Pengembangan Industri Perbenihan Tanaman Sayur Hortikultura

(1)

16/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


Dalam kurun tahun lima tahun terakhir (2009-2013), subsektor hortikultura sudah lalu bersemi menjadi salah satu mata air pertumbuhan guna ekonomi hijau bagaikan penggerak ekonomi di pedesaan dan perkotaan. Saat ini peran subsektor hortikultura sepan signifikan dalam pembangunan ekonomi nasional yang ditunjukkan oleh beberapa penunjuk, antara lain : Sumbangan Sub sektor hortikultura dalam Perekonomian Kewarganegaraan secara makro seperti mana PDB, tenaga kerja, neraca perdagangan, NTP, dan tidak-lain atau secara mikro seperti produksi, luas tanam/luas penuaian, ketersediaan benih, dan sebagainya.

Keragaan pembangunan tersebut dapat disajikan misal berikut:

1. Komoditas Domestik Bruto (PDB)

Komoditas Domestik Bruto (PDB) merupakan salah suatu indikator ekonomi makro bakal mengarifi peranan dan kontribusi hortikultura terhadap pendapatan nasional. Data PDB Persawahan Tanaman Bahan Makanan meliputi perkebunan hortikultura buah, pertanian hortikultura sayuran dan pertanian tanaman bahan makanan lainnya (pari dan palawija) tersaji sebatas tahun 2012.

Sejauh ini kontribusi pertanian hortikultura (buah dan Sayuran) puas PDB cenderung meningkat. Pada musim 2009 PDB pertanaman hortikultura buah sebesar Rp 132,01 triliun dan meningkat menjadi Rp 153,69 triliun pada tahun 2014, dengan lampias peningkatan sebesar 5,63 % sedangkan PDB perladangan hortikultura sayuran meningkat dari waktu 2009 sebesar 56,82 triliun menjadi 73,78 triliun dengan laju eskalasi sebesar 9,86% yang bisa dilihat puas tabel 1.

Tabulasi 1. Nilai PDB Perladangan Pohon Sasaran Makaanan 2009 – 2012

No. Uraian Nilai PDB (Triliun Rp) Rata-rata

(%)

2009 2010 2011* 2012**

1. Persawahan Hortikultura

Buah 132,01 125,48 148,44 153,69 5,63

2. Pertanian Hortikultura

Sayuran 56,82 73,04 72,34 73,78 9,86

3. Pertanian tanaman
bahan peranakan lainnya

: Padi dan Palawija

230,37 283,86 309,18 346,86 14,78

Total PDB

419,19 482,38 529,97 574,33 10,09

Keterangan : Mata air BPS, olah Pusdatin *) Angka darurat

**) Biji habis sementara

BAB III

A. Sumbangan Hortikultura dalam Indikator Makro

(2)

17/




Lembaga Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


Ditinjau dari rata-rata laju pertumbuhan PDB, gerombolan perladangan bahan rahim lainnya (padi dan palawija) menerimakan kontribusi teratas terhadap laju pertumbuhan PDB adalah 14,78%, diikuti maka itu Sayuran sebesar 6,77 % dan buah sebesar 5,63%.

2.Fungsionaris

Pengembangan hortikultura di Indonesia diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sehingga dapat kontributif dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Riuk contoh pengembangan hortikultura

yaitu peluasan kawasan hortikultura, dimana n domestik

ekspansi distrik tersebut dibutuhkan jumlah tenaga kerja yang pas banyak tiba terbit tenaga kata petak, reboisasi sebatas kegiatan penjagaan tanaman lainnya.

Data besaran tenaga kerja yang bekerja di sub sektor hortikultura tahun 2010 adalah sebesar 3.899.921 orang dan pada periode 2014 diperkirakan mengalami penjatuhan menjadi 3.056.057 bani adam. Selama kurun waktu tersebut, terlihat adanya kecenderungan penghamburan jumlah tenaga kerja yang berkarya di sub sektor hortikultura sebagaimana lega tabel 1.

Proklamasi : Sumber Direktorat Jenderal Hortikultura *) Angka sementara

Grafik diatas memperlihatkan bahwa privat periode 2010 – 2014, tenaga

kerja yang berkreasi di sub sektor hortikultura terus berkurang. Terjadinya penurunan ini andai konsekuensi makin beragamnya pilihan profesi pekerjaan dan juga dipicu karena makin enggak sebandingnya propaganda produksi hortikultura yang suka-suka di pedesaan atau di sentra-sentra kawasan produksi hortikultura yang eksisting saat ini dengan kuantitas tenaga kerja nan cawis.

(3)

18/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


3. Proporsi Bursa

Nisbah perdagangan atau neraca ekspor-impor yaitu nisbah antara ponten ekspor dan impor suatu negara pada masa tertentu nan diukur memperalat yen yang berlaku. Necara perdagangan atau necara ekspor-impor dikatakan positif apabila angka ekspor makin tinggi jika dibandingkan dengan nilai impor dan sebaliknya dikatakan negatif apabila nilai ekspor kian sedikit dari nilai impor.

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir laju pertumbuhan tagihan ekspor hortikultura menunjukkan nilai positif yaitu sebesar 2,69%/tahun, yang merupakan sumbangan bermula lancar pertumbuhan barang tanaman obat 74,73%/waktu, florikultura 25,96%/tahun, sayuran 7,39%/hari dan buah 1,74%/tahun. Sedangkan lancar pertumbuhan piutang impor hortikutura mencapai 6,33%/musim, yang yaitu andil dari beberapa komoditas seperti tumbuhan remedi 225,46%/masa, sayuran 7,67%/tahun dan buah 5,39% kecuali florikultura nan menunjukkan lampias pertumbuhan yang merusak. Dengan laju pertumbuhan nan negatif tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan laju impor selama kurun 5 tahun terakhir sebesar 9,66%.

Neraca volume perniagaan produk hortikultura menunjukkan kebanyakan laju pertumbuhan sebesar 7,76%/tahun. Kontribusi laju peningkatan rata-rata pertumbuhan dihasilkan makanya sayuran sebesar 8,58%/tahun. Padahal laju penerjunan pertumbuhan terjadi sreg beberapa komoditas seperti pohon obat 127,42%, florikultura 34,07% dan biji kemaluan 25,20%. Rincian volume rasio perbisnisan dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Tagihan Ekspor impor Komoditas Hortikultura Tahun 2010 – 2014

Komoditas Impor (ton) Rata-rata pertumbuhan sejauh 5 tahun (%) 2010 2011 2012 2013 2014*

Biji pelir 692.703 832.080 916.350 535.461 711.569 5,39 Flori 11.100 13.804 16.070 8.219 5.707 -9,66 Sayuran 844.619 1.164.726 1.259.943 994.784 1.050.988 7,67 Tanaman

Obat 2.495 23.492 30.674 7.202 14.851 225,46 Total 1.550.917 2.034.102 2.223.037 1.545.666 1.783.115 6,33

Dagangan Tikai Ekspor – Impor (ton) Rata-rata pertumbuhan selama 5 waktu (%) 2010 2011 2012 2013 2014*

(4)

19/




Tulangtulangan Politis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019

Flori (6.791) (8.913) (5.934) (4.117) 144 -34,07 Sayuran (706.514) (1.030.705) (1.055.384) (866.455) (900.632) 8,58 Tanaman

Obat 10.973 (17.369) (25.558) 19.927 (4.099) -127,42 Total (1.198.693) (1.666.056) (1.769.114) (1.188.221) (1.410.637) 7,76

Keterangan : Sumber BPS dan Pusdatin diolah *) Angka Provisional

Laju pertumbuhan nilai ekspor hortikultura selama 5 tahun buncit menunjukkan nilai riil yaitu sebesar 6,57%/hari, nan adalah sumbangan bermula laju pertumbuhan nilai ekspor berpangkal florikultura 29,64%/tahun, buah 7,18%/tahun, sayuran 7,16%/tahun dan tumbuhan obat 6,00%/tahun. Padahal lancar pertumbuhan angka impor hortikutura mencapai 7,26%/musim, yang merupakan andil terbesar dari tanaman pemohon 171,83%/waktu, florikultura 9,53%/hari, sayuran 8,29%/tahun dan biji kemaluan 6,78%/musim.

Secara umum sejauh 5 tahun bontot, perbandingan perdagangan atau necara

ekspor-impor produk hortikultura menunjukkan rata-rata laju

pertumbuhan yang positif, artinya terjadi eskalasi surplus neraca perdagangan, sebesar 7,55%/tahun. Semata-mata jika ditinjau beralaskan komoditas, komoditas tanaman obat menujukkan laju penurunan (defisit perbelanjaan) sebesar 67,88%/tahun, sedangkan cak bagi dagangan bukan menunjukkan surplus perbandingan perdagangan dengan laju pertumbuhan sebesar 61,83%/hari (florikultura), 9,61%/tahun (sayuran) dan 6,99%/tahun (buah). Rincian ponten nisbah perbisnisan dapat dilihat sreg tabel 3.

Tabulasi 3. Poin Ekspor Impor Barang Hortikultura Tahun 2010 – 2014

Barang

Biji kemaluan 173.107.906 241.582.615 244.714.071 193.026.591 210.355.414 7,18 Flori 9.045.737 13.161.650 28.126.447 16.304.091 16.533.525 29,64 Sayuran 170.300.008 196.958.874 256.597.475 190.776.006 206.736.712 7,16 Tumbuhan

Obat 18.867.159 13.997.811 12.411.193 23.446.296 16.931.764 6,00 Total 371.520.810 465.700.950 541.849.186 422.952.984 450.557.414 6,57

Komoditas

Buah 685.895.982 856.239.577 999.151.433 689.771.448 804.074.247 6,78 Flori 5.897.698 8.413.923 13.010.323 8.085.025 6.361.865 9,53 Sayuran 583.278.245 781.261.989 856.934.715 818.612.572 769.397.266 8,29 Tumbuhan

Obat 2.393.777 17.947.681 23.300.423 7.257.406 12.815.452 171,83 Total 1.277.465.702 1.663.863.170 1.892.396.894 1.523.735.451 1.592.648.830 7,26

Komoditas Selisih Ekspor – Impor (US $)

Rata-rata pertumbuhan

selama 5 waktu (%) 2010 2011 2012 2013 2014*

(5)

20/




Buram Diplomatis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019

Sayuran (412.978.237) (584.303.115) (600.337.240) (628.445.566) (562.660.555) 9,61 Pokok kayu

Obat 16.473.382 (3.949.870) (10.889.230) 16.188.890 4.116.312 -67,88 Total (906.144.892) (1.198.162.220) (1.350.547.708) (1.100.782.467) (1.142.091.416) 7,55 Permakluman : Sumber BPS dan Pusdatin diolah

*) Nilai Sementara

Penurunan laju (defisit perbisnisan) yang sangat raksasa pada tanaman peminta disebabkan karena menurunnya besaran produksi dan luas panen di dalam negeri. Situasi ini dapat dilihat pada grafik diatas bahwa pada tahun 2011 dan 2014 terjadi penurunan skor selisih ekspor-impor yang cukup signifikan. Penyebab penghamburan selisih nilai ekspor-impor pada musim 2011 dan 2014 tersebut adalah mewabahnya penyakit busuk rimpang sehingga banyak pokok kayu mati dan puso. Disamping itu dengan kelangkaan barang dipasaran dan harga menjadi menanjak, maka pembajak mengerjakan penuaian akil balig sehingga mutu rimpang yang dihasilkan menjadi rendah, sehingga enggak dapat dipedulikan maka dari itu pabrik. Industri pada akhirnya mengekspor bahan baku dari luar negeri.

4. Biji Ganti Penanam

Nilai Tukar Petani atau disingkat NTP adalah rasio atau nisbah indeks nan diterima makanya pekebun berusul usaha taninya dengan indeks yang dibayarkan petani dan dinyatakan dalam persen. Rincian NTP dan perkembangannya sepanjang hari 2010-2014 dapat dilihat pada grafik 2.

Takrif : Sumber BPS diolah Ditjen Hortikultura *) angka proyeksi

Dari tabulasi tersebut memperlihatkan bahwa selama kurun periode 5 hari buncit (2010 – 2014), angka NTP sub sektor hortikultura kian tinggi dari angka NTP sub sektor komoditas pertanian lainnya. Kebanyakan

pertambahan nilai NTP hortikultura sreg periode 2010 – 2014 sebesar

0,99%/tahun. Dengan demikian, dari aspek ini mutakadim seyogyanya bila usaha hortikultura dapat terus didorong agar kukuh menjadi saringan

(6)

21/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


pemerintah untuk meningkatkan taraf spirit dan kesejahteraan rakyat yang menggantung spirit di sektor agraris.

5. Ketersediaan dan Konsumsi

Kesiapan komoditas hortikultura lebih ditekankan puas komoditas yang digunakan untuk konsumsi dan pakan. Produk yang diukur ketersediaannya terutama pada buah dan sayur.

Ketersediaan buah-buahan perkapita selama tiga perian (2010 – 2012),

terjadi peningkatan rata-rata sebesar 7,87%/tahun, sayuran sebesar 2,18%/tahun dan buah sebesar 5,55%. Secara keseluruhan ketersediaan sayur dan biji kemaluan meningkat dari 105,58 kg/kapita pada tahun 2010 menjadi 117,35 kg/kapita pada tahun 2012. Secara makin rinci ketersediaan dan angka rata-rata tiap-tiap kapita dagangan hortikultura dapat dilihat plong grafik 4 dan grafik 5.

Wara-wara : Sumber NBM

Sendang : Buku Saku Data Hortikultura, September 2013

Dari Diagram 5. Konsumsi hortikultura untuk komoditas biji kemaluan-buahan dan

sayur-sayuran selama 4 tahun ragil (2010 – 2013) terus mengalami

penurunan. Hal ini bisa dilihat pada tahun 2010 bikin konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran sebesar 27,82 kg/tahun/kapita dan 35,15 kg/tahun/kapita yang terus menurun sebatas periode 2013 sebesar 23,97 kg/perian/kapita lega buah-buahan dan 31,14 kg/tahun/kapita pada sayur-sayuran.

Rendahnya konsumsi buah dan sayur selama 4 perian terakhir (2010 – 2013) disebabkan oleh distribusi buah dan sayur yang tidak

merata di murahan, berkurangnya sediaan dan masih rendahnya kesadaran masyarakat bagi mengkonsumsi biji pelir dan sayur.

Grafik 3. Kesiapan Per Kapita Komoditas Hortikultura (kg/kapita)

Grafik 4. Nilai Rata – rata Tiap-tiap Kapita

(7)

22/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019

Keterangan : Sendang NBM


Sumber:

Buku Dompet Data Hortikultura , September 2013

Tingkat konsumsi buah-buahan dan sayuran di Indonesia masih jauh

lebih rendah dari rekomendasi FAO/UNDP yakni sebesar 75

kg/kapita/perian dan tentunya kian rendah lagi bila dibandingkan dengan negara-negara bertamadun di sekitarnya. Dengan demikian, peluang cak bagi meningkatkan konsumsi buah dan sayur masih silam terbabang lebar. Tetapi bikin itu diperlukan upaya pemasyarakatan dari pemerintah seperti promosi dan kampanye ke semua pihak serta dukungan dari pihak swasta dan masyarakat privat membangkitkan konsumsi biji zakar dan sayur mulai dari lingkungan yang paling kecil seperti tanggungan. Dengan aksi ini diharapkan bernas mendorong peningkatan konsumsi buah dan sayur di Indonesia.

1. Produksi dan Luas Panen Dagangan Hortikultura

Upaya membuat peningkatan produksi dan mutiara produk hortikultura yang dikembangkan oleh peladang mutakadim dilakukan melampaui penyiapan pedoman teknik budidaya yang baik dan etis oleh Direktorat Jenderal Hortikultura, pembinaan dan penyuluhan oleh petugas dari Dinas Pertanian dan PPL Dinas Pertanian di kewedanan mengenai penerapan teknologi budidaya yang baik dan bermartabat sesuai GAP dan SOP serta penanganan pasca pengetaman sesuai GHP.

Transfer/alih teknologi telah dilakukan oleh daerah pelaksana Tugas Pembantuan (TP) menerobos Sekolah Lapang (SL). Dampak nan diharapkan semenjak diadakannya sekolah lapang ini adalah meningkatnya penguasaan teknologi, informasi dan keterampilan petani. Hasil yang diperoleh merupakan meningkatnya pengetahuan dan kegesitan pekebun dalam hal teknologi budidaya dan pengelolaan manuver, sehingga berakibat pada peningkatan produksi dan pendapatan penanam.

B. Sumbangan hortikultura Dalam Penanda Mikro

(8)

23/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


Adapun perkembangan produksi produk hortikultura tahun 2009-2013 dapat dilihat plong tabel 4.

Tabulasi 4. Perkembangan Produksi Komoditas Hortikultura Perian 2009-2013

No

Kelompok

1 Sayuran 10.628.285 10.706.386 10.871.224 11.264.972 11.558.449 2,13 2 Biji pelir 18.653.900 15.490.373 18.313.507 18.916.731 18.288.279 0,31 3 Florikultura :

a. Bunga Potong** 263.531.374 378.915.785 486.851.880 616.858.625 684.097.623 27,47 b. Daun Potong*** 4.050.498 6.871.141 4.550.551 3.192.945 3.394.093 3,08 c. Tanaman Pot

– Rumpun 2.471.857 2.454.373 4.553.674 5.025.370 1.972.808 8,61 – Tanaman 19.512.944 21.656.442 26.214.980 24.584.077 29.343.407 11,29 d. Bunga Tabur 28.307 21.600 22.541 22.862 30.149 3,49 e. Lansekap 2.387.452 2.164.323 3.197.469 2.728.074 2.717.464 5,83 4 Pohon Obat 472.863 418.684 398.482 449.447 541.426 4,24 a. Rimpang 408.187 351.155 316.572 374.657 453.206 3,87 b. Non Rimpang 64.676 67.529 81.909 74.790 88.220 8,74

Keterangan

**) Eceran produksi bunga hunjam adalah tangkai

***) Eceran produksi daun potong, tanaman vas dan lansekap dalah pohon

Berdasarkan data tersebut, secara umum produksi komoditas hortikultura mengalami peningkatan dengan lancar nan fluktuatif. Laju kenaikan produksi terbesar adalah produk florikultura berusul kelompok bunga hunjam 27,47%, tanaman vas pohon 11,29%, tanaman jambangan rumpun 8,61%, lansekap 5,83%, bunga tabor 3,49% dan daun potong 3,08%. Sementara itu, komoditas biji pelir, sayuran dan tanaman obat mengalami lampias peningkatan produksi sebesar 0,31%, 2,13% dan 4,24% (yang terdiri berusul rimpang sebesar 3,87% dan non rimpang 8,74%).

Berdasarkan data tersebut, secara umum luas panen hortikultura mengalami penurunan dengan lancar umumnya penurunan yang fluktuatif. Lampias penurunan produksi terjadi pada komoditas daun hunjam 15,85%, tumbuhan vas pohon13,25%, tanaman vas rumpun 12,41% dan bunga tabur 3,71%. Sedangkan komoditas nan mengalami kenaikan laju

rata –rata pertumbuhan terjadi lega rimpang 0,07%, sayuran 0,52% dan

buah 1,21%.

Tentang perkembangan areal panen komoditas hortikultura tahun 2009-2013 boleh dilihat puas tabulasi 5 berikut.

Tabulasi 5. Perkembangan Luas Panen Barang Hortikultura Tahun 2009-2013

(9)

24/




Tulangtulangan Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019

Mualamat : Sumber BPS diolah Ditjen Hortikultura

Selama 5 tahun bontot komoditas sayuran yang menunjukkan lancar eskalasi rata-rata produksi sebesar 2,13%/tahun. Jika dilihat berdasarkan komoditasnya maka terjadi peningkatan dan penurunan laju pertumbuhan tiap tahunnya. Laju peningkatan terbesar terjadi lega

barang Paprika (26,36%), kembang kol (12,15%),wortel (10,41%), petai

(6,77%) dan cili lautan (6,53%). Sedangkan laju penurunan terbesar

terjadi pada barang bayam (4,86%), ketimun (4,17%), kangkung

(3,77%), kedelai panjang (1,71%) dan kacang merah (0,78%). Luas pengetaman sayuran pun mengalami peningkatan lampias rata-rata pertumbuhan tiap tahunnya sebesar 0,52% nan yakni andil terbesar bersumber lampias

pertumbuhan lega dagangan paprika (17,73%), kembang kol (11,58%)

dan wortel (8,17%). Perkembangan produksi dan luas panen cak bagi

masing-masing dagangan dapat dilihat lega
lampiran 2.

Produksi komoditas buah plong musim 2009 – 2014 menunjukkan lancar

peningkatan dengan lampias rata-rata pertumbuhan tiap tahunnya sebesar 0,31%. Kenaikan lampias rata-rata tersebut yaitu andil terbesar dari peningkatan laju pertumbuhan pada komoditas alpukat (90,50%), manggis (13,59%), melon (10,43%), duku (8,29%), dan durian (6,81%). Luas panen pada komoditas buah pun mengalami peningkatan sebesar 1,21%/hari. Jika dilihat berdasarkan komoditasnya, terjadi penurunan dan peningkatan laju pertumbuhan. Penurunan lampias pertumbuhan terjadi pada dagangan jambu biji, jeruk siam, nangka, mauz, rambutan, salak, sawo, melon, blewah dan stoberi. Sadangkan pertambahan laju pertumbuhan terjadi puas komoditas alpukat, belimbing, langsat, durian, jambu air dan bukan-tak.

Sepanjang 5 musim keladak, rata-rata peningkatan produksi florikultura dalam susuk anakan potong mendaki 27,47%/perian, daun potong naik 3,08%/tahun, pohon jambang pohon naik 11,29%/periode, tanaman pot rumpun naik 8,61%, rente tabur naik 3,49% dan lansekap mendaki 5,83%/tahun. Sedangkan laju Luas panen Florikultura secara kewarganegaraan mengalami penerjunan. Keadaan ini disebabkan karena intim semua luas pengetaman florikultura mengalami penurunan kecuali sreg bunga tabur nan mengalami kenaikan sebesar 0,14%

(10)

25/




Rancangan Diplomatis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


rimpang sebesar 8,74%. Pada komoditas rimpang, hampir semua komoditas mengalami lampias kenaikan kecuali puas dringo nan mengalami lampias penurunan sebesar 29,89%. Sedangkan untuk non rimpang, hamir semua mengalami lancar peningkatan kecuali pada pace/bengkudu yang mengalami eskalasi sebesar 13,82%.

Luas panen sreg tanaman pemohon, rata-rata lancar pertumbuhan meningkat tiap tahunnya sebesar 0,07% yang merupakan sumbangan semenjak produk rimpang sebesar 0,07% dan non rimpang 24,16%. Seandainya dilihat berdasarkan komoditas tanaman obat, damping semua komoditas mengalami laju peningkatan luas pengetaman kecuali lega kencur, kunyit dan mahkota dewa yang berturut-turut mengalami penjatuhan sebesar 2,04%, 1,74% dan 2,92%.

2. Pengembangan Kawasan Hortikultura

Peningkatan produksi hortikultura sudah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura melalui salah satu kegiatan utamanya berupa pengembangan provinsi buah, sayur, pohon obat dan florikultura. Namun jika dibandingkan dengan areal penuaian hortikultura nasional, cakupan areal nan mampu didanai pemerintah sangat kerdil, hanya berkisar 0,1% sampai 0,5%.

Perkembangan kawasan ekspansi kawasan hortikultura tahun 2010-2014 boleh dilihat pada tabulasi 6.berikut

Keterangan : kredit alamat sesuai renja/sebelum debirokratisasi estimasi

Peningkatan luas pengembangan komoditas hortikultura meningkat secara bermanfaat pada periode 2011-2014 buat komoditas sayuran, tanaman obat dan buah kecuali florikutura yang cenderung mengalami penurunan. Penambahan luas kawasan hortikultura meningkat tajam sejak waktu 2012. Kondisi ini seiring dengan bertambahnya alokasi taksiran untuk pengembangan kawasan-kawasan hortikultura. Namun

(11)

26/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


untuk tahun 2013 dan 2014 terjadi penurunan luas kawasan hortikultura. Hal ini disebabkan maka itu perubahan pola belanja pengembangan kawasan dari sediakala yang berupa transfer uang menjadi pola pengadaan komoditas/jasa yang diserahkan kepada masyarakat menyebabkan realisasi peluasan provinsi mengalami penjatuhan.

3. Pengembangan Registrasi Tegal dan alias Lahan Usaha Hortikultura

Kegiatan registrasi kebun dan alias lahan usaha sudah menjadi capaian pengejawantahan (output) Ditjen Hortikultura sejak periode 2010. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan gerendel saing produk hortikultura nan diusahakan puas kebun/tanah kampanye yang mutakadim diregistrasi.

Registrasi kebun ataupun lahan operasi pada komoditas buah, sayur, tanaman pengasosiasi dan florikultura merupakan tindaklanjut dari Statuta Menteri Pertanian No. 48/Permentan/OT.14/2009 tentang Pedoman Budidaya Biji zakar dan Sayur yang Baik, Peraturan Menteri Perkebunan No. 57/Permentan/OT.14/2012 tentang Pedoman Budidaya Tanaman Pelelang

nan Baik dan Peraturan Nayaka Pertanian

No.48/Permentan/OT.140/5/2013 tentang Pedoman Budidaya Tanaman Florikultura yang Baik. Lebih lanjut sekali lagi tatacara registrasi kebun ataupun

lahan manuver ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pertanian No.

58/Permentan/OT.140/9/2012 tentang Tata Cara Registrasi Kebun dan Lahan Usaha Buah dan Sayur yang Baik.

Pelaksanaan registrasi kebun maupun petak usaha ini dilakukan oleh tenaga teknis Dinas Perkebunan Distrik nan telah mendapat habuan pelatihan teknis registrasi kebun atau lahan aksi. Sebagaimana yang diatur dalam permentan, maka kebun ataupun lahan operasi hortikultura yang dapat dilakukan registrasi yaitu kebun/persil usaha yang telah menerapkan

GAP/GHP, memiliki SOP (standard Operating procedure), sudah

mengerjakan SLPHT dan sudah lalu melakukan pendataan puas usaha taninya. Sebatas dengan 2014, jumlah kebun atau lahan persuasi yang telah diregistrasi sebagaimana tabel 6 berikut.

Tabel 6. Kronologi Registrasi Kebun dan Sasaran Lahan Usaha

Hortikultura Tahun 2010 – 2014

(12)

27/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


Total kebun alias lahan usaha yang teregistrasi pada tabel diatas termasuk tipar/lahan usaha baru yang bau kencur pertama teregistrasi maupun kebun/tanah usaha yang disurvailen (dilakukan penilaian ulang atas penerapan GAP). Jumlah kebun maupun lahan usaha pecah masa ke tahun menghadap terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penerapan GAP pada pelaku usaha hortikultura di Indonesia juga semakin meningkat.

4. Fasilitasi Pengelolaan Pascapanen

Upaya fasilitasi pengelolaan pascapanen telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura secara resmi berangkat tahun 2010. Fasilitasi tata pascapanen di Direktorat Jenderal Hortikultura tersebar cak bagi komoditas tumbuhan buah, sayuran dan pokok kayu pelamar serta florikultura. Fasilitasi tersebut aktual pemberian wahana dan prasarana pengelolaan pascapanen serta Sekolah Lapang GAP (Good Agriculture Practice). Akan halnya perkembangan volume fasilitas pascapanen selama

periode 2010 – 2014 sebagaimana tabel 7 berikut :

Tabel 7.Realisasi Fasilitasi Pascapanen Hortikultura Hari 2010 – 2014

No Kegiatan Tahun

(13)

28/




Susuk Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


5. Ketersediaan dan Produksi Semen

Ketersediaan sperma hortikultura berasal semenjak produksi privat distrik dan impor. Sementara itu kebutuhan jauhar hortikultura buat komoditas-komoditas utama sebagian osean dipenuhi maka dari itu masyarakat sendiri dengan kaidah membeli benih yang tersedia di tanah lapang. Dengan anggaran pemerintah nan adv minim, sasaran peningkatan produksi jauhar hortikultura melalui dana APBN adalah 4% untuk sperma pohon biji pelir, 3% cak bagi sperma tumbuhan sayuran, 3% buat benih tanaman florikultura, dan 2% kerjakan benih tumbuhan pengasosiasi.

Pertumbuhan produksi jauhar sayur sejak musim 2010 – 2014 rata-rata sebesar 3,8 %. Sedangkan galibnya ketersediaan sperma sayuran dan pokok kayu obat dibandingkan kebutuhannya syair tahun 2010 – 2014 baru mencecah 13,5 %.

Dari sasaran produksi yang ditetapkan tersebut ternyata lain semuanya dapat terealisasi karena sejumlah faktor antara lain: ketersediaan benih sumber / mata tempel, kekurangterampilan tenaga tanah lapang yang mengalokasikan/grafting, faktor lingkungan dan lain-lain. Produksi benih pohon buah setiap tahunnya kerap menurun sejauh 5 tahun anak bungsu dengan kisaran 29%.

Istimewa untuk penyiapan benih bawang berma dekat seluruhnya dilakukan oleh penangkar masyarakat, namun masih ada petani nan menggunakan mani bersumber mulai sejak hasil pertanamannya koteng dengan memanfaatkan hasil panen musim tanam sebelumnya.

Produksi benih tanaman sayuran dan tanaman perunding dipenuhi dari produksi intern distrik dan sebagian dari impor. Produksi internal negeri dilaksanakan oleh penyelenggara benih swasta, penangkar dan Balai Mani Hortikultura (BBH). Plong mani hibrida sayuran makin banyak diproduksi maka dari itu produsen semen swasta semenjana/samudra. Sedangkan benih Open Pollinated (OP)/non hibrida diproduksi maka dari itu produsen benih kecil.

Produksi semen tanaman florikultura sepanjang waktu 2010 – 2014

cenderung meningkat setiap tahunnya rata – rata sebesar 3 %. Benih

anggrek nan diproduksi lega lazimnya berasal semenjak perkalian dengan biji, belum diperbanyak secara meriklon, sehingga benih nan dihasilkan jumlahnya terbatas, varietasnya berbagai rupa dan mutunya masih rendah. Sedangkan untuk krisan, mawar, melati benih diperbanyak dengan stek, gladiol dan sedap malam diperbanyak melalui pongkol.

Pada periode 2010 – 2014 produksi benih tanaman florikultura galibnya baru dapat menepati selingkung 22,7 % berbunga kebutuhan. Capaian produksi semen florikultura dibandingkan dengan korban produksi sudah tercapai rata-rata seputar 20,6 %.

Pertumbuhan produksi benih tanaman obat sejak tahun 2010 – 2014

(14)

29/




Tulangtulangan Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019


6. Kelembagaan Perbenihan Hortikultura

Sistem perbenihan yang handal mesti dibantu dengan kelembagaan perbenihan yang baik. Kelembagaan perbenihan adalah lembaga nan kondusif ekspansi perbenihan baik itu berpokok segi penyelenggaraan ataupun sebagai pegiat penyedia benih. Kelembagaan perbenihan hortikultura antara lain merupakan Balai Mani Hortikultura (BBH), Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), penangkar, penggarap dan perantau jauhar hortikultura.

BBH sebelum otonomi daerah merupakan instalasi kebun jawatan dan sehabis independensi wilayah ditingkatkan menjadi UPTD Pemerintah Provinsi. Ketika ini BBH berjumlah 32 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Provinsi yang mentah sudah memiliki BBH yaitu provinsi Papua Barat, namun tugas dan fungsinya belum optimal. Padahal Provinsi yang belum punya BBH yakni provinsi Gugusan pulau Riau dan provinsi Kalimantan Paksina.

Sampai dengan tahun 2014 sudah takut 33 BPSBTPH. Provinsi yang belum memiliki instansi/putaran nan menindak sertifikasi dan penapisan peredaran benih yaitu Kalimantan Utara. Perusahaan perbenihan hortikultura di Indonesia nan mutakadim memperoleh sertifikat sertifikasi sistem mutiara berusul LSSM BTPH merupakan PT. East West Seed Indonesia, PT. BISI International/Tanindo, PT. Agri Berada Pertiwi, PT. Syngenta Indonesia, PT. Recup Agro Persada, PT. Benih Citra Asia, CV. Aditya Sentana Agro, PT. SHS Simpang Pujon, CV. Aura Seed Indonesia, Balai Penajaman Tanaman Sayuran dan Balai Penelitian Tanaman Hias. Pembinaan perbenihan hortikultura untuk daerah dilakukan oleh Dinas Pertanian Provinsi. Pembinaan tersebut meliputi pembinaan penangkar dan rakitan penangkar baru. Penataan dan pemberdayaan kelembagaan perbenihan hortikultura akan berdampak terhadap perwujudan industri perbenihan bakal menghasilkan mani bermutu bermula

keberagaman unggul secara berkelanjutan. Secara umum, kondisi

kelembagaan perbenihan yang ada sekarang belum dapat dikategorikan bak lembaga industri perbenihan yang abstrak dan membutuhkan suatu penanganan khusus agar bernas beroperasi secara profesional, baik yang dikelola maka itu perorangan, kampanye gerombolan, maupun kelembagaan perbenihan pemerintah.

7.
Jalan Ekspor & Impor mani Hortikultura

Perkembangan ekspor jauhar hortikultura pada masa 2009 – 2013 memfokus fluktuatif baik dilihat dari volume atau biji ekspor. Indonesia mengimpor benih tanaman biji zakar (khususnya mendikai, melon, dan strawbery), benih pohon sayuran ( kentang dan sayuran ), dan tanaman florikultura (anggrek dan florikultura subtropis). Volume ekspor

(15)

30/










Gambar Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019



Tabel 8. Perkembangan Ekspor Mani Hortikultura Perian 2009 – 2013

Komoditi Satuan

Tagihan Tagihan Nilai Tagihan Skor Volume Biji Volume Biji Volume Nilai Tagihan Nilai

(US $) (US $) (US $) (US $) (US $) (US $)

Kentang Kg – – – 100,000 150,000 100,000 150,000

Berambang Ahmar Kg – – –

-Mani Sayuran

Bentuk Biji Kg 21,515,483 23,044,482 – – – 44,559,965

Anggrek Bangkai 437,860 481,646 259,350 1,610,867 259,350 285,285 512,100 384,890 512,100 563,310 1,980,760 3,325,998 Krisan Stek 78,848,765 2,365,462 49,348,798 1,480,463 44,636,710 1,330,911 58,895,000 1,766,850 53,843,990 1,615,379 285,573,263 8,559,065

Tahun 2013 Total Ekspor Tahun 2009-2013

Periode 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012

Tabel 9. Perkembangan Impor Benih Hortikultura Periode 2009 – 2013

No. Komoditi Ketengan

Volume Piutang Nilai Debit Nilai Volume Kredit Volume Kredit Tagihan Nilai Volume Nilai

(US $) (US $) (US $) (US $) (US $) (US $)

1 Ubi belanda Kg 3,750,000 4,875,000 2,382,000 3,096,600 4,735,000 7,102,500 6,791,000 10,186,500 2 Bawang Biram Kg 4,170,000 4,587,000 8,700,000 9,570,000 2,500,000 3,000,000 6,851,000 8,221,200

3

Semen sayuran rangka biji Kg

4 Anggrek Mayit 1,651,030 165,103 2,159,740 215,974 3,213,957 321,395 1,871,365 187,136 3,746,070 374,607 12,642,162 1,264,215 5 Krisan Stek 447,165 31,301 38,000 2,660 235,700 16,499 361,510 25,305 163,150 11,420 1,245,525 87,185

Perian 2013 Total Impor Hari 2009 – 2013

(16)

31/




Rencana Diplomatis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019



8.
Kronologi Pelepasan/Pendaftaran Varietas Hortikultura

Dalam rangka penyediaan spesies unggul hortikultura, setiap tahun pemerintah melakukan pemenuhan/pencatatan jenis. Jenis dan varietas tanaman hortikultura yang telah dilepas/didaftar maka itu Nayaka Pertanaman sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 sebanyak 68 jenis yang terdiri semenjak 685 varietas, dengan rincian : a) 24 jenis pokok kayu biji pelir yang terdiri berpokok 149 varietas; b) 27 jenis tanaman sayuran nan terdiri berbunga 429 varietas; c) 11 tipe florikultura yang terdiri berasal 97 spesies; dan d) 6 jenis tanaman tanaman obat yang terdiri terbit 10 macam. Rincian Perkembangan Per tahun seperti mana grafik berikut.

Diagram 10. Jumlah Komoditas dan Keberagaman Hortikultura Yang

Telah Didaftar Oleh Menteri Pertanaman Tahun 2010 – 2013

No Spesies

Perlindungan tanaman merupakan putaran integral berguna dari sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian, terutama kerumahtanggaan mempertahankan tingkat kapasitas pada taraf tinggi dan mutu lega dada konsumsi. Keadaan ini dilaksanakan intern bentuk penerapan PHT sreg usahatani sesuai GAP, sehingga kekeringan hasil akibat serangan OPT dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) seperti air sebak dan kekeringan dapat diminimalisasi.

Direktorat Perlindungan Hortikultura puas Waktu Anggaran 2014 mutakadim menetapan sasaran kegiatan sebagai berikut : terkelolanya serangan OPT kerumahtanggaan pengamanan produksi hortikultura dan terpenuhinya persyaratan teknis yang terkait dengan perlindungan tanaman dalam mendukung ekspor hortikultura. Terwalak 5 Indikator Utama (IKU) Direktorat Perlindungan Hortikultura yaitu 1) Kemudahan Pengelolaan OPT, 2) Rekomendasi Dampak Perubahan Iklim, 3) Tulang beragangan Proteksi Pokok kayu Hortikultura, 4) Draft Pestlist Persyaratan Teknis SPS dan 5) SLPHT. Keterkaitan kegiatan penting tersebut diharapkannya tercapainya target sasaran outcome yang sudah tertuang dalam Renstra, yaitu dapat menurunkan serangan OPT dengan rasio luas bidasan OPT terhadap luas penuaian maksimal 5% masing-masing perian.

Capaian Perimbangan Luas Serangan OPT Terhadap Luas Pengetaman, sebatas

(17)

32/




Rencana Diplomatis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019




antara 0,23% – 4,00%, melewati OPT buah 3,12%, OPT sayuran 4,00%, OPT Florikultura 0,35% dan OPT tumbuhan obat 0,30%. Proporsi luas

gempuran OPT hortikultura Tahun 2014 meningkat 0,11%

dibandingkan luas serangan Musim 2013 (1,83%). Luas serbuan OPT hortikultura tahun 2014 sebesar 1,94% dan telah mencapai diatas target sebesar 257,73% bila dibandingkan dengan target Penetapan Penampakan (PK) 5% per tahun. Perbandingan proporsi luas serangan OPT

terhadap luas pengetaman hortikultura 5 perian keladak (2010 – 2014*)

umpama berikut :

Grafik 11. Rasio Luas Serangan OPT Hortikultura Terhadap

Keseluruhan Luas Panen

No

Barang

Perbandingan Luas Terjangan dibandingkan

Luas Penuaian (%)

2010 2011 2012 2013 2014

1 Biji pelir-buahan 1,90 1,03 2,50 2,30 2,80

2 Sayuran 2,96 4,61 4,90 4,50 3,35

3 Florikultura 0,14 0,25 1,50 0,24 0,33

4 Tumbuhan Obat 11,49 0,44 0,20 0,28 0,23

Rata-rata

4,23

1,59

2,28

1,83

1,76

Target

5,0

4,5

5,0

5,0

5,0

Sumber : Direktorat Proteksi Hortikultura

Kenyataan : *) data sampai rembulan September 2014

Grafik 7. Nisbah Luas Serangan OPT Hortikultura Terhadap Keseluruhan

(18)

33/




Bentuk Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019



– Skala luas serangan OPT terhadap luas pengetaman bagi komoditas

hortikultura 5 waktu buncit (2010 – 2014*) lazimnya telah

mencapai diatas target, yaitu sebesar antara 1,59 – 4,23% atau

118,20 – 283,00% terhadap target yang ditetapkan dengan luas

terjangan maksimal antara 4,5 – 5%.

10.Pengujian Mutiara Barang Hortikultura

Bagi memastikan bahwa dagangan hortikultura yang beredar dimasyarakat merupakan barang nan bermutu dan aman dikonsumsi, maka Direktorat Perlindungan Hortikultura melakukan pemantauan cirit pestisida sejak tahun 2000 sebatas momen ini. Pemantauan tersebut yakni bentuk sanjungan Direktorat Penjagaan Hortikultura dalam pengawasan mutu komoditas

hortikultura (biji zakar dan sayuran). Analisis selama 5 tahun (2010 –

2014) puas semua sampel buah dan sayuran yang dianalisis tidak menunjukkan sisa pestisida nan menerobos BMR (Senggat Maksimum Tahi) yang ditetapkan.

11.Pengelolaan Dampak Perubahan Iklim

Kegiatan pengembangan sistem pemeliharaan hortikultura juga dilakukan melalui mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Anju penanganan untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak perubahan iklim terhadap tanaman hortikultura, secara konseptual dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pendekatan strategis, taktis dan operasional. Rekomendasi yang dihasilkan dari upaya antisipasi dan mitigasi perubahan iklim intern rangka menindihkan kehilangan hasil hortikultura akibat DPI nan meliputi bencana banjir, kekeringan dan serbuan OPT pada sentra produksi hortikultura dapat diberikan secara akurat. Untuk itu perlu dilakukan upaya pengadaan fasilitasi perekaman Automatis Weather Station (AWS) andai partisan

kegiatan amatan tersebut. Pengadaan fasilitasi AWS telah

dialokasikan pada tahun 2012 sebanyak 11 unit.

Dalam tulang beragangan mengantisipasi luas serangan organisme penggangu tumbuhan (OPT) pada pokok kayu hortikultura terutama pada masa hujan (MH) dan musim kemarau (MK) akibat dampak perubahan iklim (DPI) yang kemunculannya sulit diprediksi setiap tahun. Bakal itu Direktorat Pemeliharaan Hortikultura pada 3 (tiga) tahun Antisipasi (2011-2013) telah melaksanakan kegiatan prediksi tersebut melintasi langkah mitigasi dan adptasi DPI yang dilakukan di pusat dan daerah berupa penyusunan 62-78 rekomendasi guna memprakirakan serangan OPT hortikultura lega MH dan MK dan usulan pengendaliannya di 33 propinsi.

(19)

34/




Rang Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019



Tabel 12. Realisasi Rekomendasi Dampak Perubahan Iklim

No

Waktu

Target

Realisasi

1 2011 62 62

2 2012 65 64

3 2013 78 71

Sumur : Direktorat Perlindungan Hortikultura (2014)

Dari table diatas, realisasi rekomendasi dampak perubahan iklim dari hari ke tahun menjurus mengalami penjatuhan berbunga target nan ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil realisasi pada masa 2010 yang sampai ke 100% dari target nan ditetapkan kemudian pada tahun 2012 dan 2013 mengalami penjatuhan sebesar 98,5% dan 91,1%. Galibnya realisasi rekomendasi dampak perubahan iklim pada 3 (tiga) hari terakhir (2011-2013) mencapai 96,53%. Tidak optimalnya capaian fisik kegiatan Mitigasi dan Adaptasi Iklim serta

kagiatan konservasi lainnya, terjadi setelah satker di UPTD –

BPTPH dikelola makanya Jawatan Pertanian Provinsi yaitu menginjak tahun 2012

– masa ini.

12.Pengembangan Kelembagaan Pengendalian OPT

Adanya tuntutan penyediaan teknologi pengendalian OPT nan partikular lokasi dan sebagai pusat pengembangan perwakilan hayati maka usaha pengembangan kelembagaan pemerintah di tingkat distrik dan kabupaten, yaitu Laboratorium PHP/Laboratorium Agens Hayati dan Makmal Pestisida maupun kelembagaan penjagaan tanaman di tingkat orang tani/kelompok tani berupa Balai pengobatan PHT dan PPAH yang berbasis keramaian bersawah yang dibina maka dari itu BPTPH dan LPHP. Poliklinik PHT/Klinik Pokok kayu yaitu kegiatan nan baru dilaksanakan lega tahun 2011 yang dialokasikan sebanyak 98 unit di beberapa negeri, dan setakat hari 2014 keberadaan Poliklinik PHT bertambah menjadi 240 unit. Pelaksanaannya masih kerumahtanggaan tahap penobatan, Oleh sebab itu, kelompok berladang bendung agens hayati menjadi bagian bersumber Balai pengobatan PHT/ Balai pengobatan Tanaman.

Sejumlah kelompok-kelompok bertanam pemakai agens hayati yang telah terbentuk dengan jumlah keseluruhan kelompok yang mutakadim

menerapkan agens hayati adalah sebanyak 527 kerumunan

diantaranya yang tersebar di Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Paruh, Jambi, Sumatera Selatan , Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Bali, Banten, Bengkulu, DIY, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Jawa Barat, Lampung, Gorontalo dan Maluku.

13.Dukungan Laboratorium dan Kopi Persyaratan Teknis Ekspor

Hortikultura

(20)

35/




Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015



2019




Makmal Pengamatan Hama Ki kesulitan (PHP) berjumlah 76 laboratorium nan tersebar di 33 provinsi; 17 makmal (di 12 UPTD – BPTPH) diantaranya pada tahun 2009 start difokuskan misal lokus kegiatan Sinergisme Sistem Perlindungan Hortikultura

dalam Pemuasan
Sanitary Phyto-Sanitary, World Trade Organization

(SPS-WTO). Di meres persyaratan ekspor-impor, sudah lalu ditetapkan

ketentuan yang diatur dalam perjanjian
Sanitary and Phytosanitary

(SPS). Sampai dengan waktu 2014 sudah lalu dihasilkan 15 barang yang disediakan
pest list
nya ialah lakukan komoditas mangga, salak, manggis, strawberry, nangka belanda, raphis, temulawak, kentang, paprika, anggrek, pisang, tomat, kubis, bawang berma, dan cili. Tiga dagangan diantaranya yakni salak, manggis, dan mangga merupakan komoditas unggulan ekspor. Gonggongan anjing sudah lalu berbuntut diekspor ke China.

14.Jalan SL PHT Hortikultura

Darurat itu, terkait dengan kegiatan sekolah lapang PHT (SLPHT),

pada kurun waktu 2010 – 2014 sudah dilakukan SLPHT misal

Source: https://123dok.com/document/zx2egr4q-rencana-strategis-hortikultura.html

Posted by: holymayhem.com