Tanaman Tradisional Belimdomain_7 Wuluh Nama Latin Manfaat Cara Pengolahan

Pendahuluan

Di Indonesia saat ini sangat berkembang teknologi pengolahan tanaman pengasosiasi tradisional. Teknologi penggarapan kerjakan mendapatkan kualitas mutu kandungan tumbuhan obat lalu penting. Pengolahan pohon sangat penting karena pengolahan yang baik akan menghasilkan makanan yang sehat. Jika teknologi pengolahan bukan benar maka kesannya akan toksik bagi manusia.

Teknologi pengolahan Tanaman Perunding terdiri pecah beberapa panjang ialah sortasi, pengumbahan, penirisan atau pengeringan, penyimpanan dan pengolahan. Sortasi dilakukan setelah panen pada komiditi tanaman pengasosiasi. Tanaman obat yang diambil daun, rimpang atau umbi dibersihkan dari kotoran. Bagian pohon yang mutakadim dipanen lalu dipisahkan dari adegan yang rusak, tanah, batu halus maupun gulma nan menempel harus dibersihkan. Ada beberapa tanaman yang dihasilkan melalui umbi seperti halia, kunyit, kencur dan keladi tikus.

Pencucian dilakukan setelah disortir. Penyabunan sebaiknya dengan menggunakan air mengalir dengan mencuci putaran tumbuhan nan dipanen. Pembasuhan dapat dilakukan dengan air bersirkulasi berpokok perigi atau PAM. Penyabunan boleh dilakukan dengan pendirian menggenangi sambil disikat dengan menggunakan air lugu. Saat dicuci tidak dapat berlebih lama bikin menjauhi zat-zat tertentu yang terdapat privat target dapat larut dalam air yang boleh mengakibatkan mutu sasaran menurun. Rimpang atau pongkol diperbolehkan untuk disikat bagian lekukannya dan bagian daun-daunan patut dicuci setakat bersih. Setelah pembilasan umbi, rimpang dan daun ditiriskan pada rak pengering.

Pengeringan adalah satu metode bikin mengeluarkan atau menghibur air berasal suatu bahan dengan menggunakan sinar matahari. Pengeringan dapat memberikan keuntungan antara lain: memperpanjang waktu simpan, mengurangi penurunan mutiara sebelum diolah lebih lanjut, memudahkan dalam pengangkutan, menimbulkan wewangian tersendiri sreg korban serta mempunyai angka ekonomi bertambah tinggi. Pengeringan Target dapat dilakukan diatas para-para dengan menggunakan sinar matahari dan ditutupi dengan perca hitam juga bisa dilakukan dengan afiliasi antara kilauan matahari dengan peranti. Bahan Herbal nan sudah dikeringkan disebut Simplisia.

Simplisia merupakan hasil pengeringan terbit tanaman obat yang belum diolah seterusnya maupun baru dirajang saja yang kemudian dijemur. Dari simplisia boleh diselesaikan menjadi bervariasi macam produk, seperti : duli, petro atsiri, ekstrak kental/oleoresin, ekstrak cengkar alias kapsul. Tanaman obat dapat diselesaikan menjadi berbagai diversifikasi produk seperti:simplisia, serbuk, minyak atsiri, bibit kental, konsentrat cengkar, instan, sirup, permen dll,sehingga boleh menaik nilai ekonomi pokok kayu remedi spontan membusut pendapatan petani. Disamping itu produk yang telah diolah resistan bertambah lama disimpan terbit pada rajah segak. Panen dengan hasil yang berlebihan (pengetaman raya) harga akan terban sehingga perlu diolah lebih lanjut.
A.Teknologi Pengolahan Bentul tikus

Keladi tikus yakni tanaman obat yang bermanfaat dalam memulihkan penyakit kanker diantaranya kanker payudara, perut muda, kelenjar prostate, lever, leukemia dan leher rezeki (Hoesen, 2007). Bentul tikus mengandung antineoplastik alias antikanker dan pula perumpamaan antivirus (Teo dan Ch’ng, 1996). Tanaman obat ini mengandung sintesis bioaktif yang dapat menghambat jasad renik patogen seperti mikroba, fungi dan virus (Lai et al., 2003) dan mempunyai aktivitas toksik sari heksana pada Artemia salina (Sianipar et al., 2013). Menurut Choon et al. (2008) menyatakan bahwa keladi tikus mempunyai aktivitas sebagai anti kanker dan menginduksi apoptosis. . Senyawa yang berkhasiat kerumahtanggaan tanaman ini adalah alkaloid, saponin, steroid, dan glikosida (Syahid, 2007).
Pengolahan tanaman keladi tikus yang berfungsi andai obat puru ajal dapat dikonsumsi melalui bahan segar berupa juice akan sahaja sudah banyak barang Jamu berupa kapsul. Cara membuat juice keladi tikus menjadi pembeli adalah tanaman talas tikus bugar sebanyak 50 gr (pangkal pohon, buntang, umbi). Babak yang bagus dibersihkan berpokok patera kuning dan umbi yang rusak dicuci dengan air mengalir kemudian ditumbuk dengan lumpang atau gangguan sampai menjadi halus kemudian diberi air ala kadarnya dan disaring. Sari juice keladi tikus siap diminum.
Jamu kapsul tersebut diperoleh melalui proses pengolahan berbunga umbi keladi tikus. Umbi dikeringkan menjadi simplisia yang akan digunakan seumpama bahan dasar jamu. Pangkal pohon yang sudah dipanen dibersihkan berbunga babak yang busuk suntuk dicuci dan dipotong-potong. Pangkal pohon yang dipotong-tikam dikeringkan dibawah sinar rawi hingga predestinasi air 35 %. Pengeringan dibawah cahaya mentari dilakukan sampai 5 hari dengan ganjaran air dibawah 5 % untuk tujuan bahan dasar kapsul yang akan dijual. Umbi keladi tikus yang kering diempatkan dalam botol lalu diletakkan dibawah cahaya ultra Violet dengan tujuan untuk mencegah pengotoran dari mikroorganisme. Dengan proses pengeringan ini kapsul boleh bertahan sampai 1 perian dan dur bukan rusak.
B. Teknologi Pengolahan Si pedas

Rimpang deringo memilki banyak kekuatan antara lain untuk bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada rezeki seperti roti, kue, biscuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe dapat digunakan dalam industri obat, minyak wangi kembali. Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), berlawanan muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh pembawaan, peluruh keringat, berlawanan inflamasi, anti bibit penyakit dan parasit, anti piretik, inkompatibel rematik, serta erotis pengeluaran getah lambung dan getah empedu. Jahe dapat memberahikan kelenjar pencernaan, baik kerjakan membakar nafsu makan dan pencernaan.Jahe yang digunakan laksana bumbu matang terutama berkhasiat untuk membusut nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Jahe memiliki kandungan senyawa bioaktif yaittu seskuiterpena, zingiberena, sineol, zingiberal, borneol, geranial, linaool dan limonene.
Penggodokan rimpang jahe boleh dilakukan dengan beberapa tahap yaitu mencuci, meringkaikan, menyortir, penyediaan dan penyimpanan. Simplisia halia yang disimpan dapat dijadikan berbagai barang minuman ataupun perunding. Teknologi pengolahan minuman jahe instan. Cara perebusan jahe instan yaitu rimpang jahe dikupas hingga bersih, kemudian rimpang tersebut dipotong-potong dengan ukuran kira samudra sepatutnya mudah dibersihkan. rimpang dicuci tersebut sebatas nirmala. Rimpang jahe yang sudah dibersihkan lalu dipotong kerdil-kerdil. Halia yang sudah dipotong mungil-kecil tersebut dicampur dengan air, kemudian di blender hingga kecil-kecil. Jahe halus yang sudah diblender kemudian diperas menggunakan saringan kecil-kecil. Air perasan jahe tersebut digunakan andai target pokok.
Air perasan deringo, daun pandan, kayu manis, cengkeh, gula pasir dimasukkan ke n domestik panci, kemudian ditambahkan satu kaca air, lalu aduk hingga rata. Campuran target yang sudah lalu diaduk kemudian direbus. Api yang digunakan untuk merebus jangan terlalu raksasa. Aduk terus kiranya tidak lengket/gosong. Jika bahan yang direbus sudah lalu start menguning, tandanya sudah lalu mengkristal dan berwarna kalis kira coklat muda, buru-buru gotong tinggal biarkan hingga dingin. Deringo instan diayak setakat kristalnya subtil dan rata. Batu belanda si pedas yang masih berangasan dihaluskan lalu diayak lagi sampai renik dan rata. Jahe instan siap disajikan maupun dikemas.

Daftar pustaka

Choon SL, Rosemal HMHM,Nair NK,Majid MIA, Mansor SM dan Navaratnam. 2008.Typhonium flagelliforme inhibits cancer cell growth in vitro and induces apoptosis: An evalution by the bioactivity guided approach. Journal of Ethnopharmacology 118 : 14-20.

Hoesen DSH. 2007. Pertumbuhan dan perkembangan taruk Typhonium secara in vitro. Berita Ilmu hayat. 8(5): 413-422.

Lai, C.S., Mas, R.H.M.H., Nair, Horizon.K., Majid, M.I.A., Mansor, S.M. & Navaratnam, V. 2008. Typhonium flagelliforme inhibits cancer cell growth in vitro and induces apoptosis: An evaluation by the bioactivity guided approach. Journal of Ethnopharmacology, 118:14-20.

Farry B.P dan Murhananto. 1999. Budidaya, Pengolahan, Perdagangan Halia. Edisi Revisi.
Penebar Swadaya

Teo CKH dan Ch’ng BI. 1996. Cancer yet they live. Penang, Malaysia. Era Maps Sdn Bhd: 53-70.

Sianipar, T. F., Maarisit, W. & Valencia, A. 2013. Toxic activities of hexane extract and column chromatography fractions of rodent tuber plant (Typhonium flagelliforme Lodd.) on Artemia salina. Indonesia Journal Agriculture Sciences. 14: 1-6.

Martir, S. F. & Kristina, N. N. 2007. Induksi dan regenerasi kalus talas tikus (Typhonium flagelliforme Lodd.) secara in vitro. Jurnal Littri. 13: 142-146.

Source: https://research.binus.ac.id/food-biotech/2015/03/25/teknologi-pengolahan-tanaman-herbal/

Posted by: holymayhem.com