Tanaman Kehutanan Yang Dilakukan Dengan Cara Borongan

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Agustus 2018)_Pola agroforestry yakni paradigma budidaya persil nan bisa diterapkan dalam pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan. Masyarakat kewedanan Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Daksina (Kalsel) telah menggunakan pola agroforestry dalam ikutikutan kapling gambut, baik gambut tipis, gambut menengah dan gambut n domestik. Atak tipe tanaman terdiri dari tanaman berkayu, pohon semusim, ternak dan ikan.

Tim peneliti Balai Litbang Mileu Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru bekerjasama dengan Badan Perombakan Gambut (BRG) telah mengerjakan survei kajian budidaya komoditi unggulan di petak gambut, keseleo satunya adalah jenis-jenis yang dibudidayakan menggunakan pola agroforestry.

“Pecah hasil angket, varietas-diversifikasi tanaman yang mutakadim dibudidayakan dengan kamil agroforestry di lahan gambut dan memiliki produktifitas cukup baik antara bukan:  pokok kayu penghasil buah (rambutan jantan dan jeruk)  tanaman pereka cipta kayu (sengon), pokok kayu penghasil getah (jelutung rawa dan karet), nenas dan sayur-sayuran (daun berambang, cabe dan jagung),” ungkap Tri Wira Yuwati, S.Mina, MSc penyelidik Semenjana BP2LHK Banjarbaru berbarengan ketua cak regu survei.

Tri Wira menjelaskan, nenas banyak dibudidayakan masyarakat di Kec. Mekarsari, Kab. Barito Mulut sungai, Kalsel, dan di Kab. Kapuas dan Kab. Pulang Pisau, Kalteng. “Nenas banyak dibudidayakan mahajana karena nilai ekonomis yang patut tataran,” jelas Tri Wira.

Pola tanam budidaya nenas ialah monokultur dan agroforestry. Lengkap agroforestry yang ditemukan di pelan yakni alley cropping (nenas ditanam bersama dengan tanaman tiras menggunakan sistem lorong), trees along border (tumbuhan nenas dikelilingi tanaman berkayu dan palawija seperti reja, ubi kayu dan pisang) dan mix (tanaman nenas bercampur dengan tanaman berkayu seperti karet, tanaman biji kemaluan dan pokok kayu palawija.

Sementara itu, teknik budidaya yang dilakukan oleh masyarakat di sana cukup beraneka ragam, dari nan bersifat tradisional setakat menggunakan teknologi yang lebih berbudaya. Tercalit itu, Tri Wira mengatakan terserah beberapa situasi nan harus diperhatikan dalam budidaya pokok kayu di lahan gambut, antara lain: pembuatan saluran drainase, ameliorasi lahan dan pemberian tipe cendawan yang tepat.

“Biasanya masyarakat menunggangi sistem surjan dan sistem lambak dengan pengaturan kanal drainase. Sungguhpun belum banyak, namun sudah lalu ada masyarakat yang memperalat metode penyelenggaraan persil sonder bakar,\” introduksi Tri.***JND

Perigi: Humas KLHK

Kabar lainnya klik
disini

  • Pengumuman

Source: https://www.menlhk.go.id/site/single_post/1064

Posted by: holymayhem.com