Perbedaan Cara Bakteri Virus Dan Nematoda Menyerang Tanaman


Maka itu Sumarmiyati
Selasa, 20 Februari 2018 10:48


Penggunaan nematoda entomopatogen bikin pengendalian wereng secara hayati yakni salah satu alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan. Salah satu patogen insek yang sudah lalu dimanfaatkan kerumahtanggaan pengendalian serangga wereng yaitu nematoda Steinernema spp. dari ordo Rhabditidae.

Steinernema spp.
siklus hidupnya punya 3 macam stadium yaitu telur, larva (juvenil), dan dewasa. Juvenil mempunyai empat stadium yaitu : juvenil stadium I (JI), juvenil stadium II, juvenil stadium III, dan juvenil stadium IV. Pertukaran stadium ditandai dengan terjadinya pergantian kulit. Juvenil stadium III ialah stadium infektif yang hidup bebas di luar inang tempat awal juvenil ini dihasilkan, biasanya tahan terhadap lingkungan nan buruk, dan yaitu stadium yang berada menginfeksi inang baru sehingga disebut juvenil infektif.

Nematoda entomopatogen
Steinernema spp.
sangat hipotetis dikembangkan laksana agensia pengendalian hayati serangga hama, karena n kepunyaan keunggulan, antara lain : aktif mencari alamat, memiliki virulensi tinggi, kisaran inang luas, mudah dibiakkan di media sintetis, mudah diaplikasikan, tidak bersifat racun terhadap lingkungan, dan bersifat kompatibel dengan beberapa jenis pestisida sintetik.

Steinernema spp.
mampu menginfeksi insekta hama internal periode yang relatif cepat 24-72 jam yang mengakibatkan serangga mengalamai mortalitas. Juvenil infektif (JI) ikut melalui lubang-gua alami lega tubuh insek sama dengan mulut, anus, integumen, dan spirakel. Nematoda bersimbiosis dengan bakteri simbion dalam tubuh serangga dan membedakan enzim yang berkepribadian toksis bagi insek hama. Mekanisme patogenisitas nematoda entomopatogen genusSteinernema
terjadi melangkahi simbiosis dengan basil pathogenXenorhabdus.

Infeksi dilakukan melintasi mulut, anus, spirakel ataupun penetrasi berbarengan membran intersegmental integumen yang panjang usus. Setelah mencapaihaemocoel
insek, bibit penyakit simbion yang dibawa akan dilepaskan ke internal haemolim bagi berkembangbiak dan memproduksi toksin nan mematikan. Dua faktor ini menyebabkan nematoda entomopatogen punya sendi musnahkan yang habis cepat. Paduan antimikrobia ini mampu menghasilkan lingkungan yang sesuai lakukan reproduksi nematoda dan bakteri simbionnya sehingga mampu menurunkan dan mengeliminasi populasi mikroorganisme lain yang berkompetisi mendapatkan rahim di dalam serangga mati.

Penggalian pemanfaatan
Steinernema spp.
sebagi agens pengendali hayati tanaman menunjukkan hasil yang memuaskan. Steinernema terbukti efektif untuk mengendalikan hama bersumber ordo Lepidoptera maupun Coleoptera sebagaimana ulat mago grayak
Spodoptera litura
sreg pakcoi atau kubis;
Helicoverpa armigera
pada bawang bangkang; ulat kapling
Agrotis Epsilon
puas tomat, jagung, pari, tebu dll; ulat mago Kumbang badak
Oryctes rhinoceros
pada pohon kelapa;
Plutella xylostella
plong polong;
Croccidolomia binotalis
sreg kubis, sawi,dll.

Sendang Bacaan :

  1. Adams, B.J and K.B.Nguyen. 2002. Taxonomy and Systematics. Entomopathogenic Nematology. CABI Publishing, UK.
  2. Berharta, H.K. and R. Gaugler. 1993. Entomopathogenic Nematodes. Annual sp.). Annual Review of Entomology 38 : 181-206.
  3. Gaugler, R. 2002. Entomopathogenic Nematology. CABI Publishing.UK.
  4. Sumarmiyati. 2006. Patogenesitas Nematoda Entomopatogen
    Steinernema carpocapsae
    Terhadap Larva Instar Tiga Naning Rino (Oryctes rhinoceros). Skripsi. FPN UGM Yogyakarta.

Artikel terkait :

Source: http://kaltim.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=1011&Itemid=59

Posted by: holymayhem.com