Pengelolaan Air Pada Tanaman Sayuran

Sumber Gambar : ANDI MAULANA, SP., MP.

Budidaya sayuran di pelataran bukan merupakan hal mentah. Doang demikian, seiring berjalnnya hari resan tersebut semakin ditinggalkan, dan banyak pekarangan apalagi tak dimanfaatkan, dibiarkan terlantar dan tandus.

Bilang prasyarat nan harus dipenuhi dalam berbudidaya sayuran di pekarangan diantaranya ialah harus memiliki nilai estetika atau keindahan sehingga selain dapat dimakan juga dapat mempercantik jerambah rumah. Strategi yang dapat dilakukan, diantaranya melalui kekuasaan diversifikasi, bentuk, dan warna pohon. Selain itu, model nan digunakan sebaiknya berkarakter mobile atau mudah cak bagi dipindahkan.

Dempang semua jenis pohon dapat ditanam dalam dan bedengan, diantaranya bayam, bongkok, sawi, selada, kenikir, kemangi, kucai, seledri, cabai, tomat, terong, kambeh, kacang jenjang, timun, oyong, dll. Sayuran buah cocok bikin ditanaman intern vas, polybag atau paralon dan bambu yang ditegakkan sehingga dapat menimbuk media tanam intern jumlah cukup banyak.

Salah suatu jenjang budidaya  sayuran dipekarangan yang penting dan sangat menentukan keberhasilan ialah fertilisasi dan pengendalian hama-keburukan. Berikut ini kami uraikan tatacara fertilisasi dan pengendalian masalah :

  1. Pemupukan

Sayuran Organik

Untuk sayuran organik yang dibudidayakan secara organik, jenis cendawan yang digunakan adalah pupuk kandang atau jamur soren, baik berbentuk siram atau granul. Pemberian serabut dilakukan pada saat pembuatan media tanam dengan menambah volume pupuk soren atau pupuk kandang lebih banyak n domestik media tanam, misalnya2 alias 3 fragmen dibandingkan tanah dan sekam.

pupuk susulan dapat berupa jamur organik larutan yang sudah lalu tersedia di toko-toko alat angkut pertanian alias dengan cara membuat sendiri. Ketekunan pemberian pupuk organik biasanya dilakukan 3-7 hari sekali dengan pendirian melarutkan 10-100 ml pupuk kerumahtanggaan 1 liter air dan disiramkan secara merata pada media tanam.

Pada sayuran buah, disebabkan waktu pertumbuhan nan lebih janjang, maka selain rahmat rabuk organik cair juga dapat dilakukan kasih rabuk susulan berwujud serat kandang atau pupuk kompos setiap 30 hari sekali sebanyak 50-100 g ataupun 2-3 genggam pupuk masing-masing tanaman.

Sayuran Non Organik

Bagi budidaya non organik, pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan jamur kimia seperti mana serat majemuk NPK; paduan pupuk tunggal Urea, TSP, dan KCL masing-masing suatu babak; atau serabut pelengkap cair, Spesies cendawan kimia tersebut bayak tersedia di toko sarana dan prasarana pertanian ataupun kios-kios pohon hias.

Pemupukan dapat dilakukan dengan cara menaburkan pupuk sebanyak 1/2 – 1 sendok teh disekitar permukaan tumbuhan. Setelah pupuk ditaburkan, maka harus taajul dilakukan penyiraman tanaman bakal meninggalkan efek merusak kegaraman kawul ilmu pisah terhadap tanaman.

Fertilisasi susulan bisa dilakukan dengan cara melelehkan 1 sendok kawul NPK ataupun campuran pupuk urea, TSP, dan KCL ke dalam 10 liter air. Lalu siramkan secara merata pada media tanam. Pengulangan bisa dilakukan setiap 3 atau 7 hari sekali.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Sayuran Organik

Pengendalian Wereng. Pengendalian wereng dapat dilakukan secara fisik dengan pendirian membunuh atau membuang wereng yang terwalak plong pokok kayu dan kendaraan tanam ataupun bisa juga secara kimiawi dengan racun serangga nabati. Insektisida nabati telah banyak dijual di kios-kios pertanian. Apabila memungkinkan, pestisida nabati dapat dibuat sendiri dengan menunggangi sumberdaya yang terdapat di tungku dan jerambah.

Pengendalian Penyakit. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan memberikan agensia hayati. Agensia hayati secara terbatas telah mulai tersedia di kios-kios perkebunan. Apabila enggak tersedia agensia hayati, pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan pendirian memusnakan tanaman terserang sehingga tidak menulari tanaman lainnya. Lakukan penyakit virus yang penyebarannya diperantarai insek, diantaranya tungau pucuk atau kutu daun, maka pengendalian dapat dilakukan dengan cara menghalangi serangga vektor melalui tuntutan pestisida nabati.

Sayuran Non Organik

Bakal sayuran non organik, maka pengendalian hama dan masalah dapat dilakukan menggunakan pestisida kimia (racun serangga dan fungisida) sesuai cara dan dosis anjuran. Namun demikian, diingatkan bahwa tuntutan pestisida ilmu pisah pada tanaman pekarangan semoga dihindari karena osean resiko terhadap anggota keluarga, khususnya anak-anak asuh. Sebaiknya dilakukan secara menanik dan era-dikatif.

Ditulis Oleh : Andi Maulana, SP., MP.

Penyuluh  Pertanian Medium

WKPP : Kabupaten Kep.Selayar

Source: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/90810/pemeliharaan-tanaman-sayuran-dipekarangan/

Posted by: holymayhem.com