Tanaman Obat Keluarga Dan Cara Menanamnya

Pelayanan kesehatan tradisional merupakan bagian berusul upaya kesegaran secara menyeluruh.

Hari Kesehatan Nasional (HKN) diperingati lega 12 November setiap tahunnya.  Di tahun 2021 ini Departemen Kesegaran (Kemenkes) perdua bersiap melakukan transformasi sistem kesehatan yang pelecok satunya transformasi sistem keluasan pikiran kebugaran.

Tema peringatan HKN ke-57 tahun 2021 yakni “Sehat Negeriku, Merecup Indonesiaku”. Tema ini dipilih untuk mencitrakan bangkitnya semangat dan optimisme seluruh lapisan masyarakat Indonesia nan secara bersama, bahu niaga dan bergotong royong dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19, sehingga mahajana Indonesia dapat pula beraktivitas dan fertil sehingga Indonesia kembali sehat dan kembali merecup.

Salah satu ketatanegaraan pembangunan kesehatan adalah memurukkan mahajana agar berbenda menernakkan kesehatannya, serta memintasi gangguan kebugaran ringan secara mandiri melalui kemampuan asuhan mandiri.

Pembangunan kesegaran yakni putaran yang penting dan tak terpisahkan dari pembangunan kebangsaan. Keterpaduan seluruh praktisi upaya kesehatan memastikan tercapainya tujuan pembangunan tersebut. Peningkatan pemahaman, motivasi, dan kemampuan mahajana buat umur afiat akan membangatkan pencapaian gengsi kesehatan yang optimal.

Puas sesi praktik takhlik sirup jahe kerumahtanggaan Pimpinan Teknis (Bimtek) Asuhan Mandiri Taman Peminta Batih (Asman Toga) di Ruang Riptaloka Kapanewon Kalibawang sreg Kamis (4 November 2021) lalu, Dinar Astuti Ratna Dewi menekankan pentingnya menakar kemampuan diri sendiri internal budidaya tumbuhan obat.

“Menyelamatkan alias budidaya tanaman pemohon di pelataran rumah nan proses perawatannya mudah. Makara lain hanya menguburkan; rencanakan menanam apa, kalkulasi proses perawatan, setakat bagaimana pengelolaan hasilnya tulat”, ujar narasumber berpunca Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Sumur Rejeki Kulon Progo ini.

Dalam kesempatan tersebut hadir Panewu Anom Kalibawang Suhardiyana, S.IP, narasumber mulai sejak Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Fivi Yanti, S.K.M., Dinar Astuti Ratna Dewi dari P4S Sumber Rejeki, unsur Kelompok Wanita Tani, elemen Tim Penggerak Pemberdayaan Kedamaian Keluarga (TP-PKK), serta perwakilan berusul 4 kalurahan se Kapanewon Kalibawang.

Peningkatan produktivitas masyarakat kerumahtanggaan proteksi kesegaran secara mandiri melalui pemanfaatan tanaman pemohon anak bini, sebagai upaya pertolongan pertama puas diri-sendiri dan keluarga. Keadaan ini seia sekata dengan Regulasi Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2016, Adapun Upaya Pengembangan Kesehatan Tradisional Menerobos Asuhan Mandiri Pemanfaatan Tanaman Obat Tanggungan Dan Ketrampilan.

Suhardiyana, S.IP dalam sambutannya menyodorkan gambaran situasi tanaman obat tanggungan di wilayah Kapanewon Kalibawang.

“Secara geografis, daerah Kapanewon Kalibawang n kepunyaan potensi sumber daya simpatisan kegiatan toga. Seperti sumber sendi hayati, hobatan kabar terapi tradisional turun temurun, serta spirit angkat royong dan kemandirian”, ujarnya.

Lebih lanjut sira menyampaikan bahwa terbatasnya kendaraan prasarana kesehatan bisa diimbangi dengan kemampuan umum bikin menyehatkan diri koteng.

“Keadaan yang diinginkan yakni masyarakat mampu melakukan upaya mandiri untuk penangkalan kelainan enggak menular dengan memanfaatkan pohon pemohon keluarga, yang kembali akan menciptakan lingkungan bersih dan sehat. Nantinya diharapkan publik nomplok ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan bagi konsultasi kesehatan, bukan kembali berobat karena sakit”, ujarnya.

Hal senapas diungkapkan narasumber dari Jawatan Kesehatan Kulon Progo, Fivi Yanti, S.K.M. nan membentangkan khasiat Toga adalah sarana mendekatkan tanaman pelamar kepada masyarakat bagi kesehatan mandiri.
“Toga yaitu salah satu solusi membereskan persoalan kesehatan ringan di anak bini. Kalau sudah sedang atau berat, tentunya harus ke layanan kesegaran”, pesannya.

“Maksud sasaran Toga terdiri berasal perorangan, keluarga, atau gerombolan masyarakat seperti Pramuka, Karang Cukup umur, PKK, Desa waspada, pengobat tradisional, dan tentunya KWT. Karena di KWT sudah melanglang sampai kelengkapan administrasinya, tinggal menambahkan saja”, lanjutnya.

Melalui slogan “Ayo Mesem To Gaes” yang yaitu akronim dari marilah mengetanahkan dasa tanam berkhasiat obat, anak bini nyaman, keluarga cegak; kita diajak menanam 10 jenis pohon, yang wajib terserah jeruk nipis dan jeruk purut.

“Karena jeruk nipis dan sitrus purut ini minimum belalah digunakan. Contohnya saat mengalami gejala ringan seperti rengkung kita terasa tidak nyaman, laksana pertolongan pertama kita bisa gunakan ramuan terbit jeruk nipis untuk meredakan”, ujar Fivi Yanti, S.K.M.

Sementara Dinar Astuti Ratna Dewi mengajak kita untuk memanfaatkan hasil dari pohon pengasosiasi, agar bisa memiliki nilai ekonomi.

“Lihat peluang di sekeliling kita, produk barang apa yang sekiranya dapat dipasarkan dari hasil pengetaman kita. Contohnya halia ini, bisa diolah menjadi sirup. Barang sirup ini dapat kita jadikan sajian cak bagi tamu. Ini sebagai salah satu langkah promosi, lihat bagaimana tanggapan mereka”, ujarnya.

Sedangkan cara membuat sirup jahe ialah:

Bahan-korban:

  • jahe 1/2 kg
  • sere 10% semenjak jahe
  • sakarosa 1 kg (boleh gula pasir, gula kelapa, atau sakarosa aren)
  • air yang dipakai 1,5 liter.

Cara membuat:

  • Parut atau blender jahe
  • Peras jahe dengan sebagian besar air, sisakan cak bagi mengencerkan gula
  • Diamkan, endapkan 10-15 menit
  • Sambil menunggu, cairkan gula dengan air di penggorengan
  • Masukkan si pedas di penggorengan, kemudian dimasak hingga mendidih acuan
  • Setelah radu, saring hasilnya
  • Sirup jerangau boleh dinikmati

“Cara menyajikan sirup jahe seperti sirup pada galibnya. Masukkan kurang sirup jahe dalam beling, kemudian tambahkan air matang”, pungkas Dinar Astuti Ratna Dewi.

Source: https://kalibawang.kulonprogokab.go.id/detil/751/taman-obat-keluarga-bukan-sekadar-menanam

Posted by: holymayhem.com