Sayuran Yang Ditanam Di Kanal Bkt

Jakarta, Beritasatu.com
– Kilat cerah mengiringi langkah bilang orang menuju bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) di Jakarta Timur. Dengan membawa peralatan sebagai halnya cangkul dan sabit, mereka kemudian menuruni tembok bantaran kali. Seutas kenur dan tangga ala kadarnya menjadi penolong untuk roboh mudah-mudahan sampai petak di bantaran.
Detik siang, mereka sekali lagi naik dengan peralatan sederhana itu. Berhari-hari, berbulan-bulan, lebih lagi sudah lalu bertahun-tahun mereka jalani rutinitas itu. Enggak terserah ganjalan. Tak ada pun keluh-kesah karena keadaan begitu juga itu harus dijalani.

Boleh jadi mereka? Bikin apa kembali ke bantaran kali? Merekalah para petani yang menanam beragam tanaman pangan di bantaran bisa jadi itu. Berpangkal rutinitas itu, beragam kebutuhan pangan mereka hasilkan.
Mulai dari kaspe, pisang, hingga jagung. Seperti berjenis-jenis sayuran, tiba dari katak, bayam, kates, kacang panjang, terong, daun katuk, sampai embalau.
Lagi jahe, kencur, dan lengkuas. Bengkoang, tomat, labu parang, dan sereh terserah sekali lagi di sana.

Dengan perawatan rutin, beraneka ragam varietas tumbuhan itu bisa tumbuh mewah di bantaran BKT. Ketersediaan air sejauh masa, menjadikan bantaran kali menghasilkan aneka kebutuhan perapian sepanjang waktu.

Rindang

Kini, menelusuri BKT, bukan sahaja menikmati peledak sejuk dan rindangnya tumbuhan-pohon nan tumbuh besar di pinggir jalan inspeksi, melainkan juga kehijauan tanaman di bantarannya. Itulah BKT yang sekarang. Kerindangan dan kesejukannya menjadi daya tarik lakukan sebagian penduduk Ibu Ii kabupaten bagi menikmatinya. Tak jarang ada batih duduk-duduk di atas bantaran plong pagi atau sore di penghabisan pekan untuk mengintai distribusi kali dan aktivitas penanam di bawahnya.

Selain upaya pemerintah menata BKT menjadi kawasan yang rapi, rindang, dan sejuk, ada juga peran pemukim yang bertani. Atas prakarsa mandiri dan inisiatif mereka, waktu ini BKT memiliki bantaran yang menghasilkan beragam kebutuhan sehari-hari.
Peran warga ada lega pemanfaatan petak di bantaran kerjakan bertani. Mereka yang kerap disebut petani perkotaan itu jumlahnya puluhan, bahkan mungkin ratusan basyar. Entah berapa total pastinya. Mereka beraktivitas di sepanjang BKT yang memanjang berasal Cipinang Cempedak di Jakarta Timur setakat Marunda di Jakarta Lor.

Riuk satunya, Sulistyo Pambudi Utomo, warga kompleks Perumahan Duren Sawit Hijau (Jakarta Timur). Purnawirawan aparatur sipil negara pada Badan Muslihat Perangkaan (BPS) tahun 2007 itu bertani di bantaran BKT sejak 3 tahun lalu.
Awalnya, dia sejumlah warga lainnya menyibuk bantaran BKT perumpamaan kapling kosong yang mubazir. Engkau pun cenderung didikan Kelurahan Duren Sawit kerjakan menanyakan kemungkinan memanfaatkan lahan itu.

“Perian itu pihak kelurahan melalui Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) tak melarang saja kembali tidak menyuruh,” katanya saat ditemui di lokasi bertaninya di bantaran BKT pada hari Sabtu (7/11).

Dia pun berkoordinasi dengan pihak terkait BKT, antara lain Biro Sumber Kunci Air (SDA) dan Dinas Lingkungan Roh (LH) DKI Jakarta. Niatnya cak bagi memanfaatkan kapling di bantaran BKT terlampiaskan sesudah suka-suka “lampu yunior” dari instansi terkait. Semata-mata sekadar, tanaman yang dibudidaya harus berumur pendek. Itu diterjemahkan dengan menanam beraneka macam sayuran berumur 1-3 wulan.

Selain sayuran, tanaman yang pohonnya jenis perdu, seperti terong dan tomat bisa dibudi daya di sini. Yang terdepan bukan tanaman keras seperti pepohonan. Ada juga tanaman yang berumur panjang dan enggak macam kayu diperbolehkan oleh pihak terkait. “Betik ini merecup bagus, agar segera berbuah,” perkenalan awal orang tani yang lazim disapa Kelongsong Top ini.

Tapi Pak Top dan petani lainnya tidak adv pernah pasti luas kapling bantaran yang digarap. Dia hanya luang tanamannya sepanjang tujuh gawang listrik, bersumber jembatan satu ke titian lainnya. Lahan di bantaran itu terbagi dua lapis: bagian atas dan bawah. Para produsen berbagi luasan berdasarkan kesepakatan dan kondisi yang ada.

Kian tahun rutinitasnya mendapat habuan perhatian warga lainnya. Sejumlah pemukim pun mengimak jejaknya ki menggarap persil bantaran itu. Di antara mereka ada nan ingin bertani untuk berkegiatan mengisi hari-harinya sepanjang pandemi Covid-19. Kesibukan bertani diyakini menyehatkan badan karena kegiatan bidang tidak banyak terdampak pandemi.

“Daripada termenung dan merenungi corona yang entah sampai kapan. Terasa sekali enak di badan. Ini seperti olahraga tetapi menghasilkan kebutuhan buat sehari-hari di rumah,” pengenalan penanam yang lain.

Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Mata air: ANTARA

Source: https://www.beritasatu.com/ekonomi/696423/berkebun-sambil-berolahraga-di-bantaran-bkt

Posted by: holymayhem.com