Pengendalian Lalat Bibit Pada Tanaman Sayuran

Di Indonesia, lalat bibit kacang (Ophiomyia phaseoli, Diptera: Agrpmyzidae) merupakan salah satu hama tanaman kedelai nan sepan diperhitungkan karena kerugian yang ditimbulkan. Lalat bibit kacang merupakan hama yang paling dulu mencacat tanaman kedelai karena investasi dan serangannya terjadi sreg tanaman berusia remaja dan dapat menyebabkan kematian tanaman umur 2 – 3 minggu sehabis tanam (MST).

Wereng ini menyerang pada kondisi lingkungan nur yang relatif panas, dan biasanya sumber kapitalisasi berasal dari tanaman sekitar atau tumbuhan sebelumnya. Fase peka bidasan hama ini terjadi pada tanaman kedelai umur 6 – 11 hari. Sekiranya sreg fase tersebut lalat bibit kacang meletakkan telurnya sreg keping biji atau patera pertama, maka sudah bisa dipastikan bahwa tanaman akan mati plong umur 2 –  3 MST.

Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat sampai ke 80%, bahkan dapat terjadi puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Wereng ini telah hambur hampir di seluruh kewedanan dan justru menjadi salah suatu hama utama di daerah sentra produksi kedelai.

Laler bibit kedelai mengecap pokok kayu kedelai sejak pertumbuhan semen kapan membentuk keping biji hingga tanaman umur 10 masa. Bidasan lalat pati ditandai dengan adanya bintik-bintik putih plong keping biji, daun pertama atau ke dua, nan merupakan keluaran tusukan alat peletakan telur lalat kedelai lebah ratulebah (ovipositor).

Lalat betina meletakkan telur puas tanaman muda yang bau kencur tumbuh. Telur diletakkan di privat lubang tusukan antara epidermis atas dan pangkal keping biji atau disisipkan dalam jaringan mesofil dekat pangkal keping biji atau sumber akar helai daun purwa dan ke dua. Telur bercat suci seperti mutiara dan berbentuk bujur telur dengan ukuran hierarki 0,31 mm dan lebar 0,15 mm.

Sehabis dua musim, telur menetas dan keluar larva. Larva timbrung ke privat keping nilai atau pangkal helai daun pertama dan ke dua, kemudian membuat terowongan gerekan. Selanjutnya larva menggerek batang melalui kulit jenazah hingga ke radiks batang hingga ke akar tunjang kemudian membentuk pupa. Sreg pertumbuhan munjung, panjang larva dapat  mengaras 3,75 mm. Pupa mula-mula bercat kuning kemudian berubah menjadi kecokelat-cokelatan.

Selain bin, lalat polong kembali menyerang kedelai bau kencur, kacang bangkang, polong uci, kacang patok, kacang hiris, orok-bayi,Vigna kosei, Phaseolus mungo, P. trilobusdanP. semierectus.

Pengendalian wereng laler bibit polong boleh dilakukan antara tidak dengan tanam sederum dengan selisih periode sedikit dari 10 tahun; pergiliran tanaman; pemanfaatan mulsa jerami lega hipotetis tanam kedelai setelah padi.

Pengusahaan mulsa jerami dapat mengurangi serbuan lalat bin hingga 75%; 4) Perlakuan mani (seed treatment) dengan pestisida (carbosulfan, fipronil) dan 5) Aplikasi insektisida (thiodicarb, dekametrin, BPMC, sipemetrin) bila populasi mencapai ambang kendali yaitu 1 imago/50 rumpun lega nasib 5 – 7 hari setelah tanam.[]

sumber:http://www.litbang.perkebunan.go.id

Source: https://dispertan.bantenprov.go.id/lama/read/artikel/375/Lalat-Bibit-Kacang-Patut-Diperhitungkan-pada-Tanaman-Kedelai-Muda.html

Posted by: holymayhem.com