Proses Menghasilkan Tanaman Transgenik Dilakukan Dengan Cara

Ini adalah versi suara dari artikel ini

Berpangkal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pokok kayu transgenik
adalah pokok kayu nan telah disisipi maupun punya gen luar dari spesies tanaman yang berbeda atau turunan hidup lainnya.[1]
[2]
Pemberkasan gen asing ini bertujuan lakukan mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat nan diinginkan,[1]
misalnya pembuatan tanaman yang tahan suhu tinggi, temperatur cacat, kehabisan, resisten terhadap organisme pengganggu tanaman, serta besaran dan kualitas nan makin tinggi pecah pokok kayu alami.[1]
Sebagian besar rekayasa ataupun modifikasi adat pohon dilakukan untuk memintasi kebutuhan pangan penduduk dunia yang semakin meningkat dan juga permasalahan kekurangan gizi manusia[3]
sehingga pembuatan tanaman transgenik pun menjadi adegan dari pemuliaan tanaman. Hadirnya tanaman transgenik menimbulkan kontroversi umum dunia karena sebagian masyarakat khawatir apabila pokok kayu tersebut akan mengganggu keseimbangan lingkungan (ekologi), membahayakan kesehatan anak adam, dan memengaruhi perekonomian mendunia.[4]
[5]

Album

Daun kacang non-transgenik (atas) dan transgenik yang resistan serangan hama (radiks).

Seleksi genetik bakal deifikasi tanaman (reformasi kualitas/sifat tanaman) telah dilakukan sejak waktu 8000 SM detik praktik perkebunan dimulai di Mesopotamia.[6]
Secara stereotip, pengagungan pokok kayu dilakukan dengan memanfaatkan proses seleksi dan persilangan tanaman.[7]
Kedua proses tersebut gado waktu nan cukup lama dan hasil nan didapat tidak menentu karena bergantung pecah mutasi alamiah secara sewenangwenang.[7]
Contoh hasil pengultusan tanaman jamak adalah durian montong yang mempunyai perbedaan sifat dengan tetuanya, yaitu durian liar.[3]
Keadaan ini dikarenakan anak adam telah menyengkelangkan atau membaurkan durian liar dengan varietas tak buat mendapatkan durian dengan aturan menjuarai sebagaimana durian montong.[3]

Sejarah penciptaan tanaman transgenik dimulai lega periode 1977 ketika bakteri
Agrobacterium tumefaciens
diketahui dapat mentransfer DNA atau gen yang dimilikinya ke dalam pokok kayu.[6]
Pada tahun 1983, tanaman transgenik pertama, adalah rente mentari nan disisipi gen berpunca buncis (Phaseolus vulgaris) telah berhasil dikembangkan maka itu manusia.[6]
[8]
Sejak detik itu, pengembangan tanaman transgenik untuk kebutuhan komersial dan peningkatan tanaman terus dilakukan manusia.[9]
Pokok kayu transgenik pertama yang berhasil diproduksi dan dipasarkan ialah milu dan kedelai.[9]
Keduanya diluncurkan pertama kali di Amerika Serikat pada masa 1996.[9]
Pada tahun 2004, lebih dari 80 juta hektare tanah pertanian di bumi sudah ditanami dengan tanaman transgenik dan 56% kedelai di marcapada merupakan bin transgenik.[7]

Pembuatan tanaman transgenik

Bagi membentuk suatu pohon transgenik, pertama-tama dilakukan identifikasi maupun pengejaran gen nan akan menghasilkan resan tertentu (kebiasaan nan diinginkan).[2]
Gen yang diinginkan bisa diambil dari pohon tidak, hewan, rabuk, maupun bakteri.[10]
Sesudah gen yang diinginkan didapat maka dilakukan perbanyakan gen yang disebut dengan istilah kloning gen.[11]
Pada pangkat kloning gen, DNA asing akan dimasukkan ke dalam vektor kloning (agen pembawa DNA), contohnya plasmid (DNA yang digunakan untuk transfer gen).[12]
Kemudian, vektor kloning akan dimasukkan ke kerumahtanggaan basil sehingga DNA bisa diperbanyak seiring dengan perkembangbiakan patogen tersebut.[12]
Apabila gen yang diinginkan telah diperbanyak internal total yang memadai maka akan dilakukan transfer gen asing tersebut ke dalam kerangkeng tumbuhan yang bersumber dari bagian tertentu, riuk satunya ialah bagian daun.[11]
Transfer gen ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode senjata gen, metode metamorfosis DNA nan diperantarai bakteri
Agrobacterium tumefaciens, dan elektroporasi (metode transfer DNA dengan uluran tangan listrik).[11]
[13]

  • Metode senjata gen
    atau
    penembakan mikro-proyektil.[11]
    Metode ini sayang digunakan sreg spesies milu dan pari.[11]
    Untuk melakukannya, digunakan senjata yang dapat menembakkan mikro-proyektil berkecepatan tingkatan ke dalam sel pohon.[11]
    Mikro-proyektil tersebut akan mengantarkan DNA untuk masuk ke kerumahtanggaan sel tanaman.[11]
    Pengusahaan senjata gen memberikan hasil nan bersih dan tenang dan tenteram, biarpun suka-suka kemungkinan terjadi fasad sel selama penembakan berlangsung.[11]
  • Metode transformasi nan diperantarai oleh
    Agrobacterium tumefaciens
    .[14]
    Mikroba
    Agrobacterium tumefaciens
    dapat menginfeksi tanaman secara alami karena n kepunyaan plasmid Ti, satu vektor (pembawa DNA) buat menyelipkan gen asing.[14]
    Di dalam plasmid Ti terwalak gen yang menyandikan sifat virulensi bagi menyebabkan penyakit tanaman tertentu.[14]
    Gen asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman boleh disisipkan di internal plasmid Ti.[14]
    Selanjutnya,
    A. tumefaciens
    secara langsung dapat memindahkan gen sreg plasmid tersebut ke n domestik genom (DNA) tanaman.[14]
    Setelah DNA luar menyatu dengan DNA tanaman maka sifat-sifat yang diinginkan dapat diekspresikan tumbuhan.[14]
  • Metode elektroporasi.[13]
    Pada metode elektroporasi ini, sel tanaman nan akan menyepakati gen asing harus mengalami pelepasan dinding rumah tahanan hingga menjadi protoplas (sel nan kekeringan dinding lokap).[13]
    Lebih jauh sel diberi kejutan elektrik dengan voltase tinggi kerjakan membuka pori-pori membran sel tanaman sehingga DNA asing bisa ikut ke dalam bui dan berganduh (teratur) dengan DNA kromosom tanaman.[13]
    Kemudian, dilakukan proses pengembalian dinding interniran tumbuhan.[13]

Pasca- proses transfer DNA selesai, dilakukan pemilahan sel daun bagi mendapatkan rumah pasung yang berdampak disisipi gen luar.[9]
Hasil penyortiran ditumbuhkan menjadi kalus (sekumpulan sel yang belum terdiferensiasi) sebatas nantinya terdidik akar dan tunas.[9]
Apabila telah terbentuk tanaman muda (plantlet), maka dapat dilakukan pemindahan ke persil dan kebiasaan yunior tanaman dapat diamati.[9]

Abstrak-abstrak

Beberapa arketipe tanaman transgenik yang dikembangkan di dunia tertera pada tabel di radiks ini.

Diversifikasi pokok kayu Sifat yang sudah dimodifikasi Modifikasi Foto
Gabah Mengandung provitamin A (beta-karotena) privat total tinggi.[15] Gen dari tumbuhan narsis, jagung, dan basil
Erwinia
disisipkan plong kromosom pari.[15]

Brun kvit ris.jpg

Jagung, kapas, ubi benggala Tahan (resisten) terhadap wereng.[16] Gen toksin Bt dari bakteri
Bacillus thuringiensis
ditransfer ke intern tanaman.[15]
[16]

CottonPlant.JPG

Tembakau Tahan terhadap cuaca dingin.[15] Gen untuk mengatur pertahanan pada cerah hambar dari tanaman
Arabidopsis thaliana
alias bermula sianobakteri (Anacyctis nidulans) dimasukkan ke tembakau.[15]

Patch of Tobacco (Nicotiana tabacum ) in a field in Intercourse, Pennsylvania..jpg

Tomat Proses pelunakan tomat diperlambat sehingga tomat bisa disimpan lebih lama dan tidak cepat rusak.[17] Gen khusus yang disebut
antisenescens
ditransfer ke dalam tomat untuk membancang enzim poligalakturonase (enzim yang mempercepat fasad dinding sel tomat).[16]
Selain menggunakan gen dari patogen
E. coli, tomat transgenik juga dibuat dengan memodifikasi gen nan mutakadim dimiliknya secara alami.[17]

ARS Ohio processing tomato.jpg

Kedelai Mengandung asam oleat tinggi dan resistan terhadap herbisida glifosat.[15]
[18]
Dengan demikian, ketika disemprot dengan herbisida tersebut, hanya gulma di seputar kacang yang akan mati.
Gen resisten herbisida berbunga bakteri
Agrobacterium
silsilah CP4 dimasukkan ke kedelai dan juga digunakan teknologi molekular bakal meningkatkan pembentukan asam oleat.[15]
[18]

Soybean.USDA.jpg

Ketela pohon jalar Tahan terhadap penyakit tumbuhan nan disebabkan virus.[19] Gen dari selubung virus tertentu ditransfer ke dalam ubi jalar dan dibantu dengan teknologi peredaman gen.[19]

5aday sweet potato.jpg

Kanola Menghasilkan minyak kanola yang mengandung asam laurat tinggi sehingga lebih menguntungkan untuk kebugaran dan secara ekonomi.[20]
Selain itu, kanola transgenik yang disisipi gen penyandi vitamin E juga telah ditemukan.[16]
Gen
FatB
dari
Umbellularia californica
ditransfer ke dalam pokok kayu kanola cak bagi meningkatkan kandungan asam laurat.[20]

Brassica napus flower.jpg

Pepaya Resisten terhadap virus tertentu, contohnya
Papaya ringspot virus
(PRSV).[21]
Gen yang menyandikan kelumun virus PRSV ditransfer ke dalam tanaman keliki.[21]

Papaya sunset.jpg

Melon Biji pelir bukan cepat kemungkus.[22] Gen plonco pecah bakteriofag T3 diambil kerjakan mengurangi pembentukan hormon etilen (hormon yang berperan intern pematangan buah) di melon.[22]

Melon cantaloupe.jpg

Bit gula Resistan terhadap herbisida glifosat dan glufosinat.[23] Gen dari bakteri
Agrobacterium
alur CP4 dan serat
Streptomyces viridochromogenes
ditransfer ke dalam pokok kayu bit gula.[23]

SugarBeet.jpg

Prem (plum) Resisten terhadap infeksi virus gesit prem (plum pox virus).[24] Gen selubung virus lincah prem ditransfer ke tumbuhan prem.[24]

C5 plum pox resistant plum.jpg

Gandum Resisten terhadap ki aib taun nan disebabkan cendawan
Fusarium.[25]
Gen penyandi enzim kitinase (pemecah dinding terungku rabuk) dari jelai (barley) ditransfer ke tanaman gandum.[25]

Standing wheat in Kansas.jpg

Permintaan tanaman transgenik

Permohonan yang telah dikembangkan

Beberapa tanaman transgenik telah diaplikasikan bikin menghasilkan tiga macam rasam memenangi, yaitu tahan hama, tahan herbisida, dan buah yang dihasilkan tidak mudah busuk.[26]
[27]
Tumbuhan jagung dan kapas transgenik dengan kebiasaan tahan hama mutakadim diproduksi secara massal dan dipasarkan di dunia.[27]
Gen luar yang banyak digunakan kerjakan adat resistensi hama ini ialah gen penyandi toksin Bt berasal patogen
Bacillus thuringiensis.[26]
Sejak tahun 1996, Monsanto, salah suatu firma multinasional di bidang bioteknologi, telah lego mani kapas transgenik dengan keunggulan membahu “Bollgard”.[28]
Selain itu, pohon kedelai dan kanola resistan herbisida juga telah dijual ke berbagai negara, termaktub Indonesia, dengan merek “Roundup Ready”.[29]

Tanaman tomat transgenik dengan sifat pematangan biji kemaluan diperlambat pernah diproduksi oleh Calgene sreg tahun 1994 dan dipasarkan di Amerika Konsorsium dengan etiket “Flavr Savr”.[30]
Rata-rata, tanaman tomat alami dipanen dalam keadaan masih hijau dan belum masak kemudian disemprot dengan gas etilen bagi membuat buah matang dan berwarna merah.[30]
Doang, rasa tomat yang dihasilkan umumnya cacat terasa.[30]
Tujuan pembuatan tomat transgenik tersebut yakni untuk memperpanjang masa simpan dan menghindari fermentasi buah selama transportasi dari kapling penanaman ke ajang penjualan.[31]
Sahaja, penjualan Flavr Savr ditarik dalam tahun tekor dari setahun karena alasan kesehatan dan penjualannya mengalami kesialan.[30]
Produk tersebut tidak banyak terjual karena harganya dua kali lipat dari tomat biasa namun rasa yang dihasilkan sama.[30]

Tuntutan yang sedang dikembangkan

N domestik tahap pendalaman, tanaman transgenik semenjana diaplikasikan cak bagi menghasilkan campuran nan berharga cak bagi kesehatan manusia, seperti vitamin A dan vaksin.[26]
Untuk produksi vaksin yang dapat dimakan (edible vaccine), contoh tanaman nan sedang dikembangkan ialah pisang, ubi benggala, dan tomat.[32]
Salah satu tanaman transgenik yang sudah lalu diteliti sejak tahun 1980 untuk mengurangi kuantitas penderita defisiensi (kekurangan) gizi A adalah padi emas.[33]
Aplikasi lain yang sedang dikembangkan merupakan penggunaan tanaman bakal membersihkan polusi kapling semenjak sintesis berbisa (sama dengan arsen) dan metal berat (contohnya merkuri).[34]
Gen asing mulai sejak bakteri ditransfer ke dalam tembakau dan
Arabidopsis
sehingga kedua tanaman tersebut boleh menyentak merkuri dalam persil dan mengubahnya menjadi sintesis nan mudah menguap serta tidak berbahaya.[34]

Tanaman
Arabidopsis
juga dikembangkan kerjakan memproduksi poli(3-hidroksibutirat) ataupun PHB, suatu bahan pembentuk plastik nan mudah diurai (biodegradable).[35]
Sebagian osean plastik yang terserah dibuat dari sumber taktik yang tidak dapat diperbaharui, keseleo satunya adalah patra bumi.[26]
Lakukan mengurangi pendayagunaan sumur rahasia tersebut, digunakan PHB yang dihasilkan oleh kuman, seperti mana
Alcaligenes eutrophus.[35]
Empat pena pembentuk PHB dari mikroba tersebut telah ditransfer ke
Arabidopsis
sehingga tanaman tersebut bisa menghasilkan PHB.[26]
Penelitian mengenai PHB dari tanaman masih kerumahtanggaan tahap pengembangan sebelum diproduksi massal.[35]

Kontroversi

Perkembangan tumbuhan transgenik dapat diterima dengan baik oleh Amerika Serikat, Argentina, Cina, dan Kanada.[36]
Namun, banyak negara Eropa yang menyorong tanaman transgenik karena keresahan terhadap potensi gangguan kesehatan pengguna dan kerusakan lingkungan.[36]

Dominasi plong kesehatan khalayak

Sikap kontra terhadap produk pokok kayu transgenik umumnya berasal dari organisasi non-pemerintah/LSM, seperti Greenpeace dan Friends of the Earth Internasional.[37]
Berpunca segi kesehatan, tumbuhan ini dianggap dapat menjadi alergen (paduan yang menimbulkan alergi) mentah bakal manusia.[5]
Bakal menanggapi hal tersebut, para peneliti menyatakan bahwa sebelum suatu tanaman transgenik diproduksi secara massal, akan melakukan berbagai pengujian potensi alergi dan toksisitas untuk menjamin kiranya dagangan tanaman tersebut tenang dan tenteram untuk dikonsumsi.[4]
Apabila berpotensi menyebabkan alergi, maka tanaman transgenik tersebut tidak akan dikembangkan lebih jauh.[38]
Kekhawatiran lain nan ketimbul di publik yaitu kebolehjadian gen asing sreg tanaman transgenik dapat berpindah ke tubuh turunan apabila dikonsumsi.[38]
Pendapat tersebut dinilai berlebihan oleh para jauhari karena makanan yang berasal bersumber tanaman transgenik akan tercerai menjadi molekul-unsur yang bisa diserap tubuh sehingga tak akan terserah gen aktif.[38]
Untuk mengasihkan kebebasan kepada publik dalam melembarkan barang transgenik atau barang alami, berbagai negara, khususnya negara-negara Eropa, mutakadim melakukan pemberian label terhadap produk transgenik.[39]
[40]
Pelabelan tersebut pun bertujuan bagi menerimakan pengumuman kepada konsumen sebelum mengonsumsi hasil tanaman transgenik.[39]
Dan bisa menimbulkan tumor, hasil ini sudah lalu di verifikasi makanya seorang jauhari terhadap tikus nan diberi makan milu transgenik sejauh sejumlah waktu mengalami tumor di ginjal dan hatinya.[41]
Tetapi investigasi nan dilakukan Gilles-Éric Séralini ini punya kontroversi.[42]


Otoritas sreg lingkungan (ekologis)

Peta penerimaan komoditas transgenik di manjapada.

Penolakan terhadap budidaya tanaman transgenik muncul karena dianggap berpotensi mengganggu keadilan ekosistem. Salah satunya yaitu terbentuknya hama atau gulma super (nan makin kuat alias resisten) di lingkungan.[5]
Kekhawatiran ini tertentang jelas pada perdebatan akan halnya jagung Bt nan memiliki racun Bt cak bagi membunuh wereng lepidoptera positif gagat dan kupu-kupu tertentu.[43]
Ada kemungkinan hama nan ingin dibunuh boleh beradaptasi dengan tanaman tersebut dan menjadi hama yang lebih tahan atau resisten terhadap racun Bt.[5]
Selain itu, rama-rama Monarch, yang bukan merupakan hama jagung, ikut dijangkiti dampak berupa eskalasi kematian akibat memakan patera tumbuhan perdu (Asclepias) yang terkena duli pati dari jagung Bt.[4]
Penelitian mengenai kupu-kupu Monarch tersebut bisa disanggah maka itu eksplorasi lainnya yang menyatakan bahwa kupu-kupu tersebut antap karena habitatnya dirusak dan hal ini tidak berhubungan kadang kala dengan milu Bt.[3]
Di sisi enggak, penggunaan tumbuhan transgenik begitu juga jagung Bt sudah menurunkan penggunaan pestisida secara signifikan sehingga mengurangi pencemaran kimia ke lingkungan.[4]
Selain itu, pembajak juga merasakan dampak gemi dengan pencermatan biaya pembelian pestisida.[4]

Kontroversi lain nan berkaitan dengan isu ekologi adalah timbulnya pengungsian gen secara tidak terkendali berpunca tanaman transgenik ke tanaman lain di pan-ji-panji melalui pembenihan (polinasi).[38]
Serbuk bunga pecah tanaman transgenik dapat terbawa angin dan hewan hingga menyerbuki tumbuhan lain.[38]
Akibatnya, dapat terbentuk tumbuhan baru dengan sifat yang enggak diharapkan dan berpotensi mudarat mileu.[38]
Umpama tindakan pencegahan, sejumlah tumbuhan nan disisipi gen bagi mempercepat pertumbuhan dan reproduksi pohon, seperti: alfalfa (Medicago sativa), kanola, anak uang mentari, dan padi, disarankan untuk dibudidayakan pada daerah tertutup (terisolasi) atau dibatasi dengan daerah perintang.[4]
[5]
Hal itu dilakukan untuk menekan perpindahan serbuk sari ke tanaman lain, terlebih gulma.[4]
Apabila gulma memiliki gen tersebut maka pertumbuhannya akan semakin tidak terselesaikan dan dengan cepat dapat merusak berbagai kawasan pertanian di sekitarnya.[4]
Hingga sekarang belum terwalak petunjuk bahwa transfer horizontal ini telah menyebabkan munculnya “gulma super”, biarpun telah diketahui terjadi transfer mengufuk.

Kontrol etika dan agama

Demo menentang milu transgenik di Prancis pada masa 2004.

Dari segi etika, pihak yang kontra dengan tanaman transgenik menganggap bahwa persekongkolan ataupun manipulasi genetik tanaman yaitu tindakan yang tidak menghormati reka cipta Yang mahakuasa.[44]
Pergantian sifat tanaman dengan penambahan gen luar juga dianggap seumpama tindakan “bermain seumpama Halikuljabbar” karena mengubah makhluk yang telah diciptakan-Nya.[45]
Pemikiran teologis Katolik memandang bahwa penggelapan maupun rekayasa genetik ialah satu probabilitas nan disediakan oleh Tuhan karena tumbuhan diberikan kepada makhluk cak bagi dipelihara dan dimanfaatkan.[44]
Dalam sudut pandang agama tersebut, modifikasi genetika tanaman lain berlawanan dengan wangsit Gereja Katolik, namun kekekalan alam juga harus diperhatikan karena merupakan tanggung jawab makhluk.[46]
Internal menanggapi isu tentang tanaman transgenik, Dewan Yuriprudensi Selam dan Tubuh Sertifikasi Makanan Selam di Amerika (IFANCA) menyatakan bahwa makanan semenjak tanaman transgenik yang ada telah dikembangkan bersifat protokoler dan dapat dikonsumsi oleh umat Islam.[47]
Kerjakan tanaman yang disisipi gen semenjak fauna bawah tangan, komoditas tanaman transgenik tersebut akan disebut
Masbuh, yang berarti masih diragukan (belum diketahui) gengsi halal atau haramnya.[47]
Sertifikasi makanan yang telah dikeluarkan oleh IFANCA juga diakui dan diterima oleh Majelis Cerdik pandai Indonesia (MUI), Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS), Liga Muslim Dunia, Arab Saudi, dan pemerintah Malaysia.[47]

Pihak yang mendukung pohon transgenik menganggap bahwa transfer gen bersumber satu cucu adam nasib ke bani adam lainnya merupakan hal nan alamiah dan biasa terjadi di pan-ji-panji sejak permulaan kali berlangsungnya kehidupan.[3]
Mereka juga berargumen bahwa persimpangan bermacam rupa macam padi nan dilakukan bagi mendapatkan padi dengan adat unggul telah dilakukan para orang tani sejak adv amat.[3]
Perkawinan berbagai diversifikasi padi tanpa disadari telah mencampur gen-gen yang ada di tanaman tersebut.[3]
Para intelektual sahaja mendahulukan proses transfer gen tersebut secara sengaja dan sistematis.[3]

Pengaruh terhadap ekonomi global

Riset dan pengembangan tanaman transgenik membutuhkan biaya yang ki akbar dan biasanya dilakukan oleh firma-perusahaan swasta maupun pemerintah di negara maju.[5]
Untuk mengembalikan biaya investasi perusahaan dan melindungi dagangan hasil investasinya, tanaman transgenik yang sudah lalu diproduksi akan dipatenkan.[48]
Di dalam riuk satu laporan kerja Komisi Eropa, disebutkan bahwa pemberlakuan paten pada dagangan transgenik bisa mengakibatkan petani kehabisan kemampuan memproduksi benih secara mandiri dan harus membeli lega kreator pecah negara berbudaya.[49]
Ketergantungan para orang tani terhadap pereka cipta juga semakin meningkat dengan ditemukannya teknologi “gen bunuh diri”.[5]
Sebagian tanaman transgenik disisipi “gen berantas diri” nan menyebabkan pokok kayu hanya bisa ditanam suatu kali dan nilai keturunan selanjutnya bersifat mandul (tidak dapat berkembang biak).[48]
Hal ini akan menyebabkan terjadinya peredaran modal berpunca negara berkembang ke negara modern untuk pembelian bibit transgenik sekejap-sekejap akan melakukan penanaman.[5]
Para petani di negara-negara dunia ketiga khawatir bila harga benih akan menjadi mahal karena pemberlakuan paten dan mekanisme “gen bunuh diri” nan dilakukan makanya produsen benih.[48]
Kalau pembajak tersebut lain mampu membeli benih transgenik maka kepincangan ekonomi antara negara produsen tanaman transgenik dan negara berkembang ibarat pemakai akan semakin melebar.[5]
Salah satu kampanye mencegah terjadinya kesenjangan tersebut pernah dilakukan makanya Yayasan Rockefeller.[48]
Yayasan yang berpusat di Amerika Kawan tersebut sudah cak memindahtangankan mani transgenik dengan harga yang lebih murah kepada negara-negara miskin.[48]

Di sejumlah negara bagian Brasil, pelarangan tanaman transgenik sudah lalu mengakibatkan terjadinya penyusupan benih transgenik oleh para peladang di negara tersebut.[48]
[50]
Mereka takut akan menderita kemalangan ekonomi apabila enggak mampu bersaing di pasar global dengan negara pengekspor serealia lainnya.[48]

Tanaman transgenik di Indonesia

Pertanian di Indonesia belum menghasilkan tanaman transgenik koteng.

Sreg masa 1999, Indonesia pertalian melakukan uji coba penghijauan kapas transgenik di Sulawesi Selatan.[51]
Uji coba itu dilakukan oleh PT Monagro Ilmu pisah dengan memanfaatkan benih kapas transgenik Bt dari Monsanto.[51]
Hal itu mendatangkan banyak demonstrasi dari berbagai LSM sehingga plong bulan September 2000, areal kebun kapas transgenik seluas 10.000 ha gagal dibuka.[51]
Pada tahun yang sama, manuver penelaahan kapas transgenik diluncurkan dengan menyertakan orang tani kapas dan ahli dalam dan luar negeri.[51]
Kasus tersebut berlangsung dengan pelik hingga pada Desember 2003, pemerintah Indonesia menghentikan komersialisasi kapas transgenik.[51]
Suatu pengkhususan kelayakan moneter terhadap kapas transgenik sempat dilakukan pada musim 2001 di tiga kabupaten di Sulawesi Daksina, ialah Bulukumba, Bantaeng, dan Gowa.[52]
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa budidaya kapas transgenik kian menguntungkan secara finansial dibandingkan kapas nontransgenik.[52]

Lega waktu 2007, Badan Penelitian dan Peluasan Perkebunan (Badan Litbang) telah menargetkan Indonesia untuk n kepunyaan pari dan jagung transgenik pada tahun 2010 sehingga lain perlu sekali lagi melakukan impor beras dan milu.[53]
Menurut Dr. Ir. Sutrisno, Pejabat Aula Besar Riset Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Persawahan (BB-Biogen), Indonesia telah melakukan pendalaman di bidang rekayasa genetika tanaman yang seimbang bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.[53]
Saja, n domestik hal komersialisasi komoditas transgenik tersebut, Indonesia dinilai agak tercecer.[53]
Melampaui BB-Biogen, berbagai penyelidikan tanaman transgenik nan meliputi antah, kedelai, betik, kentang, ubi kayu jalar, dan tomat, masih terus dilakukan maka itu Indonesia.[53]
[54]
Pada perian 2010, sebanyak 50% dari kacang impor yang digunakan di Indonesia yakni barang transgenik yang di antaranya didatangkan dari Amerika Sindikat.[55]
[56]
Peristiwa ini menyebabkan sebagian besar komoditas olahan polong, seperi tahu, tempe, dan susu bin telah terbuat dari pokok kayu transgenik.[56]

Untuk mengatur keamanan rimba dan hayati produk kolusi genetika sebagai halnya tanaman transgenik, Nayaka Perladangan, Menteri Kehutanan dan Pertanaman, Nayaka Kesegaran, dan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura telah melepaskan keputusan bersama pada perian 1999.[16]
Keputusan tentang “Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Komoditas Pertanian Hasil Rekayasa Genetika Tumbuhan” No.998.I/Kpts/OT.210/9/99; 790.a/Kptrs-IX/1999; 1145A/MENKES/SKB/IX/199; 015A/Nmeneg PHOR/09/1999 tersebut menata dan mengawasi keamanan hayati dan wana. Di dalamnya juga diatur pemanfaatan produk tumbuhan transgenik sebaiknya tidak merugikan, mengganggu, dan membahayakan kesehatan manusia, pluralitas hayati, dan lingkungan.[16]

Deteksi tanaman transgenik

Strip cak bagi mendeteksi milu transgenik.

Mesin untuk reaksi kronologis polimerase (PCR).

Untuk mendeteksi dan membedakan tanaman transgenik dengan pokok kayu saintifik lainnya, telah dikembangkan sejumlah teknik dan gawai uji.[57]
Salah satu uji kualitatif yang cepat dan tertinggal yaitu strip diseminasi-lateral (semacam tongkat ukur).[58]
Benih pokok kayu yang akan diuji dihancurkan apalagi dahulu kemudian strip tersebut dicelupkan ke dalamnya.[57]
Apabila internal tahun 5-10 menit muncul dua garis lega strip maka spesimen tersebut positif yaitu tanaman transgenik, sedangkan bila sahaja satu pita yang didapat maka hasil yang diperoleh adalah destruktif.[57]
[58]
Teknik ini berdasarkan pada deteksi keberadaan protein ataupun antibodi spesifik dari pohon transgenik.[57]

Uji tidak yang dapat digunakan kerjakan mendeteksi tanaman transgenik yakni reaksi kronologis polimerase (PCR) dan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay).[57]
Uji PCR ialah salah suatu metode diagnostik molekular yang mendeteksi DNA atau gen pada tanaman transgenik secara langsung.[57]
Sementara itu, ELISA dan strip sirkuit-lateral yakni metode imunodiagnostik (metode diagnostik menggunakan kaidah reaksi antigen-antibodi) yang mendeteksi protein hasil ekspresi gen pada tanaman transgenik.[57]

Wacana

  1. ^


    a




    b




    c




    (Inggris)
    Department of Soil and Crop Sciences at Colorado State University (11 Maret 2004). “What Are Transgenic Plants?”. Diarsipkan berpangkal versi nirmala tanggal 2009-09-29. Diakses rontok
    23 Mei
    2010
    .




  2. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Jay D. Gralla, Preston Gralla (2004).
    Complete imbesil’s guide to understanding cloning. Alpha. ISBN 978-1-59257-148-2.



    Page.274-276
  3. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    Antonius Suwanto. “Tanaman Transgenik: Bagaimana Kita Menyikapinya ?”. BB-Biogen Bogor. Diakses copot
    8 Juni
    2010
    .





    [
    pranala purnajabatan permanen
    ]


  4. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    (Inggris)
    C. Neal Stewart, Jr, Harold A. Richards, Matthew D. Halfhill (2005). “Transgenic Plants and Biosafety: Science, Misconceptions and Public Perceptions”.



  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    Richardus Widodo (23 April 2008). “Kontroversi Jenggala Perkomplotan Genetik”. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Diakses tanggal
    17 Mei
    2010
    .




  6. ^


    a




    b




    c




    (Inggris)
    M.K. Sateesh (2008).
    Bioethics and Biosafety. I K International Pvt Ltd. ISBN 978-81-906757-0-3.



    Page.456
  7. ^


    a




    b




    c




    (Inggris)
    Alexander Falak. Glazer, Hiroshi Nikaidō (2007).
    Microbial biotechnology: fundamentals of applied microbiology. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84210-5.



    Page.210-211

  8. ^


    (Inggris)
    Elisa Ferrante, David Simpson (2001). “A Review of the Progression of Transgenic Plants Used to Produce Plantibodies For Human Usage”.
    Biological & Biomedical Sciences.
    4. Diarsipkan berbunga versi asli tanggal 2010-05-28. Diakses tanggal
    3 Juni
    2010
    .




  9. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    (Inggris)
    Kathleen Laura Hefferon (2009).
    Biopharmaceuticals in Plants: Toward the Next Century of Medicine. CRC Press. ISBN 978-1-4398-0474-2.



    Page.1

  10. ^


    (Inggris)
    Michael R. Cummings (2008).
    Human heredity: principles & issues. Brooks Cole. ISBN 978-0-495-55445-5.



    Page.333-336
  11. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    (Inggris)
    Jamie Pighin (Agustus 2003). “Transgenic Crops: How Genetics Is Providing New Ways To Envision Agriculture”. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .




  12. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Rajiv Tyagi, P.R. Yadav (2008).
    Biotechnology of Plant Tissue. Educa Books. ISBN 978-81-8356-073-3.



    Page.202-204
  13. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Inggris)
    Jeff Schahczenski, Katherine Maskulin (2006). “Transgenic Crops”
    (PDF). ATTRA. Diarsipkan dari versi ceria
    (PDF)
    tanggal 2011-04-10. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .




  14. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    (Inggris)
    Madigan MT, Martinko JM (2006).
    Brock: Biology of Microorganism. Pearson Education International. ISBN 0-13-196893-9.



    Page.989-990
  15. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    (Inggris)
    Gupta P K (2004).
    Biotechnology And Genomics. Rastogi Publications. ISBN 81-7133-667-0.



    Page.468-480
  16. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    FG Winarno, Agustinah W (2007).
    Pengantar Bioteknologi. MBRIO Press. ISBN 979-3098-58-9.



    Kejadian.131-139;182
  17. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Timothy Rockey. “The Transgenic Tomato”. Diakses tanggal
    12 Juni
    2010
    .




  18. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Knut Heller (2007).
    Genetically engineered food: methods and detection. Wiley-VCH. ISBN 978-3-527-31393-8.



    Page.31
  19. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Gad Loebenstein, George Thottappilly (2009).
    The Sweetpotato. Springer. ISBN 978-1-4020-9474-3.



    Page.43-44
  20. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Rachael Scarth, Jihong Tang (2006). “Modification of Brassica Oil Using Conventional and Transgenic Approaches”.
    Crop Sci.
    46: 1225–1236. doi:10.2135/cropsci2005.08-0245. Diarsipkan dari versi masif tanggal 2010-03-09. Diakses rontok
    9 Juni
    2010
    .




  21. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Dennis Gonsalves (2004). “Transgenic Papaya in Hawaii and Beyond”.
    AgBioForum.
    7: 36–40. Diarsipkan berpokok varian lugu tanggal 2010-06-28. Diakses rontok
    9 Juni
    2010
    .




  22. ^


    a




    b




    (Inggris)
    ILSI Research Foundation. “GM Crop Database”. Diakses sungkap
    9 Juni
    2010
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  23. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Haim D. Rabinowitch, Lesley Currah (2002).
    Allium crop science: recent advances. CABI. ISBN 978-0-85199-510-6.



    Page.123
  24. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Scorza R, Ravelonandro M, Callahan AM, Cordts JM, Fuchs M, Dunez J, Gonsalves D (1994). “Transgenic plums (Prunus domestica L.) express the plum pox virus coat protein gene”.
    Plant Cell Reports.
    14
    (1).




  25. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Shin S, Mackintosh CA, Lewis J,†, Heinen SJ, Radmer L, Dill-Macky R, Baldridge GD, Zeyen RJ, Muehlbauer GJ. (2008). “Transgenic wheat expressing a barley class II chitinase gene has enhanced resistance against Fusarium graminearum”.
    Journal of Experimental Botany.
    59
    (9): 2371–2378. doi:10.1093/jxb/ern103. Diakses terlepas
    10 Juni
    2010
    .




  26. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Inggris)
    S. Mahesh, A. B. Vedamurthy (2008).
    Biotechnology-4. New Age Publications. ISBN 978-81-224-1442-4.



    Page.51-52
  27. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Dana Pusta, Ioan Paşca, Roman Morar, Rodica Sobolu, Camelia Răducu, Antonia Odagiu (2008). “He Transgenic Plants – Advantages Regarding Their Cultivation And Potentially Risks Concerning The Food Safety”.
    Journal of Central European Agriculture.
    9
    (4): 785–788.





  28. ^


    (Inggris)
    Charles T. Allen, Marwan S. Kharboutli, Charles Capps, Larry D. Earnes. “Effectiveness Of Bollgard Ii Cotton Varieties Against Foliage And Fruit Feeding Caterpillars In Arkansas”
    (PDF). Proceedings of the 2000 Cotton Research Meeting.





  29. ^


    Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia, Kiat Eksplorasi Bioteknologi – LIPI. “Keputusan Lokal”. Indonesia BCH. Diarsipkan dari varian tulen copot 2010-04-18. Diakses tanggal
    14 Juni
    2010
    .




  30. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Inggris)
    Golden Harvest Organics LLC. “The Failure of the first GM Foods”. Diakses tanggal
    13 Juni
    2010
    .





  31. ^


    (Inggris)
    K. Lindsey (1998).
    Transgenic plant research. CRC Press. ISBN 978-90-5702-326-2.



    Page.120-121

  32. ^


    (Inggris)
    Mandy Redig (2003). “Banana Vaccines: A Conversation with Dr. Charles Arntzen”
    (PDF).
    Journal of Young Investigators.
    7
    (1). Diarsipkan bersumber versi putih
    (PDF)
    sungkap 2009-07-31. Diakses tanggal
    10 Juni
    2010
    .





  33. ^


    (Inggris)
    Kirsi-Marja Oksman-Caldentey, Wolfgang Barz (2002).
    Plant biotechnology and transgenic plants. CRC Press. ISBN 978-0-8247-0794-1.



    Page.204-205
  34. ^


    a




    b




    (Inggris)
    David P. Clark, Nanette Jean Pazdernik (2008).
    Biotechnology: applying the genetic revolution. Academic Press. ISBN 978-0-12-175552-2.



    Page.414
  35. ^


    a




    b




    c




    (Inggris)
    C Nawrath, Y Poirier, C Somerville (1994). “Targeting of the polyhydroxybutyrate biosynthetic pathway to the plastids of Arabidopsis thaliana results in high levels of polymer accumulation”
    (PDF).
    Proc Natl Acad Sci USA.
    91
    (26): 12760–12764.




  36. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Anne Simon Moffat (1998). “Biotechnology: Toting Up the Early Harvest Of Transgenic Plants”.
    Science: 2176 – 2178. doi:10.1126/science.282.5397.2176. Diakses tanggal
    15 Juni
    2010
    .





  37. ^


    (Inggris)
    Yuan Kun Lee (2006).
    Microbial biotechnology: principles and applications. World Scientific Publishing Company. ISBN 978-981-256-676-8.



    Page.518
  38. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Departemen Teknologi Wara-wara Koran Jakarta (23 Januari 2010). “Transgenik yang Menimbulkan Kontroversi”. Diarsipkan dari versi kalis tanggal 2020-02-17. Diakses tanggal
    7 Juni
    2010
    .




  39. ^


    a




    b




    Ani Purwati (9 Februari 2007). “Industri Gabah Transgenik Hadapi Kerugian Akibat Perbantahan Global”. KONPHALINDO. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .





  40. ^


    (Inggris)
    María Angélica Larach (2001). “Trade in transgenic products: a review of the international debate”
    (PDF).
    Cepal Review:.
    75: 201–216.





  41. ^


    Séralini GE, Clair E, Mesnage R, Gress S, Defarge N, Malatesta M, Hennequin D, de Vendômois JS (September 2012). “Long term toxicity of a Roundup herbicide and a Roundup-tolerant genetically modified maize”.
    Food Chem. Toxicol.
    50
    (11): 4221–31. doi:10.1016/j.fct.2012.08.005. PMID 22999595.





    (Dicabut)


  42. ^

    Lihat Masalah Séralini

  43. ^


    (Inggris)
    Hardy Hall (8 Agustus 2005). “BT CORN: IS IT WORTH THE RISK?”. Diakses tanggal
    7 Juni
    2010
    .




  44. ^


    a




    b




    Siswono (9 Februari 2004). “Sumbang saran tentang Pangan Transgenik Berlanjut Terus”. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .





  45. ^


    (Inggris)
    Richard Sherlock, John D. Morrey (2002).
    Ethical issues in biotechnology. Rowman & Littlefield Publishers, Inc. ISBN 978-0-7425-1377-8.



    Page.71-74

  46. ^


    (Inggris)
    Luis G. Jiménez-Arias (2008).
    Bioethics and the Environment. A Brief Review of the Ethical Aspects of the Precautionary Principle and Genetic Modified Crops. Libros en Red. ISBN 978-1-59754-380-4.



    Page.44-45
  47. ^


    a




    b




    c




    (Inggris)
    K. Hazzah (4 Agustus 2000). “Are GMO’s Seremonial?”. Diakses terlepas
    13 Juni
    2010
    .




  48. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    (Inggris)
    Deborah B. Whitman (April 2000). “Genetically Modified Foods: Harmful or Helpful?”. CSA Discovery Guides. Diarsipkan dari versi asli sungkap 2015-02-16. Diakses rontok
    7 Juni
    2010
    .





  49. ^


    (Inggris)
    European Commission (ec.europa.eu). “Economic Impacts of Genetically Modified Crops on the Agri-Food Sector”
    (PDF). WORKING DOCUMENT: Directorate-General for Agriculture.





  50. ^


    (Inggris)
    Doriana Daroit, Luis Felipe Nascimento (2009). “The Influence of the Actor Network on the Innovative Process of Transgenic Soybean in Rio Grande Do Sul, Brazil”.
    J. Technol. Manag. Innov. 2009, Volume 4, Issue 4.
    4
    (4).





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  51. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    www.beritabumi.or.id (13 Jan 2008). “Bersambungan Komersialisasi Kapas Transgenik Bt di Indonesia”. KONPHALINDO. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .




  52. ^


    a




    b




    Amiruddin Syam (21 January 2010). “Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Kapas Transgenik di sulawesi Selatan”. Auditorium Besar Investigasi dan Ekspansi Teknologi Pertanian. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  53. ^


    a




    b




    c




    d




    www.litbang.deptan.go.id (9 Februari 2007). “Riset Transgenik Taat Dilakukan”. Badan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Indonesian Agency for Agricultural Research and Development). Diarsipkan terbit versi asli terlepas 2008-02-12. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .





  54. ^


    Balai Samudra Penelitian dan Ekspansi Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Perkebunan (BB-Biogen). “Biogen Online: Visi & Misi”. BB-Biogen Bogor. Diakses tanggal
    8 Juni
    2010
    .





    [
    pranala bebas tugas permanen
    ]



  55. ^


    Hermas Effendi Prabowo (18 Mei 2010). Acandra, ed. “Ketatanegaraan Transgenik Berstandar Ganda”.
    Kompas.com. KOMPAS.com. Diakses terlepas
    9 Juni
    2010
    .




  56. ^


    a




    b




    Heru Triyono (20 Agustus 2009). “Produk Transgenik di Paruh Masyarakat”. TEMPOinteraktif. Diarsipkan dari versi nirmala tanggal 2009-08-28. Diakses tanggal
    9 Juni
    2010
    .




  57. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    (Inggris)
    Tanner SN, Jenkins GR, Kendall DC. “Technologies (ELISA, PCR, etc.) and standard to test for genetic traits”
    (PDF).
    International Quality Grains Conference Proceedings
    . Diakses tanggal
    9 Juni
    2010
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  58. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Kranthi KR, Kranthi S, Khadi BM, Jain KC. “Challenges in detecting GM crops”
    (PDF).




Tatap sekali lagi

  • Padi emas
  • Jagung Bt
  • Senjata gen

Pranala luar

  • (Inggris)
    Menyebelahi dan kontra tanaman transgenik.
  • (Inggris)
    Database tanaman transgenik. Diarsipkan 2020-09-22 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Website Greenpeace.
  • (Inggris)
    Video dan narasi pembuatan tanaman transgenik. Diarsipkan 2010-06-13 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Website Monsanto.
  • (Inggris)
    Keamanan GMO



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_transgenik

Posted by: holymayhem.com