Tanaman Dan Cara Buat Nya Untuk Darah Tinggi

Natal
Nativity tree.jpg

Kisah Natal menyebutkan kelahiran Yesus di sebuah kandang di Betlehem.

Dirayakan oleh Mayoritas umat Kristen
Jenis Serani
Makna Memestakan kelahiran Yesus (Isa Almasih)
Perayaan kebaktian dom, berkumpul dengan keluarga, membagi anugerah
Tanggal 25 Desember (seluruh dunia)
6 Januari (Armenia)
7 Januari (Ortodoks Timur)
Tersapu dengan Adven; Kelahiran Yesus, Epifani

Natal
(serapan dari bahasa Portugis:

Natal
, berarti “kelahiran”) ialah waktu raya umat Kristen yang diperingati setiap hari oleh umat Kristiani plong tanggal 25 Desember kerjakan memperingati musim kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian lilin batik plong tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi copot 25 Desember. Bilang gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari (lihat kembali Epifani).

Dalam tradisi barat, peringatan Natal sekali lagi mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang berpokok berbunga Barat antara lain yaitu tanaman Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman, dan anggota keluarga serta narasi tentang Santa Klaus ataupun Sinterklas.

Etimologi

Perkenalan awal “natal” diserap berpangkal bahasa Portugis, yaitu
natal, yang diturunkan dari idiom bahasa Latin
Ulang tahun
(Hari lahir), merupakan bentukan kata kerja
nāscor
(nāsceris,
nāscī,
nātus sum).[1]
[a]
Kata tersebut pun dipakai dalam bahasa-bahasa Roman lainnya, seperti
natale
(Italia), dan
nadal
(Katala). Kata
nadal
dalam bahasa Spanyol mulai usang dan secara sedikit berangsur-angsur pengenalan
navidad
start kerap dipakai untuk merujuk hari natal.[4]

Dalam Injil bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai pembukaan “Natal”, yang suka-suka hanya kelahiran Yesus.

Tahun Liturgi
Katedral Ritus Barat
  • Adven
  • Natal
  • Epifani
  • Masa Biasa
  • Waktu Pra-Paskah
    • Rabu Abu
  • Pekan Kudus
    • Jumat Dukacita
    • Pekan Palma
    • Senin Bersih
    • Selasa Suci
    • Peparu Suci
    • Kamis Putih
    • Jumat Agung
    • Sabtu Zakiah
    • Pekan Paskah
    • Senin Paskah
  • Peningkatan
  • Pentakosta
Gereja Ritus Timur
  • Eksaltasi Kayu palang
  • Puasa Natal
  • Natal
  • Teofani
  • Prapuasa Agung
  • Puasa Agung
    • Senin Bersih
    • Minggu Ortodoksi
  • Pekan Kudus
    • Minggu Palma
    • Senin Kudus
    • Selasa Suci
    • Rabu Suci
    • Kamis Salih
    • Jumat Agung
    • Sabtu Tahir
  • Paskah
  • Pentakosta
  • Metamorfosis
  • Tertidurnya Theotokos

Cerita kelahiran Yesus dalam Injil Perjanjian Baru ditulis n domestik kitab Matius (Matius 1:18-2:23) dan Lukas (Lukas 2:1-21).

Menurut Lukas, Maria mengetahui berasal seorang malaikat bahwa dia sudah mengandung dari Usia Kudus tanpa persetubuhan. Setelah itu dia dan suaminya Yusuf menghindari rumah mereka di Nazaret kerjakan berjalan ke kota Betlehem untuk mendaftar intern sensus yang diperintahkan oleh Agustus, Syah Romawi pada momen itu. Karena mereka tidak mujur bekas kerjakan menginap di kota itu, bayi Yesus dibaringkan di sebuah palungan (malaf).[5]
[6]
Kelahiran Kristus di Betlehem Efrata, Yudea, di kampung pelataran Daud, karuhun Yusuf, memenuhi wangsit rasul Mikha (Mikha 5:1-2). (Di Israel purba mereka mengenal ada dua kota Betlehem, daerah tingkat Betlehem satunya kembali makmur di persil Zebulon.)

Matius menyadari silsilah dan kelahiran Yesus berpangkal seorang perempuan, dan kemudian beralih ke kedatangan khalayak-orang majus dari Timur—nan diduga yakni Arabia maupun Persia—untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan. Insan-anak adam bijak tersebut mula-mula start di Yerusalem dan melaporkan kepada sultan Yudea, Herodes Agung, bahwa mereka telah melihat sebuah bintang—yang saat ini disebut Bintang Betlehem—menyambut kelahiran seorang sri paduka. Penelitian makin lanjur mengusung mereka ke Betlehem Yudea dan apartemen Maria dan Yusuf. Mereka mempersembahkan emas, setanggi, dan mur kepada bayi Yesus. Ketika inap, orang-orang majus itu mendapatkan impi nan berisi peringatan bahwa Sri paduka Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak tersebut. Karena itu mereka memutuskan bikin langsung pulang tanpa memberitahu Herodes suksesnya misi mereka. Matius kemudian melaporkan bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir buat meninggalkan tindakan Raja Herodes yang membelakangkan untuk membantai semua anak di bawah dua hari di Betlehem bagi menghilangkan oponen terhadap kekuasaannya. Sehabis kematian Herodes, Yesus dan keluarga pula dari Mesir, namun kerjakan menghindar bersumber raja Yudea bau kencur (anak Herodes Agung, merupakan Herodes Arkhelaus) mereka meninggalkan ke Galilea dan terlampau di Nazaret.

Jihat lain berasal cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab Injil Lukas adalah penyampaian berita itu oleh para malaikat kepada para gembala. Privat Injil Matius dicatat bahwa terserah orang-orang Majus bersumber Timur datang ke Yudea karena melihat sebuah medalion yang ki akbar bersinar di atas wilayah Yerusalem. Mereka mengikuti bintang itu sampai ke kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Bilang astronom dan sejarawan telah berusaha menjelaskan gabungan beberapa peristiwa angkasa yang dapat ditelusuri yang mungkin bisa menerangkan manifestasi tanda jasa raksasa yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu, pendapat yang minimum kuat adalah bersumber Johannes Kepler, yang membersihkan bahwa Bintang Natal atau Bintang Betlehem itu secara astronomik adalah konjungsi planet Jupiter dan Zohal pada konstalasi Pisces. Dan konjungsi ini memang benar terjadi plong wulan Desember tahun 7 SM. Pertama bani adam-orang Majus itu menanya-tanya kepada penduduk Yerusalem, kemudian mereka dibawa menghadap raja Herodes. Sunan Herodes menanya kepada tukang kitab, di mana Mesias akan dilahirkan. Berlandaskan Alkitab, Mesias akan dilahirkan di Betlehem dan amanat ini dipakai buat kondusif para orang majus mencerna letak di mana Yesus dilahirkan. Herodes mohon akan setelah bertemu bayi itu agar mereka kemudian bisa melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena memafhumi niat Herodes yang brutal, para orang majus enggak pun melaporkan kepada Herodes.

Asal-mula peringatan Natal

Peringatan masa kelahiran Yesus lain pernah berbintang terang perasaan partikular dari Kristus kerjakan dilakukan, seperti peringatan Perjamuan Asli, tetapi bukan berarti Yesus menolak peringatan sebuah musim raya yang bukan babak pecah perintah Allah. Yesus bahkan menghadiri sebuah perayaan Hari Raya Penahbisan Bait Sejati maupun Hanukkah, sebuah hari raya nan muncul sreg zaman intertestamental. Cerita mulai sejak Perjanjian Baru tak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal, tentu belaka kejadian itu bisa dipahami karena gereja masih sangat belia, yang lebih diutamakan merupakan misi penyiaran Alkitab. Klemens dari Aleksandria menghina khalayak-insan yang berusaha menghitung dan menentukan periode kelahiran Yesus. Sreg abad-abad pertama, hidup kerohanian anggota-anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak mendapat manah. Perayaan masa ulang tahun rata-rata – terutama oleh Origenes – dianggap bak satu kebiasaan kafir: individu orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari hari lahir mereka. Orang Masehi tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya ibarat hari ulang tahunnya.

Namun, di jihat Timur orang sudah sejak terlampau memikirkan mukjizat pemunculan Almalik dalam rupa manusia. Menurut tulisan-coretan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan “pesta Epifania” (pesta Pemunculan Tuhan) pada sungkap 4 Januari. Sahaja, yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifania merupakan munculnya Yesus seumpama Anak Allah, yaitu pada saat Engkau dibaptis di batang air Yordan. Gereja sebagai keseluruhan tak belaka menganggap baptisan Yesus sebagai Epifania, saja terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini, Gereja Timur memestakan makan besar Epifania pada copot 6 Januari sebagai makan besar kelahiran dan makan besar baptisan Yesus.

Perayaan kedua pesta ini berlanjut pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, nan terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian. Ephraim bersumber Syria menganggap Epifania ibarat pesta yang paling indah. Ia katakan: “Malam perayaan Epifania yaitu malam yang mengangkut rukun sejahtera dalam dunia. Siapakah nan mau tidur pada malam, ketika seluruh dunia sedang berjaga bimbing?” Sreg malam perayaan Epifania, semua gedung gereja dihiasi dengan goresan anak uang. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.

Sejarah

Perayaan Natal baru dimulai lega sekeliling masa 200 M di Aleksandria (Mesir). Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20 April. Di tempat-panggung lain perayaan dilakukan pada tangal 5 alias 6 Januari; ada pula pada wulan Desember. Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai sreg tahun 221 maka itu Sextus Julius Africanus, dan baru dipedulikan secara luas puas abad ke-5. Ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen pada rembulan Desember.

Tanggal

Yusuf, Maria, dan kanak-kanak anyir Yesus

Ada pendapat yang bersuara bahwa copot 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus. Pendapat ini diperkuat berdasarkan pemberitaan bahwa lega malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya di padang suket. (Lukas 2:8). Puas wulan Desember tidak mungkin para mengangon masih dapat menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab hari dingin bilamana tersebut telah tiba kaprikornus sudah tidak ada rumput nan tumbuh sekali lagi. Para pendukung tanggal kelahiran wulan Desember berpendapat meski musim dingin, domba-domba ki ajek lewat di kandangnya di padang jukut dan tegar dijaga oleh gembala, dan meski tidak cak semau rumput, padang rumput tetaplah disebut padang rumput. Kenyataan bahwa daerah tingkat Betlehem enggak cangap bersalju, jika pun ambruk salju, apa yang dimaksud Padang rumput yaitu kancah pelestarian domba semacam palas-palas nan disebut “Migdal Eder”. Menara itu dibuat untuk menyenggangkan domba sepanjang waktu karena hampir setiap bulan, umat Yahudi memiliki perayaan nan membutuhkan domba tersurat di Wulan Desember.

Ada juga pendapat nan berkata bahwa perayaan Natal bersumber berbunga tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnus jatuh lega suatu pekan plong bulan Desember dengan puncak peringatannya puas hari noktah pesong musim anyep (winter solstice) nan jatuh plong tanggal 25 Desember kerumahtanggaan almanak Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan pagar adat sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar individu-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, atas galakan dari kanjeng sultan Kristen pertama Romawi, Konstantin I, Paus Julius I mengakhirkan puas tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal nan sepadan. Namun pandangan ini disanggah maka dari itu Basilika Ritus Timur, karena Gereja Ritus Timur sudah memestakan kelahiran Yesus sejak abad ke-2, sebelum Basilika di Roma menyatakan perayaan Natal pada terlepas 25 Desember.

Makanya karena itu, ada beberapa aliran Kristen yang enggak merayakan leluri Natal karena dianggap bermula mulai sejak leluri kafir Romawi, merupakan aliran Gereja Yesus Zakiah, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, kaum Ibrani Mesianik. Saksi-Saksi Yehuwa juga tidak merayakan Natal.

Namun pendapat-pendapat mengenai keterkaitan perayaan Natal dengan tradisi pagan tersebut sudah usang dan banyak ditinggalkan. Takwim Natal 25 Desember yang dianggap sebagai ritus pagan sebenarnya baru dimasalahkan abad 18 oleh Paul Ernst Jablonsky. Menurut teolog dari Jerman ini, Perayaan Natal tanggal 25 Desember berasal dari ritus pagan “Natalis Sol Invicti” (Lahirnya Dewa Surya nan enggak terkalahkan). Anehnya, teori spekulatif ini bukan merujuk dokumen-dokemen kuno ini, tambahan pula diikuti maka dari itu rahib Benedictan. Dan sejak beberapa encyclopedia mengutipnya tak “check and recheck”, teori asumsi ini menyerak ke seluruh bumi.

Faktanya Paus Telesporus di Roma sudah merayakan misa malam Natal 24 Desember sejak periode 125. Lewat Uskup Theofilus di Kaesarea merayakan Natal 25 Desember 160. Meskipun tanggal kelahiran Yesus ini baru dikanonkan tahun 189, bukan lama sesudah Demetrius I menjadi Patriarkh Basilika Alexandria l, belaka ini sangat jauh sebelum munculnya kultus perayaan dewa Mentari di Roma waktu 274. Jadi perayaan Natal sebagai tanggal kelahiran Yesus telah ada lebih lewat sebelum perayaan dewa Matahari.

Bahkan intern catatan bapa-bapa gereja masa terawal dan penulis bersejarah lain, seperti Ireneus, Hypolitus dan Yulius Africanus juga sudah menuliskan ANNUNCIATIO CHRISTI (Kabar Gembira Malaikat Jibril kepada Bunda Maria akan lahirnya Kristus) terjadi sreg terlepas 25 Maret (kalender Yahudi 15 Batu kubur). Karena itu, sembilan bulan setelah Maret akan jatuh 25 Desember.

Cak semau sejumlah naskah kuno yang mencatat bahwa Yesus ditempatkan di rahim Maria tanggal 25 Desember.[7]
Penafsiran Kitab Hagai mengindikasikan tanggal itu yakni tanggal datangnya Yesus ke dalam rahim Maria, yaitu Hagai 2:19-20:

Tanggal 24 rembulan ke-9 (Kislew) dalam penanggalan Yahudi jatuh sekitar tanggal 25 Desember dalam almanak Gregorian.


Meskipun pada saat Hari Natal roboh masih menjadi perdebatan, agama Kristen pada umumnya sepakat untuk menetapkan Hari Natal runtuh setiap copot 25 Desember internal Penanggalan Gregorian ini didasari atas kesadaran bahwa penetapan waktu raya liturgis lain seperti Paskah dan Jumat Agung tak didapat dengan pendekatan tanggal pasti namun hanya berupa pengelolaan juga program-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, yang lain mementingkan akurasi tanggalnya tetapi sari atau inti dari setiap peringatan tersebut kerjakan bisa diwujudkan dari hari ke musim.

Tahun

Masa kalender Masehi diciptakan plong abad ke-6 oleh seorang biarawan yang bernama Dionysius Exiguus. Tahun Kristen yang kita gunakan masa ini ini disebut pun
anno Domini
(Waktu Tuhan).

Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Allah Yesus dilahirkan pada masa 1 SM? Anda mengambil data berbunga catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu yaitu tahun ke 15 berpangkal pemerintahan Sri paduka Tiberius seperti mana yang terjadwal di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan tolok olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.

Di samping itu ia juga menjeput data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur bermula Siria) pertama kali menjalankan program sensus.

Meskipun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Ibrani yang bernama Flavius Yosefus, raja Herodes meninggal dunia plong hari 4 SM sehingga konsekuensinya tanggal lahir Yesus harus dimundurkan sebanyak empat musim. Tapi teori ini lagi tak benar, sebab ia menganalisis tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat Herodes meninggal marcapada nan terjadi di Yerusalem pada terlepas 13 Maret masa 4 SM.

Gembala di musim campah

Ada pendapat bahwa mustahil Yesus dilahirkan pada bulan Desember karena itu merupakan jatuh pada periode dingin dan para gembala tidak akan menggembalakan kambing kibas-dombanya diluar, sebab Lukas 2:1 menyadari bahwa di daerah itu ada mengangon-mengangon yang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Namun faktanya, guru kebanyakan Bethlehem pada musim dingin antara 13,5 hingga 5,5 derajat Celsius, sedangkan salju biasanya anjlok di sumber akar nol derajat, karena master kota kelahiran Yesus itu dan sekitarnya pas hangat untuk kambing kibas-domba taat digembalakan. Lagi pula, domba-biri-biri yang dimaksud dalam Luk. 2:1 bukanlah kambing kibas-kambing arab seremonial, tetapi sejajar dengan permakluman Mishnah, Shekalim 7:4 בְּהֵמָה שֶׁנִּמְצְאוּ מִירוּשָׁלַיִם וְעַד מִגְדַּל עֵדֶר “behemah shenimetseu mirusalaim we ‘ad Migdal Eder” (sato-dabat yang ditemukan di sebuah tempat berpokok Yerusalem sampai Migdal Eder).6) Inilah domba-domba kurban di Bait Suci, nan dijaga maka dari itu gembala-gembala idiosinkratis di tempat terkatup yang dikelilingi benteng, sehingga domba-kambing kibas itu boleh merumput, kapan perian panas atau musim hujan abu” (Talmud, Bezah 40a, dan Tsepta Bezah 4:6). sejarawan kuno Eusebius dari Caesaria (265-340), ketika mengunjugi Betlehem pada zamannya, mengingat-ingat: “Migdal Eder nan terwalak seribu kaki dari Yerusalem ialah tempat para mengangon mengamini kabar kelahiran Kristus”. Dan ini bukan “terjemahan subyektif Kristen”, para rabbi Yahudi lagi mengakuinya. Targum Yonathan menerjemahkan frasa וְאַתָּ֣ה מִגְדַּל־עֵ֗דֶר “We attah Migdal ‘Eder” (Hai engkau Menara Kawanan Kambing arab) privat Mikha 4:8 ואַת מְשִׁיחָא דְיִשׁרָאֵל “W’at Meshîhâ deYishra’el” (Hai Mesias Israel). Targum Pseudo-Yonathan menyebut Miqdal ‘Eder dalam Kej. 35:21, tempat Yakub memasang kemahnya, sebagai arena Ratu Mesiah akan menyatakan diri-Nya plong periode-akhir zaman.7)

Pagar adat

Banyak tradisi perayaan Natal di barat yang adalah pengembangan kemudian dengan menyerap elemen beraneka ragam kebudayaan.

Pokok kayu Natal

Pohon natal di basilika atau di rumah-rumah mungkin berhubungan dengan adat istiadat Mesir, atau Ibrani kuno. Ada pula yang menghubungkannya dengan tanaman khusus di ujana Eden (lihat Kejadian 2:9). Tetapi kerumahtanggaan atma pra-Serani Eropa memang suka-suka adat istiadat menghias pohon dan menempatkannya dalam rumah pada perayaan tertentu. Tradisi “Tanaman Kilap” modern berkembang bermula Jerman pada abad ke-18.[8]

Kartu Natal

Terdapat juga tradisi menugasi Kartu Natal, yang dimulai pada tahun 1843 oleh John Calcott Horsley berasal Inggris. Rata-rata dengan gambar yang bersambung dengan kisah kelahiran Yesus Kristus dan disertai tulisan: Selamat Hari Natal dan Periode Baru. Dewasa ini anak adam mempekerjakan teknologi informasi (email) berkirim tiket Natal elektronik.

Sinterklas

Juga dalam rangka perayaan Natal dikenal di Indonesia adat istiadat Sinterklaas, yang dari bermula Belanda. Tradisi yang dirayakan pada tanggal 6 Desember ini, waktu ini dikenal dengan Santa Claus (ataupun Sint Nikolas), seorang dalang legenda, nan mengunjungi rumah anak-anak pada malam dengan kereta salju bingung ditarik bilang ekor rusa kutub menjatah-bagi pemberian. Santo Nikolas nan sebenarnya terbit dari kota Myra dan diyakini hidup pada abad ke-4 Masehi. Engkau terkenal karena kebaikannya menjatah hadiah kepada khalayak miskin. Di Eropa (bertambah tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman) kamu digambarkan sebagai koteng uskup yang berjanggut dengan jubah keuskupan resmi, tetapi kemudian gambaran ini menjalar ke seluruh bumi dengan penambahan beberapa atribut, sama dengan topi dan sebagainya. Cak semau pengamat agama yang menyatakan Sinterklas justru merupakan simbol-simbol sekuler privat Kristen yang memang tidak terserah Referensinya Alkitab, dan dikomersialkan sedemikian rupa sehingga simbol Sinterklas diusahakan lebih naik daun daripada kejadian-kejadian yang berkaitan langsung dengan Natal yang sesunggunya, misalnya rencana orok Yesus, dalam setiap perayaan Natal.[9]
[10]

Dalam dunia modern, perayaan Natal secara sekuler lebih menekankan aspek saling menjatah belas kasih Natal, sehingga terserah yang menduga Santa Nikolas lebih lebih penting daripada Yesus Kristus. Tradisi
Sinterklaas
Belanda menjadi bagian mulai sejak acara keluarga (cak bagi mendisiplin anak-anak) dengan mengunjungi kondominium-rumah disertai asisten berkulit hitam (Zwarte Pit) yang jual beli karung pintar anugerah lakukan momongan yang baik; semata-mata karung itu juga panggung momongan-anak asuh nakal dimasukkan untuk dibawa memencilkan. Di Amerika Perkongsian pengambil inisiatif ini disebut “Santa Claus” dan digambarkan purwa kali oleh suatu iklan minuman Amerika sejak tahun 1931 sebagai sendiri gaek gendut, bercambang putih dan berpakain sirah dengan sepatu bot, berkas pinggang hitam, dan topi jirus lembut. Yang burung laut kita lihat pun Natal dimeriahkan dengan banyak cahaya lampu berkelip-kelip. Selain bakal menambah semarak perayaan, ini juga n kepunyaan pemahaman cahaya yang terserah, maksudnya adalah Kristus akan gebah kuasa kegelapan.[11]

Kelompok Puritan

Wajah sekuler Natal ini pernah mendapat habuan bantahan terbit orang Kristen Puritan di Inggris pada 1647. Demi menghapus elemen-elemen nan tidak alkitabiah, Inggris yang ketika itu dikuasai oleh Parlemen Puritan sampai-sampai hubungan melarang perayaan Natal.[9]

Mereka menganggap perayaan Natal hanyalah festival kepausan (popish) yang tak punya pembenarannya kerumahtanggaan Injil. Hasilnya, kaum Puritan di Inggris menggantinya dengan satu musim puasa. Akibat pantangan perayaan Natal ini, kerusuhan meledak di beberapa daerah tingkat di Inggris. Malar-malar, Canterbury dikuasai maka itu massa pemrotes selama berminggu-minggu. Kerusuhan akibatnya reda dengan pencabutan larangan dahulu Restorasi Kanjeng sultan Charles II pada 1660, biar sejumlah pendeta tetap lain menyetujuinya.[9]

Ritus timur

Berbeda dengan tradisi perayaan Natal di barat, perayaan Natal ritus timur banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur, mendaras Alkitab, dan puji-sanjungan. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak terserah perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan awalan Natal dengan berpuasa sepanjang 10 hari. Temporer di Dom Ortodoks Koptik puasanya bertambah lama lagi, ialah sejak pekan terakhir November. Kaprikornus, sekitar 40 hari. Waktu
iftar
(urai puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Kendatipun taksir berbeda dalam tradisi, secara cara cara ini lain jauh berlainan dengan cara berpuasa Katedral-gereja Orthodoks lain.

Makna Parafin Dalam Natal

Dalam masa Natal, Lilin menggambarkan atau memberikan gambaran tentang Kristus.[12]
Kristus dilambangkan sebagai seri bagi dunia yang gelap.[12]
Di dalam Alkitabpun tertulis tentang semarak, di dalam Perjanjian Lama,Yesaya 9:1-6, “terang nan besar”, sementara itu di kerumahtanggaan Perjanjian Baru, Yohanes 1:1-18,” terang manusia”.[12]

Tidak doang di dalam peribadahan sekadar, di kondominium-rumah dan di toko-toko kerap di hias dengan bohlam-bohlam yang kelap-kelip, peristiwa ini unjuk sejak zaman patristik perumpamaan gambaran akan binar yang mengalahkan ketaksaan.[12]
Penggunaan parafin dan lampu-lampu kelap-kelip adalah pengaruh berpunca pesta cahaya Yahudi ataupun Hanukah.[12]
Hari raya Hanukkah dirayakan sekitar periode Adven dan Natal, dan sekali-kali selalu diplesetkan dengan istilah Natal Yahudi.[12]

Ekonomi

Natal biasanya adalah stimulus ekonomi tahunan terbesar di berbagai macam negara di dunia. Penjualan komoditas-produk meningkat mencolok di beraneka ragam area retail, dan pada periode Natal orang-orang membeli berbagai hadiah, dekorasi, dan persediaan Natal. Industri yang bergantung sreg penjualan di musim Natal antara lain kartu Natal, pohon Natal, dan lain-tidak.

Selain kegiatan ekonomi terbesar, Tahun Natal di berbagai macam negara Barat ialah perian minimal nyenyat lakukan dunia bisnis; damping semua toko retail, institusi menggalas dan komersial tutup, dan hampir semua industri berhenti beroperasi. Sanggar-bengkel seni bioskop merilis berbagai film berbiaya tinggi pada musim Natal bakal ki menenangkan amarah makhluk-orang, yang madya berlibur.

Kegiatan sosial

Sepanjang puasa, jemaat gereja-katedral Koptik, seperti Gereja Koptik Sayidah el-Adzra’ (Santa Maria), di Madinat al-Tahrir, Imbaba, Kairo mempunyai kebiasaan semata-mata makan sekali sehari dengan menu makanan semacam tempe (mulai sejak kedelai-kacangan), namanya
tamiya
atau
falafel
yang dimakan dengan sepotong roti dan air asli. Karena itu, uang jasa belanja yang biasanya mereka belikan daging dan menu lumayan gemuk lainnya dikumpulkan dan diserahkan langsung kepada orang fakir yang dikoordinasi oleh Katedral.
[butuh rujukan]

Lihat juga

  • Kronologi kehidupan Yesus
  • Kelahiran Yesus
  • Malam Nirmala
  • Medali Natal
  • Putaran Alkitab yang memuat kisah Natal: Matius 1 dan Lukas 2

Coretan


  1. ^

    Perkenalan awal
    nāscor
    diturunkan dari bahasa Proto-Kursif, yaitu
    *gnāskōr,[2]
    diturunkan dari bahasa Proto-Indo-Eropa, yaitu
    *ǵenh₁, sebuah rajah verba inkoatif terbit akar kata
    *gen-/*gnē
    (berarti “menghasilkan”, yang juga dipakai dalam bahasa Latin (bak
    genĕre
    dan
    gignĕre) dan Yunani Bersejarah (sebagai γίγνομαι,
    ghìgnomai).[3]

Teks

Tulisan kaki


Rajah pada pranala luar
Searchtool.svg Bani adam Majus

  1. ^


    “Charlton T. Lewis, Charles Short, A Latin Dictionary, nascor”.
    www.perseus.tufts.edu
    . Diakses tanggal
    25 Desember
    2021
    .





  2. ^


    De Vaan, Michiel (2008).
    Etymological Dictionary of Latin and the other Italic Languages (Leiden Indo-European Etymological Dictionary Series; 7)
    (dalam bahasa Inggris). Boston dan Leiden: Brill. ISBN 9789004167971.





  3. ^


    Ringe, Donald (2006).
    From Proto-Indo-European to Proto-Germanic
    (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780199284139.





  4. ^

    Natal do Senhor Jesus, evangelizo.org, VISÃO Júnior 25 de Dezembro de 2011

  5. ^

    Lukas 2:7 versi Leydekker

  6. ^

    http://natal.sabda.org/anak_malaf

  7. ^

    Coulson Shepherd, “Jewish Holy Days”, page 89

  8. ^

    Sumber akar-Usul Pohon Natal
  9. ^


    a




    b




    c



    Umat Masehi sangkutan menolak Sinterklas

  10. ^

    Katedral di Georgia mengkhususkan pesan bahwa Santa (Claus) adalah Satan (=setan, ifrit)

  11. ^


    (Indonesia)Rasid Rachman. 2009. Hari Raya Liturgi. Jakarta: BPK Ardi Luhur.
  12. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    (Indonesia)Rasid Rachman.2009. Hari Raya Liturgi. Jakarta: BPK-Gunung Mulia. Hal. 130-132.

Daftar referensi

  • Restad, Penne L. (1995).
    Christmas in America: A History. New York: Oxford University Press. ISBN 0-19-509300-3.



  • The Battle for Christmas, oleh Stephen Nissenbaum (1996; New York: Vintage Books, 1997). ISBN 0-679-74038-4
  • The Origins of Christmas, oleh Joseph F. Kelly (August 2004: Liturgical Press) ISBN 978-0-8146-2984-0
  • Christmas Customs and Traditions, oleh Clement A. Miles (1976: Dover Publications) ISBN 978-0-486-23354-3
  • The World Encyclopedia of Christmas, makanya Gerry Bowler (October 2004: McClelland & Stewart) ISBN 978-0-7710-1535-9
  • Santa Claus: A Biography, oleh Gerry Bowler (November 2007: McClelland & Stewart) ISBN 978-0-7710-1668-4
  • There Really Is a Santa Claus: The History of St. Nicholas & Christmas Holiday Traditions, oleh William J. Federer (December 2002: Amerisearch) ISBN 978-0-9653557-4-2
  • St. Nicholas: A Closer Look at Christmas, oleh Jim Rosenthal (July 2006: Nelson Reference) ISBN 1-4185-0407-6
  • Just say Noel: A History of Christmas from the Nativity to the Nineties, oleh David Comfort (November 1995: Fireside) ISBN 978-0-684-80057-8
  • 4000 Years of Christmas: A Gift from the Ages, oleh Earl W. Count (November 1997: Ulysses Press) ISBN 978-1-56975-087-2
  • Sammons, Peter (May 2006).
    The Birth of Christ. Glory to Glory Publications (UK). ISBN 0-9551790-1-7.



  • Markus Aziz, Khalil, The Coptic Orthodox Church (Montreal, Canada: The Coptic Orthodox Patriarchete,t.falak), p.35.
  • Bambang Noorsena, Renungan-renungan Idul Milad (Natal) di Tanah Suci Israel/Palestina (Malang: Studia Syriaca Orthodoxia,1999).

Pranala luar

  • Natal SABDA.org: Kunci Bahan-bahan Natal berbahasa Indonesia
  • Kata sandang Natal di Forum Sarapan Pagi



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Natal

Posted by: holymayhem.com