Persibmedia Tanam Untuk Sayuran Sawi

Kaidah bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada lazimnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses perebusan lahan, pengemasan benih, teknik penanaman, penyiapan baja dan pestisida, serta pemeliharaan pokok kayu. Caisim dapat ditanam secara monokultur maupun tunmpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara tak : berambang dau, wortel, bayam, berudu darat. Padahal menanam jauhar sawi ada secara langsung tetapi ada lagi melalui pembibitan terlebih dahulu. Tanaman sawi bisa tumbuh baik di palagan nan berhawa panas maupun berhawa anyep, Daerah penanaman nan sekata ialah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Doang rata-rata dibudidayakan puas daerah nan mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.

Tanaman sawi resistan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Puas musim kemarau nan teristiadat diperhatikan adalah penyiraman secara integral.Petak yang setuju untuk ditanami sawi yakni tanah gembur, banyak mengandung humus, produktif, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) petak yang optimum cak bagi pertumbuhannya merupakan antara pH 6 sebatas pH 7.

TEKNIK PENGOLAHAN TANAMAN Sawi putih

1. Sperma.

Sperma nan baik akan menghasilkan pohon yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi hijau cak bagi setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.Benih pakcoi berbentuk melingkar, kecil-katai. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna alat peraba benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas nan baik, takdirnya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, keberagaman, predestinasi air, master dan tempat menyimpannya. Selain itu kembali harus mencacat kemasan mani harus utuh. pak nan baik adalah dengan alumunium foil.

2. Pengolahan Petak.

Pengolahan persil secara masyarakat mengamalkan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan bagi memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan karunia pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan persil yang akan kita gunakan.Persil yang hendak digemburkan harus dibersihkan berbunga bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan nan tumbuh. Dan independen berpangkal daerah ternaungi. Sementara itu kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Rahmat rabuk organik sangat baik untuk pengemasan kapling. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Baja kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan.Bila daerah yang mempunyai pH plus abnormal (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran.

3. PEMBIBITAN.

Pembibitan boleh dilakukan bersamaan dengan penggarapan kapling bakal penanaman. Karena bertambah efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Menengah ukuran bedengan pembibitan yaitu tumpul pisau 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan bertambah berusul 200 mm/wulan, pangkat bedengan 20 – 30 cm.Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lampau di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.Mandu mengerjakan pembibitan ialah misal berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 musim benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

4. PENANAMAN.

Bedengan dengan dimensi pepat 120 cm dan panjang sesuai dengan format lahan kapling. Panjang bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan sampai-sampai dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.Pilihlah ekstrak yang baik, pindahkan sari dengan hati-hati, lalu mewujudkan gorong-gorong dengan format 4 – 8 x 6 – 10 cm.

5. Proteksi.

 Pertama-tama yang wajib diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tersidai pada waktu, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan ki pemotongan air nan cak semau, tetapi sebaliknya bila musim kemarau mulai kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi nan kita tanam. Bila tidak terlalu merangsang penyiraman dilakukan sehari sepan sekali senja atau pagi hari.Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 pekan selepas penanaman. Selanjutnya tahap , penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan pohon mentah. Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 barangkali selama hari perkebunan sawi, disesuaikan dengan kondisi kerelaan gulma pada bedeng penghijauan. Umumnya penyiangan dilakukan 1 maupun 2 ahad pasca- penanaman.

6. PEMUPUKAN

Pada lazimnya puas proses perabukan tumbuhan sawi, cendawan dasar yang diberikan adalah pupuk nan mengandung unsur Nitrogen dan Kalium dengan kuantitas selingkung 10-20 ton pupuk per hektare pohon sawi putih. Atau dalam hitungan gram per pohon, kebutuhan jamur pokok kayu caisim merupakan 300-400 gram per tanaman dan atau serat TSP dan KCl per 100 kg per ha, jadi sebanyak 3-5 gram perlubang.

7. HAMA DAN PENYAKIT

 Wereng yang sering menyerang pokok kayu sawi hijau  antara lain Larva titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell), Ulat tritip (Plutella maculipennis), Siput (Agriolimas sp), Bernga Thepa javanica, Cacing surai (cut worm). Padahal penyakit pada tanaman sawi  antara lain
,
Penyakit akar tunggang pengkar,Bercak patera alternaria, Kemungkus basah (soft root), Ki kesulitan embun tepung (downy mildew), Penyakit rebah semai (dumping off), Tembelang patera,  busuk Rhizoctonia (bottom root),  Bercak daun, Virus mosaik.

8. Pengetaman DAN PASCA Panen

Dalam kejadian pemanenan berarti sekali diperhatikan atma panen dan mandu panennya.Semangat panen sawi hijau paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari.Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti rona, gambar dan ukuran daun.Cara panen ada 2 macam yaitu mencopot seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan menyela bagian pangkal batang yang mewah di atas tanah dengan pisau mencolok.
Pasca panen sawi dan caisim yang perlu diperhatikan adalah Pengumbahan dan pembuangan ampas, Sortasi, Pengemasan, Penyimpanan, dan Penggodokan.

Penulis : Ir. Sri Mustika, MSi (PP. Semenjana pada Dinas TPH Sulteng)

Source: http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/89965/BUDIDAYA-TANAMAN-SAWI/

Posted by: holymayhem.com