Tata Cara Tanam Padi Salibu

Liputan6.com, Jakarta
Tugas penyuluh perkebunan, tak hanya sebatas meronda dan mendampingi petani dalam melakukan percepatan tanam. Mereka juga harus mampu mentransfer inovasi teknologi nan perlu digunakan peladang, demi pertanian yang lebih beradab, mandiri, dan modern.

Salah satunya mengenai teknologi budidaya pari sistem salibu. Pasti saja teknologi ini akan suntuk menguntungkan petambak terutama dalam menyiasati sejauh masa epidemi maupun pasca Covid-19.

  • JFW 2023 Tangkap Sinyal Kesiapan Pabrik Fesyen Kembali Bertumbuh Usai Endemi
  • Edukasi jadi Modal dasar Sebelum Memulai Pemodalan
  • Jelang Tutup Periode, Dagang Milik Kinclong Usai Dihantam Pandemi

Satu bahasa dengan pernyataan Nayaka Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) intern beberapa kesempatan menyampaikan sektor pertanian menjadi intensi, benak telapak ditengah upaya pemerintah intern menanggulangi Covid-19.

Buat itu melewati program Komando Strategis Pembangunan Pertanaman di Kecamatan (Kostratani) sebagai motor pembangunan persawahan di tingkat kecamatan diharapkan rani menumbuhkan peran penyuluh internal mengimplementasikan teknologi nan akan digunakan pembajak.

Hesti Nova Sari, salah suatu PPL dasar Nganjuk, Jawa Timur yang mengenalkan budidaya padi sistem salibu mengatakan berbagai khasiat bisa didapat dari penggunaan sistem salibu ini.

“Pari salibu merupakan pokok kayu gabah yang tumbuh lagi sesudah batang sisa penuaian ditebas atau dipangkas. Kemudian recup akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah dan mengasingkan akar baru, sehingga cadangan hara tidak pun terulang pada batang lama. Tunas ini dapat membelah dan kreatif bertunas lagi seperti mana antah local tanam mengimbit biasa,” sebut Hesti.

Menurutnya terserah beberapa keuntungan berpangkal budidaya sistem salibu, diantaranya jangka tahun yang relatif kian pendek dan kebutuhan air lebih sedikit.

Selain itu, biaya produksi bertambah rendah karena minus biaya pengolahan tanah, tanpa biaya penyemaian dan biaya penghijauan. Pegawai yang dibutuhkan sekali lagi jauh makin adv minim.

“Budidaya dengan sistem salibu akan meningkatkan indeks pengetaman karena tidak sekali lagi memerlukan penggodokan tanah dan persemaian tanam, sehingga rentang masa produksi lebih ringkas,” tutur Hesti.

Seterusnya Hesti mengklarifikasi, privat teknik salibu pekebun harus memotong batang cerih panen pertama secara seragam, dengan alat pemotong sebatas tersisa 3-5 cm berpokok permukaan lahan. Dengan cara itu, kebutuhan unsur hara lega periode pertumbuhan anakan antah bisa seimbang.

Selain itu, Ikhwanudin, mengoper Kelompok Bercocok tanam (Poktan) Sumber Hasil menuturkan wilayahnya telah mengepas menerapkan teknologi budidaya padi sistem salibu.

Demplot dilakukan buat mengetahui hasil produksi tanam gabah salibu, sehingga peladang akan mau dan berpunya berbudidaya padi cara tersebut.

Bahkan hasil demplot budidaya gabah sistem salibu nan diterapkan Ikhwanudin, mampu menghasilkan 4,9 ton/ha gabah kering panen. Volume itu 70 uang jasa dari hasil produksi tanam antah dengan pindah tanam (transplanting).

“Pengetaman dilakukan saat padi berusia 58 perian. Teknik budidaya padi salibu ini keteter dan tak rumit ini, pula terbukti makin efisien dan murah dibandingkan dengan teknik budidaya padi normal,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Ekspansi SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan Kementerian Pertanaman menandai support munjung aktivitas yang dilakukan penatar dan petambak.

“Keburukan pangan silam utama, usia matinya suatu bangsa. Sungguhpun saat ini negara kita diserang wabah Covid-19, belaka penanam tetap semangat tanam, kehidupan olah, tanam dan panen. Melalui Kostratani, penyuluh dan petani akan diberikan menu komplet, yaitu pelecok satunya sebagai kunci pembelajaran untuk itu diharapkan Pembimbing dan Pembajak manfaatkan peran tersebut dengan optimal,” tegasnya.

(*)

Source: https://www.liputan6.com/bisnis/read/4256427/budidaya-padi-salibu-siasat-peyuluh-dan-petani-di-tengah-pandemi-covid-19

Posted by: holymayhem.com