Tanaman Allium Cepa L Dapat Diperbanyak Dengan Cara Vegetatif Berupa

Bawang merah (Allium cepa L.) yaitu tanaman semusim yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-masa. Kebutuhan bawang sirah semakin meningkat karena hampir semua masakan membutuhkan komoditas rempah suatu ini. Dengan demikian umbi lapis merah mempunyai peluang bikin dikembangkan di persil kersang kendatipun dengan luasan tanah kecil sekali pula.

Berikut ini disampaikan syarat tumbuh dan teknik fiil daya bawang merah.

A. Syarat Bersemi

  • Berambang merah merecup di dataran minus hingga dataran tahapan sekitar 1000 mdpl
  • Hasil produksi terbaik pada ceduk rendah dengan hawa 25-32 °C , dengan penyinaran 75%
  • Persyaratan persil : gembur, mampu dan banyak mengandung bahan organik
  • Tipe tanah nan minimum bagus merupakan lempung berpasir maupun lempung berdebu
  • pH tanah 5-5 -6,5
  • Drainase dan aerasi tanah diusahakan yang bagus

B. Persiapan Lahan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengerjakan pembersihan dengan mandu membabat jukut dan gulma. Sehabis itu tanah harus digemburkan.

Bedengan dibuat dengan tumpul pisau 1-1,2 meter dan tingkatan disesuaikan dengan keadaan persil. Jarak antar bedengan 20-30 cm, dengan kedalaman parit 20-30 cm.

Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang sapi (15-20 t/ha) atau kotoran ayam jago (5-6 ton/ha) ataupun kompos (2,5-5 ton/ha), pupuk imitasi TSP/SP-36 (120-200 kg/ha), serat kandang atau kompos dan pupuk imitasi (TSP) disebar serta diaduk rata dengan tanah satu hingga tiga hari sebelum tanam.

Apabila pH tanah sedikit bersumber 5,6 diberi Dolomit/kapur pertanian dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan rendah lebih seminggu hendaknya kadar cemberut tidak terlalu pangkat.

C. Ancang Umbi Bibit

Umbi sari yang kualitasnya baik yaitu berdosis menengah, sehat, berkanjang dan satah kulit luarnya licin/ mengkilap. Ukuran pangkal pohon sari yang optimal adalah 3-4 gram/pongkol.

Umbi bibit nan baik yang sudah disimpan 2-3 bulan dan umbi masih n domestik sangkut-paut (umbi masih ada daunnya). Benih nan dianjurkan yaitu Kuning, Bima Brebes, Bangkok, Kuning Gombong, Klon No. 33, Klon No. 86 bakal dataran cacat.

Sedangkan buat dataran medium dan dataran strata disarankan memakai benih Sumenep, Menteng, Klon No. 88, Klon No. 33, Bangkok 2. selain dari umbi, penghijauan bawang merah juga bisa dari semen substansial biji dasun. Benih ini banyak dijual di toko-toko pertanian.

D. Penanaman

Pangkal pohon bibit ditanam dengan jarak tanam 20×15 cm alias 15×15 cm. Gaung tanam dibuat sedalam umbi. Umbi dimasukkan ke dalam tanah dengan seperti mengadon sekerup.

Reboisasi diusahakan jangan sesak intern karena pongkol mudah mengalami pembusukan. Takdirnya pangkal pohon bawang biram belum siap benar ditanam (pertumbuhan tunas dalam pangkal pohon kurang berusul 80%), maka dapat dilakukan pemotongan ujung umbi.

E. Pemupukan

Pemupukan susulan menunggangi Urea (150-200 kg/ha), ZA (300-500 kg/ha) dan KCl (150-200 kg/ha). Pemupukan susulan I dilakukan lega umur 10-15 hari pasca- tanam dan susulan II pada periode sukma 1 bulan setelah tanam, masing-masing ½ dosis.

Sementara, 100 kg NPK(15-15-15) Mutu diaplikasikan plong arwah 3 minggu. Sementara itu pupuk hayati diaplikasikan melalui bibit sebelum tanam dan/atau dengan penyemprotan plong tanaman umur 1-4 minggu.

F. Irigasi dan Penyiangan

Yang terlazim diingat bahwa dasun merah memerlukan banyak air, sekadar sira tak tahan terhadap genangan atau tanah yang becek.

Pohon berumur 0-10 masa, penyiraman dilakukan dua kali yakni pagi dan sore hari, sedangkan sesudah umur tersebut pendirusan sepan dilakukan sekali sehari (sebaiknya dilakukan puas pagi masa).

Penyiraman dengan cara ”leb” (memasukkan air ke bedengan hingga merata) digunakan di lahan persawahan, cak bagi lahan kering menggunakan gembor atau selang. Apabila digunakan cara ini (”leb”), seyogiannya dilakukan setelah tanaman berumur lebih dari 10 hari.

Penyiangan pokok kayu bawang merah dengan cara manual dilakukan sesuai kejadian gulma di pelan, merupakan antara satu sampai dua kali penyiangan yakni pada saat tanaman berumur 10-15 hari dan 28-35 hari (sebelum pemupukan susulan).

G. Pengendalian Wereng dan Problem

Bilang hama penting pada pohon berambang abang serta cara pengendaliannya ialah bagaikan berikut.

  • Ulat daun bawang (Spodoptera exigua)

Gejala ofensif: pada daun yang terserang terlihat calit kudus transparan. Situasi ini karena ulat menggerek patera dan turut ke dalamnya sehingga merusak jaringan daun arah privat sehingga kadang-kadang daun mengampai.

Kaidah pengendalian: rotasi pohon, periode tanam serempak, atau dengan pengendalian secara kimiawi yaitu menggunakan Curacron 50 EC, Diasinon 60 EC, atau Bayrusil 35 EC.

  • Trips (Trips tabaci Lind.)

Gejala serangan: terwalak totot pektay pada helai daun yang diserang, yang akhirnya daun menjadi kering. Serangan biasanya terjadi sreg perian kemarau.

Pendirian pengendalian: mengatur waktu tanam nan tepat, atau secara kimiawi ialah dengan penyemprotan Curacron 50 EC, Diasinon 60 EC, maupun Bayrusil 35 EC.

  • Ulat mago tanah (Agrotis epsilon)

Pengendalian dilakukan secara manual yakni dengan mengumpulkan larva ulat pada petang/tunggang hari di antara pertanian serta menjaga kebersihan areal pertanaman.

  • Penyakit bercak ungu alias trotol (Alternaria porri)

Gejala seranga: pada daun yang terserang (umumnya daun tua) terletak bercak keputih-putihan dan sangka mengendap, lama kelamaan berwarna ungu berbentuk oval, keabu-abuan dan bertepung hitam. Serangan umumnya terjadi pada musim hujan.

Cara pengendalian: revolusi tanaman, melakukan penyemburan pasca- hujan abu dengan air cak bagi mengurangi spora nan menempel puas patera. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan pemancaran fungisida, antara enggak Antracol 70 WP, Ditane M-45, Deconil 75 WP, atau Difolatan 4F.

Pengendalian secara kimiawi dapat digunakan selepas populasi hama atau intensitas komplikasi sudah melebihi ambang batas ekonomi

H. Panen

Penuaian dilakukan apabila tanaman telah berumur 65-75 hari setelah tanam. Pokok kayu yang telah siap dipanen memiliki ciri-ciri:

  • Tanaman mutakadim cukup bertongkat sendok, dengan dempet 60-90% bangkai mutakadim lemas dan daun menguning
  • Pongkol lapis terlihat padat sakti dan sebagian tersembul di permukaan tanah
  • Rona kulit umbi mengkilat atau memerah
  • Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman bersama daunnya dan diusahakan semoga tanah yang rapat puas umbi dibersihkan. Biarkan umbi beberapa jam pada bedengan, kemudian diikat (1-1,5 kg/ikat)
  • Umbi yang sudah lalu diikat dijemur dengan posisi daun berada di atas (sejauh 5-7 hari). Setelah daun kersang, perpautan diperbesar dengan menunggalkan 3-4 pergaulan boncel menggunakan tali bambu. Selanjutnya nikah dijemur kembali dengan posisi umbi di atas (selama 2-3 hari),
  • Bila umbi telah kering, pangkal pohon siap disimpan di gudang atau di panggar.atau dilakukan pengasapan aga bukan mudah rusak dan tahan lama.

J. Pasca Pengetaman

Pongkol dijemur hingga layak kering (1-2 minggu) dibawah sinar matahari langsung. Pembalikan dilakukan setiap 2-3 hari ketika susut bobot umbi menjejak 25-40%. Kemudian dilakukan pengelompokan (grading) sesuai dengan ukuran umbi. Bawang merah bisa disimpan dengan cara menggantungkan aliansi-kontak bawang merah di pakus spesial pada temperatur 25-30 derajat celcius dan kelembaban yang patut rendah untuk menyingkir penyakit busuk umbi dalam gudang.

(BPP Kecamatan Pulubala – Abdul Samad Kamaru, SP – Pembimbing Perladangan)

Rajah 1 : Tanaman dasun abang (Allium cepa L.)

1. Merek Tanaman

Stempel : Dasun merah

2. Klasifikasi Pohon

Tulang beragangan 2 : Tanaman kucai biram (Allium cepa L.)

Kingdom :Plantae
Subkingdom :Tracheobionta
Superdivisio :Spermatophyta
Divisio :Magnoliophyta
Klas :Liliopsida
Sub-klas :Liliidae
Ordo :Liliales
Familia :Liliaceae
Genus :Allium
Spesies :Allium cepa L. var. aggregatum

3. Jabaran Tanaman





1. Akar

Berakar serabut dengan sistem perakaran dangkar dan bercabang terpencar, puas kedalaman antara 15 – 30 cm di dalam lahan.

2. Mayat

Memiliki mayit kudus alias disebut “diskus” yang berbentuk sebagai halnya cakram, tipis dan pendek perumpamaan medan melekatnya akar dan mata tunas (titik tumbuh), diatas diskus terletak layon semu yang tersusun dari pelepah-tulang daun patera dan jenazah semu yang berbenda di intern persil menjelma dan kemustajaban menjadi umbi lapis.

3. Daun

Berbentuk silindris kecil mengaret antara 50 – 70 cm, bertembuk dan bagian ujungnya jirus, bewarna hijau muda sampai tua, dan letak daun tertuju sreg batang cangkul yang ukurannya relatif pendek.

4. Bunga

Tangkai anakan keluar dari ujung tanaman (titik tumbuh) yang panjangnya antara 30 – 90 cm, dan di ujungnya terdapat 50 – 200 gadis rente yang tersusun bundar (buntak) seolah berbentuk payung. Tiap dayang bunga terdiri atas 5 – 6 helai daun anakan yang bercelup zakiah, 6 benang sari berwarna plonco maupun kekuning-kuningan, 1 putik dan kerjakan buah berbentuk akrab segitiga. Bunga bawang merupakan bunga sempurna (hermaprodit) dan dapat menyerbuk sendiri maupun cagak.

5. Buah dan Biji

Buah berbentuk buntak dengan ujungnya tumpul membungkus biji berjumlah 2 –3 butir, bentuk biji terka gentat detik muda berwarna bening alias ceria setalah tua bercat hitam. Kredit berambang sirah boleh digunkan sebagai bahan pergandaan tanaman secara generatif.

4. Habitat dan Pendakyahan

Kucai merah dihasilkan di 24 dari 30 area di indonesia. Provinsi produsen utama bawang berma diantaranya yakni Sumatera Utara, Sumatara Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, bali, NTB, dan Sulawesi selatan.

5. Kandungan dan Manfaat Pokok kayu

Perumpamaan obat tradisional yang dapat memulihkan penyakit deman, kencing manis dan batuk darah. Bawang sirah mengandung kuersetin, antioksidan nan awet nan bertindak sebagai kantor cabang bakal menghambat sel kanker. Peranakan lain mulai sejak bawang merah diantaranya protein, mineral, sulfur, antosianin, karbohidrat, dan jamur (Rodrigues et al., 2003). Satu sepotong setakat tiga setengah ons berambang segar apabila dikonsumsi secara teratur mengandung kuersetin nan cukup sebagai perlindungan terhadap kanker. Bawang berbenda akan flavonoid nan telah diketahui kerjakan mendeaktifkan banyak karsinogen potensial dan pemicu tumor seperti menganggu pertumbuhan hotel prodeo sensitif estrogen lega kanker susu (Anonim, 2007).

6. Penyelidikan Mekanisme Antikanker

Daftar pustaka

Borska, S., Gębarowska, E., Wysocka, T., Zalesińska, M. and Zabel, M. 2003. The effects of quercetin vs cisplatin on proliferation and the apoptotic process in A549 and SW1271 cell lines in in vitro conditions. Folia Morphol 63 ( 1):103–105.

Cross, H., Tilby, M., Chipman, J., Ferry, D. and Gescher, A. 1998. Experimental Cancer Effect of quercetin on the genotoxic potential of cisplatin.   International Journal of Cancer  66(3): 404 – 408.

Haghiack, M. and Walle, T. 2005. Quercetin Induces Necrosis and Apoptosis in SCC-9 Oral Cancer Cells. Nutrition and Cancer 53(2):220-231.

Kuhar M., Sabiha I. and Singh N. 2007 Curcumin and Quercetin Combined with Cisplatin to Induce Apoptosis in Human Laryngeal Carcinoma Hep-2 Cells through the Mitochondrial Pathway. J. Cancer Mol 3(4): 121-128.

Priya D. and Devi, S. 1999. Protective effect of quercetin in cisplatin-induced cell injury in the rat kidney. Indian Journal of Pharmacology 31(6):422-426.

Heo, H. and Lee, C. 2004. J-Agric-Food-Chem. 15; 52(25):7514-7

Rodrigues A., Fogliano V., Graziani G., Mendes, S., Vale, A. and Goncalves, C., 2003. Nutrition Value of Onion Regional Varieties in Northwest Portugal, EJEAFChe 2(4): 519-524.

Kontributor: Dwi Ana Nawangsari, Indah Ikawati Setyarini, Perdana Adi Nugroho, Sarmoko, dan Endang Sulistyorini

Last update: 9 November 2010

Source: https://apaartidari.com/tanaman-allium-cepa-l-dapat-diperbanyak-dengan-cara-vegetatif-berupa

Posted by: holymayhem.com