Tanam Sayur Perdesa Thun 2018

Mana tahu bukan kenal kembang kubis alias kubis anak uang? Sayuran yang berasal dari Eropa sub tropis di wilayah Mediterania ini sudah lalu cukup populer di Indonesia. Tumbuhan bernama latin Brassica oleraceavar ini cerbak dijadikan sintesis dalam aneka menu masakan.

Kembang kol banyak dicari karena banyak mengandung zat makanan dan mineral. Riuk satu pembudidayanya adalah Fatria Wulan dari nan populer dengan sebutan BU WO karena ia adalah gula-gula dari Kasun (Kamituwo) Tanggungan Desa Anak bini Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

Bu Womengatakan, “ saya dan suami melirik prospek bisnis dari tanaman ini sejak tahun 2019, dan baru tahun 2020 ini dapat merealisasikanya”. Dia start memelihara kembang kol di persil seluas 2.500 meter persegi (m2) dengan kuantitas tumbuhan 1500 tumbuhan. Varietas nan digunakan ialah PM 126 F1 berpangkal produsen Panah Merah.

Saat ini areal tanaman kembang kol tersebut kami promosikan kepada mahajana dengan sebutan “Kebun Sayur BU WO “. Dimana di tegal sayur tersebut selain sebagai sarana budidaya juga seumpama wahana pariwisata petik sayur.

Kendatipun plonco rendah untuk sayuran kembangkol, banyak masyarakat local nan tertarik untuk mengunjunginya. Bu Wo mengatakan pertanian kembang kubis cukup fertil, internal kurun waktu lima minggu sudah lalu dapat dipanen. Dia juga mengatakan detik ini pembajak kembang kol masih sangat tekor.

“Momen ini, Belaka saya dan suamis atu-satunya petambak nan mencoba menanam kembang kol di DesaTanggungan, bahkan di Kecamatan Ngraho. Pembajak lainnya, masih kukuh tanam pari dan palawija, baik kacang atau jagung,” alas kata Bu Wo.

Bu Wo dan junjungan sengaja menanam kembang kol bertambah disebabkan rasa penasaran. Selama ini, kembang kubis hanya ditanam maka dari itu petani di dataran tingkatan saja.Darurat di dataran rendah jarang sekali ditemukan petani menanam kembang kol di areal sawah. Lebih-makin, pron bila musim kering seperti sekarang.

Tanam kembang kol bisa kembali dikombinasi dengan tanaman lain, yaitu menggunakan system Titip Esensi, dengan mengetanahkan komoditas lain di lahan nan sekufu, seperti cabai dan tomat” alas kata Bu Wo.

Dalam budidaya sayuran ini nan berarti menurutnya adalah harus selalu waspada terhadap wereng dan tepat dalam pemupukan. “Kalau masalah tali air kembang kol bukan terlalu susah menurut saya,” ujarnya.

Bikin panen kembang kubis bukan bias dilakukan sewaktu sebagai halnya panen milu maupun padi. Tetapi diambil yang bunganya sudah maksimal pertumbuhannya,” jelasnya. Tanaman kembang kol dikebun kami setiap pohonnya mampu menghasilkan 1 buah kembang kol dengan bobot 0.5 – 1 kg, dan dijual dengan hargaRp. 10.000,- tiap-tiap krop.

Pecandu kembang kol banyak, namun harga jualnya fluktuatif tergantung kesiapan pasokan. “Ketika ini untuk pemasaran kembang kol kita baru seputaran local saja,

Itupun pembeli dating langsung ke kebun kita, sehingga kita belum menjual hasil panen keluar. Pengunjung yang dating bias melembarkan dan meradak sendiri kembang kol yang di inginkan spontan berswafoto dan mempromosikanya melalui ki alat sosial.

Selain tanaman kembang kubis yang dominan di tegal sayur BU WO, pengunjung juga bias menikmati petik sayuran yang tidak begitu juga cabe dan tomat.

Harapanya kedepan kebun sayur BU WO ini dapat lebih berkembang lagi, baik berbunga segi komoditas dan kualitas tanaman yang diusahakan agar dapat mendongkrak perekonomian dan ketenteraman kita, ujar Bu Wo mengakhiri pembicaraanya.

Oleh : Dyah Lucy Rihawati, S,P ( PPL Kecamatan Ngraho)



By Admin


Dibuat tanggal 18-08-2020


1166 Dilihat

Source: https://dinperta.bojonegorokab.go.id/berita/baca/101

Posted by: holymayhem.com