Sebutkan 4 Cara Pembiakan Vegetatif Dalam Teknik Budidaya Tanaman Hias

PENDAHULUAN

Modul ini yaitu babak integral dari Kurikulum lega Kompetensi Kepiawaian Agribisnis Pokok kayu Rimba dan Hortikultura. Pada modul ini akan dipelajari tentang perkalian dengan cara stek, cangkok, sambung (grafting), okulasi (temple entries).

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan cara generative dan vegetative. Perbanyakan generative menggunakan kredit laksana alamat perbanyakan. Penggunaan ponten yang menghasilkan tanaman berbenda dengan paser perian lama dan resan yang bukan begitu juga induknya, memunculkan perbanyakan pokok kayu berpokok bagian vegetatifnya.

Hasil berpangkal mempelajari modul ini, diharapkan pesuluh didik dapat mengarifi dan memahami beberapa hal penting bermula metode perbanyakan tumbuhan yang diperlukan n domestik pengembangan pertanian.

PRASYARAT

Prakondisi bagi peserta didik sebelum mempelajari modul ini harus memaklumi kompetensi menyiapkan alat angkut bertunas dan mengamalkan pembiakan tanaman secara generative.

TUJUAN AKHIR PEMBELAJARAN

Sehabis mempelajari modul ini siswa mampu melakukan pemijahan pokok kayu secare vegetative meliputi stek, cangkok, hubung (grafting), okulasi.

KEGIATAN Berlatih


Kegiatan Belajar 1


( Menjelaskan mandu pemijahan tumbuhan secara vegetative)

  1. PERBANYAKAN VEGETATIF DENGAN STEK

Stek merupakan mandu perbanyakan tanaman secara vegetative buatan dengan memperalat sebagian akar tunggang, mayat, dan daun tanaman lakukan ditumbuhkan menjadi tanaman baru.

Persyaratan bahan stek :

  1. Batang/silang tidak terlalu akil balig maupun sesak tua, paling berumur 1 perian kecuali bagi stek pucuk.

  2. Netral dari serangan wereng dan ki aib

  3. Warna batang/pucuk masih fit, bercat hijau

Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar tunggang dan pucuk puas bahan stek sehingga menjadi pohon baru yang


true to name


dan


true to type

. Regenerasi akar tunggang dan pucuk dipengaruhi oleh factor privat yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern alias lingkungan. Salah satu faktor n domestik yang mempengaruhi regenerasi akar susu dan pucuk adalah fitohormon nan berfungsi bagaikan zat pengatur tumbuh.

Keuntungan dan kecelakaan perbanyakan dengan stek :

Keuntungan : – caranya sederhana (tidak memerlukan teknik yang rumit)

  • Memiliki adat yang sama dengan induknya

Kesialan : – memiliki perakaran lemah, karena berakar serabut


– tidak boleh digunakan cak bagi multiplikasi semua varietas tanaman


– persentasi keberhasilan pertumbuhan abnormal

Faktor mileu tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada terjadinya regenerasi akar tunggang dan pucuk. Mileu tumbuh atau sarana pengakaran seyogiannya kondusif untuk regenerasi akar yaitu pas lembab, evapotranspirasi rendah, drainase dan aerasi baik, suhu tidak bersisa anyep atau panas, tidak ketularan kilauan penuh (200-100 W/m
2
) dan bebas dari wereng atau kebobrokan.

  1. Perbanyakan VEGETATIF DENGAN CANGKOK

Mencangkok merupakan riuk satu cara pembiakan vegetatif bikinan nan bertujuan untuk mendapatkan tanaman nan memiliki sifat nan sebagai halnya induknya dan cepat menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan mengiris dan mengupas kulit seputar batang, bogok sayatan tergantung puas jenis pohon yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga sepuhan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan kaidah dikikis). Setelah luka nan dibuat cukup kersang, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan moga bahan cangkokan cepat berakar. Wahana tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan sistem perakaran yang bagus, jenazah boleh segera dipotong dan ditanam di lapang.


Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pencangkokan pokok kayu adalah:

  1. waktu mencangkok, sebaiknya puas periode hujan karena tidak perlu melakukan penyiraman repetitif-ulang

  2. Memilih batang cangkok, pohon emak yang digunakan adalah nan umurnya tidak bersisa tua atau terlalu muda, kuat, sehat dan subur serta banyak dan baik buahnya

  3. Pemeliharaan cangkokan, pelestarian sudah dianggap pas bila media cangkokan cukup lembab sepanjang hari.

Cabang yang baik untuk dicangkok punya jihat ke atas 45 atau ke samping dan camar berbuah.

Keefektifan mandu pembiakan cangkokan antara lain :

  1. Tanaman bersumber bibit cangkokan makin cepat berhasil.

  2. Boleh mewarisi adat baik berbunga tanaman induk karena induknya dapat dipilih yang


mempunyai sifat baik.

Adapun kelemahannya antara lain :

  1. Perakaran pohon cangkokan kurang abadi dan cetek.

  2. Bentuk pokok kayu induk menjadi rusak.

  3. Tidak boleh menyenggangkan konsentrat yang relatif banyak dalam waktu yang cepat.

  4. Prinsip pengerjaan sedikit lebih rumit dan memerlukan ketelatenan.

  5. Takdirnya demap dilakukan transplantasi terhadap pohon indung maka produksi biji pelir pohon emak menjadi terganggu.

Wahana yang dapat digunakan kerjakan mencangok :

  • Mos

  • Pupuk kandang

  • Kompos

  1. PERBANYAKAN VEGETATIF DENGAN GRAFTING/SAMBUNG

Grafting/penerusan ialah seni menyambungkan 2 jaringan tanaman usia sedemikian rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta berkembang sebagai satu pokok kayu nikah. Teknik apapun yang menunaikan janji kriteria ini dapat digolongkan seumpama metode grafting.

Ketidaktetapan antar spesies tanaman yang disambung dapat dilihat dari kriteria umpama berikut:

  1. Tingkat keberuntungan sambungan kurang

  2. Plong pohon yang sudah berbuah bertunas, terlihat daunnya menguning, rontok, dan mati tunas

  3. Mati muda, pada bibit sambungan

  4. Terdapat perbedaan lampias tumbuh antara bangkai bawah dengan batang atas

  5. Terjadinya pertumbuhan berlebihan baik layon atas maupun batang pangkal

Layon radiks atau rootstock/understam adalah tanaman yang berfungsi bak layon putaran pangkal nan masih dilengkapi dengan sistem perakaran yang berfungsi mengambil rezeki mulai sejak dalam lahan untuk batang atas alias tajuknya.

Batang bawah ada yang berasal dari semai generatif dan dari tan vegetative (klon). Layon bawah asal kredit (semai) bertambah menguntungkan kerumahtanggaan kuantitas, umumnya tidak membawa virus bersumber tanaman induknya dan sistem perakarannya bagus. Kelemahannya yakni secara genetik tidak seragam. Variasi genetik ini dapat mempengaruhi penampilan tumbuhan kunarpa atas setelah ditanam. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi secermat barangkali terhadap kunarpa sumber akar asal skor (Ashari, 1995).

Agar hasil sambungan bisa memuaskan, ada bilang hal yang perlu diperhatikan :

  1. Batang atas dan batang bawah harus kompatibel

  2. Jaringan kambium kedua tanaman harus bersinggungan

  3. Dilakukan saat kedua tanaman berada lega kondisi fisiologis yang tepat

  4. Karier segera dilakukan setelah entris diambil pecah pohon emak

  5. Recup yang tumbuh pada batang pangkal (wiwilan) harus dibuang setelah pemanjangan radu agar bukan menyaingi pertumbuhan tunas batang atas. Metode yang dikembangkan adalah sambung lidah (tongue grafting), sambung samping (side grafting), hubung ruji-ruji (cleft grafting), hubung susu (approach grafting), dan hubung tunjang (inarching).

Persyaratan bibit batang bawah :

  1. Memiliki adaptabilitas yang luas.

  2. Mempunyai perakaran yang kuat dan tahan terhadap terjangan wereng/penyakit yang ada dalam tanah, serta dapat tumbuh pada tanah yang kondisinya kurang menguntungkan.

  3. Mempunyai batang yang abadi.

  4. Punya kelajuan bertaruk yang sesuai dengan mayit atas.

  5. Tidak n kepunyaan pengaturan negatif lega batang atas.

Batang atas yang biasanya disebut entres (scion) ialah calon adegan atas atau tajuk tanaman yang di nanti akan menghasilkan buah berkualitas unggul.

Batang atas ini dapat positif ain tunas tunggal yang digunakan dalam tehnik okulasi ataupun berupa ranting dengan lebih berpokok suatu mata recup maupun ranting dengan tunas pucuk nan digunakan kerumahtanggaan sambungan (grafting).

Persyaratan batang atas :

  1. Segara cabang hampir seperti mana besar mayit dasar, cabangnya verbatim.

  2. Sukma simpang hampir sama dengan umur layon bawah.

  3. Simpang diambil puas waktu pohon emak dalam keadaan dorman

Penyambungan bisa dilakukan dengan 2 pendirian :

  1. Penyusuan

Penyusuan merupakan cara penyambungan tanaman dimana kedua tanaman baik batang atas maupun batang bawah masing-masing masih memiliki system perakarannnya.

Kaidah penyusuan ini boleh dilakukan dengan 3 cara, adalah sambung lengkung, sambung sekedup, sambung pengecap.

Sambung lengkung

Sambung pengecap

Sambung pelana

  1. Sambung pucuk (enten)


hubung pucuk dapat dilakukan dengan pendirian sambung baji, sambung baji terbalik, sambung motivasi, sambung celah pengecap :

  1. Sambung baji

  1. Sambung tembung

  1. Pergandaan VEGETATIF DENGAN BUDDING/OKULASI

Sedangkan budding yakni salah satu rancangan dari grafting, dengan ukuran batang atas tereduksi menjadi namun terdiri atas suatu mata tunas (Hartmann


et al

, 1997). Tanaman sebelah atas disebut entries atau batang atas (

scion

), sedangkan pohon mayat bawah disebut understam ataupun jenazah pangkal (

rootstock

) (Ashari, 1995). Batang atas substansial rincihan pucuk tanaman yang terdiri atas beberapa semi dorman yang akan berkembang menjadi tajuk, sedang kunarpa bawah akan berkembang menjadi sistem perakaran (Hartmann


et al

, 1997).

Teknik ini dipilih dengan pertimbangan buat melipatkan pohon yang sukar/enggak boleh diperbanyak dengan cara stek, perundukan, pemisahan, ataupun dengan cangkok. Menurut Ashari (1995), banyak jenis pokok kayu buah-buahan nan elusif/tidak boleh diperbanyak dengan cara-prinsip tersebut, tetapi mudah dilakukan penyambungan, misalnya pada manggis, mempelam, belimbing, jeruk dan durian.

Syarat batang pangkal lakukan okulasi :

  1. Tumbuhan pecah dari angka

  2. Berdiameter 3-5 mm, berumur sekitar 3-4 wulan

  3. Privat fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambiumnya aktif, sehingga melicinkan privat pengupasan dan proses merekatnya netra tempel ke batang bawah.

  4. Batang sudah berkayu dan tumbuh subur, dan rimbun.

  5. Enggak terserang wereng alias penyakit

  6. Perakarannya baik.

Syarat batang atas lakukan okulasi :

  1. Entres yang baik yakni yang cabangnya dalam keadaan enggak terlalu tua dan lagi tidak terlalu muda (sekelumit berkayu).Warna kulitnya coklat taruna kehijauan atau debu-abu cukup umur. Entres yanng diambil terbit cabang yang terlalu tua pertumbuhannya lambat dan persentase keberhasilannya rendah. Besar kaliber cagak bakal entres ini harus selevel dengan besarnya batang bawahnya.

  2. Cabang entres lakukan okulasi ini seharusnya tidak berdaun (daunnya sudah terlepas). Lega pohon tertentu demap dijumpai cabang entres yang masih ada daun melekat lega tangkai batangnya. Untuk itu perompesan daun harus dilakukan dua ahad sebelum pengambilan cabang entres. Kerumahtanggaan waktu dua ahad ini, tangkai daun akan gugur dan lega wadah tempat melekatnya (daerah absisi) akan terbentuk kalus penghabisan luka nan boleh mencegah masuknya mikrob penyebab penyakit (patogen).

  3. Syarat enggak yang perlu diperhatikan pada waktu pengutipan entres adalah kesuburan dan kesehatan pohon induk. Untuk meningkatkan kesuburan pohon induk, biasanya tiga pekan sebelum pengambilan buntang atas dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK. Kesehatan pohon emak ini terdahulu karena dalam kondisi sakit, terutama keburukan sistemik mudah sekali ditularkan pada ekstrak.

  4. Entres diambil setelah indra peraba kayu cabangnya dengan mudah boleh dipisahkan pecah kayunya (dikelupas). Fragmen dalam indra peraba kayu ini (kambium) akan tampak berair, ini melambangkan kambiumnya aktif, sehingga bila mata tunasnya lekas diokulasikan akan mendahulukan pertautan dengan mayat pangkal.

Rangka pengambilan entres (mata tunas) :

  • Segiempat

  • Sayatan

  • Bulatan/temple


Kegiatan Berlatih 2 ( Melakukan Pembiakan tumbuhan secara vegetative)

Peralatan yang digunakan antara enggak :

pisau okulasi


gunting stek

gergaji stek


STEK

Tipe teknik penyetekan :

  • Stek ki boyak

  • Stek pencong

  • Stek bermartil/bertumit

  1. STEK DAUN

Bahan awal perkalian yang boleh digunakan pada stek daun bisa konkret lembaran daun alias lempengan daun beserta petiol.

Akar tunggang dan semi hijau pada stek daun dari bersumber jaringan meristem primer atau meristem sekunder. Lega pokok kayu Bryophyllum, akar dan tunas plonco berasal dari meristem primer puas kumpulan rumah pasung-kurungan riol daun dewasa, tetapi puas pohon


Begonia rex, Saint paulia


(Avrican violet),


Sansevieria

, Crassula dan Lily, akar tunjang dan tunas baru berkembang dari meristem sekunder dari hasil pelukaan.

Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5 – 10 cm (

Sansevieria

) ataupun menyelit daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann


et al

, 1997). Buat Begonia dan Violces, perlakuan kimia yang mahajana dilakukan yakni penyemburan dengan IBA 100 ppm.

  1. STEK Pongkol

Objek utama pada stek ini adalah umbi yaitu umbi batang, umbi akar, dll. Sebagai bulan-bulanan perbanyakan bisa digunakan pongkol secara utuh atau dipotong-potong asalkan setiap irisan memiliki caon tunas. Untuk memencilkan terjadinya kemungkus lega potongan pangkal pohon, maka umbi dapat direndam pada larutan fungisida dan bakterisida.

Transendental pokok kayu nan bisa diperbanyak dengan stek umbi antara lain:


Solanum tuberosum

,


Ipomoea batatas

,


Caladium

,


Helianthus tuberosus

,


Amarilis

, dan lainlain.

  1. STEK Layon

Bahan awal perbanyakan nyata batang tanaman. Stek batang dikelompokkan menjadi catur keberagaman beralaskan varietas jenazah tumbuhan, yakni:

  • berkayu keras; ideal apel, cemara

  • taruk berkayu; hipotetis jeruk

  • Panjang hati; ideal pokok kayu


    Magnolia

  • Herbaceous; contoh


    Dieffenbachia, Chrysanthemum, Ipomoea batatas

Factor nan mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan dengan perbanyakan pohon secara stek antara tidak :

  • Pemendekan korban stek (halus, kasar)

  • Pangkat dari potongan bahan stek (20-30 cm)

  • Jumlah mata semi (3-5 netra taruk)

  • Kelembaban udara pada waktu memotong

  • Medan untuk menanam bahan stek (struktur tanahnya remah/subur)

  • Tidak kena sinar matahari secara kontan (dibuatkan naungan)

  • Jumlah daun yang masih terbawa pada bahan stek, sebaiknya dikurangi, untuk mengurangi evaporasi

  • Menggunakan zat perangsang tumbuh (ZPT) contohnya Rootone F yang berbentuk abu.


Cangkok

Syarat tanaman/pokok kayu induk lakukan dicangkok paling kecil telah berbunga bakal tanaman hias dan sudah berbuah minimum 3 kali buat tanaman biji pelir.

Di internal melakukan penyayatan cabang cangkokan boleh dibedakan menjadi dua golongan, adalah :

  1. Simpang mungil

Cabang nan berdiameter invalid mulai sejak 2 cm digolongkan ke dalam simpang boncel. Kulit kayu yang tepat buat disayat kreatif tepat di bawah kuncup patera, karena disitulah terpumpun zat pencipta akar tunjang yang disebut rizokalium. Dalam suatu cabang dapat dibuat suatu atau lebih sayatan (cangkok berantai).

menyuntikkan berantai

  1. Silang segara

Batasan cagak besar disini yakni simpang nan diameternya melebih 2 cm. Dengan besarnya cabang ini maka diperlukan perimbanga jumlah akar yang sesuai untuk memasok air dan zat hara nan nantinya diperlukan sesudah hasil cangkokan ditanam. Perakaran nan bertunas dari lembaga penyayatan seperti pada simpang kecil cangap invalid cukup. Oleh karena itulah tulang beragangan sayatan dibuat sedemikian rupa agar bidang yang nantinya ditumbuhi akar susu menjadi luas.

Pasca- kulit kayu potol akan tampak kambium. Kambium nan umumnya terdapat belaka pada tanaman dikotil ini kmerupkan suatu tabunga yang berbenda antara xilem dan floem. Hasil kerja kambium erupa eskalasi pematang bangkai berkayu. Untuk menghindari kejadian ini puas jejas sayatan juga hendaknya proses pertumbuhan akar tunjang tak terganggu, kambium harus dihilangkan.

keratan bergerigi

Tipe-jenis pembungkus cangkokan :

  • Sabut kelapa

  • Bumbung bambu

  • Kaleng jebolan

  • Plastik bening

Pot tanah atau plastik


SAMBUNG(GRAFTING)

Tahapan hubung pucuk secara umum :

  1. Pemotongan layon bawah 2. Pembelahan mayit dasar

3. Melancipkan 2 sisi sumber akar jenazah atas 4. Batang atas siap disambungkan

5. Mayit atas disambungkan dengan batang sumber akar 6. Penggabungan dengan tali plastik

7. Sambungan sudah diikat 8. Sambungan diselubungi 9. Sambungan mutakadim jadi dan bertaut


dengan kantong plastic ditandai keluarnya kuncup patera


OKULASI

Tahapan Okulasi :

1. Okulasi dengan menggunakan bibit 2. Pembuatan 2-3 sayatan di batang pangkal

berdiameter 3-5 mm, berumur 3-4 wulan

3. Pengambilan indra penglihatan entres berusul batang atas


4. Mata entres terpisah dengan mayit atas

5. Mata entres rontok dengan kayunya 6. Mata entres terlepas minus kayunya dan siap ditempel

7. Menempelkan mata 8. Pengikatan dengan tali plastic 9. Arah ikatan semenjak radiks ke

entres ke sayatan batang atas

bawah

10. Setelah 2-3 ahad okulasi 11. Mata tunas tumbuh hasil okulasi

sudah lalu dapat dibuka


Faktor-faktor Yang Berwibawa Terhadap Kejayaan Penyambungan (Perbanyakan vegetative)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pergandaan vegetatif dapat dibagi menjadi tiga golongan:


a).Faktor lingkungan

  • Hari penyambungan

Sreg umumnya pemanjangan dilakukan puas waktu semarak nan seri, lain hujan angin, dan bukan di dasar musykil mentari.

Waktu terbaik pelaksanaan okulasi yakni pada pagi periode, antara jam 07.00-11.00 pagi, karena saat tersebut tumbuhan medium aktif berfotosintesis sehingga kambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan optimum. Diatas Jam 12.00 siang daun mulai layu.Sahaja ini bisa diatasi dengan menempel di tempat nan teduh, terhindar dari pendar matahari langsung.

  • Temperatur dan kelembaban

Temperatur dan kelembaban yang optimal akan mempertinggi pembentukan jaringan kalus, nan sangat diperlukan bagi berhasilnya suatu sambungan.

Temperatur yang diperlukan dalam penerusan berkisar antara 7,2°C-32°C, bila temperatur kurang dari 7,2°C pembentukan kalus akan lambat, dan bila lebih berpunca 32°C pembentukan kalus menjadi lambat dan dapat mematikan sel-sel lega sambungan. Temperatur optimum pada penyambungan yakni 25°C-30°C.

Penerusan memerlukan kelembaban yang tinggi, bila kelembabannnya cacat akan mengalami kesuntukan, dan menghambat/menghalangi pembentukan kalus lega sambungan karena banyak sel-sel pada sambungan senyap.

  • Sinar

Cerah matahari berpengaruh plong periode pelaksanaan penyambungan berlanjut, oleh karena itu penerusan seyogiannya dilakukan sreg waktu pagi alias sore tahun pada detik matahari kurang kuat menyinarkan sinarnya. Kilap yang berlebih panas akan mengurangi daya resistan batang atas terhadap kekurangan, dan dapat subversif kambium sreg wilayah

sambungan.


b). Faktor tanaman


a. Kompatibilitas dan inkompatibilitas

Puas umumnya jenazah atas dan layon dasar dari spesies yang sama akan menghasilkan sambungan yang kompatibel, dan biasanya gabungan tanaman/hasil sambungan akan nasib lama, berbenda dan kuat.

Gejala-gejala kontradiksi antara dua tanaman nan disambung antara lain :

  • Sangkutan antara species, tipe atau klon-klon nan tak ikatan membentuk sambungan.

  • Afiliasi antara dua tanaman dimana jumlah dari keberhasilan sambungan sangat boncel.

  • Sehabis sambungan bersemi, semata-mata pokok kayu tiba-tiba hening.

  • Adanya perbedaan antara jenazah atas dan layon bawah intern pertumbuhan vegetatif puas pertama ataupun penghabisan masa.

  • Adanya pertumbuhan yang berlebihan di atas atau di bawah sambungan.

  • Terjadi penghambatan merecup pada tanaman hasil sambungan (tanaman menjadi kerdil).


b. Hal fisiologi tanaman

Bilang pohon mengalami kesukaran bakal disambungkan ke tumbuhan bukan, karena jenis tanaman tersebut musykil membentuk kalus.


c. Penyatuan kambium

Agar persentuhan kambium batang atas dan kunarpa bawah makin banyak terjadi, maka diperlukan ukuran mayat bawah dan batang atas dipilih yang damping setimpal.


c). Faktor pelaksanaan


a. Keahlian

Kecepatan menyambung yaitu preventif minimum baik terhadap infeksi penyakit dan kerusakan pada kambium


b. Kesempurnaan perkakas

Dalam penyambungan diperlukan ketajaman dan kebersihan alat, tali pengikat yang tipis dan lentur.


c

.


Keserasian bentuk rajangan

Keserasian gambar potongan antara batang atas dan jenazah bawah perlu diperhatikan lakukan mendapatkan kesesuaian letak penyatuan kambium batang atas dan batang bawah nan serasi.



Kegiatan Berlatih 3 (Menernakkan bibit hasil pembiakan secara vegetative)

Dalam penangkaran tanaman secara stek dilakukan pemeliharaan nan menghampari:

  1. Pengairan

Pengairan diberikan plong periode sarana pokok kayu mulai sangar, rata-rata dilakukan setiap hari, waktu pengairan (penyiraman) lega pagi masa adalah dengan memperalat alat Tali air (penyiraman) pada pembibitan dengan cara stek dilakukan 2 kali intern sehari, pagi dan sore (tergantung kondisi pokok kayu atau ki alat tanamnya.

Internal pengairan pembibitan stek diberikan secara merata dengan kaidah mengayun-ahunkan gembor yang diisi dengan air.

  1. Pemupukan

Perabukan pada esensi stek dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk daun satu minggu sekali dengan konsentrasi 0,2-0,3% serabut dilarutkan dalam air setelah itu disemprotkan sreg bibit hasil stek.

  1. Penyiangan

Penyiangan privat pembibitan stek baik dalam bedengan, bak batu merah, kotak tiang dan polybag perlu dilakukan. Penyiangan dilakukan dengan jujut jukut-rumput yang berbenda disekitar bibit stek. Penyiangan dilakukan agar supaya pertumbuhan bibit stek tidak terganggu baik dalam menyerap unsur hara maupun mengganggu privat pencahayaan (proses asimilasi).

  1. Pengendalian wereng penyakit

Serangan hama dan keburukan segera diberantas dengan pestisida bagi menjaga terjadinya serangan wereng dan problem di kerjakan pengendalian secara precentif yaitu disemprot setiap 2 siapa dalam 1 minggu, hama yang menyerang lega pembibitan yaitu tungau-kutu patera, belatung dan kepik, pestisida yang digunakan dengan konsentrasi 0,1- 0,2%.

  1. Pemangkasan

Bibit hasil setekan yang masih congah patera pembibitan terlazim dilakukan pemangkasan agar supaya didapatkan tunas nan banyak sehingga akan dihasilkan esensi stek yang banyak tunas. Puas masa akan dipindahkan ekstrak stek perlu dilakukan pemangkasan mudahmudahan supaya mengurangi evaporasi yang jebah sehingga akan mengakibatkan bibit mengalami stress (staknasi). Pemangkasan dilakukan dengan memperalat gunting atau pisau.

Di dalam debirokratisasi stek dilakukan menurut spesies dari bahan stek yang diperbanyak. Setiap varietas tumbuhan punya syarat pemotongan nan farik baik matra panjangnya alias bentuk ukurannya.

Pelestarian pati yakni rangkaian kegiatan yang tidak boleh dilupakan. Sreg penangkaran pokok kayu dengan sambung dan okulasi ini, pemeliharaan bibit meliputi :


1). Pengairan/Penyiraman

Air mempunyai peranan penting dalam mempertahankan kesuburan wahana tanam. Oleh karena itu, rahmat air privat alat angkut tanam harus diatur sehingga cukup patut untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi rahmat air diantaranya adalah :


a). Sifat fisik ki alat tanam

Resan fisik media tanam, misalnya tekstur, menentukan banyaknya kebutuhan air. Tekstur sarana tanam yang bertambah halus memiliki kemampuan memegang air lebih langgeng. Dengan demikian kebutuhan air sarana tanam yang bertekstur halus kian banyak dari pada wahana tanam yang bertekstur berangasan. Misal pasir punya kemampuan mengabsorbsi air makin rendah berusul pada persil liat. Batu halus menjadi cepat basah dan mudah kering. Oleh karena itu, frekuensi anugerah air sreg ki alat batu halus lebih sering dilakukan, semata-mata jumlahnya bertambah sedikit.


b). Supremsi hari

Untuk mempertahanakan kelembaban pada alat angkut tanam, saat perian hujan total dan kekerapan air siraman dikurangi. Pada musim kemarau diusahakan jumlah dan frekuensi air siraman ditambah hendaknya sarana tanam bukan kering. Karena lega musim kering tingkat penguapannya bertambah tinggi sehingga media cepat kering.

Kehabisan maupun kelebihan air pada masa kemarau terjadi penguapan yang tinggi dan dapat mempengaruhi kondisi air intern media tanam. Tanpa diimbangi pendirusan yang rutin, menyebabkan media cepat cengkar. Bila keadaan kering ini dibiarkan berlarat-larat maka patera-daun bisa gugur dan lama kelamaan bibit akan mati. Begitu juga pada periode penghujan, media tanam akan cenderung kelebihan air sehingga kondisi media tanam akan menjadi habis lembab. Peristiwa ini akan mengulangulang pertumbuhan penyakit pada bibit. Selain itu air yang berlebihan sebatas menggenang dalam media terlalu lama dapat menyebabkan kemungkus akar, akibatnya sari akan mati.


2). Pemupukan

Pemupukan merupakan aktivitas pemberian molekul-unsur hara cak bagi kontributif pertumbuhan tanaman dan mempertahankan kesuburan media tanam. Faktor-faktor yang mempengaruhi perabukan yakni:


a). Jenis kawul

Pupuk nan berasal dari bahan anorganik begitu juga Amonium Nitrat, punya kelarutan unsur hara yang tingkatan. Bila diberikan secara koheren lega wahana tanam, maka ketersediaan zarah hara boleh dipertahankan.


b). Hari pemberian serat

Pemberian pupuk teradat memperhatikan hal musim. Lega mulanya atau penutup musim hujan merupakan saat yang tepat kerjakan berbuat fertilisasi lega tanaman tahunan. Namun

pemberian pupuk pada konsentrat intern polybag semoga dilakukan secara periodik dengan frekuensi anugerah yang lebih sering dan tak mengelepai pada musim. Satu peristiwa nan mesti diingat privat belas kasih pupuk adalah jangan mengerjakan pemupukan ketika media tanam kesuntukan air, karena unsur-molekul hara enggak bisa diserap oleh tanaman. Serabut diberikan pada hari patera-daunan start menguning dan pertumbuhan rendah berangkat terhambat.


c). Mandu Anugerah serat

Ada beberapa cara pemberian serat yang boleh dilakukan yaitu ditaburkan, disiramkan dan disemprotkan. Pemberian pupuk lega tanaman yang ada dalam polybag lebih efektif dilakukan dengan disiramkan atau disemprotkan.


3). Pengendalian hama dan penyakit

Hama dan komplikasi yang sering menyerang sambungan atau okulasi antara lain: tungau biram, Aphia spec (kutu patera) dan penyakit yang disebabkan makanya jamur. Prinsip kerjakan mencegah di samping dengan kebersihan pada alat-alat dan kancah penerusan/ okulasi, juga dengan pemeliharaan yang seelok-baiknya bersumber tanaman yang disambung.

Eksploitasi pestisida boleh pula dipergunakan bila tingkat serbuan hama dan kelainan mutakadim tataran. Faktor-faktor nan terbiasa di perhatikan dalam penggunaan pestisida adalah :

  • Dosis atau konsentrasi racun hama.

  • Diversifikasi racun hama disesuaikan dengan organisme pengganggu.

  • Waktu pemberian disesuaikan dengan kilap, tahap pertumbuhan bibit dan organisme pengganggu.

  • Mandu belas kasih pestisida disesuaikan dengan bentuk racun hama sebagai disemprot/ditaburkan.

Sebelum memperalat pestisida justru dahulu bacalah petunjuk penggunaan nan tertera pada label.

HANDOUT

Pemijahan Pokok kayu SECARA VEGETATIF

(KODE 104.DKK5)

KOMPETENSI KEAHLIAN

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA (ATPH)

Source: https://ratih12atph.blogspot.com/2011/11/pembiakan-tanaman-secara-vegetatif.html

Posted by: holymayhem.com