Pidio Cara Aplikasi Biovit Untuk Tanaman

Sumbang saran kita dengan seorang pembajak… saat bertemu dilahan…

 Obrolanya…, berkaitan dengan masalah pemupukan tanaman Padi… kebetulan namanya kelongsong Mardiyono…

” Pak Mardi, tahun mupuk kemarin, dikasih rabuk segala aja pak…?”
” Ha nggeh ngagemUREA niku Mas… (Namun pakai UREA aja, Mas… )
“ Mengapa pupuk UREA doang to pak…?”
“ Uangnya Gak ada cak bagi beli pupuk yang tak Mas…”
” Ohh begituu…, tapi bapak pakai pupuk kandang to…?”
” Tidak paket… bawanya repot tambah biaya…”
” Kalo jeraminya dimasukan ke sawah pun segala apa gak sampul…?”
” Tidak sampul…, untuk pakan peliharaan…. “

Di dalam hati saya…mengomong, ” Innalillahi “. Kok bisa introduksi itu yang keluar?

Kata Innalillahi adalah pembukaan yang kita ucapkan, bila kita ataupun individu lain mendapatkan bencana alam. Tidak sebatas suka-suka anak adam meninggal saja, kalimat itu baru keluar dari mulut kita. Orang yang meninggal itu, salah satu bagian berpokok musibah.

Cak bagi saya, apa yang diceritakan Pak Mardi ialah sebuah murka alam. Tidak doang buat Pak Mardi tapi sekali lagi untuk sebagian samudra petani kita. Cangkang Mardiyono hanya mewakili saja kenyataan yang dialami maka dari itu sebagian segara para peladang.

Saudaraku para petani…

Segala yang boleh kita harapkan berpokok gerakan berkebun kita, bila kita sebagai penanam mempersiapkan “Makanan” bagi tumbuhan kita seadanya. Wajar saja, bila hasil yang kita dapatkan akan ala kadarnya juga.

Secara umum, tanaman zakar nafkah, termasuk tumbuhan pari. Dengan makanan yang cukup (serat organik – humus dan POC dan baja anorganik), maka perkembangan fase Vegetatif dan fase Generatifnya akan bertunas dengan baik.

Bila kita telah memberikan “Perut” terbaik bagi tanaman. Maka tanaman akan mengeluarkan hasil terbaiknya kerjakan kita. Jadi ada Keadilan antara usaha berhuma yang baik dengan hasil yang baik…., setuju…????

Bikin pokok kayu antah, pola pemupukannya ( aplikasi pupuk kimia ) dibagi dalam 3 tahap pemberian :

Kaidah Publik Pemupukan Kimi
a

(Anorganik) :

Secara umum, permohonan untuk hara Falak adalah serabut dasar 20 %,  serat susulan ke-1 sebesar 40 % dan cendawan susulan ke-2 yakni 40 %.

Mengapa jamur dasar bakal hara N sahaja 20 %…. ??

Sebab tanaman padi yang berumur sekitar 7-10 Hst masih kerdil. Pertanyaannya….  Apakah tanaman yang masih boncel dengan perakaran cacat perlu banyak pupuk nan mengandung hara Horizon…? (tak cerek….  )

Sedangkan bagi hara nan mengandung P dan K aplikasinya adalah sbg pupuk dasar 50 % dan pupuk susulan ke-1 sisanya 50 %. Mengapa zakar bertambah banyak….? sebab pupuk yang mengndung P atau K boleh sagu betawi dalam paser periode yang agak lama.

Bila kita memakai pupuk organik (terutama pupuk kandang yang banyak), jerami dan pemberian POC/hayati/MOL maka penggunaan pupuk anorganik dapat dikurangi. Sampai-sampai penggunaan pupuk kimia dosisnya bisa mencecah 50 %.

Sekarang ayo kita coba membahasnya…

T
ahap
an

pemberian


Cendawan pada tanaman padi :

Jangan lupa mengasihkan rabuk kandang/soren min 1-2 ton/ha. Sebab penggunaan baja kompos ( Organik ) lalu kondusif proses penyedotan pupuk kimia yang kita berikan. Apalagi lakukan pupuk TSP/SP dan KCL, sebab serabut ini membutuhkan mikroba pelarut P dan K…

Jadi…, baja Tanah daun (Organik ) yakni



Teristiadat Hukumnya

.
Akan makin baik lagi, bila dilakukan pemancaran POC/hayati/MOL sewaktu pengolahan lahan…


CARA PERTAMA,  300 kg pupuk NPK Phonska dan 100-150 kg kawul Urea

( Kas dapur haranya 113 kg N, 45 kg P2O5 dan 45 K2O )
.

Baja dasar/mula-mula:
150 kg NPK Phonska.

Boleh diberikan pada awal/sebelum tanam atau 0 s/d maksimal umur 7-10 Hst.

Kalo saya kian suka pemberian serabut sesudah tanam s/d jiwa 7-10 Hst. Mengapa begitu…? Karena pokok kayu pada vitalitas 7-10 Hst  perakaran gabah sudah mulai berkembang dan mutakadim siap menghisap kawul yang diberikan walau jumlahnya baru abnormal.

Kemudian juga ada prinsip sederhana…, bibit  yang hijau ditanam akan mengalami yang namanya adaptasi dengan lingkungan ( biasanya ada istilah yang namanya Kemandekan/Stres ) dalam beberapa hari. Makanya ada sebagian bermula daunnya yang kuning dan mengering…. Baru setelah itu…, proses pertumbuhan akar susu mulai berjalan. Maka dari itu dosis kandungan N di pemupukan pertama tanam 1/2 bersumber dosis pupuk ke-2 dan ke-3.

Pernah saya menanya pada sendiri petani yang memberikan pupuk urea di awal sebelum tanam….

“Pak, tanaman itu menghisap pupuk lampau akar tunjang kan…?”

” Nggeh/ iya pak…”

“Kalo menurut bapak, pada awal sesudah tanam (surai-bulu) akar sreg esensi pari sudah berkembang apa belum…?”

“Kaya’nya belum pak….”

“Sekiranya sari belum dapat menghisap pupuk lewat akar susu kenapa diberikan pada semula tanam cangkang…. Apalagi pupuk Urea adv amat mudah menguap dan mudah hilang”.

Risikonya Petani tersebut mengangguk setuju….

Buat serat NPK Phonska, kawul ini n kepunyaan nilai lebih sebab terdapat rezeki Belerang sekitar 10 %. Salah satu fungsi welirang ini yakni sensual pertumbuhan tanaman-pokok kayu muda.

Serat 150 kg Phonska/ha =
150 kg/10.000m2

Bila petani punya tanah 1.000 m2 ( 1 Kesuk ) maka cukup 15 kg NPK Ponska saja.

Untuk mengoptimalkan fungsi pupuk, moga sehabis pemupukan dilakukan penginjakan. Bila hal ini bisa dilakukan, jamur akan bertahan kian lama di sawah, pupuk bisa lebih maksimal diserap akar susu tumbuhan, tanaman bertambah subur, gulma akan teratasi, akan bisa meningkatkan hasil pengetaman.

Pemupukan ke-2  : 150 kg ponska + urea 50 kg.

Diberikan sekitar umur 15-21 Hst. Diberikan puas waktu radu Penyiangan, sehingga anakkan nan dihasilkan dapat lebih maksimal.

Bila lahanya tetapi 1.000 m2 maka dosisnya sekitar

Pupuk NPK Phonska 150 kg/ha
= 150 kg/10.000m2 = 15 kg/1000 m2 ( 1 Kesuk )

Ditambah Pupuk Urea 50 kg/ha
= 50 kg/10.000 m2 = 5 kg/1.000 m2 ( 1 Kesuk )

Pemupukan ke-3  : 50-100 kg urea.

Diberikan sekitar 35-40 Hst. Atau laksana patokan serta merta daun
bendera atau daun terakhir keluar. Puas kondisi ini, pohon padi membutuhkan tandon energi ( Kas dapur/Jamur ) dalam kuantitas maksimal. Mengapa demikian…? Serempak tanaman padi akan membedakan malai maka patera mesti hijau, apalagi daun benderanya. Dengan daun nan hijau terutama patera bendera maka proses fotosintesis akan lebih maksimal dan ini akan berpengaruh terhadap panjang malai. Saya sering mencerca patera tunggul yang masih taksir yunior maka isi malai akan semakin baik dan semakin merunduk dalam istilah bahasa jawa MENTES. Dan bisa jadi dapat diperhatikan lagi, ketika patera bendera satu malai mutakadim matang maka gabah yang dihasilkan kurang berlimpah…

N domestik pemberian pupuk, kita lagi harus mengintai kondisi daun pokok kayu gabah tersebut, bila kondisinya masih mentah terutama daun benderanya. Maka aplikasi lakukan pupuk UREA ini bisa dikurangi. Kira agak seputar 50 kg/ha.

Bersendikan pengalaman di tanah lapang, bila musim hujan, kebanyakan pemupukan ragil selingkung 50 kg/ha. Tapi bila hari kemarau (karena adanya proses evaporasi) dosis pupuk dapat menjadi 75-100 kg/ha.

DIUSAHAKAN, kita lakukan proses penginjakan di fase ini, bisa dilakukan bersamaan dengan penyiangan nan kedua. Dengan alasan…? plong musim pengisian bulir padi akan semakin tangga sekitar 4-5 musim dan Hasilnya, malai yang kita hasilkan akan kian banyak yang bernas.

Disamping menunggangi serabut kimia, alangkah baiknya bila pekebun pun menggunakan/melakukan penyemprotan
pupuk hayati/POC/MOL. Minimal diberikan 3 mungkin penyemprotan. Waktunya seputar 15 hst, 30 hst dan 70 hst.

Apakah konseptual pemupukan di atas bisa dimodifikasi dosisnya…?

Bisa saja dilakukan…, sebab Pemupukan bukan hitungan Matematika ?!!

Konseptual…,

Pemupukan 1 (150 kg NPK Phonska + 25 kg UREA)

Pemupukan ke-2 ( 150 NPK Phonska + 50 kg UREA) dan

Fertilisasi ke-3 ( 50-75 kg UREA).

Pemupukan yang baik lakukan tanaman ada 2 prinsip. Yang permulaan habis akar dan yang Kedua lewat daun. ( Pemupukan dahulu patera, bisa menggunakan POC/MOL )


CARA KEDUA yang 200-250 kg UREA, 100 kg TSP/SP-36, dan 75 kg KCL

( kandungan haranya 115 kg N, 46 kg P2O5 dan 45 kg K2O )

Pupuk dasar/purwa : 50 kg Urea + 50 kg TSP + 40  kg KCL

Pemupukan ke-2          : 100 kg Urea + 50 kg TSP + 35 kg KCL

Perabukan ke-3          : 50-100 kg Urea

Bila tak ada pupuk TSP maka bisa menggunakan SP36 /TS. Bila kondisi patera masih tertumbuk pandangan mentah, perabukan ke-3 ( bisa dikurangi menjadi 50-75 kg urea)… Makanya sebab itu, pemupukan nan kita berikan harus mengetahui tahap kebutuhan makanan tanaman.

Dengan mengetahui kebutuhan tersebut maka pupuk nan kita berikan akan optimal diserap maka dari itu tanaman. Sehingga pertumbuhan dan produksi nan kita harapkan akan maksimal. Dan yang paling kecil terdepan, pron bila pemupukan sebaiknya kondisi air di sawah dalam hal macak-macak/ “nyemek-nyemek” kata wong Jowo.

Sekali lagi saya mengingatkan…, Disamping menunggangi pupuk kimia, sungguh baiknya bila petani juga menggunakan/melakukan penyemprotan dengan
pupuk hayati/POC/MOL. Paling diberikan 3 kali penyemprotan dan Waktu pemberianya sekitar 15 Hst, 30 Hst dan 70 Hst.

Bila kita perhatikan realita di lapangan, keadaan yang dilakukan oleh sebagian besar para penanam terka farik. Mereka melakukan pemupukan hanya selingkung 2 kali saja, dan malar-malar ada yang sekadar 1 x pemupukan saja.
Apakah peristiwa ini salah…?
Soal pemupukan cak semau para orang tani saja, belaka saja bila kita kepingin mendapatkan hasil yang maksimal, sepatutnya kita kembali melakukan peristiwa yang terbaik.

Ada pertanyaan… Selongsong, bagaimana kalau pemupukannya hanya 2 kali saja…, bilamana waktu pemberianya dan dosisnya berapa…?

Kalo menurut pendapat saya…, sebaiknya diberikan puas vitalitas selingkung 15-20 hst dan 35-40 hst… dengan konseptual :

Pola 1.
300 kg NPK Phonska + 100-150 UREA

Pemupukan 1 :
150 kg NPK Phonska + 100 kg UREA

Pemupukan 2 :  150 kg NPK Phonska + 0-50 kg UREA

Teladan 2.
200-250 kg UREA + 100 kg TSP/SP-36 + 75 KCL

Fertilisasi 1 :
150 kg UREA + 100 kg TSP/128 SP-36 + 75 kg KCL

Pemupukan 2 :
50 – 100 kg UREA

Terimakasih, agar bermanfaat….

 (Slamet Prayogo)

Source: http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/70219/Cara-Aplikasi-dan-Dosis-Pemupukan-Padi/

Posted by: holymayhem.com