Tanam Sayur Tanpa Media Tanah

Peta Mesir Bersejarah, menunjukkan daerah tingkat dan situs utama plong periode dinasti (3150 SM sampai 30 SM)

Mesir Kuno
adalah peradaban historis di sebelah timur laut benua Afrika, yang berpusat di daerah hilir Kali besar Nil, yakni kawasan yang masa ini menjadi daerah negara Mesir. Peradaban ini dimulai dengan unifikasi Mesir Hulu dan Hilir sekitar 3150 SM,[1]
dan selanjutnya berkembang sejauh kurang lebih tiga milenium. Sejarahnya mengalir melalui musim kerajaan-kekaisaran yang stabil, masing-masing diantarai makanya periode ketidakstabilan nan dikenal sebagai Periode Semenjana. Mesir Kuno menyentuh puncak kejayaannya plong masa Imperium Baru. Lebih jauh, peradaban ini menginjak mengalami deklinasi. Mesir ditaklukan oleh khasiat-keistimewaan asing pada periode akhir. Kekuasaan firaun secara resmi dianggap berakhir plong sekitar 31 SM, momen Imperium Romawi menaklukkan dan menjadikan wilayah Mesir Ptolemaik ibarat penggalan pecah kewedanan Romawi.[2]
Meskipun ini bukanlah pendudukan asing pertama terhadap Mesir, tahun kekuasaan Romawi menimbulkan satu perubahan politik dan agama secara sedikit demi di lembah Sungai Nil, yang secara efektif menandai berakhirnya perkembangan tamadun merdeka Mesir.

Peradaban Mesir Kuno didasari atas pengendalian keseimbangan yang baik antara sumber daya alam dan manusia, terutama ditandai dengan:

  • Pengairan terkonsolidasi terhadap Lembah Nil;
  • Pendayagunaan mineral dari lembah dan area sahara di sekitarnya;
  • Jalan sistem garitan dan sastra;
  • Organisasi proyek kolektif;
  • Perbisnisan dengan wilayah Afrika Timur dan Perdua serta Mediterania Timur; serta
  • Kegiatan militer yang menunjukkan kekuasaan terhadap kebudayaan tungkai bangsa lain pada beberapa periode nan berbeda.

Pengelolaan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan makanya penguasa sosial, politik, dan ekonomi, nan kaya di pangkal pemeriksaan sosok firaun.[3]
[4]

Pencapaian-pencapaian peradaban Mesir Kuno antara lain: teknik pembangunan monumen sebagai halnya piramida, kuil, dan obelisk; pengetahuan matematika; teknik pengobatan; sistem pengairan dan agrikultur; kapal purwa yang pernah diketahui; teknologi berselang -selang glasir bening dan kaca; seni dan arsitektur nan mentah; sastra Mesir Historis; dan traktat perdamaian mula-mula yang pernah diketahui.[5]
Mesir telah menjauhi warisan yang lestari. Seni dan arsitekturnya banyak ditiru, dan barang-barang antik imitasi peradaban ini dibawa hingga ke ujung manjapada. Reruntuhan-reruntuhan monumental-nya menjadi inspirasi bakal pengelana dan katib selama berabad-abad.

Rekaman

[sunting
|
sunting sumber]

Daftar Dinasti

pada zaman Mesir Kuno

Periode Pra-Dinasti
Periode Proto-Dinasti
Tahun Dinasti Awal
ke-1 ke-2
Imperium Lama
ke-3 ke-4 ke-5 ke-6
Periode Sedang Permulaan
ke-7 ke-8 ke-9 ke-10
ke-11 (namun Thebes)
Kerajaan Pertengahan
ke-11 (seluruh Mesir)
ke-12 ke-13 ke-14
Periode Menengah Kedua
ke-15 ke-16 ke-17
Kerajaan Mentah
ke-18 ke-19 ke-20
Periode Menengah Ketiga
ke-21 ke-22 ke-23
ke-24 ke-25
Periode Penghabisan
ke-26
ke-27
(Periode Persia Pertama)
ke-28 ke-29 ke-30
ke-31
(Periode Persia Kedua)
Tahun Yunani-Romawi
Alexander Agung
Dinasti Ptolemaik
Mesir Romawi
Serbuan Arab

Pada akhir masa Paleolitik, iklim Afrika Utara menjadi semakin seronok dan kering. Akibatnya, penduduk di distrik tersebut tertekan berpusat di sepanjang sungai Nil. Sebelumnya, semenjak manusia pemburu-pengumpul berangkat tinggal di wilayah tersebut plong akhir Pleistosen Paruh (sekitar 120 ribu tahun lalu), kali besar Nil telah menjadi urat nadi spirit Mesir.[6]
Legok banjir Nil nan bakir memberikan kesempatan bagi manusia bagi mengembangkan pertanian dan publik yang terpusat dan kontemporer, nan menjadi dok kerjakan ki kenangan kebudayaan khalayak.[7]

Perian Pradinasti

[sunting
|
sunting sumur]

Pada waktu pra dan awal dinasti, iklim Mesir lebih berada daripada saat ini. Sebagian wilayah Mesir ditutupi oleh stepa berhutan dan dilalui makanya ungulata yang ragut. Flora dan hewan lebih produktif dan sungai Nil menopang atma unggas-unggas air. Perburuan merupakan pelecok suatu alat penglihatan pencaharian utama orang Mesir. Selain itu, pada periode ini, banyak hewan yang didomestikasi.[8]

Kempit plong musim pradinasti.

Sekitar masa 5500 SM, tungkai-kaki katai yang bersemayam di ngarai sungai Nil telah berkembang menjadi peradaban yang menguasai pertanian dan peternakan. Peradaban mereka juga boleh dikenal melalui tembikar dan produk-komoditas pribadi, seperti tersengsam, gelang tangan, dan manik. Kebudayaan yang terbesar di antara peradaban-peradaban awal adalah Badari di Mesir Hulu, yang dikenal akan lantai, peralatan gangguan, dan penggunaan tembaga.[9]

Di Mesir Utara, Badari diikuti oleh peradaban Amratia dan Gerzia,[10]
yang menunjukkan sejumlah pengembangan teknologi. Bukti tadinya menunjukkan adanya hubungan antara Gerzia dengan Kanaan dan rantau Byblos.[11]

Sementara itu, di Mesir Kidul, kebudayaan Naqada, mirip dengan Badari, mulai memperluas kekuasaannya di sepanjang bengawan Nil sekitar tahun 4000 SM. Sejak musim Naqada I, individu Mesir pra dinasti mengasongkan obsidian dari Ethiopia, untuk membentuk sabel dan benda tak yang terbuat dari
flake.[12]
Setelah sekitar 1000 tahun, peradaban Naqada berkembang berpunca masyarakat persawahan yang kecil menjadi tamadun yang kuat. Penasihat mereka berhak penuh atas rakyat dan perigi daya alam lembah sungai Nil.[13]
Setelah mendirikan siasat maslahat di Hierakonpolis, dan lalu di Abydos, penguasa-penguasa Naqada III memperluas kekuasaan mereka ke lor.[14]

Budaya Naqada takhlik berbagai macam barang-produk material – yang menunjukkan peningkatan kekuasaan dan harta benda pecah para penguasanya – seperti tembikar yang dicat, vas batu dekoratif yang berkualitas tinggi, pelat kosmetik, dan perhiasan nan terbuat berpokok emas, lapis, dan saing. Mereka juga mengembangkan glasir keramik yang dikenal dengan etiket tembikar glasir bening.[15]
Pada fase penutup masa pra dinasti, peradaban Naqada mulai menggunakan simbol-fon tulisan yang akan berkembang menjadi sistem hieroglif lakukan menulis bahasa Mesir kuno.[16]

Periode Dinasti Awal

[sunting
|
sunting sumber]

Pendeta Mesir sreg abad ke-3 SM, Manetho mengelompokan garis keturunan firaun yang tangga dari Menes ke masanya menjadi 30 dinasti. Sistem ini masih digunakan sebatas musim ini.[18]
Beliau mengidas bagi memulai memori resminya melalui raja nan bernama “Meni” (maupun Menes dalam bahasa Yunani), yang dipercaya telah menunggalkan kerajaan Mesir Hulu dan Hilir (sekitar 3200 SM).[19]
Perlintasan berkiblat negara kesatuan sejatinya berlangsung makin bertahap, berlainan dengan apa yang ditulis oleh notulis-pencatat Mesir Bersejarah, dan tidak ada catatan kontemporer akan halnya Menes. Beberapa ahli masa ini mengimani bahwa figur “Menes” mungkin merupakan Narmer, yang digambarkan mengenakan cap kebesaran kerajaan pada telor Narmer yang merupakan huruf angka unifikasi.[20]

Plong Periode Dinasti Awal, seputar 3150 SM, firaun pertama mempererat kekuasaan mereka terhadap Mesir hilir dengan mendirikan ibu kota di Memphis. Dengan ini, firaun dapat mengawasi pegiat, pertanian, dan jalur penggalasan ke Levant nan penting dan menguntungkan.. Peningkatan kontrol dan kekayaan firaun pada periode dinasti awal dilambangkan melalui mastaba (kober) yang rumit dan struktur-struktur kultus kamar mayat di Abydos, yang digunakan lakukan merayakan didewakannya firaun setelah kematiannya.[21]
Institusi imperium nan kuat dikembangkan maka itu firaun bikin mengesahkan dominasi negara atas kapling, pelaku, dan sendang daya alam, yang penting untuk pertumbuhan tamadun Mesir kuno.[22]

Kerajaan Lama

[sunting
|
sunting sumber]

Kemajuan n domestik parasan arsitektur, seni, dan teknologi dibuat pada masa Kerajaan Lama. Kesuksesan ini didorong oleh meningkatnya kapasitas pertanian, yang dimungkinkan karena pemerintahan siasat dibina dengan baik.[23]
Di bawah santiaji wazir, pejabat-atasan negara mengumpulkan pajak, mengatur proyek pengairan buat meningkatkan hasil penuaian, mengumpulkan orang tani kerjakan bekerja di kiriman-pesanan pembangunan, dan mematok sistem keadilan bagi menjaga keamanan.[24]
Dengan sumber ki akal surplus yang ada karena ekonomi yang produktif dan stabil, negara gemuk membayari pembangunan proyek-bestelan kolosal dan menugaskan pembuatan karya-karya seni istimewa. Piramida nan dibangun oleh Djoser, Khufu, dan keturunan mereka, merupakan simbol peradaban Mesir Kuno yang minimal diingat.

Seiring dengan meningkatnya kemustajaban pemerintah pusat, unjuk golongan juru tulis (sesh
[25]) dan majikan berpendidikan, yang diberikan tanah oleh firaun sebagai suruhan atas jasa mereka. Firaun juga memberikan lahan kepada struktur-struktur berhala kamar kunarpa dan kuil-kuil lokal kerjakan memastikan bahwa institusi-institusi tersebut memiliki sumber gerendel yang cukup untuk memuja firaun sesudah kematiannya. Pada intiha periode Kerajaan Lama, panca abad berlangsungnya praktik-praktik feudal pelan-pelan kerik kemujaraban ekonomi firaun. Firaun enggak kembali mampu membiayai pemerintahan terpusat yang besar.[26]
Dengan berkurangnya khasiat firaun, gubernur regional yang disebut nomark mulai menantang kekuatan firaun. Hal ini diperburuk dengan terjadinya kehabisan besar antara waktu 2200 hingga 2150 SM,[27]
sehingga Mesir Bersejarah memasuki perian kelaparan dan perselisihan selama 140 tahun yang dikenal perumpamaan Waktu Medium Purwa Mesir.[28]

Periode Menengah Pertama Mesir

[sunting
|
sunting mata air]

Setelah pemerintahan pokok Mesir merosot lega akhir periode Kerajaan Lama, pemerintah tidak lagi subur kondusif atau menstabilkan ekonomi negara. Gubernur-gubernur regional tidak dapat mencangkekan diri kepada firaun pada periode kemelut. Kekurangan alas dan sengketa kebijakan meningkat menjadi kelaparan dan perang sipil berskala kecil. Meskipun berada pada waktu yang susah, pejabat-pemimpin lokal, nan tidak berhutang upeti kepada firaun, menggunakan otonomi baru mereka buat mengembangkan budaya di wilayah-provinsi. Setelah menguasai sumber kiat mereka sendiri, provinsi-kewedanan menjadi bertambah kaya. Fakta ini dibuktikan dengan adanya pemakaman yang lebih besar dan baik di antara kelas-kelas sosial lainnya.[29]
Dengan meningkatnya daya kreasi, pengrajin-pengrajin provinsial menerapkan dan mengadaptasi motif-motif budaya yang sebelumnya dibatasi oleh Kerajaan Lama. Tukang-pandai tulis meluaskan kecenderungan yang melambangkan optimisme dan keaslian perian.[30]

Netral dari loyalitas kepada firaun, kepala-pemimpin tempatan mulai berebut kekuasaan. Lega 2160 SM, penguasa-penguasa di Herakleopolis menguasai Mesir Ambang, sementara keluarga Intef di Thebes mengambil alih Mesir Hulu. Dengan berkembangnya kekuatan Intef, serta perluasan kekuasaan mereka ke lor, maka pertentangan antara kedua dinasti sudah enggak terhindarkan lagi. Sekitar tahun 2055 SM, tentara Thebes di sumber akar bimbingan Nebhepetre Mentuhotep II berhasil cundang penguasa Herakleopolis, menyatukan kembali kedua negeri, dan memulai periode renaisans budaya dan ekonomi yang dikenal umpama Kerajaan Pertengahan.[31]

Kerajaan Pertengahan

[sunting
|
sunting sumber]

Amenemhat III, penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan.

Firaun Imperium Medio bertelur mengembalikan kesejahteraan dan kestabilan negara, sehingga menjorokkan kebangkitan seni, sastra, dan proyek pembangunan monumen.[32]
Mentuhotep II dan sebelas dinasti penerusnya berwajib berbunga Thebes, tetapi wazir Amenemhat I, sebelum memperoleh kekuasaan pada awal dinasti ke-12 (selingkung tahun 1985 SM), memindahkan ibu daerah tingkat ke Itjtawy di Wahah Faiyum.[33]
Dari Itjtawy, firaun dinasti ke-12 melakukan reklamasi petak dan irigasi buat meningkatkan hasil panen. Selain itu, barisan imperium berhasil merebut pun distrik yang berkecukupan akan emas di Nubia, sementara pelaku-pekerja membangun struktur pertahanan di Delta Timur, nan disebut “tembok-tembok penguasa”, sebagai perlindungan berpokok ofensif asing.[34]

Maka populasi, seni, dan agama negara mengalami perkembangan. Farik dengan rukyah elitis Kerajaan Lama terhadap dewa-dewa, Kerajaan Pertengahan mengalami eskalasi ungkapan kesalehan pribadi. Selain itu, muncul sesuatu yang dapat dikatakan sebagai demokratisasi sehabis akhirat; setiap turunan punya roh dan boleh diterima oleh betara-dewa di alam baka.[35]
Sastra Kerajaan Medio menampilkan tema dan karakter yang canggih, yang ditulis memperalat tren beriman diri dan rupawan,[30]
sementara tatahan dan pahatan potret pada periode ini menampilkan ciri-ciri kepribadian yang lembut, yang mencapai tingkat baru intern kesempurnaan teknis.[36]

Penguasa bontot Kekaisaran Pertengahan, Amenemhat III, memperbolehkan pendatang dari Asia lewat di distrik delta untuk memenuhi kebutuhan pekerja, terutama untuk penambangan dan pembangunan. Penambangan dan pembangunan yang ambisius, ditambah dengan meluapnya wai Nil, membebani ekonomi dan mengerapkan kemunduran selama masa dinasti ke-13 dan ke-14. Semasa kejatuhan, pendatang dari Asia mulai menguasai wilayah muara sungai, yang selanjutnya mulai berwenang di Mesir sebagai Hyksos.[37]

Periode Menengah Kedua dan Hyksos

[sunting
|
sunting mata air]

Selingkung tahun 1650 SM, seiring dengan melemahnya kekuatan firaun Kekaisaran Pertengahan, imigran Asia yang tinggal di ii kabupaten Avaris mengaplus dominasi dan memaksa pemerintah sentral memulur ke Thebes. Di sana firaun diperlakukan bak vasal dan diminta kerjakan menggaji upeti.[38]
Hyksos (“penguasa asing”) meniru tendensi pemerintahan Mesir dan menayangkan diri mereka sebagai firaun. Maka elemen Mesir berintegrasi dengan budaya Zaman Perunggu Pertengahan mereka.[39]

Setelah ki bertambah, tuanku Thebes mengintai situasinya nan terperangkap antara Hyksos di lor dan serikat dagang Nubia Hyksos, Kerajaan Kush, di daksina. Setelah hampir 100 tahun mengalami periode stagnansi, lega tahun 1555 SM, Thebes telah mengumpulkan arti yang patut kerjakan menimpali Hyksos privat konflik selama 30 tahun.[38]
Firaun Seqenenre Tao II dan Kamose berbuntut mengalahkan orang-orang Nubia. Pengganti Kamose, Ahmose I, berhasil mengusir Hyksos dari Mesir. Selanjutnya, lega periode Kerajaan Yunior, kekuatan militer menjadi prioritas penting firaun kiranya dapat memperluas perbatasan Mesir dan menancapkan pengaruh atas wilayah Timur Dempet.[40]

Wilayah terluas Mesir Historis (abad ke-15 SM).

Imperium Baru

[sunting
|
sunting sumber]

Firaun-firaun Kerajaan Baru berhasil mengirimkan kesejahteraan yang tak tertandingi sebelumnya. Perbatasan diamankan dan hubungan diplomatik dengan jiran-tetangga diperkuat. Persuasi militer yang dikobarkan makanya Tuthmosis I dan cucunya Tuthmosis III memperluas yuridiksi firaun ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka kolek impor komoditas yang berfaedah seperti tin dan kayu.[41]
Firaun-firaun Imperium juga memulai pembangunan lautan bagi menggotong batara Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak. Para firaun pun membangun monumen bakal menghormati pencapaian mereka sendiri, baik nyata ataupun imajiner. Firaun dara Hatshepsut menggunakan propaganda seperti itu untuk menyahihkan kekuasaannya.[42]
Waktu kekuasaannya yang berdampak dibuktikan oleh ekspedisi perdagangan ke Punt, kuil kamar kunarpa yang elegan, pasangan obelisk kolosal, dan kapel di Karnak.

Sekitar tahun 1350 SM, pemantapan Kerajaan Plonco terancam ketika Amenhotep IV naik tahta dan mengerjakan reformasi yang radikal dan resah. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten. Akhenaten memuja dewa mentari Aten umpama dewa tertinggi. Engkau lalu mengimpitkan pemujaan dewa-dewa lain.[43]
Akhenaten juga menjangkitkan ibu ii kabupaten ke kota baru yang bernama Akhetaten (kini Amarna). Ia bukan memperdulikan masalah asing area dan plus asyik dengan gaya religius dan artistiknya nan bau kencur. Setelah kematiannya, fetis Aten segera ditinggalkan, dan firaun-firaun seterusnya, yaitu Tutankhamun, Ay, dan Horemheb, menghapus semua penuturan mengenai bidaah Akhenaten.[44]

Ramses II menanjak tahta pada tahun 1279 SM. Dia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-arca dan obelisk, serta dikaruniai anak asuh yang makin banyak daripada firaun-firaun tidak dalam sejarah.[45]
Umpama seorang bos militer yang nyali, Ramses II menganjuri tentaranya menandingi bangsa Het intern perlawanan Kadesh. Setelah bertempur hingga menyentuh kebuntuan (stalemate), engkau menyetujui traktat perdamaian permulaan yang terjadwal sekitar 1258 SM.[46]

Kekayaan menjadikan Mesir bak target serangan, terutama oleh anak adam-anak adam Laut dan Libya. Legiun Mesir mampu mengintimidasi serangan-serangan itu, tetapi Mesir akan kehilangan kekuasaan atas Suriah dan Palestina. Otoritas terbit gaham asing diperburuk dengan masalah internal seperti manipulasi, penjarahan peristirahatan terakhir, dan kerusuhan. Rohaniwan-pendeta agung di kuil Amun, Thebes, mengumpulkan tanah dan kekayaan yang besar, dan faedah mereka memecahkan negara lega masa Masa Menengah Ketiga.[47]

Lega periode 730 SM, turunan-orang Libya dari barat memecahkan keesaan politik Mesir Historis.

Tahun Menengah Ketiga

[sunting
|
sunting sumber]

Pasca- kematian firaun Ramses XI tahun 1078 SM, Smendes mengambil alih kekuasaan Mesir utara. Engkau berhak dari kota Tanis. Darurat itu, wilayah daksina dikuasai makanya pendeta-pendeta agung Amun di Thebes, yang saja mengakui jenama Smendes sekadar.[48]
Pada masa ini, orang-orang Libya sudah lalu menetap di delta barat, dan pembesar-kepala suku penetap tersebut mulai meningkatkan otonomi mereka. Yamtuan-yamtuan Libya mengambil alih delta di bawah pimpinan Shoshenq I pada periode 945 SM. Mereka suntuk mendirikan dinasti Bubastite yang akan berkuasa sejauh 200 tahun. Shoshenq juga mencuil alih Mesir kidul dengan menempatkan keluarganya dalam posisi kependetaan yang berharga. Dominasi Libya start mengerok akibat munculnya dinasti tara di Leontopolis, dan intimidasi Kush di selatan. Seputar tahun 727 SM, sunan Kush, Piye, menyerbu ke arah utara. Dia berhasil menguasai Thebes dan muara sungai.[49]

Martabat Mesir terus menurun lega Periode Semenjana Ketiga. Perkongsian asingnya telah jatuh kedalam pengaturan Asiria, dan pada 700 SM, perang antara kedua negara sudah tak terhindarkan lagi. Antara waktu 671 hingga 667 SM, nasion Asiria menginjak menyerang Mesir. Masa yuridiksi raja Kush, Taharqa, dan penerusnya, Tanutamun, dipenuhi dengan konflik mengganjar Asiria.[50]
Akhirnya, nasion Asiria berbuntut memukul ki bertambah Kush kembali ke Nubia. Mereka pula menduduki Memphis dan menjarah kuil-kuil di Thebes.[51]

Masa Akhir

[sunting
|
sunting sumur]

Dengan tiadanya lembaga pemilikan permanen, bangsa Asiria menyerahkan kekuasaan Mesir kepada vassal-vassal yang dikenal bagaikan raja-raja Sais berpokok dinasti ke-26. Pada hari 653 SM, sultan Sais Psamtik I berhasil mengusir bangsa Asiria dengan uluran tangan tentara upahan Yunani yang direkrut buat membentuk angkatan laut purwa Mesir. Selanjutnya, yuridiksi Yunani merambat dengan cepat. Daerah tingkat Naukratis menjadi panggung tinggal manusia-orang Yunani di delta.

Di dasar raja-raja Sais, Mesir mengalami kebangkitan singkat ekonomi dan budaya. Sayangnya, pada tahun 525 SM, nasion Persia nan dipimpin oleh Cambyses II memulai penaklukan terhadap Mesir. Mereka berhasil menyirat firaun Psamtik III n domestik pertempuran di Pelusium. Cambyses II lalu mengoper gelar firaun. Ia berwajib semenjak kota Susa, dan menyerahkan Mesir kepada sendiri satrapi. Penangkisan-bantahan letup pada abad ke-5 SM, semata-mata tak ada satupun nan berhasil melagak bangsa Persia secara permanen.[52]

Selepas dikuasai Persia, Mesir digabungkan dengan Siprus dan Fenisia internal satrapi ke-6 Imperium Persia Akhemeniyah. Masa pertama pengaturan Persia atas Mesir, yang juga dikenal sebagai dinasti ke-27, berakhir plong tahun 402 SM. Dari 380–343 SM, dinasti ke-30 berhak sebagai dinasti asli terakhir Mesir. Restorasi pendek yuridiksi Persia, kadang-kadang dikenal perumpamaan dinasti ke-31, dimulai dari musim 343 SM. Akan sahaja, sreg 332 SM, penguasa Persia, Mazaces, memasrahkan Mesir kepada Alexander nan Agung minus perlawanan.[53]

Dinasti Ptolemeus

[sunting
|
sunting mata air]

Pada waktu 332 SM, Alexander yang Agung menaklukan Mesir dengan kurang persabungan semenjak bangsa Persia. Rezim nan didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibu ii kabupaten di Iskandariyah. Daerah tingkat tersebut menunjukkan kelebihan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi sosi pengajian pengkajian dan budaya nan berpusat di Bibliotek Iskandariyah.[54]
Mercusuar Iskandariyah kondusif navigasi kapal-kapal nan berkedai di kota tersebut, terutama pasca- penguasa dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan manuver-operasi, seperti produksi papirus.[55]

Budaya Yunani tidak mengambil alih budaya asli Mesir. Penguasa dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal kerjakan menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru privat gaya Mesir, mendukung pujaan tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai firaun. Bilang tradisi akhirnya berintegrasi. Dewa-dewa Yunani dan Mesir disinkretkan misal dewa sangkutan (contoh: Serapis). Bentuk skulptur Yunani Kuno juga memengaruhi motif-motif tradisional Mesir. Meskipun telah terus berusaha memenuhi tuntutan warga, dinasti Ptolemeus loyal menghadapi berjenis-jenis tantangan, seperti pemberontakan, persaingan antar keluarga, dan massa di Iskandariyah nan terasuh sesudah kematian Ptolemeus IV.[56]
Justru, bangsa Romawi memerlukan gandum dari Mesir, dan mereka tertawan akan situasi strategi di wilayah Mesir. Perbantahan yang terus berlanjut, politisi yang ambisius, serta musuh yang kuat di Suriah membuat kondisi menjadi tidak stabil, sehingga bangsa Romawi mengirim tentaranya untuk mengamankan Mesir sebagai penggalan berpunca kekaisarannya.[57]

Supremsi Romawi

[sunting
|
sunting sumber]

Mesir menjadi provinsi Kekaisaran Romawi pada hari 30 SM setelah Augustus berhasil mengalahkan Mark Antony dan Paduka tuan Cleopatra VII dalam Penangkisan Actium. Romawi sangat memerlukan garai dari Mesir, dan armada Romawi, di asal supremsi
praefectus
yang ditunjuk maka itu kaisar, memadamkan perdurhakaan, memungut fiskal yang samudra, serta mencegah serangan bandit.[58]

Kendatipun Romawi dolan lebih kasar daripada Yunani, beberapa leluri, seperti mumifikasi dan pemuliaan dewa-batara, tetap berlangsung.[59]
Seni potret mumi berkembang, dan beberapa kaisar Romawi menggambarkan diri mereka sebagai firaun (meskipun lain sejauh penguasa-penguasa dinasti Ptolemeus). Pemerintahan tempatan diurus dengan gaya Romawi dan tertutup pecah gaya Mesir asli.[59]

Pada pertengahan abad pertama, Kekristenan mulai mengakar di Iskandariyah. Agama tersebut dipandang sebagai fetis enggak yang akan dikabulkan. Akan sahaja, Kekristenan puas alhasil dianggap sebagai agama yang kepingin menggantikan paganisme dan mengancam adat istiadat agama lokal, sehingga muncul penyerangan terhadap orang-orang Kristen. Penyerangan terhadap orang Serani memuncak pada masa pembersihan Diokletianus yang dimulai masa 303. Akan sekadar, Kristen berhasil menang.[60]
Plong tahun 391, tuanku Kristen Theodosius memperkenalkan undang-undang yang melarang ritus-ritus pagan dan mengerudungi kuil-kuil.[61]
Iskandariyah menjadi permukaan kerusuhan bertentangan-pagan yang samudra.[62]
Akibatnya, budaya pagan Mesir terus mengalami dekadensi. Meskipun penduduk tahir masih makmur menuturkan bahasa mereka, kemampuan buat mengaji hieroglif terus menciut karena melemahnya peran rohaniwan kuil Mesir. Provisional itu, kuil-kuil dialihfungsikan menjadi gereja, alias ditinggalkan begitu hanya.[63]

Tadbir dan ekonomi

[sunting
|
sunting sumber]

Administrasi dan perbisnisan

[sunting
|
sunting sumber]

Firaun biasanya digambarkan menggunakan fon kepriyayian dan kekuasaan.

Firaun adalah syah yang berwenang munjung atas negara—sedikitnya n domestik teori—dan menjabat kekangan atas semua tanah dan mata air dayanya. Firaun juga yakni komandan militer tertinggi dan pemimpin pemerintahan, yang bergantung plong birokrasi pejabat untuk mengurusi kebobrokan-masalahnya. Yang bertanggung jawab terhadap masalah administrasi merupakan orang kedua di kerjaan, sang wazir, nan juga berperan sebagai perwakilan raja nan mengkordinir survey tanah, kas negara, titipan pembangunan, sistem hukum, dan inskripsi-sertifikat kerajaan.[64]
Di level regional, kerajaan dibagi menjadi 42 kawasan eksekutif yang disebut nome, nan masing-masing dipimpin maka dari itu seorang nomark, yang berkewajiban kepada wazir. Kuil menjadi sumsum punggung utama perekonomian yang berperan tidak sekadar sebagai pusat pemujaan, namun juga berperan mengumpulkan dan menyimpan kekayaan negara n domestik sebuah sistem lumbung dan perbendaharaan dengan meredistribusi biji-bijian dan barang-dagangan lainnya.[65]

Sebagian besar perekonomian diatur secara membedabedakan dari pusat. Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir sehingga mereka menunggangi sejenis uang barter[66]
berwujud karung beras dan beberapa deben (eceran berat yang setinggi dengan 91 gram) tembaga atau selaka seumpama denominatornya.[67]
Praktisi dibayar menggunakan angka-bijian; pekerja kasar umumnya hanya mendapat 5 karung (200 kg) ponten-bijian per bulan sementara mandor dapat mencapai 7 karung (250 kg) tiap-tiap rembulan. Harga tidak berubah di seluruh provinsi negara dan biasanya dicatat utuk kondusif perdagangan; misalnya kaus dihargai 5 deben tembaga sementara sapi bernilai 140 deben.[67]
Pada abad ke 5 sebelum masehi, uang jasa koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan ibarat nilai standar bermula ferum sani dibanding sebagai uang yang sebenarnya; baru beberapa abad kemudian komisi koin mulai digunakan sebagai standar perkulakan.[68]

Prestise sosial

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat Mesir Bersejarah ketika itu sangat terstratifikasi dan status sosial nan dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian samudra masyarakat berkreasi ibarat petani, tetapi demikian hasil pertanian dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil, alias keluarga ningrat yang mempunyai tanah.[69]
Petani lagi dikenai pajak personel dan dipaksa berkarya membuat irigasi maupun order konstruksi menunggangi sistem corvée.[70]
Seniman dan pengrajin memunyai status yang lebih tinggi dari pembajak, namun mereka lagi berkecukupan di bawah kendali negara, berkarya di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung bermula kas negara. Tukang tulis dan atasan menempati tingkatan tertinggi di Mesir Kuno, dan sahih disebut “kelas kilt zakiah” karena menunggangi linen berwarna putih yang menandai status mereka.[71]
Perbudakan telah dikenal, namun bagaimana bentuknya belum jelas diketahui.[72]

Mesir Kuno memandang pria dan wanita, dari inferior sosial apa pun kecuali budak, selevel di mata hukum.[73]
Baik laki-laki maupun wanita memiliki nasib baik untuk memiliki dan menjual eigendom, membuat kontrak, menikah dan berjauhan, serta mencagar diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak akad nikah, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian. Dibandingkan bangsa lainnya di Yunani, Roma, dan lebih-lebih kancah-palagan lainnya di marcapada, wanita di Mesir Bersejarah memiliki kesempatan mengidas dan meraih sukses yang lebih luas. Wanita sama dengan Hatshepsut dan Celopatra bahkan bisa menjadi firaun. Namun, wanita di Mesir Kuno tidak dapat mengambil alih urusan administrasi dan terik yang n kepunyaan pendidikan berasal rata-rata pria ketika itu.[73]

Carik yakni golongan elit dan terdidik. Mereka menghitung pajak, menyadari, dan berkewajiban untuk urusan administrasi.

Sistem hukum

[sunting
|
sunting sendang]

Sistem hukum di Mesir Kuno secara protokoler dikepalai makanya firaun yang bertanggung jawab membuat ordinansi, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketenteraman, sebuah konsep nan disebut mahajana Mesir Kuno umpama Ma’at.[64]
Meskipun belum suka-suka undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen majelis hukum menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum adapun apa yang benar dan segala apa nan salah, serta menekankan cara bagi membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik.[73]

Dewan datuk lokal, yang dikenal dengan nama
Kenbet
di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan boncel.[64]
Kasus yang lebih osean termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi kapling dalam jumlah besar, dan pencopetan makam diserahkan kepada
Kenbet Segara
yang dipimpin maka dari itu wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta bagi bersumpah bahwa mereka mengatakan nan selayaknya.

Dalam beberapa kasus, negara berperan baik misal jaksa dan hakim, serta berhak menyiksa terdakwa dengan pemukulan bagi mendapatkan pengakuan dan tera-nama enggak yang bersalah. Tak peduli apakah kritikan itu sepele atau serius, juru tulis pengadilan mendokumentasikan ganjalan, kesaksian, dan putusan kasus bakal referensi pada periode mendatang.[74]

Hukuman buat kejahatan ringan di antaranya pengenaan denda, pemukulan, mutilasi di bagian paras, atau tangsi, tergantung kepada beratnya pengingkaran. Ki kebusukan benar-benar seperti pembunuhan dan perampokan makam dikenakan hukuman senyap seperti pemenggalan gala, penenggelaman, atau penancapan. Azab kembali bisa dikenakan kepada keluarga penyamun.[64]
Sejak rezim Kerajaan Plonco, oracle n kepunyaan peran terdepan dalam sistem hukum, baik perbicaraan maupun perdata. Prosedurnya adalah dengan memberikan soal “ya” atau “tak” kepada dewa terkait sebuah isu. Sang dewa, diwakili oleh sejumlah imam, memberi keputusan dengan memilih riuk suatu jawaban, melakukan usaha maju atau memulur, atau menunjuk puas selembar papirus atau ostracon.[75]

Perkebunan

[sunting
|
sunting sumber]

Pahatan yang menyantirkan perkebunan di Mesir.

Kondisi geografi yang mendukung dan persil di siring sungai Nil yang ki berjebah membuat bangsa Mesir rani memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan kian banyak tahun dan sumur daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Kekuasaan tanah sangat penting di Mesir Bersejarah karena pajak dinilai berdasarkan besaran petak yang dimiliki seseorang.[76]

Pertanian di Mesir sangat mengelepai kepada siklus batang air Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga hari:
Akhet
(air sebak),
Peret
(tanam), dan
Shemu
(pengetaman). Perian air sebak berlangsung pecah Juni hingga September, tindan lanau bernas mineral nan lengkap lakukan pertanian di tepi sungai. Setelah air sebak surut, musim tanam berlangsung dari Oktober sampai Februari. Petani menyekop dan menguburkan sari di ladang. Irigasi dibuat dengan kanal dan kanal. Mesir hanya mendapat sedikit hujan, sehingga pembajak lampau bergantung dengan kali besar Nil dalam pengairan tumbuhan.[77]
Berpunca Maret hingga Mei, petani menggunakan cerut untuk memanen. Lebih lanjut, hasil panen dirontokan kerjakan memisahkan jerami dari gandum. Proses penampian mendinginkan sekam berbunga gandum, dulu gandum ditumbuk menjadi tepung, diseduh untuk takhlik bir, maupun disimpian untuk kegunaan tak.[78]

Bangsa Mesir menyelamatkan garai emmer dan jelai, serta beberama gandum sereal tak, laksana bahan roti dan bir.[79]
Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya misal pupuk. Rabuk-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi tali, nan selanjutnya digunakan buat menenun linen dan membuat pakaian. Papirus ditanam buat pembuatan kertas. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di kapling-petak perkebunan, intim dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi. Pohon sayur dan biji kemaluan tersebut harus diairi dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi bawang perai, bawang putih, melon,
squash, bin, selada, dan tumbuhan-tanaman lain. Anggur juga ditanam kerjakan diolah menjadi wine.[80]

Sennedjem mencangkul ladangnya dengan sekelamin lembu, yang dimanfaatkan laksana hewan pegiat dan sumber makanan.

Hewan

[sunting
|
sunting sumber]

Bangsa Mesir beriktikad bahwa koalisi nan seimbang antara manusia dengan hewan adalah partikel yang penting kerumahtanggaan sangkut-paut kosmos; maka manusia, binatang, dan tumbuhan diyakini sebagai fragmen dari suatu keseluruhan.[81]
Binatang, baik yang didomestikasi maupun terlarang, ialah sumur spiritualitas, persahabatan, dan rezeki bagi bangsa Mesir Kuno. Sapi adalah sato piaraan yang paling terdepan; pemerintah mengumpulkan pajak terhadap dabat piaraan dalam sensus-sensus reguler, dan format piaraan melambangkan martabat dan manfaat pemiliknya. Selain sapi, bangsa Mesir Kuno menyimpan biri-biri, kambing, dan nangui. Unggas seperti bebek, angsa, dan merpati ditangkap dengan pukat dan dibesarkan di peternakan. Di peternakan, unggas-unggas tersebut dipaksa makan bancuhan agar semakin mampu.[82]
Sementara itu, di sungai Nil terdapat sumber daya ikan. Lebah-sigenting juga didomestikasi dari waktu Kerajaan Lama, dan hewan tersebut menghasilkan madu dan lilin.[83]

Orang bodoh dan lembu digunakan misal hewan pekerja. Hewan-hewan tersebut bertugas membajak ladang dan start-injak bibit ke dalam tanah. Lembu-lembu yang gemuk dikorbankan intern ritual ufti.[82]
Kuda-kuda dibawa maka dari itu Hyksos pada Hari Menengah Kedua, sementara unta, meskipun sudah ada sejak periode Kerajaan Yunior, tak digunakan sebagai hewan pegiat hingga Periode Penutup. Selain itu, terdapat bukti nan menunjukkan bahwa gajah sempat dimanfaatkan plong Periode Pengunci, sahaja akhirnya dibuang karena kurangnya petak bagi merumput.[82]
Anjing, kucing, dan monyet menjadi hewan piaraan, sementara fauna-hewan seperti raja hutan yang diimpor dari jantung Afrika adalah milik kekaisaran. Herodotus mengamati bahwa bangsa Mesir adalah satu-satunya bangsa yang menyimpan hewan di kondominium mereka.[81]
Selama periode pradinasti dan akhir, pemujaan dewa dalam rencana dabat menjadi sangat populer, begitu juga dewi kucing Bastet dan betara ibis Thoth, sehingga hewan-hewan tersebut dibesarkan dalam jumlah besar untuk dikorbankan dalam ritual.[84]

Sumber gerendel alam

[sunting
|
sunting sumber]

Mesir kaya akan alai-belai bangunan dan ornamental, bijih tembaga dan timah, kencana, dan godaan-provokasi semimulia. Kekayaan itu memungkinkan cucu adam Mesir Kuno untuk membangun monumen, memahat patung, membuat organ-alat, dan perhiasan.[85]
Pembalsem menggunakan garam berbunga Wadi Natrun bakal mumifikasi, yang lagi menjadi sumber gypsum nan diperlukan bikin membuat plester.[86]
Batuan yang mengandung bijih metal dapat ditemukan di wadi-wadi sahara timur dan Sinai nan kondisi alam yang tak baik hati. Membutuhkan ekspedisi besar (galibnya dikontrol negara) untuk mendapatkan sumber daya alam di sana. Terdapat sebuah tambang kencana luas di Nubia, dan salah satu denah pertama nan ditemukan adalah peta sebuah tambang emas di daerah ini. Wadi Hammamat adalah sumber bermanfaat granit, greywacke, dan kencana. Rijang adalah mineral yang pertama mana tahu dikumpulkan dan digunakan bakal membuat alat-alat, dan kapak Rijang yakni potongan semula nan membuktikan adanya habitat manusia di lembah Sungai Nil. Nodul-nodul mineral secara lever-hati dipipihkan kerjakan membuat bilah dan kepala panah dengan tingkat kekerasan dan ki akal tahan nan sedang, dan ini patuh bertahan bahkan sesudah tembaga digunakan kerjakan tujuan tersebut.[87]

Perdagangan

[sunting
|
sunting sendang]

Orang Mesir bersejarah berdagang dengan negeri-negeri jiran bagi memperoleh dagangan yang bukan cak semau di Mesir. Pada tahun pra dinasti, mereka berdagang dengan Nubia untuk memperoleh kencana dan dupa. Turunan Mesir kuno juga berdagang dengan Palestina, dengan bukti adanya kendi minyak beraksi Palestina di pemakaman firaun Dinasti Pertama.[88]
Koloni Mesir di Kanaan selatan pun berusia sedikit bertambah tua bangka dari dinasti pertama.[89]
Firaun Narmer memproduksi tembikar Mesir di Kanaan, dan mengekspornya pun ke Mesir.[90]

Paling lambat berpangkal tahun Dinasti Kedua, Mesir historis mendapatkan kayu berkualitas panjang (yang tak dapat ditemui di Mesir) mulai sejak Byblos. Pada masa Dinasti Kelima, Mesir kuno dan Punt memperdagangkan kencana, gegala, eboni, gigi asu, dan binatang liar sebagaimana beruk.[91]
Mesir bergantung puas Anatolia buat memasok persediaan timah dan tembaga (keduanya merupakan target absah buat membuat perunggu). Orang Mesir kuno juga menghargai bujukan biru lazuardi, nan harus diimpor dari Afganistan. Partner bisnis Mesir di Laut Tengah meliputi Yunani dan Kreta, yang menyisihkan patra zaitun (selain barang-barang lainnya).[92]
Sebagai ganti impor bahan baku dan barang congah, Mesir memperdagangkan gandum, emas, linen, papirus, dan barang-barang kaprikornus seperti kaca dan benda-benda batu.[93]

Bahasa

[sunting
|
sunting sumur]

Kronologi historis

[sunting
|
sunting sumur]

Bahasa Mesir yakni bahasa Afro-Asiatik nan berhubungan dekat dengan bahasa Berber dan Semit.[94]
Bahasa ini memiliki sejarah bahasa terpanjang kedua (sesudah Sumeria). Bahasa Mesir sudah ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak hari yang lebih lama. Fase-fase puas bahasa Mesir Kuno yakni bahasa Mesir Lama, Pertengahan, Penghabisan, Demotik, dan Koptik.[95]
Goresan Mesir bukan menunjukkan perbedaan dialek sebelum Koptik, tetapi mungkin dituturkan privat dilek-dialek regional di sekitar Memphis dan nantinya Thebes.[96]

Kesusasteraan

[sunting
|
sunting sumber]

Goresan pertama kali ditemukan di lingkungan kerajaan, terutama sreg barang-komoditas di taman bahagia batih kerajaan. Karier menulis rata-rata hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang pun menjalankan institusi
Saban Ankh
atau Apartemen Semangat, serta taman bacaan (disebut Rumah Buku), laboratorium, dan observatorium.[97]
Karya-karya literatur yang terkenal sebagian ditulis internal bahasa Mesir Klasik, yang terus digunakan secara bahasa tertulis hingga sekitar tahun 1300 SM. Bahasa Mesir Penghabisan menginjak digunakan mulai perian Kerajaan Baru sebagai halnya direpresentasikan intern dokumen administratif Ramses, puisi dan narasi caruk, serta teks-pustaka Demotik dan Koptik. Selama periode ini, berkembang tradisi menulis autografi di makam. Genre ini dikenal sebagai
Sebayt
(instruksi) dan dikembangkan sebagai usaha bagi menurunkan ajaran dan tuntunan bangsawan terkenal.

Kisah Sinuhe yang ditulis n domestik bahasa Mesir Pertengahan juga dapat dikategorikan ibarat literatur Mesir klasik.[98]
Abstrak lainnya adalah Instruksi Amenemope yang dianggap seumpama mahakarya dalam dunia literatur timur tengah.[99]
Plong periode akhir Kerajaan Bau kencur, Bahasa Mesir Akhir lebih banyak digunakan lakukan menulis seperti mana yang tertentang pada Cerita Wenamun dan Instruksi Any. Cerita Wenamun membualkan narasi adapun bangsawan yang dirampok kerumahtanggaan perjalanannya untuk membeli cedar dari Lebanon dan perjuangannya kembali ke Mesir. Sejak 700 SM, kisahan naratif dan instruksi, seperti misalnya Instruksi Onchshesonqy, dan dokumen-kopi menggalas ditulis kerumahtanggaan bahasa Demotik). Banyak cerita pada masa Yunani-Romawi juga n domestik bahasa Demotik, dan biasanya punya setting lega masa-masa ketika Mesir merdeka di bawah otoritas Firaun agung seperti Ramses II.[100]

Tulisan

[sunting
|
sunting sumber]

Garitan hieroglif terdiri bermula selingkung 500 simbol. Sebuah hieroglif boleh mewakili kata atau suara. Bunyi bahasa yang ekuivalen dapat menyajikan maksud nan berbeda dalam konteks yang farik pula. Hieroglif merupakan leter halal, digunakan plong monumen batu dan kuburan. Sreg penulisan sehari hari, panitera membuat tulisan kursif, yang disebut keramat. Karangan kursif ini lebih cepat dan mudah. Sementara hieroglif konvensional bisa dibaca internal baris atau ruangan di kedua sisi (biarpun biasanya ditulis dari kanan ke kiri), aksara keramat selalu ditulis terbit kanan ke kiri, biasanya pada baris horisontal. Sebuah bentuk bau kencur penulisan, demotik, menjadi kecondongan penulisan umum, dan inilah bentuk karangan -bersama dengan hieroglif formal – yang lampir pustaka Yunani di Gangguan Rosetta.

Sekitar abad ke-1 Serani, aksara Koptik mulai digunakan bersama abc demotik. Koptik yakni modifikasi lambang bunyi Yunani dengan penambahan sejumlah tanda-tanda demotik.[101]
Walaupun hieroglif formal digunakan dalam acara sahih hingga abad ke-4, menjelang pengunci abad namun segelintir kecil imam nan masih bisa membacanya. Akibat institusi keimanan tradisional dibubarkan, warta tulisan hieroglif semakin menghilang. Gerakan bagi mengartikannya muncul pada tahun Bizantium[102]
dan Islam di Mesir,[103]
tetapi baru plong tahun 1822, setelah invensi bencana Rosetta dan penelitian maka dari itu Thomas Young dan Jean-François Champollion, hieroglif bau kencur dapat diartikan.[104]

Budaya

[sunting
|
sunting sumber]

Kehidupan sehari-musim

[sunting
|
sunting sumber]

Patung yang menggambarkan kegiatan publik kerdil Mesir Historis.

Sebagian segara masyarakat Mesir Historis bekerja sebagai petambak. Kediaman mereka terbuat mulai sejak lahan liat nan didesain buat menjaga udara tetap dingin di siang periode. Setiap rumah mempunyai genahar dengan atap terbuka. Di dapur itu kebanyakan terletak batu giling untuk menggiling duli dan oven kecil bikin membentuk roti.[105]
Tembok dicat warna putih dan beberapa pula ditutupi dengan hiasan berupa linen nan diberi warna. Lantai ditutupi dengan tikar buluh dilengkapi dengan furnitur sederhana untuk duduk dan tidur.[106]

Bangsa Mesir Bersejarah sangat menghargai prestasi dan kebersihan tubuh. Sebagian besar mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun batangan nan terbuat bermula lemak fauna dan kapur. Laki-laki bercukur untuk menjaga kebersihan, memperalat parfum dan salep untuk mengharumkan dan menyegarkan alat peraba.[107]
Gaun dibuat dengan linen tertinggal yang diberi corak jati, baik wanita atau pria di kelas yang lebih elit memperalat wig, perhiasan, dan kosmetik. Anak-momongan tidak mengenakan pakaian hingga mereka dianggap dewasa, pada hayat seputar 12 tahun, dan pada umur ini adam disunat dan dicukur. Ibu berkewajiban menjaga anaknya, provisional sang ayah bertugas mencari makanan.[108]

Musik dan tarian menjadi hiburan yang paling tersohor bagi mereka nan mampu mengupah untuk melihatnya. Peranti yang digunakan antara enggak seruling dan harpa, kembali instrumen yang mirip terompet juga digunakan. Pada masa Kerajaan Hijau, bangsa Mesir memainkan bel, simbal, tamborine, dan drum serta meribakan dandi dan lira berpokok Asia.[109]
Mereka juga menunggangi sistrum, perkakas irama yang sah digunakan internal upacara keagamaan.

Nasion Mesir Kuno mengenal bervariasi jenis hiburan, permainan dan musik, pelecok satunya adalah Senet, permainan papan nan bidaknya digerakkan dalam urutan acak. Selain itu mereka juga mengenal mehen. Juggling dan permainan menggunakan bola juga comar dimainkan anak-anak, kembali permainan gulat sebagaimana digambarkan dalam kuba Beni Hasan.[110]
Insan-orang kaya di Mesir Kuno juga gemar berburu dan berlayar buat hiburan.

Masakan

[sunting
|
sunting sumber]

Masakan Mesir cenderung tidak berubah selama berabad-abad; Masakan Mesir modern punya banyak persamaan dengan Masakan Mesir Kuno. Ki gua garba sehari-musim biasanya mengandung roti dan bir, dengan lauk aktual sayuran seperti berambang merah dan bawang putih, serta buah-buahan berbentuk biji dan ara. Wine dan daging biasanya sekadar disajikan lega perayaan tertentu, kecuali di gudi orang kaya yang lebih kerap menyantapnya. Lauk, daging, dan unggas dapat diasinkan atau dikeringkan, serta direbus atau dibakar.[111]

Arsitektur

[sunting
|
sunting sumber]

Kuil Edfu yakni salah suatu hasil karya arsitektur bangsa Mesir Kuno.

Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling kecil terkenal antara enggak: Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah cak bagi intensi religius, sebagai lembaga peringatan, maupun bakal menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno berpunya membangun struktur bujukan dengan peralatan sederhana sahaja efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi nan tinggi.[112]

Kediaman baik buat halangan elit maupun umum biasa dibuat pecah alamat yang mudah hancur seperti bata merah dan kayu, alhasil tidak ada satu juga yang terisa saat ini. Kaum tani sangat di rumah tersisa, di jihat lain, rumah kabilah elit memiliki struktur yang selit belit. Sejumlah istana Kerajaan Plonco yang tersisa, sama dengan yang terletak di Malkata dan Amarna, menunjukkan tembok dan lantai yang dipenuhi hiasan dengan rencana pemandangan yang indah.[113]
Struktur terdepan seperti mana kuil maupun makam dibuat dengan batu sebaiknya bisa bertahan lama.

Kuil-kuil tertua yang sederhana, seperti yang terdapat di Giza, terdiri bermula pangsa individual terlayang dengan lembaran atap yang didukung maka dari itu pilar. Pada Imperium Plonco, arsitek menambahkan pilon, halaman ternganga, dan rubrik hypostyle; kecenderungan ini bersitegang hingga perian Yunani-Romawi.[114]
Arsitektur taman bahagia tertua yang berhasil ditemukan adalah mastaba, struktur persegi panjang dengan tarup datar nan terbuat berbunga rayuan dan bata. Struktur ini umumnya dibangun cak bagi menutupi ruang bawah tanah untuk menyimpan buntang.[115]

Seni

[sunting
|
sunting sumber]

Bangsa Mesir Bersejarah memproduksi seni cak bagi bervariasi harapan. Selama 3500 waktu, seniman mengikuti bentuk berseni dan ilmu area yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Aliran ini memiliki prinsip-kaidah ketat yang harus diikuti, mengakibatkan bentuk aliran ini tidak mudah berubah dan teruit arus tak.[116]
Tolok artistik—garis-garis sederhana, bagan, dan area corak yang datar dikombinasikan dengan karakteristik figure yang enggak memiliki kedalaman spasial—menciptakan rasa harmoni dan keseimbangan intern komposisinya. Perpaduan antara bacaan dan rangka terjalin dengan indah baik di tembok makam dan kuil, kotak mati, maupun patung.[117]

Seniman Mesir Historis dapat menggunakan bencana dan kayu seumpama bahan sumber akar untuk memahat. Cat didapatkan pecah mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih kuningan (biru dan bau kencur), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat boleh dicampur dengan gum arab bagaikan pengikat dan ditekan (press), disimpan buat kemudian diberi air ketika hendak digunakan.[118]
Firaun menggunakan cukilan bikin mencatat kemenangan di pertempuran, dekret imperium, atau hal religius. Lega masa Kerajaan Pertengahan, abstrak papan maupun lahan liat yang menggambarkan semangat sehari-waktu menjadi populer bagi ditambahkan di kuburan. Andai usaha menduplikasi aktivitas kehidupan di spirit setelah kematian, model ini diberi rencana buruh, rumah, biduk, bahkan formasi militer.[119]

Meskipun bentuknya akrab homogen, sreg periode tertentu tren karya seni Mesir Kuno adakalanya mengikuti pergantian kultural atau perilaku kebijakan. Setelah penyerbuan Hykos di Hari Pertengahan Kedua, seni dengan mode Minoa ditemukan di Avaris.[120]
Salah suatu contoh pergantian tren akibat adanya perubahan ketatanegaraan yang menonjol merupakan bagan artistik yang dibuat pada masa Amarna: patung-patung disesuaikan dengan tren pemikiran religius Akhenaten. Kecenderungan ini, yang dikenal sebagai seni Amarna, langsung diganti dan dibuah ke kerangka tradisional setelah kematian Akhenaten.[121]

Agama dan kepercayaan

[sunting
|
sunting sumber]

Kitab Mortalitas adalah panduan pelawatan untuk nyawa setelah kematian.

Ajun terhadap kekuatan gaib dan adanya atma setelah kematian dipegang secara terban temurun. Kuil-kuil diisi oleh dewa-dewa yang memiliki kekuatan supernatural dan menjadi palagan bakal meminta perawatan, namun dewa-dewa tidak belalah dilihat seumpama sosok yang baik; orang mesir beriman dewa-dewa teradat diberi sesajen agar enggak mengeluarkan amarah. Struktur ini bisa berubah, tergantung siapa yang berkuasa ketika itu.

Patung Ka dipercaya boleh menjadi ajang menetap bagi mereka yang telah meninggal.

Batara-dewa disembah dalam sebuah kuil yang dikelola maka itu seorang imam. Di bagian paruh kuil umumnya terdapat patung dewa. Kuil tidak dijadikan tempat beribadah bagi awam, dan hanya sreg hari-hari tertentu saja patung di kuil itu dikeluarkan untuk disembah maka itu publik. Umum mahajana beribadah memuja patung pribadi di rumah masing-masing, dilengkapi jimat yang dipercaya mampu melindungi semenjak marabahaya.[122]
Setelah Kerajaan Baru, peran firaun sebagai perantara spiritual mulai berkurang seiring dengan munculnya kebiasaan buat memuja langsung halikuljabbar, sonder cengkau. Di sisi enggak, para imam mengembangkan sistem ramalan (oracle) lakukan mengkomunikasikan bertepatan keinginan dewa kepada masyarakat.[123]

Mahajana mesir percaya bahwa setiap insan terdiri pecah bagian fisik dan spiritual. Selain raga, manusia pula punya
šwt
(bayangan),
ba
(kepribadian ataupun nyawa),
ka
(nyawa), dan nama.[124]
Jantung dipercaya umpama pusat semenjak pikiran dan emosi. Setelah kematian, aspek spiritual akan pemaafan dari tubuh dan dapat bergerak sekenanya, namun mereka membutuhkan fisik fisik mereka (ataupun boleh digantikan dengan reca) sebagai gelanggang lakukan pulang. Tujuan terdepan mereka yang meninggal yaitu menyatukan kembali
ka
dan
ba
dan menjadi “arwah yang diberkahi.” Bagi mengaras kondisi itu, mereka yang mati akan diadili, jantung akan ditimbang dengan “bulu keterusterangan.” Jika pahalanya memadai, sang usia diperbolehkan konstan tinggal di bumi kerumahtanggaan rancangan spiritual.[125]

Makam firaun dipenuhi oleh harta karun dalam besaran nan adv amat samudra, salah satunya ialah topeng emas dari kadaver Tutankhamun.

Resan pekuburan

[sunting
|
sunting perigi]

Orang Mesir Kuno mempertahankan seperangkat resan pemakaman nan diyakini sebagai kebutuhan kerjakan menjamin kelestarian setelah mortalitas. Bermacam rupa kegiatan dalam sifat ini merupakan: proses mengawetkan bodi melalui mumifikasi, ritual pekuburan, dan penguburan mayat bersama barang-barang nan akan digunakan maka dari itu mendiang di akhirat. Sebelum masa Kerajaan Lama, bodi mayat dimakamkan di privat lubang sahara, cara ini secara alami akan mengawetkan badan mayat menerobos proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi sahara telah menjadi keuntungan sepanjang memori Mesir Kuno bagi kabilah miskin nan bukan mampu mempersiapkan pekuburan seperti mana halnya orang kaya. Turunan gemuk berangkat menguburkan orang mati di kuburan rayuan, karenanya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan membedol perabot dalam, membungkus tubuh memperalat karet, dan menempatkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu catur persegi panjang atau peti tiang. Lega purwa dinasti keempat, beberapa penggalan tubuh start diawetkan secara terpisah internal toples kanopik.[126]

Anubis merupakan dewa puas zaman mesir kuno yang dikaitkan dengan mumifikasi dan ritual pemakaman. Pada rang ini ia sedang cenderung seorang mumi.

Sreg periode Kerajaan Plonco, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan tahun sedikit lebih 70 hari lamanya, selama tahun tersebut secara lambat-laun dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran pencetus melalui cingur, dan pengeringan tubuh memperalat sintesis garam yang disebut natron. Seterusnya tubuh dibungkus memperalat kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, buntang kemudian diletakkan pada tabela yang disebut antropoid. Mumi perian penutup diletakkan lega laci besar cartonnage yang telah dicat. Praktik pengawetan kunarpa kalis tiba menurun sejak zaman Ptolemeus dan Romawi, lega zaman ini masyarakat mesir kuno lebih menitikberatkan pada tampilan luar mumi.[127]

Bani adam kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah produk bernas yang makin banyak. Tradisi penguburan produk berlambak dan barang-dagangan sebagai pelepas almarhum juga berlaku lega semua awam tanpa memandang status sosial. Puas pertama Imperium Baru, Kitab Mortalitas ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan reca shabti nan dipercaya akan mendukung jalan hidup mereka di akhirat.[128]
Setelah pemakaman, kerabat yang masih vitalitas diharapkan untuk sama sekali membawa alat pencernaan ke makam dan mengucapkan doa atas nama almarhum.[127]

Militer

[sunting
|
sunting sumber]

Angkatan perang Mesir kuno bertanggung jawab buat melindungi Mesir bersumber serangan asing, dan menjaga kekuasaan Mesir di Timur Karib Historis. Tentara Mesir kuno melindungi ekspedisi penambangan ke Sinai pada perian Kekaisaran Lama, dan terkebat dalam perang saudara selama Periode Menengah Mula-mula dan Kedua. Angkatan perang Mesir juga bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap jalur perdagangan utama, seperti kota Buhen pada kronologi condong Nubia. Benteng-pertahanan pun didirikan, seperti benteng di Sile, yang merupakan basis persuasi utama kerjakan menggampangkan ekspedisi ke Levant. Pada waktu Kekaisaran Baru, firaun menunggangi angkatan perang Mesir bikin menyerang dan menaklukan Kerajaan Kush dan sebagian Levant.[129]

Peralatan militer yang digunakan pada masa itu adalah panah, lembing, dan perisai berbahan dasar kerangka kayu dan kulit binatang. Pada masa Kekaisaran Baru, angkatan perang tiba menggunakan kereta perang yang awalnya diperkenalkan oleh penyerang dari Hyksos. Senjata dan gaun zirah terus berkembang setelah penggunaan kaleng: perisai dibuat semenjak tiang padat dengan gesper perunggu, ujung tombak dibuat pecah perunggu, dan Khopesh (berasal berpangkal tentara Asiatik) menginjak digunakan.[130]
Tentara direkrut dari warga biasa; hanya, sejauh dan terutama sesudah masa Imperium Bau kencur, tentara bayaran dari Nubia, Kush, dan Libya dibayar untuk membantu Mesir.[131]


Teknologi, pengobatan, dan matematika

[sunting
|
sunting sumber]

Teknologi

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam rataan tekonologi, penyembuhan, dan ilmu hitung, Mesir kuno sudah mencecah standar nan relatif hierarki dan canggih pada masanya. Empirisme tradisional, seperti mana dibuktikan oleh Papirus Edwin Smith dan Ebers (c. 1600 SM), ditemukan oleh nasion Mesir. Bangsa Mesir historis juga diketahui menciptakan alfabet dan sistem puluh mereka sendiri.

Riuk satu peninggalan Mesir kuno yang bernilai seni tinggi.

Tembikar glasir bening dan beling

[sunting
|
sunting sumber]

Bahkan sebelum periode keemasan di sumber akar yuridiksi Kekaisaran Lama, bangsa Mesir historis telah mampu mengembangkan sebuah material cerah yang dikenal bagaikan bergantian glasir bening, yang dianggap andai mangsa artifisial yang cukup berfaedah. Cak keramik glasir bening adalah keramik yang terbuat dari silika, sedikit kapur dan kaustik soda, serta bahan pewarna, biasanya tembaga.[132]
Seling glasir bening digunakan cak bagi membuat manik-manik, ubin, arca, dan lainnya. Ada beberapa metode nan dapat digunakan bakal menciptakan tembikar glasir bening, hanya nan cangap digunakan adalah mengedrop bahan halal yang sudah lalu tergarap menjadi pasta di atas belet, kemudian membakarnya. Dengan teknik yang sebanding, bangsa Mesir kuno juga dapat memproduksi sebuah pigmen nan dikenal sebagai Egyptian Blue, nan diproduksi dengan menggabungkan silika, tembaga, kapur dan sebuah alkali sebagai halnya natron.[133]

Bangsa mesir kuno juga mampu membuat bermacam-macam keberagaman target semenjak kaca, namun tidak jelas apakah mereka mengembangkan teknik itu sendiri atau bukan.[134]
Tidak diketahui lagi apakah mereka menciptakan menjadikan bahan dasar beling sendiri atau mengimpornya, untuk kemudian dilelehkan dan dibentuk, semata-mata mereka dipastikan memiliki kemampuan teknis bagi takhlik objek dan menambahkan elemen mikro buat mengontrol rona dari beling tersebut. Banyak warna yang boleh mereka ciptakan, termasuk di antaranya kuning, bangkang, hijau, dramatis, ungu, putih, dan transparan.[135]

Pengobatan

[sunting
|
sunting sumber]

Prasasti yang menggambarkan peranti-perlengkapan pengobatan Mesir historis.

Permasalahan medis di Mesir kuno kebanyakan berasal dari kondisi lingkungan di sana. Hidup dan bekerja di sanding sungai Nil mengakibatkan mereka terancam penyakit seperti malaria dan sakat schistosomiasis, nan dapat mengakibatkan fasad lever dan dan pencernaan. Satwa berbahaya seperti buaya dan kuda nil kembali menjadi bentakan. Cedera akibat pekerjaan yang lewat berat, terutama dalam satah konstruksi dan militer, pula sering terjadi. Kerikil dan pasir di abuk (muncul akibat proses pembuatan duli yang belum canggih) merusak gigi, sehingga menyebabkan mereka mudah terserang abses.[136]

Hidangan yang dimakan orang bakir di Mesir historis galibnya mengandung banyak gula, yang mengakibatkan banyaknya penyakit periodontitis.[137]
Sungguhpun di dinding-dinding taman bahagia kebanyakan orang kaya digambarkan punya tubuh yang kurus, jarang badan zombi mereka menunjukkan bahwa mereka hidup secara berlebihan.[138]
Harapan hidup manusia dewasa berkisar antara 35 tahun untuk laki-junjungan dan 30 tahun lakukan wanita.[139]

Tabib-tabib Mesir Bersejarah termasyhur dengan kemampuan penyembuhan mereka dan bilang, begitu juga Imhotep, tegar dikenang meskipun telah lama meninggal.[140]
Herodotus mengatakan bahwa terdapat pendistribusian spesialisasi nan pangkat di antara tabib-dukun Mesir; misalnya beberapa tabib hanya mengobati persoalan pada kepala atau kandungan, sementara yang lain sekadar mengobati masalah mata alias gigi.[141]
Pelatihan untuk mantri terwalak di
Per Ankh
ataupun institusi “Rumah Nyawa,” yang paling populer terdapat di Per-Bastet semasa Imperium Plonco dan di Abydos serta Saïs di Periode Pengunci. Sebuah papirus medis menunjukkan bahwa bangsa Mesir punya pengetahuan empiris soal anatomi, luka, dan perawatannya.[142]

Luka-luka dirawat dengan prinsip membungkusnya dengan daging mentah, linen putih, setik, jaring, blok, dan reja yang dilumuri madu bikin mencegah infeksi.[143]
Mereka juga menggunakan opium untuk mengurangi rasa sakit. Bawang kudrati alias sirah dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kesehatan dan dipercaya boleh mengurangi gejala asma. Ahli bedah mesir produktif menjahit luka, mengoreksi tulang yang patah, dan mengerjakan amputasi. Mereka juga memaklumi bahwa terserah bilang luka nan habis benar-benar sehingga yang dapat mereka bagi hanyalah mebuat pasien merasa nyaman menjelang ajalnya.[144]

Pembuatan kapal

[sunting
|
sunting perigi]

Bangsa Mesir kuno telah tahu bagaimana merakit papan kayu menjadi peranakan kapal sejak tahun 3000 SM. Archaeological Institute of America melaporkan[145]
bahwa beberapa kapal tertua nan wasilah ditemukan berjenis kapal Abydos. Kapal-kapal yang ditemukan di Abydos ini dibuat dari papan kayu nan “dijahit” menggunakan benang pembalut.[145]
[146]
Awalnya kapal-kapal tersebut diperkirakan sebagai nasib baik Firaun Khasekhemwy karena ditemukan dikubur bersama dan berada di dekat kamar mayat Firaun Khasekhemwy,[146]
sahaja penelitian menunjukkan bawa kapal-kapal itu lebih tua lontok dari arwah sang firaun, sehingga kini diperkirakan sebagai kapal peruntungan firaun yang lebih utama. Menurut profesor David O’Connor dari New York University, kapal-kapal itu kemungkinan merupakan kapal milik Firaun Aha.[146]

Namun meskipun bangsa Mesir Kuno memiliki kemampuan untuk membentuk kapal yang sangat besar dan mudah dikendalikan di atas wai Nil, mereka tidak dikenal sebagai panjarwala yang handal.

Matematika

[sunting
|
sunting mata air]

Perincian matematika tertua nan ditemukan berpangkal berasal masa Naqada, yang pula menunjukkan bahwa bangsa Mesir ketika itu telah berekspansi sistem kodrat.[147]
Kredit bermakna matematika bagi seorang cendekiawan kala itu digambarkan dalam sebuah arsip fiksi bersumber zaman Imperium Yunior. Pada surat itu, penulisnya mengusulkan untuk mengadakan kompetisi antara dirinya dan ilmuwan tak berkenaan masalah penghitungan sehari-hari seperti penghitungan kapling, tenaga kerja, dan padi.[148]
Pustaka seperti Papirus Matematika Rhind dan Papirus Matematika Moskwa menunjukkan bahwa bangsa Mesir Kuno dapat menghitung empat propaganda matematika dasar — interpolasi, penyunatan, pengalian, dan pendistribusian — memperalat rekahan, menghitung volume karton dan piramid, serta menotal luas kotak, segitiga sama kaki, lingkaran, dan bola. Mereka memahami konsep dasar aljabar dan geometri, serta berlimpah memintasi kemiripan simultan.[149]

D22


23
Hiroglif Mesir

Notasi matematika Mesir Kuno bersifat puluh (berbasis 10) dan didasarkan pada simbol-simbol hieroglif cak bagi tiap nilai perpangkatan 10 (1, 10, 100, 1000, 10000, 100000, 1000000) hingga dengan sejuta. Tiap-tiap simbol ini boleh ditulis sebanyak apapun sesuai dengan garis hidup yang diinginkan; sehingga bakal menuliskan garis hidup delapan puluh atau delapan ratus, simbol 10 ataupun 100 ditulis sebanyak okta- kali.[150]
Karena metode perhitungan mereka bukan dapat menghitung pecahan dengan pembilang lebih segara daripada satu, pecahan Mesir Kuno ditulis ibarat jumlah dari beberapa pecahan. Umpama contohnya, belahan dua sendirisendiri tiga (2/3) dibagi menjadi jumlah dari 1/3 + 1/15; proses ini dibantu maka dari itu tabel nilai [pecahan] standar.[151]
Beberapa retakan ditulis menunggangi glif khusus; poin yang ekuivalen dengan 2/3 ditunjukkan maka dari itu gambar di samping.[152]

Matematikawan Mesir Bersejarah telah mencerna prinsip-prinsip yang memedomani teorema Pythagoras.[153]
Mereka kembali dapat memperkirakan luas guri dengan mengurangi satu per sembilan diameternya dan memangkatkan kesudahannya:





L
u
a
s





[


(


8
9


)

D

]


2


=

(


256
81


)


r

2





3.16

r

2




{\displaystyle Luas\approx \left[\left({\frac {8}{9}}\right)D\right]^{2}=\left({\frac {256}{81}}\right)r^{2}\approx 3.16r^{2}}



yang hasilnya menentang rumus
π
r
 2.[153]
[154]

Masyarakat

[sunting
|
sunting sumber]

Cheikh Anta Diop, seorang antropolog berkebangsaan Senegal, menuliskan kerumahtanggaan bukunya
The African Origin of Civilization
(1974) bahwa orang Mesir kuno adalah orang Afrika berjangat hitam. Diop menyatakan bahwa orang kulit hitam pertama nan tinggal di Mesir disebut Si fulan. Merekalah yang pertama membangun peradaban Mesir melangkaui persawahan dan pengairan, pembangunan tambak, peemuan ilmu embaran, seni, tulisan, dan kalender.[155]

Kejadian ini dikonfirmasi melewati catatan Herodotus yang mengunjungi Mesir pada abad kelima SM. Herodotus menuliskan bahwa penduduk Mesir berjangat hitam karena kondisi lingkungannya yang memberahikan, berkulit hitam, dan memiliki rambut yang mengambang. Aspek bahasa, sosial, budaya, politik, dan agama di antara awam Mesir kuno dan Afrika lagi berhubungan. Di antaranya adalah jimat kepunyaan firaun yang mirip dengan mempunyai pemimpin suku-suku Afrika, praktik deifikasi nenek moyang, sunat, dan hubungan kekerabatan.[156]

Pusaka

[sunting
|
sunting mata air]

Dr. Zahi Hawass, Sekretaris Jenderal
Supreme Council of Antiquities.

Budaya dan monumen Mesir kuno telah menjadi peninggalan sejarah yang abadi. Pengagungan terhadap dewi Isis, sebagai ideal, menjadi terkenal pada masa Imperium Romawi.[157]
Individu Romawi lagi memasarkan bahan bangunan semenjak Mesir kerjakan mendirikan struktur dengan gaya Mesir. Sejarawan seperti mana Herodotus, Strabo dan Diodorus Siculus mempelajari dan menggambar tentang Mesir kuno nan kemudian dipandang misal wadah nan penuh mirakel.[158]
Pada Abad Medio dan Renaissance, perkembangan budaya pagan Mesir mulai melandai seiring dengan berkembangnya agama Kristen dan Islam, namun ketertarikan terhadap budaya tersebut masih tersirat dalam karya-karya ilmuwan abad medio, misalnya karya Dhul-Nun al-Misri dan al-Maqrizi.[159]

Sreg abad ke-17 dan 18, penjelajah dan turis Eropa mengapalkan banyak komoditas antik dan menulis tentang narasi avontur mereka di Mesir, nan kemudian memancing terjadinya gelombang
Egyptomania
di Eropa. Ketertarikan tersebut mengakibatkan banyaknya kolektor Eropa yang membeli alias mengapalkan barang-barang antik penting berasal Mesir.[160]
Kendatipun kolonialisme kolonial Eropa terhadap mesir mengakibatkan hancurnya benda-benda historis, kehadiran bangsa Eropa juga dampak konkret terhadap peninggalan Mesir bersejarah. Napoleon, misalnya, mengamalkan pembelajaran pertama mengenai Egiptologi ketika dia mengirimkan 150 ilmuwan dan seniman buat mempelajari dan mendokumentasi sejarah pan-ji-panji Mesir, yang kemudian dipublikasi dalam
Description de l’Ėgypte.[161]
Pada abad ke-20, pemerintah Mesir dan arkeolog mulai mengamalkan pengawasan terhadap kegiatan penggalian di Mesir dengan mewujudkan
Supreme Council of Antiquities.

Lihat lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Bahasa Mesir
  • Limas
  • Firaun

Pustaka

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Chronology”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses tanggal
    25 Maret
    2008
    .





  2. ^

    Clayton (1994) hal. 217

  3. ^

    James (2005) hal. 8

  4. ^

    Manuelian (1998) hal. 6–7

  5. ^

    Clayton (1994) kejadian. 153

  6. ^

    Shaw (2002) hal. 17

  7. ^

    Shaw (2002) hal. 17, 67–69

  8. ^


    Deifikasi, Salima (1992).
    Choice Cuts: Meat Production in Ancient Egypt. University of Cambridge. hlm. 5. ISBN 9789068317459. OCLC 60255819. Diakses tanggal
    22 Juli
    2009
    .




    LCCN 1997-140867

  9. ^

    Hayes (1964) keadaan. 220

  10. ^

    Childe, V. Gordon (1953), “New light on the most ancient Near East” (Praeger Publications)

  11. ^

    Patai, Raphael (1998), “Children of Noah: Jewish Seafaring in Ancient Times” (Princeton Uni Press)

  12. ^

    Barbara G. Aston, James A. Harrell, Ian Shaw (2000). Paul T. Nicholson and Ian Shaw editors. “Stone,” in
    Ancient Egyptian Materials and Technology,
    Cambridge, 5–77, hal. 46–47. Also note: Barbara G. Aston (1994). “Ancient Egyptian Stone Vessels,”
    Studien zur Archäologie und Geschichte Altägyptens
    5, Heidelberg, kejadian. 23–26. (See on-line posts: [1] and [2].)

  13. ^


    “Chronology of the Naqada Period”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses tanggal
    9 March
    2008
    .





  14. ^

    Shaw (2002) hal. 61

  15. ^


    “Faience in different Periods”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses copot
    9 March
    2008
    .





  16. ^

    Allen (2000) hal. 1

  17. ^

    Robins (1997) hal. 32

  18. ^

    Clayton (1994) situasi. 6

  19. ^

    Shaw (2002) hal. 78–80

  20. ^

    Clayton (1994) hal. 12–13

  21. ^

    Shaw (2002) hal. 70

  22. ^


    “Early Dynastic Egypt”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses sungkap
    9 March
    2008
    .





  23. ^

    James (2005) situasi. 40

  24. ^

    Shaw (2002) hal. 102

  25. ^

    “Scribes”,
    Life in Ancient Egypt, Carnegie Museum of Natural History: [3] Diarsipkan 2009-01-25 di Wayback Machine.. Diakses lega 29 Januari 2009.

  26. ^

    Shaw (2002) peristiwa. 116–7

  27. ^


    Fekri Hassan. “The Fall of the Old Kingdom”. British Broadcasting Corporation. Diakses tanggal
    10 March
    2008
    .





  28. ^

    Clayton (1994) hal. 69

  29. ^

    Shaw (2002) kejadian. 120
  30. ^


    a




    b



    Shaw (2002) peristiwa. 146

  31. ^

    Clayton (1994) hal. 29

  32. ^

    Shaw (2002) hal. 148

  33. ^

    Clayton (1994) keadaan. 79

  34. ^

    Shaw (2002) situasi. 158

  35. ^

    Shaw (2002) hal. 179–82

  36. ^

    Robins (1997) hal. 90

  37. ^

    Shaw (2002) peristiwa. 188
  38. ^


    a




    b



    Ryholt (1997) kejadian. 310

  39. ^

    Shaw (2002) hal. 189

  40. ^

    Shaw (2002) kejadian. 224

  41. ^

    James (2005) kejadian. 48

  42. ^


    “Hatshepsut”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses tanggal
    9 December
    2007
    .





  43. ^

    Aldred (1988) hal. 259

  44. ^

    Cline (2001) hal. 273

  45. ^

    Clayton (1994) hal. 146

  46. ^

    Tyldesley (2001) hal. 76–7

  47. ^

    James (2005) situasi. 54

  48. ^

    Cerny (1975) hal. 645

  49. ^

    Shaw (2002) hal. 345

  50. ^


    The Kushite Conquest of Egypt”,
    Ancient~Sudan: Nubia“. Diarsipkan dari versi lugu tanggal 2011-05-21. Diakses tanggal
    2010-10-06
    .





  51. ^

    Shaw (2002) situasi. 358

  52. ^

    Shaw (2002) hal. 383

  53. ^

    Shaw (2002) keadaan. 385

  54. ^

    Shaw (2002) hal. 405

  55. ^

    Shaw (2002) situasi. 411

  56. ^

    Shaw (2002) situasi. 418

  57. ^

    James (2005) hal. 62

  58. ^

    James (2005) hal. 63
  59. ^


    a




    b



    Shaw (2002) hal. 422

  60. ^

    Shaw (2003) situasi. 431

  61. ^

    The Church in Ancient Society“, Henry Chadwick, hal. 373, Oxford University Press US, 2001, ISBN 0-19-924695-5

  62. ^

    Christianizing the Paras Empire A.D 100–400″, Ramsay MacMullen, keadaan. 63, Yale University Press, 1984, ISBN 0-300-03216-1

  63. ^

    Shaw (2002) hal. 445
  64. ^


    a




    b




    c




    d



    Manuelian (1998) kejadian. 358

  65. ^

    Manuelian (1998) hal. 363

  66. ^

    Meskell (2004) hal. 23
  67. ^


    a




    b



    Manuelian (1998) peristiwa. 372

  68. ^

    Walbank (1984) hal. 125

  69. ^

    Manuelian (1998) situasi. 383

  70. ^

    James (2005) hal. 136

  71. ^

    Billard (1978) peristiwa. 109

  72. ^


    “Social classes in ancient Egypt”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses sungkap
    11 December
    2007
    .




  73. ^


    a




    b




    c




    Janet H. Johnson. “Women’s Absah Rights in Ancient Egypt”. University of Chicago, 2004. Diakses tanggal
    31 August
    2010
    .





  74. ^

    Oakes (2003) hal. 472

  75. ^

    McDowell (1999) hal. 168

  76. ^

    Manuelian (1998) hal. 361

  77. ^

    Nicholson (2000) hal. 514

  78. ^

    Nicholson (2000) hal. 506

  79. ^

    Nicholson (2000) hal. 510

  80. ^

    Nicholson (2000) peristiwa. 577 dan 630
  81. ^


    a




    b



    Strouhal (1989) peristiwa. 117
  82. ^


    a




    b




    c



    Manuelian (1998) situasi. 381

  83. ^

    Nicholson (2000) hal. 409

  84. ^

    Oakes (2003) kejadian. 229

  85. ^

    Greaves (1929) hal. 123

  86. ^

    Lucas (1962) hal. 413

  87. ^

    Nicholson (2000) hal. 28

  88. ^

    Shaw (2002) hal. 72

  89. ^

    Naomi Porat and Edwin van den Brink (pengedit), “An Egyptian Colony in Southern Palestine During the Late Predynastic to Early Dynastic,” in
    The Nile Delta in Transition: 4th to 3rd Millennium BC
    (1992), hal. 433–440.

  90. ^

    Naomi Porat, “Local Industry of Egyptian Pottery in Southern Palestine During the Early Bronze I Period,” in
    Bulletin of the Egyptological, Seminar 8
    (1986/1987), hal. 109–129. See also University College London web post, 2000.

  91. ^

    Shaw (2002) hal. 322

  92. ^

    Manuelian (1998) hal. 145

  93. ^

    Harris (1990) hal. 13

  94. ^

    Loprieno (1995b) kejadian. 2137

  95. ^

    Loprieno (2004) keadaan. 161

  96. ^

    Loprieno (2004) hal. 162

  97. ^

    Strouhal (1989) hal. 235

  98. ^

    Lichtheim (1975) hal. 11

  99. ^

    Wisdom in Ancient Israel”, John Day,/John Adney Emerton,/Robert P. Gordon/ Hugh Godfrey/Maturin Williamson, p23, Cambridge University Press, 1997, ISBN 0-521-62489-4

  100. ^

    Lichtheim (1980) kejadian. 159

  101. ^

    Allen (2000) hal. 7

  102. ^

    Loprieno (2004) hal. 166

  103. ^

    El-Daly (2005) hal. 164

  104. ^

    Allen (2000) hal. 8

  105. ^

    Manuelian (1998) hal. 401

  106. ^

    Manuelian (1998) peristiwa. 403

  107. ^

    Manuelian (1998) hal. 405

  108. ^

    Manuelian (1998) hal. 406–7

  109. ^


    “Music in Ancient Egypt”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses terlepas
    9 March
    2008
    .





  110. ^

    Manuelian (1998) hal. 126

  111. ^

    Manuelian (1998) hal. 399–400

  112. ^

    Clarke (1990) peristiwa. 94–7

  113. ^

    Badawy (1968) hal. 50

  114. ^


    “Types of temples in ancient Egypt”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses rontok
    9 March
    2008
    .





  115. ^

    Dodson (1991) situasi. 23

  116. ^

    Robins (1997) hal. 29

  117. ^

    Robins (1997) keadaan. 21

  118. ^

    Nicholson (2000) hal. 105

  119. ^

    Robins (1998) peristiwa. 74

  120. ^

    Shaw (2002) hal. 216

  121. ^

    Robins (1998) peristiwa. 158

  122. ^

    James (2005) hal. 117

  123. ^

    Shaw (2002) hal. 313

  124. ^

    Allen (2000) keadaan. 79, 94–5

  125. ^

    Wasserman,
    et al.
    (1994) hal. 150–3

  126. ^


    “Mummies and Mummification: Old Kingdom”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses tanggal
    9 March
    2008
    .




  127. ^


    a




    b



    James (2005) hal. 124

  128. ^


    “Shabtis”. Digital Egypt for Universities, University College London. Diakses sungkap
    9 March
    2008
    .





  129. ^

    Shaw (2002) hal. 245

  130. ^

    Manuelian (1998) peristiwa. 366–67

  131. ^

    Shaw (2002) situasi. 400

  132. ^

    Nicholson (2000) hal. 177

  133. ^

    Nicholson (2000) hal. 109

  134. ^

    Nicholson (2000) hal. 195

  135. ^

    Nicholson (2000) hal. 215

  136. ^

    Filer (1995) keadaan. 94

  137. ^

    Filer (1995) situasi. 78–80

  138. ^

    Filer (1995) peristiwa. 21

  139. ^

    Filer (1995) keadaan. 25

  140. ^

    Filer (1995) hal. 39

  141. ^

    Strouhal (1989) hal. 243

  142. ^

    Stroual (1989) hal. 244–46

  143. ^

    Stroual (1989) peristiwa. 250

  144. ^

    Filer (1995) kejadian. 38
  145. ^


    a




    b



    Ward, Cheryl. “World’s Oldest Planked Boats”, in
    Archaeology
    (Volume 54, Number 3, May/June 2001). Archaeological Institute of America.
  146. ^


    a




    b




    c



    Schuster, Angela M.H. “This Old Boat”, 11 December 2000. Archaeological Institute of America.

  147. ^

    Pemahaman cendekiawan terhadap matematika Mesir masih belum sempurna disebabkan karena bukan cukupnya mangsa dan kurangnya eksplorasi terhadap teks-teks yang sudah lalu ditemukan. Imhausen
    et al.
    (2007) situasi. 13

  148. ^

    Imhausen
    et al.
    (2007) hal. 11

  149. ^

    Clarke (1990) hal. 222

  150. ^

    Clarke (1990) hal. 217

  151. ^

    Clarke (1990) hal. 218

  152. ^

    Gardiner (1957) hal. 197
  153. ^


    a




    b



    Strouhal (1989) hal. 241

  154. ^

    Imhausen
    et al.
    (2007) hal. 31

  155. ^

    Okafor (1991), hlm. 258.

  156. ^

    Okafor (1991), hlm. 264-266.

  157. ^

    Siliotti (1998) keadaan. 8

  158. ^

    Siliotti (1998) situasi. 10

  159. ^

    El-Daly (2005) situasi. 112

  160. ^

    Siliotti (1998) hal. 13

  161. ^

    Siliotti (1998) hal. 100

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting mata air]

  • Okafor, Victor Oguejiofor (1991). “Diop and the African Origin of Civilization: An Afrocentric Analysis”.
    Journal of Black Studies
    (dalam bahasa Inggris).
    22
    (2). ISSN 0021-9347.



Bacaan lanjur

[sunting
|
sunting sumber]

  • Baines, John and Jaromir Malek (2000).
    The Cultural Atlas of Ancient Egypt
    (edisi ke-revised). Facts on File. ISBN 0816040362.



  • Bard, KA (1999).
    Encyclopedia of the Archaeology of Ancient Egypt. NY, NY: Routledge. ISBN 0-415-18589-0.



  • Grimal, Nicolas (1992).
    A History of Ancient Egypt. Blackwell Books. ISBN 0631193960.



  • Lehner, Mark (1997).
    The Complete Pyramids. London: Thames & Hudson. ISBN 0500050848.



  • Wilkinson, R.H. (2003).
    The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt. London: Thames and Hudson. ISBN 0500051208.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Inggris)
    British Museum: Ancient Egypt
  • (Inggris)
    About Archaeology: Ancient Egypt and Egyptians
  • (Inggris)
    BBC History: Egyptians
  • (Inggris)
    Ancient Egyptian History
  • (Inggris)
    Ancientneareast.serok: Ancient Egypt
  • (Inggris)
    Archaeowiki.org
  • (Inggris)
    Egyptology Resources Diarsipkan 2003-06-02 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    The Theban Mapping Project
  • (Inggris)
    Akta historis Mesir Bersejarah oleh James Henry Breasted (1906):

    • Tagihan I: The first to seventeenth dynasties,
    • Tagihan II: The eighteenth dynasty,
    • Tagihan III: The nineteenth dynasty,
    • Piutang IV,
    • Tagihan V
  • (Inggris)
    Ancient Egypt Web Community Diarsipkan 2007-03-14 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_Kuno

Posted by: holymayhem.com