasil penggalian Sabiham (2013), menunjukkan bahwa stok zat arang bagian atas tanah gambut lebih meningkat dengan lebih bertambahnya umur pokok kayu kelapasawit. Sediaan karbon sreg alas gambut sekunder mencecah 57,3 ton/hektar, sementara stok karbonium plong perkebunan kelapasawitdengan umur 14-15 hari mencapai 73 ton/hektar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pada umur dewasa pasokan karbon pada kebun kelambirsawitgambut lebih tinggi dibandingkan dengan stok karbon hutan gambut sekunder (degraded peat land).

Fakta – fakta empiris tersebut menjadi bukti bahwa tuduhan LSM antisawitterhadap pertanaman kelapasawitdi lahan gambut yakni bukan bermoral. Perkebunan kelapasawitdi lahan gambut tidak menyebabkan kenaikan emisi gas rumah beling gambut, dan justru sebaliknya kebun kerambilsawittersebut menurunkan emisi gas apartemen gelas lahan gambut. Stok karbon babak atas kapling gambut pada perkebunan kelapasawitdewasa sekali lagi lebih banyak dibandingkan dengan simpanan zat arang sreg hutan gambut sekunder.

Dengan demikian, pemanfaatan lahan gambut sekunder menjadi perkebunan kerambilsawitnan dikelola sesuai secara benar dapat menjadi fragmen pembangunan perkebunan nyiursawityang berkelanjutan di Indonesia.

Penali

Budidaya kelambirsawityang semakin meluas di Indonesia membutuhkan ira bakal pembangunan tipar sehingga sebagian kapling gambut dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Lahan gambut merupakan tanah nan terpelajar berusul lambak objek berupa seresah organic tanaman yang tercerai pada kondisi jenuh air, dimana lancar penyisipan material organic kian cepat daripada laju peruraiannya.

Penggunaan lahan gambut buat tegal kelapasawitdilakukan di Distrik Lama, Sumatera Utara mulai hari 1927. Persawahan kelapasawitdi Wilayah Lama ini dapat dikatakan perumpamaan sebuah keberhasilan memanfaatkan lahan gambut untuk sebuah kegiatan berbenda yang berkelanjutan.

Pertanian ini telah mengalami tiga kali proses penyempuraan (replanting) yaitu pada masa 1968,1989, dan 2012. Diprediksi kebun Negeri Lama ini akan menghasilkan produktivitas sebesar 25 ton TBS/hektar. Keberhasilan pemanfaatan petak gambut untuk kebun nyiursawitdi Negeri Lama karena adanya manajemen penyelenggaraan kapling yang baik yaitu dengan melakukan drainase yang fertil menjaga penghamburan fungsi lingkungan lahan gambut.

Level air dijaga pada 40 45 cm di piezometer dan 50 55 cm lega sungai buatan air. Selain itu, dilakukan juga mekanisme pemupukan yang tepat jumlah, tepat jenis, dan tepat waktu. Pemanfaatan persil gambut bakal perkebunan kelambirsawitmeskipun banyak dikritik LSM anti sawit, hanya fakta fakta empiris menunjukkan bukti bahwa kritikan LSM tersebut tidak bermoral.

Perkebunan kelapasawitdi lahan gambut bukan menyebabkan pertambahan emisi gas apartemen kaca gambut seperti yang dituduhkan selama ini, dan justru sebaliknya kebun nyiursawittersebut menaruh emisi asap rumah kaca lahan gambut. Stok karbonium bagian atas persil gambut pada pertanian kelapasawitdewasa juga lebih banyak dibandingkan dengan cadangan karbon plong hutan gambut sekunder.

Dengan demikian, pemakaian lahan gambut sekunder menjadi perkebunan kelapasawityang dikelola sesuai secara benar dapat menjadi bagian pembangunan perkebunan kerambilsawityang berkelanjutan di Indonesia.

Cak regu Riset PASPI

Sumber: Tabloid Agro Indonesia

Source: https://gimni.org/budidaya-kelapa-sawit-di-lahan-gambut-berkelanjutan/

Posted by: holymayhem.com