Sayuran Golongan Tanam Akar Adalah


Infotaula de menjar
Tempe
Sliced tempeh.jpg

Potongan tempe nan belum di masak

Asal
Area Jawa Perdua

Jawa Timur

D.I.Yogyakarta
Negara pangkal Indonesia
Rincian
Tipe Makanan kedelai, fermentasi, Daging palsu,
plant-based meat analogue
(en)
Terjemahkan
dan Masakan Indonesia

Edit the value on Wikidata
Metode penyajian fermentasi, seduh dan direbus hingga mendidih

Edit the value on Wikidata
Bahan utama Kedelai

Edit the value on Wikidata

Tempe
(bahasa Jawa:
ꦠꦺꦩ꧀ꦥꦺ,

translit.



Témpé

) yaitu kas dapur khas Indonesia yang terbuat dari peragian kacang atau sejumlah bahan tak yang menggunakan beberapa jenis kapang
Rhizopus, seperti
Rhizopus oligosporus,
Rh. oryzae,
Rh. stolonifer
(kapang roti), maupun
Rh. arrhizus. Sediaan pembusukan ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”.

Bji yang tumbuh plong kacang menghidrolisis paduan-senyawa kompleks menjadi campuran keteter yang mudah dicerna maka itu manusia. Tempe kaya akan serat wana, kalsium, vitamin B, dan zat ferum. Berbagai diversifikasi peranakan dalam tempe mempunyai nilai obat, begitu juga antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan penangkis penyakit degeneratif.

Secara awam, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji polong sehingga terbentuk tekstur nan memadat. Degradasi komponen-komponen bin pada peragian menciptakan menjadikan tempe memiliki rasa dan aroma unik. Berbeda dengan tahu, tempe terasa duga masam.

Tempe banyak dikonsumsi masyarakat di Indonesia, tetapi sekarang sudah lalu universal. Suku bangsa vegetarian di seluruh mayapada banyak yang telah menggunakan tempe sebagai perombak daging. Akibatnya, detik ini tempe tidak hanya diproduksi di Indonesia tetapi sekali lagi di banyak tempat di manjapada. Berbagai penyelidikan di sejumlah negara, sama dengan Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga masa ini berusaha mengembangkan silsilah (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe nan kian cepat, berkualitas, alias memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe perumpamaan bahan pangan hak umum karena galur-galur khamir tempe unggul bisa didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi berasal pemegang hak cipta).[1]
[2]
[3]
[4]

Pembuatan

[sunting
|
sunting sumber]

Tempe berbungkus patera pisang nan dijual di pasar tradisional Indonesia

Terdapat berbagai metode pembuatan tempe.[5]
[6]
Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri berasal tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.[7]

Pada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap penggodokan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan bikin melunakkan nilai kacang supaya nantinya dapat menyerap asam puas tahap perendaman.

Indra peraba angka kedelai dikupas pada tahap pengupasan sepatutnya miselium fungi dapat menembus biji bin selama proses fermentasi. Pengupasan bisa dilakukan dengan tangan, diinjak-pijak dengan suku, atau dengan alat pengupas alat peraba nilai.

Selepas dikupas, skor bin direndam. Pamrih tahap perendaman merupakan buat hidrasi biji kedelai dan merelakan terjadinya fermentasi senderut laktat secara alami hendaknya diperoleh keasaman nan dibutuhkan bagi pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau cemberut dan buih pada air rendaman akibat pertumbuhan basil
Lactobacillus. Bila pertumbuhan mikroba asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis,[8]
asam perlu ditambahkan sreg air rendaman. Pembusukan cemberut laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan skor vitamin dan menghilangkan bibit penyakit-bakteri beripuh.

Proses pencucian intiha dilakukan lakukan mendinginkan kotoran yang mungkin dibentuk maka dari itu basil asam laktat dan agar biji kedelai enggak sesak senderut. Bakteri dan kotorannya bisa menghambat pertumbuhan fungi.

Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, merupakan ragi tempe atau
laru. Inokulum bisa aktual kapang nan tumbuh dan dikeringkan puas daun waru atau patera jati (disebut
usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, maupun tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kebudayaan
R. oligosporus
kalis (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar Indonesia).[9]
Inokulasi dapat dilakukan dengan dua prinsip, ialah:

  • (1) penebaran inokulum sreg parasan kacang kacang nan telah anyep dan lalu dikeringkan, hasilnya dicampur merata sebelum pembungkusan
  • (2) inokulum boleh dicampurkan langsung bilamana internal proses perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan.

Selepas diinokulasi, poin-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan intern wadah bikin fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau arena dapat digunakan (misalnya patera mauz, patera waru, daun zakiah, plastik, kaca, kayu, dan rabuk), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen bakal tumbuh. Bahan pembungkus dari patera atau plastik biasanya diberi korok-gorong-gorong dengan cara ditusuk-runjam sebelum dijadikan Komoditas.

Ponten-poin bin yang sudah dibungkus dibiarkan cak bagi mengalami proses fermentasi. Lega proses ini kapang bertaruk lega meres dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Pembusukan dapat dilakukan sreg guru 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Perian peragian nan lebih singkat biasanya bagi tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu nan lebih tinggi, temporer proses tradisional menggunakan laru dari patera biasanya membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.

Di Ponorogo, suka-suka tempe nan menjadi ciri khas yaitu tempe Ngrayun. Tempe Ngrayun memiliki ciri khas yaitu bentuknya persegi dan tipis, serta dibungkus dengan daun pisang dan daun jati. Proses dalam membentuk tempe Ngrayun ini yaitu kedelai yang sudah dibersihkan, lalu disiram dengan air mendidih, setelah itu dibiarkan selama 2 tahun. Setelah 2 hari kacang-bin tersebut cuci dan digiling, dulu dibungkus, dan tempe pun sudah jadi dalam 2 hari[10]

Sejarah dan perkembangan

[sunting
|
sunting sumber]

Pangkal usul

[sunting
|
sunting sumber]

Tempe berwarna keputih-putihan akibat hifa kapang nan melekatkan biji-biji kedelai.

Tidak seperti rahim kedelai tradisional enggak yang lazimnya terbit dari Cina atau Jepang, tempe bermula berusul Indonesia.[11]
Makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berkurun-kurun dahulu, dalam tatanan budaya makan mahajana Suku Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Internal gapura 3 dan bab 12 manuskrip
Cendawan Centhini
dengan seting Jawa abad ke-16 (Rabuk Centhini sendiri ditulis plong awal abad ke-19) telah ditemukan kata “tempe”, misalnya dengan pelisanan nama hidangan
jae santen tempe
(sekaum masakan tempe dengan santan) dan
kadhele tempe srundengan. Kejadian ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi berasal kedelai hitam, terbit dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa—mungkin dikembangkan di negeri Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.[12]

Perkenalan awal “tempe” pecah berpangkal bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terletak makanan berwarna jati terbuat dari abu sagu nan disebut
tumpi. Tempe segar yang juga bercat putih terlihat mempunyai kesamaan dengan rezeki
tumpi
tersebut.[13]

Selain itu terdapat rujukan akan halnya tempe berasal tahun 1875 intern sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda.[14]
Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Momentum di Jawa.[15]
Kapan itu, awam Jawa terdesak menggunakan hasil pelataran, seperti singkong, ubi dan kacang, perumpamaan perigi pangan. polong yang difermentasikan menggunakan kapang
Aspergillus.[16]
Seterusnya, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sependapat dengan penyebaran umum Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah air.[12]

Tempe di Indonesia

[sunting
|
sunting sumber]

Indonesia yakni negara pereka cipta tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan n domestik rangka tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti mana tauco, isapan jempol, dan bukan-bukan). Konsumsi tempe rata-rata saban manusia sendirisendiri tahun di Indonesia detik ini diduga sekitar 6,45 kg.[17]

Plong zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para benduan perang nan diberi makan tempe terhindar mulai sejak disentri dan busung lapar.[17]
Beberapa penelitian nan diterbitkan puas tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak narapidana Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe.[18]
Menurut Onghokham, tempe yang berbenda protein telah menyelamatkan kesehatan pemukim Indonesia yang padat dan berpenghasilan nisbi invalid.[15]

Saja, cap ‘tempe’ pernah digunakan di provinsi perkotaan Jawa, terutama Jawa perdua, buat mengacu plong sesuatu yang bermutu rendah. Istilah sebagai halnya ‘mental tempe’ alias ‘kelas tempe’ digunakan lakukan memburukkan dengan arti bahwa hal yang dibicarakan bermutu adv minim karena murah seperti tempe.[19]
Soekarno, Presiden Indonesia purwa, caruk memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, “Jangan menjadi bangsa tempe.”[18]
Baru puas pertengahan 1960-an pandangan adapun tempe ini mulai berubah.

Pada penutup 1960-an dan awal 1970-an terjadi sejumlah pertukaran internal pembuatan tempe di Indonesia.[20]
Plastik (polietilena) mulai menggantikan daun pisang untuk menyampu tempe, ragi berbasis debu (diproduksi mulai 1976 oleh Kerangka Ilmu Pengumuman Indonesia dan banyak digunakan maka itu Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti[12]) berangkat menggantikan laru tradisional, dan polong impor mulai mewakili kedelai lokal. Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun 1980-an, sebagian berkat peran serta Kopti yang menggermang pada 11 Maret 1979 di Jakarta dan plong hari 1983 sudah lalu beranggotakan lebih bersumber 28.000 penggarap tempe dan adv pernah. Produksi tempeh pula mulai memperalat starter komersial nan menggantikan daun Waru umpama inokulan, hal ini menyebabkan menurunnya kualitas tempeh nan tadinya memiliki tekstur putih lebih berbulu dan wangi lebih harum yang comar ditemukan di tempeh asal Malang dan Purwakarta, ini disebabkan karena varian dominan pada tempeh tersebut adalah Rhizopus arrhizus dan Rhizopus delemar. Malang terletak lega dataran tinggi dan tempeh yang menggunakan Rhizopus oligosprus menghasilkan tempeh dengan kepadatan rendah dan bertambah beralkohol, sedangkan Rhizopus arrhizus punya suhu optimum makin cacat dan menjadi kian dominan.[21]

Kriteria teknis untuk tempe sudah lalu ditetapkan kerumahtanggaan Standar Nasional Indonesia dan yang berperan sejak 9 Oktober 2009 ialah SNI 3144:2009. N domestik standar tersebut, tempe bin didefinisikan laksana “dagangan yang diperoleh semenjak pembusukan ponten kedelai dengan menggunakan kapang
Rhizopus
sp., berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas tempe”.[22]

Puas September 2021 produk pangan olahan Indonesia tempe berasal Superfood akan masuk ke pasar Jepang melewati salah satu distributor besar Jepang Kobe Bussan Co.Ltd. Keadaan ini merupakan hasil penandatanganan kontrak repeat order antara PT Arumia Kharisma Indonesia dengan Kobe Bussan Co.Ltd dengan volume hingga 13,8 ton yang akan didistribusikan untuk wilayah Kansai dan Kanto Jepang, yang dilaksanakan sreg Rabu (29/9/2021).[23]
Tempe Indonesia Babat Pasar Jepang

Tempe di luar Indonesia

[sunting
|
sunting mata air]

Tempe dikenal oleh umum Eropa melalui anak adam-hamba allah Belanda.[16]
Pada perian 1895, Prinsen Geerlings (juru kimia dan mikrobiologi berusul Belanda) mengamalkan manuver yang mula-mula kali buat mengidentifikasi kapang tempe.[14]
Firma-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran berpangkal Indonesia.

Melampaui Belanda, tempe telah populer di Eropa sejak perian 1946. Tentatif itu, tempe populer di Amerika Konsorsium sesudah pertama kali dibuat di sana plong waktu 1958 oleh Yap Bwee Hwa, orang Indonesia nan mula-mula kali melakukan penajaman ilmiah tentang tempe.[18]
Di Jepang, tempe diteliti sejak perian 1926 saja mentah menginjak diproduksi secara membahu seputar tahun 1983.[24]
Pada perian 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara tidak, begitu juga Republik Rakyat Tiongkok, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di pematang kurang.[25]
[26]

Kepentingan dan rahim gizi

[sunting
|
sunting sumber]

Tempe
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi 803 kJ (192 kcal)

Karbohidrat

7.64 g

Lemak

10.80 g

Protein

20.29 g

Vitamin Kuantitas


%DV

Tiamina (B1)

7%

0.078 mg

Riboflavin (B2)

30%

0.358 mg

Niasin (B3)

18%

2.640 mg

Vitamin B6

17%

0.215 mg

Folat (B9)

6%

24 μg

Zat makanan B12

3%

0.08 μg

Mineral Total


%DV

Zat kapur

11%

111 mg

Zat besi

21%

2.7 mg

Magnesium

23%

81 mg

Mangan

62%

1.3 mg

Fosfor

38%

266 mg

Kalium

9%

412 mg

Natrium

1%

9 mg

Seng

12%

1.14 mg

Suku cadang lainnya Kuantitas
Air 59.65 g

Pranala ke lema USDA Database (2019)

  • Satuan
  • μg = mikrogram • mg = miligram
  • SI = Satuan internasional
Komisi DV berdasarkan rekomendasi Amerika Konsorsium buat cucu adam dewasa.

Mata air: USDA FoodData Central

Tempe berpotensi bikin digunakan melawan mencolok bebas, sehingga boleh menahan proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, puru ajal, dan lain-tak). Selain itu tempe lagi mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol bakat, penangkis penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.[17]

Tata letak gizi tempe baik kadar protein, enak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan bin. Tetapi, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan fruktosa pada tempe menjadi kian mudah dicerna di kerumahtanggaan tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe terlampau baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (berpunca bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal nan menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat bermula meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, bersut amino bebas, asam mak-nyus bebas, ponten cerna, nilai daya guna protein, serta skor proteinnya.

Bilang pengkajian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan bodi dibandingkan dengan yang terserah intern kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.

Dengan karunia tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan bocor menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan bin menjadi tempe akan menurunkan qada dan qadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung kas dapur).

Loklok gizi tempe nan jenjang memungkinkan penyisipan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan pongkol-umbian. Hidangan makanan sehari-musim yang terdiri mulai sejak nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat dur gizinya bila ditambah tempe.

Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah lalu sepan untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan perut campuran beras-tempe, milu-tempe, gaplek-tempe, dalam perimbangan 7:3, sudah pas baik bikin diberikan kepada anak asuh balita.

Cemberut lemak

[sunting
|
sunting sumber]

Sepanjang proses peragian tempe, terletak tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tak jenuh berbagai rupa (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.

Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penghamburan, sedangkan kenaikan terjadi pada senderut oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terwalak pada kedelai). Asam lemak tak jenuh mempunyai efek penerjunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga bisa menetralkan surat berharga destruktif sterol di privat awak.

Vitamin

[sunting
|
sunting sumber]

Tempe dapat tergarap menjadi beraneka rupa spesies masakan, misalnya tumis tempe dan buncis ini.

Dua kelompok vitamin terwalak lega tempe, yaitu sagu betawi air (gizi B kegandrungan) dan larut enak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe yaitu sumber zat makanan B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara enggak vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), bersut pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).

Gizi B12 lazimnya terwalak lega produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada kandungan nabati (sayuran, biji kemaluan-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya perigi vitamin nan potensial berpunca objek hutan nabati. Vitamin B12 mengalami eskalasi paling bermakna selama proses fermentasi kedelai menjadi tempe; aktivitas vitamin B12 meningkat sampai 33 kali selama pembusukan dari polong, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 boleh jadi, biotin 2-3 mungkin, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, semata-mata maka itu bakteri kontaminan begitu juga
Klebsiella pneumoniae
dan
Citrobacter freundii.

Ketentuan gizi B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram sendirisendiri 100 gram tempe gersang. Jumlah ini mutakadim dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian lain perlu merasa terbang akan kekurangan gizi B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Mineral

[sunting
|
sunting sumber]

Tempe mengandung mineral makro dan mikro privat jumlah nan cukup. Jumlah mineral ferum, tembaga, dan zink berentetan adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.

Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang merintih beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya senderut fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, zat kapur, magnesium, dan zink) menjadi bertambah tersuguh cak bagi dimanfaatkan bodi.

Antioksidan

[sunting
|
sunting perigi]

Di dalam tempe kembali ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya nutrisi C, E, dan karotenoid, isoflavon pun merupakan antioksidan yang lewat dibutuhkan awak untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.

Privat polong terdapat tiga variasi isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terwalak antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) nan n kepunyaan sifat antioksidan minimal awet dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses pembusukan kacang menjadi tempe oleh bakteri
Micrococcus luteus
dan
Coreyne bacterium.

Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumur antioksidan yang baik, konsumsinya internal jumlah cukup secara integral boleh mencegah terjadinya proses penuaan dini.

Penelitian nan dilakukan di Perguruan tinggi North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan susu.

Tempe non-kedelai

[sunting
|
sunting sumber]

Selain tempe berbahan asal kacang kedelai, terdapat pula berbagai jenis makanan berbahan bukan kedelai yang kembali disebut tempe. Terwalak dua golongan segara tempe menurut bahan dasarnya, yaitu tempe berbahan sumber akar legum dan tempe berbahan dasar non-legum.[27]

Tempe lain kedelai nan berbahan asal legum mencangam tempe koro benguk (berpokok ponten kara duka,
Mucuna pruriens
L.D.C.
var. utilis, [catatan:jenama ilmiah kara benguk sama dengan kara wedus] berusul dari sekitar Waduk Kedungombo), tempe gude (mulai sejak kacang gude,
Cajanus cajan), tempe gembus (bermula ampas tahu di Jawa; juga berpunca hajat polong gude lega pembuatan pati, terkenal di Embalau dan Bali bagian timur), tempe polong bau kencur (pecah bin hijau, populer di kawasan Yogyakarta), tempe bin kecipir (dari kecipir,
Psophocarpus tetragonolobus), tempe kara sabel (dari kredit kara pedang
Canavalia ensiformis), tempe lupin (bersumber lupin,
Lupinus angustifolius), tempe polong merah (dari kacang merah,
Phaseolus vulgaris), tempe kacang tunggak (dari kacang pancang,
Vigna unguiculata), tempe kara embek (berpangkal biji kara duka
Lablab purpures), tempe kara (dari kara kratok,
Phaseolus lunatus, banyak ditemukan di Amerika Utara), dan tempe menjes (berasal kacang lahan dan kelapa, terkenal di sekitar Malang).

Tempe berbahan asal non-legum mencengam tempe mungur (pecah biji mungur,
Enterolobium samon), tempe bongkrek (dari bungkil kapuk maupun sempelah kelapa, populer di daerah Banyumas), tempe garbanzo (dari sempuras kacang atau ampas kelapa, banyak ditemukan di Jawa Paruh), tempe angka karet (berpunca biji reja, ditemukan di daerah Sragen, susah digunakan untuk makanan), dan tempe jamur merang (terbit jamur merang).

Karangan

[sunting
|
sunting mata air]

1:

Koji
adalah etiket makanan tersebut di dalam bahasa Jepang.

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “About tempe (Pdf)”
    (PDF).





  2. ^

    Tempe (Klubpompi)

  3. ^


    “Tempe (Pdf)”
    (PDF).





  4. ^


    “Tempe di BSN”
    (PDF).





  5. ^


    Shurtleff, W.; Aoyagi, A. (1986),
    Tempeh production: a craft and technical manual
    (edisi ke-2nd), Lafayette: The Soyfoods Center, ISBN 0933332238




    (lihat di Penelusuran Kiat Google)

  6. ^


    Steinkraus, K. H. (Editor) (1996),
    Handbook of indigenous fermented foods
    (edisi ke-2nd), New York: Marcel Dekker, Inc., ISBN 0824793528




    (tatap di Penelusuran Gerendel Google)

  7. ^

    Hermana & Karmini, M. (1999) The Development of Tempe Technology. Di dalam Agranoff, J (penyunting dan penerjemah),
    The Complete Handbook of Tempe: The Unique Fermented Soyfood of Indonesia, hlm. 80–92. Singapura: The American Soybean Association.

  8. ^

    Steinkraus, K. H. (Pengedit) (1996), hlm. 18 (lihat di Penelusuran Buku Google)

  9. ^

    Steinkraus, K. H. (Penyunting) (1996), hlm. 26 (tatap di Penelusuran Anak kunci Google)

  10. ^


    Amoi, Nabila Eka Ananda (30 DECEMBER 2019). “Tempe Khas Ponorogo Itu Ya Tempe Ngrayun”.
    IKOMEDIA.





  11. ^


    Huang, H. T. (2000).
    Science and Civilisation in China, Debit VI:5. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. hlm. 342. ISBN 0521652707.




    (lihat di Penelusuran Buku Google)
  12. ^


    a




    b




    c



    Astuti, M. (1999) History of the Development of Tempe. Di dalam Agranoff, J., hlm. 2–13.

  13. ^


    Syarief, R. (1999).
    Wacana Tempe Indonesia. Surabaya: Universitas Katolik Widya Mandala. hlm. hlm. 2. ISBN 979-8142-16-0.




  14. ^


    a




    b




    Shurtleff, W.; Aoyagi, A. (2001),
    The Book of Tempeh
    (edisi ke-2nd), Berkeley: Ten Speed Press, hlm. hlm. 146, ISBN 1580083358




    (lihat di Penelusuran Buku Google)
  15. ^


    a




    b




    Onghokham, “Tempe: Sumbangan Jawa untuk Dunia”,
    Kompas, Archived from the original on 2001-02-15




  16. ^


    a




    b




    TopCultures. “Tempeh History”. Diakses terlepas
    19 November
    2009
    .




  17. ^


    a




    b




    c




    Astawan, M. (3 Juli 2003), “Tempe: Cegah Penuaan & Kanker Payudara..!”,
    Kompas, Archived from the original on 2005-03-09




  18. ^


    a




    b




    c



    Shurtleff, W. & A. Aoyagi (2001), hlm. 147 (lihat di Penelusuran Kiat Google)

  19. ^

    Kodiran (1999) Socio-Cultural Aspects of Tempe in Indonesia. Di n domestik Agranoff, J., hlm. 16–19.

  20. ^

    Shurtleff, W. & A. Aoyagi (2001), hlm. 148 (lihat di Penelusuran Buku Google)

  21. ^


    Sjamsuridzal, Wellyzar; Khasanah, Mangunatun; Febriani, Rela; Vebliza, Yura; Oetari, Ariyanti; Santoso, Iman; Gandjar, Indrawati (2021-12-14). “The effect of the use of commercial tempeh starter on the diversity of Rhizopus tempeh in Indonesia”.
    Scientific Reports.
    11
    (1): 1–10. doi:10.1038/s41598-021-03308-6. ISSN 2045-2322. Diakses tanggal
    2021-12-14
    .





  22. ^


    “SNI 3144:2009. Tempe kedelai”. Fisik Standardisasi Kebangsaan. 2009-10-09. Diarsipkan dari versi zakiah tanggal 2015-05-09. Diakses tanggal
    2009-12-02
    .





  23. ^


    “Tempe Indonesia Tebas Pasar Jepang”.
    kemlu.go.id
    . Diakses terlepas
    5 Januari
    2022
    .





  24. ^

    Shurtleff, W. & A. Aoyagi (2001), hlm. 153 (lihat di Penelusuran Kancing Google)

  25. ^

    Karyadi, D. (1999) The Development of Tempe Across Five Continents. Di dalam Agranoff, J., hlm. 21–25.

  26. ^


    “Tempe, Lambung Tradisional yang Berawal dari Zaman Tanam Paksa”.
    bobo.grid.id.





  27. ^

    Syarief, R.; dkk. (1999) hlm. 4-7.

Lihat pula

[sunting
|
sunting mata air]

  • Tempe Mendoan
  • Oncom
  • Tempe gembus



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Tempe

Posted by: holymayhem.com