Penggunaan Input Kimia Tanam Sayur



PENDAHULUAN



Pertanian organik merupakan suatu sis-tem pertanian tanpa bulan-bulanan-alamat an-organik artifisial dengan tujuan menghasil-kan incaran pangan yang tidak terkontami-nasi dengan unsur-unsur ilmu pisah berbahaya, sehingga nisbi kesatuan hati untuk dikonsumsi dan mileu lestari. Bilamana ini, usaha pertanian organik murni belum boleh dilak-sanakan secara penuh. Oleh sebab itu di-perlukan penekanan yang mengkombinasi-kan pemakaian serat organik dan pupuk ilmu pisah secara terpadu cak bagi kontributif peluasan sistem usahatani input ren-dah LEISA (Low External Input for Sus-tainable Agriculture). Sistem ini lebih rea-listis daripada pertanian organik, karena selain memperalat input alami dan hayati masih diperbolehkan menggunakan input kimia imitasi, seperti pupuk dan pestisida intern kuantitas tekor sepanjang produk nan dihasilkan aman dan afiat (Budianto, 2002). Dimyati (2002) menyatakan bahwa dagangan yang permintaannya tangga, baik kerjakan kebutuhan dalam area maupun un-tuk diekspor, bisa dibudidayakan dengan sistem pertanian LEISA. Untuk produk kubis, bit, lobak, bawang merah, cabe dan kentang, sebagian input luar bisa diganti-kan dengan bulan-bulanan alami mikroba berguna, bio-pestisida dan agensia hayati, asalkan produknya masih dikategorikan aman.

Produksi sayuran di Sumatera Barat cukup berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumen lokal dan untuk mengisi sebagian permohonan pemakai luar negeri. Keberagaman sayuran penting (kubis, cabe, kentang dan tomat) sebagian segara dihasilkan dari wila-yah legok tinggi Kabupaten Solok, Kabu-paten Lahan Datar, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, dan Daerah tingkat Padang Tataran. Pa-da tahun 2005, produksi kol, cabe me-rah, kentang dan tomat di Sumatera Barat berturut-masuk adalah 75.612 ton, 13.458 ton, 33.774 ton, dan 11.826 ton. Selain sa-yuran tersebut di atas juga telah berkem-bang secara komersial beberapa jenis sa-yuran tak, seperti mana: umbi lapis merah, buncis, brocoli, wortel, salad, dan umbi lapis daun nan diusahakan oleh petani di berbagai daerah (Dinas Pertanaman Tanaman Jenggala dan Hortikultura Sumbar, 2004).

Pokok kayu sayuran tersebut di atas sekedup-ma ini dibudidayakan secara intensif dengan memakai input berlebihan, sehing-ga kurang ekonomis dan lain kompetitif, terutama akibat kelabilan harga yang tinggi dan harga agro input nan terus naik berusul waktu ke tahun. Tipe harga sayuran di tingkat penghasil di Batang air Puar Kabupaten Agam, misalnya, kol 28,1%, cabe 39,4%, dan tomat 24,3% dengan harga rata-rata Rp. 1.106,-; Rp. 9.798,-; dan Rp. 2.740,- per kg.

Produk sayuran organik diminati konsu-men kelas menengah ke atas yang bersedia menggaji lebih mahal karena kian sehat dan aman. Apabila sebagian areal sayuran anorganik dapat dikonversi menjadi kawas-an sayuran organik, maka kompetisi pasar konvensional boleh dihindari, karena pang-sa pasar produk sayuran organik berlainan. Sayuran organik boleh diekspor ke Malaysia maupun Singapura ataupun pasar swalayan di da-lam negeri.

Dalam jangka sumir, kemampuan pe-bertegal bikin memungkirkan sistem persawahan kon-vensional menjadi pertanian organik rumit dilakuan. Penyebabnya antara lain karena persawahan organik: (i) lingkungan produksi-nya harus netral dari cemaran bahan kimia berbahaya (pupuk dan obat-obatan); (ii) hasil per satuan luas nisbi rendah, sehing-ga pendapatan usahatani berkurang; (iii) belum terserah insentif harga yang patut se-bagai pampasan diterapkannya persawahan organik; dan (iv) lazimnya konsumen lokal belum berorientasi produk organik.

Beberapa konsepsi mendasar nan di-uraikan n domestik gubahan ini dirangkum dari beberapa referensi nan relevan dengan kebijakan ekspansi sayuran organik, khususnya tentang teknologi yang dapat di-aplikasikan di alun-alun. Dengan tersuguh-nya dukungan informasi tentang pertanian organik dan teknologi yang dibutuhkan, maka programa ekspansi sayuran or-ganik di Sumatera Barat diharapkan akan bisa diaktualisasikan.


Pertanaman ORGANIK

Gaya umur afiat dengan slogan back to nature telah menjadi pola roh baru, meninggalkan pola hidup lama yang meng-gunakan bahan ilmu pisah seperti mana pupuk, pesti-sida ilmu pisah imitasi dan hormon tumbuh da-lam produksi perkebunan. Jenggala nan segar dan bervitamin strata dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan perta-nian organik. Pertanian organik yakni te-knik budidaya pertanian yang mengandal-kan mangsa-mangsa alami tanpa mengguna-kan bahan-target kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyedia-kan komoditas-dagangan perkebunan, terutama bahan alas, nan aman kerjakan kesehatan produsen dan konsumennya serta bukan me-rusak mileu. Gaya spirit sehat demi-kian sudah lalu melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut lega hati dikonsum-si (food safety attributes), kandungan nu-trisi tingkatan (nutritional attributes), dan ra-mah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi pemakai seperti mana ini menyebab-kan permintaan akan produk pertanian or-ganik dunia meningkat pesat. Pasar dagangan pertanian organik manjapada meningkat 20%/ periode. Oleh karena itu, pengembangan bu-didaya pertanian organik teristiadat diproritas-kan pada pohon bernilai ekonomi tinggi buat memenuhi kebutuhan pasar domes-tik dan ekspor (Raga Litbang Pertanian, 2002).

Untuk melaksanakan pertanian organik, perlu adanya suatu acuan start dari tahap budidaya sampai diperolehnya dagangan yang sesuai qada dan qadar dan memenuhi persyarat-an sebagai produk pertanian organik (Wi-naryo, 2002). Mandu pertanian organik yang perlu dipertimbangkan dalam meran-cang suatu provinsi atau teknologi adalah: (i) Kapling untuk budidaya organik harus be-bas dari pencemaran bahan agrokimia semenjak pupuk dan racun hama. Persil dapat berupa lahan pertanian nan baru dibuka maupun la-han pertanian intensif yang mutakadim dikonver-sang menjadi lahan pertanian organik. Lama-nya masa konversi tersidai sreg sejarah penggunaan persil, pupuk, pestisida, dan jenis pokok kayu; (ii) Pergi benih/bibit hasil rekayasa genetik atau genetically modified organism (GMO). Sebaiknya benih harus berasal dari tipar pertanian or-ganik; (iii) Menghindari eksploitasi pupuk kimia sintetis dan zat pengatur bersemi. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk kalimantang, dan peredaran dengan pohon legum; (iv) Menghindari penggu-naan racun hama kimia buatan, pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, bio-pestisida, agen hayati, dan rotasi tumbuhan; (v) Menghin-dari penggunaan hormon bertaruk dan ba-han aditif bikinan lega pakan ternak dan secara enggak sinkron pada jamur kandang; dan (vi) Penanganan pascapanen dan peng-awetan bulan-bulanan pangan menggunakan cara-kaidah alami (Badan Litbang Pertanian, 2005).

TEKNOLOGI PENDUKUNG PERTANIAN ORGANIK

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura dengan Aula Penelitian Sayur-an (Balitsa) Lembang dan sejumlah BPTP andai UPT Badan Litbang Persawahan di kewedanan telah melakukan berbagai macam kegiatan penekanan/penggalian untuk mendukung programa perkebunan organik sejalan dengan pencanganan pertanian organik 2010. Dim-yati (2002) menguraikan bilang hasil pe-nelitian nan dapat dimanfaatkan dalam budidaya tumbuhan hortikultura, khususnya sayuran, ialah:

1. Teknologi Budidaya LEISA

Teknologi ini merupakan cara pengelo-laan produksi tanaman nan menyeluruh dengan menggunakan input luar nan ren-dah, sehingga dapat menjamin produk yang bersih. Incaran agrokimia bikinan masih di-gunakan dalam kuantitas yang terbatas, se-sampai tidak menimbulkan pungkur melebihi hilir sempadan yang diizinkan, tetapi belum memenuhi kriteria bagi disertifikasi se-bagai pertanian organik. Komponen tekno-logi LEISA terdiri terbit: pengolahan petak dalam, sanitasi, penggunaan mulsa plastik hitam perak, penggunaan pupuk kandang 30 t/ha dan NPK 1 n/ha, serta penggunaan pestisida bergilir antara agonal (biologis, nabati) dan racun serangga tiruan.

2. Pembenah Kapling Hayati

Selain baja kandang yang merupakan bahan pembenah tanah, beberapa mikroba bisa berperan sebagai agensia yang dapat membantu kenaikan kesuburan persil melalui arti-fungsi tertentu. Salah suatu dari mikroba itu adalah cendawan mikoriza yang hidup di n domestik atau di luar sistem perakaran. Fungsi utama pecah cendawan adalah meningkatkan daya serap akar tunggang ta-naman terhadap hara. Beberapa jenis mi-kroba, secara seorang-seorang atau bersama-ekuivalen dapat menggesakan proses pelapuk-an sasaran organik, sehingga boleh taajul memperbaiki porsi bahan organik di dalam tanah dan segera mengurangi efek samping dari limbah perladangan.

3. Pestisida Hayati

Terserah sejumlah macam racun hama yang di-kembangkan berpokok senyawa beracun yang berasal dari incaran tanaman, binatang alias kuman, saja yang paling tertinggal adalah pestisida nan dibuat dari: (i) Ba-gian tertentu dari berbagai jenis bertaruk-an, misalnya agonal yang dibuat dari cam-puran perasan daun nimba, rimpang leng-air jeruk, dan serai wangi. Ekstrak daun Aglalia odorata dan angka sirsak lagi dapat dijadi-kan insektisida berspektrum cukup luas; (ii) Garnulosis virus (GV), diketahui bersifat ra-cun makanan yang dapat tanggulang popu-lasi penggerek pangkal pohon kentang (Phytho-primaea operculella Zell). Virus tersebut telah dikemas dalam bentuk tepung dengan nama BiaRIV-1 yang efektif mengu-rangi fasad umbi dan menekan popu-lasi hama sampai 90%. Virus yang lain cak semau-lah Nuclear Polyhedrosis virus lega Spo-doptera exigua nan disingkat SeNPV dengan konsentrasi 4,8 x 1010 PIB/g dan dosis 1 kg/ha dapat menaruh populasi ulat grayak dan mengurangi kerusakan daun lega bawang merah. Bahkan ulat gra-yak yang telah menunjukkan resistensi pek-hadap insektisida ilmu pisah tertentu masih dapat ditekan oleh SeNPV. SeNPV dikemas dengan nama BiaRIV-2 dan pula berwatak racun nafkah. Untuk pengendalian kelainan Cucumber Mosaic Virus (CMV) puas cabe dan tomat dapat digunakan kalung RNA no-mor 5 yang berasosiasi dengan CMV terse-but. Bahan ini dikenal dengan nama CARNA-5 (CMV Associated RNA-5) boleh berfungsi mewatasi perbanyakan CMV, se-hingga tingkat kehancuran yang ditimbulkan-nya tidak sampai merugikan. Cabe dan to-mat yang diberi perlakuan CARNA-5 berkecukupan tarik urat terhadap ofensif CMV dan tetap memasrahkan hasil seperti tanaman yang afiat. CARNA-5 dikemas dengan nama BiaRIV-3. Korban toksik nan menyerang sis-tem syaraf pada insek dikeluarkan oleh varietas lawah-lawah tertentu; (iii) Bahan yang disebut sebagai novel racun toxic dapat diisolasi, dipurifikasi dan dilarutkan internal zat pelarut oganik tertentu ibarat carrier bikin digunakan sebagai pestisida yang efektif untuk mengendalikan hama Heli-cobverva armigera pada tomat dan kol.

BPTP NAD (2005) mendefenisikan bah-wa pestisida nabati adalah pestisida yang berbahan baku tumbuhan, nisbi mudah di-kerjakan dengan kemampuan dan deklarasi yang terbatas. Makanya karena terbuat semenjak mangsa alami, maka diversifikasi pestisida ini bersi-fat mudah terurai (biodegradable) di bendera, sehingga lain mencemari lingkungan dan relatif kesatuan hati bikin manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati berperilaku pukul dan lari (hit and run), artinya apabila diaplikasikan akan membu-nuh hama pada waktu itu dan setelah ha-manya terbunuh residunya cepat hilang. Cara kerja dari pestisida nabati boleh be-rupa penangkis makan (antifeedant), racun (biotoxin) atau sebagai penangkal makan (repellent). Kebanyakan dari senyawa bio-toksin merupakan senyawa metabolit se-kunder spesies tanaman semenjak famili Anno-naceae (nenas, sirsak, buah upik, sarika-ya), Asteraceae (pyrethrum, wedusan), Canellaceae, Labiateae, Meliaceae (nimba, mindi), Piperaceae (Citurs spp), dan Rutaceae.

Sasaran yang digunakan dalam pelaksana-an racun hama nabati berasal terbit bilang adegan tumbuhan sama dengan daun, nilai/buah, dan akar. Dalam aplikasinya bisa berupa serdak atau cair yang disemprotkan sedarun ke tanaman. Sejumlah tanaman yang telah dikenal dan dipakai sebagai ba-han seremonial pestisida nabati, antara lain: (1) Nimba (Azadiracha indica), ekstraknya ter-kasatmata memiliki daya racun terhadap hama kol (Plutella xylostella) apabila diperla-kukan dengan cara olesan dan pencelupan. Selain itu sekali lagi dapat menekan lampias proses penetasan telur dan ki berjebah mengimpitkan in-fektifitas larva nematoda bintil akar tunggang (Meloidogyne spp), efektif lakukan mengen-dalikan berbagai hama Phaedonia inclusa, Crocidolomia binotalis (hama bin-pasaran), malah kawul Rhizoctonia sola-ni; (2) Lantana (Lantana camara), serbuk keringnya apabila ditaburkan merata di atas umbi kentang, ternyata gemuk meno-lak kehadiran wereng pusut pongkol (Phy-thoprimaeae operculella); (3) Buah nona (Annona reticulata), yakni racun kon-tak yang dapat mengendalikan hama kubis (Plutella xylostella) dan ulat grayak (Spo-doptera litura); (4) Srikaya (Annona squamosa), ialah racun asosiasi yang dapat mengendalikan hama coklat (Nila-parvata lugens), nyamuk gajah Aedes aegeypti, hama kol, dan tikus sawah; (5) Sereh dan sereh wangi (Cymbopogon citratus dan C. nardus), bisa menekan perkembangan ku-tu daun sitrus, penggorok daun jeruk, ke-pik, lalat buah dan tungau; (6) Cengkeh (S. aromaticum), biotoksinnya berada berpenyakitan-ngendalikan jamur Phytophthora capsici, P. palmivora, layu mikroba (Pseudomonas solanacearum), penyakit layu (Fusarium oxysporum) dan rabuk lega tumbuhan ken-catut (Rhizoctonia solani). Apabila pestisida tersebut di atas dapat digunakan secara praktis oleh petani, maka dampak negatif aplikasi pestisida sintetis dapat dihindari. Kerumahtanggaan 5 tahun terakhir Ballitro telah menghasilkan pun formula dan produk racun hama nabati dari tumbuhan piretrum, cengkeh (Mitol 25 EC dan Natpes), nimba, atraktan nabati, selasih (Ocimol) dan mela-leuca (Melanol). Sebagian di antara produk tersebut mutakadim diadopsi maka dari itu petani (Rizal et al., 2006).

4. Pokok kayu, Alat dan Target Haring Hama

Wereng tertentu kasmaran sreg bebauan atau warna tertentu. Beberapa varietas tanaman ternyata mengandung aroma yang boleh menarik dan menjadi inang yang baik untuk hama tertentu, sehingga bila ditanam bersamaan dengan pokok kayu budidaya dapat mengurangi serangan wereng puas pokok kayu terdepan. Pagetes erecta bisa menarik hama Helicoverpa armigera dan Spodoptera litura yang menuduh cabe, tomat, bawang daun dan pokok kayu dari spesies kubis-kubisan dan dapat menjadi jerat cak bagi Myzus persicae yang menyerang kentang, dan Brassica juncea dapat menjadi perangkap wereng Crocidolomia dan Plutella puas kubis. Tanaman yang menolak hama antara lain umbi lapis daun yang menolak Trips dan tomat memurukkan oviposisi Crocidolomia, keduanya adalah wereng penting lega kol.

Hama pengorok patera Lyriomiza huidobrensis nan menyerang heterogen variasi pokok kayu tertarik plong warna kuning. Fenomena ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan organ perangkap sebagai kaidah memonitor populasi hama tersebut dan justru mengurangi tingkat serangannya puas pokok kayu. Insekta jantan berbunga beberapa macam hama ki gandrung oleh feromon atau sasaran yang menyerupainya seperti mana methyl eugenol. Methyl eugenol bisa digunakan ibarat sasaran penarik serangga bahaduri lalat biji kemaluan. Individual pengendalian Lyriomiza huidobrensis yang menjadi hama terdepan tanaman kentang, Komisi Teknologi Perta-nian Sumatera Barat sudah lalu merekomendasi-morong selongsong pengendaliannya melalui Surat Keputusan nomor: KP.160/1125/Kpts/98k terlepas 26 Oktober 1998. Teknis pengenda-lian yang direkomendasikan oleh BPTP Sumbar (2002) terdiri berpunca beberapa tahap-an, ialah: (i) Menciptakan tanaman bugar dengan urut-urutan menggunakan bibit sehat, pengolahan persil, pemupukan dan pem-bumbunan nan baik, serta pemilihan wak-tu dan jarak tanam yang tepat; (ii) Sanitasi lahan, membersihkan kapling dari feses ta-naman ubi belanda, buncis, bawang merah, kubis serta inang utama seperti Biden pilosa, Ageratum conyzoides, Sonchus oleraceous, Physalis angulata, dan Gynora crepidiodes; (iii) Penggunaan perangkap; dan (iv) Penggunaan insektisida ilmu hayat seperti abamectin, cyosine, dan khlour-fluazuron, terutama bila populasi laler mencapai ambang lagam (2 ekor larva/ helai daun).

5. Pupuk Hayati

Pupuk-pupuk hayati dikembangkan dengan memanfaatkan mikroorganisme yang roh secara simbiotik maupun nonblok (non-simbiotik). Kelompoknya ialah: (1) Penambat Nitrogen Simbiotik, memanfaat-kan mikroorganisme Rhizobium, Bradyrhi-zobium, Azorhizobium, Sinorhizobium, Mersorhizobium (sistem simbiosis legume), Anabaena azollae (simbiosis azolla) dan Frankia sp (simbiosis non legum); (2) Pe-nambat Nitrogen Non Simbiotik, antara lain Azotobacter, Azospirillum, Clostridium, Klebsiella, dan Ganggang biru-hijau (sistem hidup bebas); (3) Serabut Mikoriza, seperti Acaulospora, Entrophospora, Gigaspora, Glomus, Selerocystis, dan Scutellospora (sistem simbiosis berbagai endomikoriza tumbuhan); serta (4) Jasad renik Pela-rut Fosfat, antara lain: bakteri Bacillus, Pseudomonas, jamur Aspergillus, Peni-cillium, dan Aktinomiset Sterptomyces (sistem hidup bebas).

Sejumlah variasi pupuk hayati yang sudah dikembangkan adalah: pupuk mikroba multiguna Rhizo-sesak, Biofosfat, dan Bioles-tari. Rhizo-plus dapat meningkatkan efi-siensi unsur hara Kaki langit dan P pada tumbuhan kedelai, Biofosfat dapat meningkatkan ke-tersediaan anasir hara P, sedangkan Bioles-tari merupakan perbaikan dari Rhizo-plus. Baja hayati lainnya adalah Mikofosfat yang dapat meningkatkan serapan hara P pada tanah-tanah kahat P serta partikel hara Zn dan S. Kawul ini sekali lagi bisa menghindari cekaman kesuntukan dan meningkatkan ke-tahanan tanaman terhadap problem intern persil. Telah dikembangkan pula Bioaktiva-tor Perombak Limbah Pertanian (ORLATAN) yang bermanfaat ibarat pemicu proses dekomposisi limbah perladangan (Partohar-djono, 2002).

6. Pengusahaan Trichoderma harzianum andai dekomposer n domestik pembuatan pupuk hijau jerami sudah direkomendasikan makanya BPTP Sumbar periode 2000. Keunggulan-nya adalah: soren sudah menguning dalam waktu 3 minggu, bahan berkepribadian insitu, starter bisa diperbanyak oleh petani sen-diri, setiap ton kompos mengandung hara makro N 11%; P2O5 0,64%; K2O 7-9,9%; Ca 4,2%; Mg 0,52% serta hara mikro Cu 20 ppm, Zn 144 ppm, dan Mn 684 ppm.

Husnain et al. (2004) menyingkat bahwa sistem budidaya pertanian organik yang didukung oleh pemberian mangsa orga-nik baik berupa soren, pupuk organik maupun bahan organik bugar dapat mem-perbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi kapling. Perubahan sifat fisik dan kimia ta-nah terutama tekstur, pH, C-organik, N-to-tal, C/Lengkung langit, P tersuguh, KTK, dan beberapa kation basa. Rata-rata biji sejumlah para-meter terdepan buat menilai kesuburan ta-nah sreg sistem pertanian organik adalah: pH (5,80-5,94), C-organik (2,30-3,43%), P Bray II (9-47 me/100 g), K-besaran (28,13-160,12 me/100 g), Ca-dd (8,25-18,43 me/ 100 g), dan Mg-dd (1,15-3,94 berpenyakitan/100 g), sedangkan pada sistem pertanian konven-sional (non organik) adalah: pH (5,18), C-organik (1,84%), P Bray II (5,33-29,15 berpenyakitan/ 100 g), K-total (20,11-100,14 me/100 g), Ca-dd (1,89-6,62 mg/100 g), dan Mg-dd (0,10-1,11 me/100 g). Kas dapur kuman tanah terdiri atas: Azotobacter, Actinomy-cetes, Rhizobium, dan Penicillium yang menunjukkan populasi lebih tinggi puas sistem pertanian organik dibanding pertanian konvensional.

Inferensi

Produk sayuran yang dihasilkan di Su-matera Barat selama ini diusahakan secara intensif dengan memakai agro input ilmu pisah nan berlebihan, sehingga rendah ekonomis dan tidak kompetitif, terutama akibat fluktuasi harga yang relatif jenjang dan harga agro input nan menumpu semakin menaiki dari waktu ke waktu. Kecondongan hidup sehat dengan slogan back to nature telah menjadi pola hidup yunior menghindari pola hidup lama yang menggunakan objek kimia, sebagaimana serat, racun hama kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanaman. Dalam kondisi ini, pengguna menghendaki barang pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), rahim nutrisi tinggi (nutritional attributes), dan ramah mileu (eco-labelling attributes). Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan produk-barang pertanaman nan aman bagi konsumen dan lingkungan abadi. Beberapa hasil penelitian nan boleh dimanfaatkan n domestik budidaya sayuran yang aman bagi pengguna dan ramah lingkungan adalah: (1) Teknologi budidaya LEISA; (2) Pembenah lahan hayati; (3) Pestisida hayati; (4) Tanaman, alat dan bulan-bulanan haring; (5) Pupuk hayati; dan (6) Trichoderma harzianum sebagai dekomposer untuk pembuatan kompos jerami.(Buharman B dan Irmansyah Rusli)


Source: http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/publikasi/karya-ilmiah-peneliti-dan-penyuluh/208-teknologi-pendukung-pertanian-organik

Posted by: holymayhem.com