Sunarjono H 2008 Bertanam 30 Jenis Sayur Penebar Swadaya Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kentang
Solanum tuberosum

Edit the value on Wikidata

234 Solanum tuberosum L.jpg


Edit the value on Wikidata

Data
Sumber berbunga potato
(en)
Terjemahkan
dan Tepung kentang

Edit the value on Wikidata
Tanaman
Jenis biji kemaluan Buah beri

Edit the value on Wikidata
Taksonomi
Divisi Tracheophyta
Subdivisi Spermatophytes
Klad Angiosperms
Klad mesangiosperms
Klad eudicots
Klad core eudicots
Klad asterids
Klad lamiids
Ordo Solanales
Famili Solanaceae
Subfamili Solanoideae
Tribus Solaneae
Genus Solanum
Spesies
Solanum tuberosum

Edit the value on Wikidata




Linnaeus, 1753

Kentang,
ubi kentang,
ketela pohon belanda, maupun
ketela pohon benggala
adalah tanaman semenjak suku Solanaceae yang memiliki pongkol buntang nan dapat dimakan dan disebut “kentang”. Umbi ubi benggala sekarang telah menjadi salah satu makanan pokok utama di Eropa walaupun lega awalnya didatangkan pecah Amerika Selatan.

Penjelajah Spanyol dan Portugis pertama kali membawa ke Eropa dan mengembangbiakkan tanaman ini.

Tanaman kentang asalnya dari Amerika Daksina dan telah dibudidayakan maka itu penghuni di sana sejak ribuan tahun silam. Pokok kayu ini merupakan herba (tanaman singkat enggak berkayu) semusim dan mengesir iklim yang sejuk. Di daerah tropis cocok ditanam di dataran tingkatan.

Bunga sempurna dan tersusun majemuk. Ukuran patut raksasa, dengan diameter sekitar 3 cm. Warnanya berkisar berpangkal ungu setakat putih.

Persebaran

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut sejarahnya, kentang berpunca pecah lembah-lembang dataran tinggi di Chili, Peru, dan Meksiko. Varietas tersebut diperkenalkan bangsa Spanyol berbunga Peru ke Eropa sejak tahun 1565. Semenjak itulah, kentang menyebar ke negara-negara lain -tercantum Indonesia-. Menurut catatan awal di Indonesia, tumbuhan ini mulai terserah semenjak tahun 1794, dimulai dengan penanaman di sekitar Cimahi.[1]
Semenjak itu, ubi belanda dapat ditemui pula di Priangan dan Gunung Tengger. Pada tahun 1812, kentang sudah dikenal dan dijual di Kedu. Sedangkan, di Sumatra pohon ini dikenal setahun sebelumnya, 1811. Kentang tumbuh di gunung-gunung dengan ketinggian antara 1000 mdpl hingga 2000 mdpl, plong tanah bunga tanah. Persil keluaran letusan ancala berapi nan berstruktur remah kian disukai.[1]

Kurnia dan venom

[sunting
|
sunting sumur]

Kentang dikenali orang misal makanan pokok di luar provinsi. Ini karena kentang mengandung karbohidrat. Di Indonesia sendiri, kentang masih dianggap sebagai sayuran yang kreatif. Saja demikian, kentang adalah alat pencernaan nan sedap serta silam bernutrisi.[2]
Juga dikenali mengandung sejumlah vitamin dari A, B-mania, hingga C, setakat asam folat. Sekali lagi mineral, protein, karbohidrat, karotenoid, dan polifenol. Dalam tubuh ubi benggala ini, pun suka-suka zat solanin yang dikenal sebagai pengasosiasi penenang, antikejang, antijamur, dan pestisidal.[3]
Vitamin C yang terkandung dalam kentang setiap 100 g adalah 17 mg. Selain terkandung karbohidrat dan rabuk-jamur, mineral yang ada padanya antara bukan yakni zat ferum, fosfor, dan potasium.[4]
Kompresan air kentang ini dikenal lampau kontributif pengobatan jejas pada selerang, terlebih di negara miskin yang rumit cangkok indra peraba. Namun demikian, manakala kentang terpapar cahaya, kentang bisa saja membuat glikoalkaloid yang dinamakan solanin secara bersisa, sehingga jadilah berbahaya lakukan dikonsumsi. Bahaya yang dapat terjadi yakni terganggunya sistem saraf, terbakar tenggorokan, guncangan majikan, paralisis/lumpuh kaki, dan badan mendingin. Apabila dosis sudah lalu 3–6 mg, akibat dapat fatal. Pengobatan yang bisa dilakukan ialah memberi arang aktif/norit, cuci rahim, dan diberi cairan infus.[3]
Sebab itu, untuk pencegahan terjadinya solanin lega kentang yang hendak dikonsumsi itu, maka letakkan ubi belanda di tempat yang gelap. Memantek solanin pada suhu tingkatan, dapat menghempaskan sebagian solanin. Juga, hindari mengonsumsi kentang yang mutakadim berkecambah dan berwarna hijau di bagian dasar selerang, karena alkaloid solaninnya sudah strata dan mutakadim dulu beracun.[3]

Ubi benggala di murahan

[sunting
|
sunting sumber]

Plural pangkal pohon kentang di pasar.

Di pasaran, kentang dipisah-pisahkan menurut ukurannya dan dinamakan kualitas A, B, C, dan D. Kualitas A adalah yang terbaik. Penyebutan ‘kentang kualitas AB’ berarti campuran dari kualitas A dan B.

Lihat kembali

[sunting
|
sunting sendang]

  • Kentang hitam (kentang kleci)

Bacaan

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b



    Sastrapradja, Setijati; Soetjipto, Niniek Woelijarni; Danimihardja, Sarkat; Soejono, Rukmini (1981).
    Pesanan Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi:Ubi-Ubian.
    7. keadaan. 45. Jakarta: LIPI bermitra dengan Balai Bacaan.

  2. ^


    Sunarjono, Hendro
    (2015).
    Berladang 36 Jenis Sayur. hlm.45 – 53. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 978-979-002-579-0.
  3. ^


    a




    b




    c




    Dalimartha, Setiawan; Adrian, Felix
    (2011).
    Kebaikan Buah dan Sayur. hlm. 119 – 123. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 978-602-8661-51-5.

  4. ^


    Hermani; Rahardjo, Mono
    (2005).
    Tumbuhan Berkhasiat Antioksidan. Hlm. 72 – 73. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 979-489-877-5.
  • Economist. “Llamas and mash”,
    The Economist
    28 February 2008 online
  • Economist. “The potato: Spud we like”, (leader)
    The Economist
    28 February 2008 online
  • Boomgaard, Peter (2003). “In the Shadow of Rice: Roots and Tubers in Indonesian History, 1500–1950”.
    Agricultural History.
    77
    (4): 582–610. doi:10.1525/ah.2003.77.4.582. JSTOR 3744936.



  • Hawkes, J.G. (1990).
    The Potato: Evolution, Biodiversity & Genetic Resources, Smithsonian Institution Press, Washington, D.C.
  • Lang, James. (2001)
    Notes of a Potato Watcher
    (Texas A&M University Agriculture Series) excerpt and text search* Langer, William L. “American Foods and Europe’s Population Growth 1750–1850”,
    Journal of Social History
    (1975) 8#2 pp. 51–66 in JSTOR
  • McNeill, William H. “How the Potato Changed the World’s History.”
    Social Research
    (1999) 66#1 pp 67–83. ISSN 0037-783X Fulltext: Ebsco, by a leading historian
  • McNeill William H (1948). “The Introduction of the Potato into Ireland”.
    Journal of Bertamadun History.
    21
    (3): 218–21. doi:10.1086/237272. JSTOR 1876068.



  • Ó Gráda, Cormac.
    Black ’47 and Beyond: The Great Irish Famine in History, Economy, and Memory.
    (1999). 272 pp.
  1. Ó Gráda, Cormac, Richard Paping, and Eric Vanhaute, eds.
    When the Potato Failed: Causes and Effects of the Last European Subsistence Crisis, 1845–1850.
    (2007). 342 pp. ISBN 978-2-503-51985-2. 15 essays by scholars looking at Ireland and all of Europe
  • Reader, John.
    Propitious Esculent: The Potato in World History
    (2008), 315pp a standard scholarly history
  • Salaman, Redcliffe N. (1989).
    The History and Social Influence of the Potato, Cambridge University Press (originally published in 1949; reprinted 1985 with new introduction and corrections by J.G. Hawkes).
  • Stevenson, W.R., Loria, R., Franc, G.D., and Weingartner, D.P. (2001)
    Compendium of Potato Diseases, 2nd ed, Amer. Phytopathological Society, St. Paul, Minnesota.
  • Zuckerman, Larry.
    The Potato: How the Humble Spud Rescued the Western World.
    (1998). 304 pp. Douglas & McIntyre. ISBN 0-86547-578-4.

Pustaka lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Bohl, William H.; Johnson, Steven B., ed. (2010).
    Commercial Potato Production in North America: The Potato Association of America Handbook
    (PDF). Second Revision of American Potato Journal Supplement Volume 57 and USDA Handbook 267. The Potato Association of America. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 2012-08-16. Diakses copot
    2016-12-30
    .



  • Humble’ Potato Emerging as World’s Next Food Source”.
    column. Japan. 11 May 2008. hlm. 20.



  • Spooner, David M.; McLean, Karen; Ramsay, Gavin; Waugh, Robbie; Bryan, Glenn J. (October 2005). “A single domestication for potato based on multilocus amplified fragment length polymorphism genotyping”.
    Proc. Natl. Acad. Sci. USA.
    102
    (41): 14694–14699. doi:10.1073/pnas.0507400102. PMC1253605alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 16203994.



  • The World Potato Atlas at Cgiar.org Diarsipkan 2017-07-05 di Wayback Machine., released by the International Potato Center in 2006 and regularly updated. Includes current chapters of 15 countries:
    • South America: (English and Spanish): Bolivia, Colombia, Ecuador, Peru
    • Africa: Cameroon, Ethiopia, Kenya
    • Eurasia: Armenia, Bangladesh, China, India, Myanmar, Nepal, Pakistan, Tajikistan
    • 38 others as brief “archive” chapters
    • Further information links at Cgiar.org Diarsipkan 2017-07-05 di Wayback Machine..
  • World Geography of the Potato at UGA.edu Diarsipkan 2006-06-04 di Wayback Machine., released in 1993.
  • Gauldie, Enid (1981). The Scottish Miller 1700–1900. Pub. John Donald. ISBN 0-85976-067-7.
  • GLKS Potato Database
  • Centro Internacional de la Miskin benar: CIP (International Potato Center)
  • World Potato Congress
  • British Potato Council
  • Online Potato Pedigree Database for cultivated varieties
  • Potato Information & Exchange
  • GMO Safety: Genetic engineering on potatoes Diarsipkan 2011-01-10 di Wayback Machine. Biological safety research projects and results
  • International Year of the Potato 2008
  • Solanum tuberosum (potato, papas): life cycle, tuber anatomy at GeoChemBio Diarsipkan 2022-04-08 di Wayback Machine.
  • Potato Genome Sequencing Consortium Diarsipkan 2009-09-01 di Wayback Machine.
  • Potato storage and value Preservation Diarsipkan 2020-08-06 di Wayback Machine.: Pawanexh Kohli, CrossTree techno-visors.
  • Potato, in Cyclopedia of American Agriculture Diarsipkan 2012-01-28 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kentang

Posted by: holymayhem.com