Pemilihan Lahan Budidaya Tanaman Sayuran

Penyiapan lahan merupakan tinggi yang tinggal penting kerumahtanggaan budidaya sayuran organik, disebabkan harus mempunyai kondisi lingkungan yang optimum baik suhu, kelembaban, penyinaran,  pengairan yang cukup, mudah dikerjakan, dan tak tercemar bahan kimia.  Pertanian organik sangat dianjurkan lega petak yang mempunyai kas dapur target organik yang sedang hingga tinggi dan dapat digunakan apabila setelah pengenalan lahan dilakukan tindakan konservasi baik dengan badan maupun biologi. Pada lahan tersebut ditanam cover crop jenis legum (jenis pokok kayu perakit sasaran organik nan cepat dan mempunyai manfaat nan tinggi untuk pohon).  Sementara itu lahan yang sudah tercemar target ilmu pisah harus dilakukan proses konversi lebih-lebih lalu sehingga menetapi persyaratan tanah untuk persawahan organik.

Kebutuhan hara tanaman internal budidaya organik sangat mengandalkan sumber hara alami dalam tanah sehingga tingkat kesuburan sangat terdahulu dalam penyaringan lahan. Tanaman sayuran organik bisa bertunas dan berproduksi dengan baik apabila tersedia hara dalam kuantitas yang pas di lapisan atas persil (top soil).  Sistem perakaran tanaman sayuran organik umumnya tohor, dengan umur yang sumir sehingga pengelolaan hara pada lapisan atas adv amat menentukan keberhasilan propaganda bertanam sayuran organik.  Sifat-sifat tanah yang perlu diperhatikan adalah tekstur dan struktur persil, perut bahan organik kapling,  kesiapan hara,  kemasaman tanah,  porositas, kemampuan tanah menjabat air, dan aktivitas mikroba petak.

Ciri-ciri lahan yang subur dan sehat antara lain :

  • Memiliki resan fisik yang baik sehingga dapat menyediakan mega dan air yang optimal bagi tanaman, yaitu struktur tanah yang gembur, aerasi dan drainase lahan yang cukup baik, tetapi tanah masih mempunyai kemampuan memegang air dan tidak peka erosi.
  • Punya sifat ilmu pisah nan baik sehingga boleh menyediakan unsur hara dan nutrisi bagi tumbuhan, yaitu bahan organik tanah yang tingkatan, pH bebas, hara mikro dan makro yang layak, daya produksi ganti kation dan persentase kejenuhan basa nan tinggi.
  • Mempunyai sifat biologi yang baik lakukan mendukung atma (keragaman, populasi dan aktivitas) jasad mikro ataupun makro kapling. Keikhlasan fisik-tubuh lalu berharga kerumahtanggaan proses perombakan (dekomposisi dan mineralisasi) objek organik, persilihan (transformasi) senyawa -sintesis anorganik berkaitan dengan siklus hara di n domestik tanah.

Diversifikasi lahan pertanian yang dapat dikelola unruk budidaya sayuran organik, merupakan :

1. Lahan persawahan yang baru dibuka, lahan ini bermula dari hutan sekunder alias lahan yang sudah lama bukan perikatan ditanami secara intensif atau lahan yang terlantar.

Lahan pertanian yang baru dibuka, proses budidaya organik langsung bisa dilakukan sreg momen tadinya pertanaman dengan syarat proses alas kata lahan sesuai dengan pendirian nan dipersyaratkan yakni :

  • Pengumbahan lahan tidak dilakukan dengan cara pembakaran
  • Sejauh proses penyiapan lahan tidak memperalat bahan-bahan penyubur tanah yang dibatasi atau dilarang.

Selain tanah yang bau kencur dibuka, pertanian organik boleh lagi menggunakan persil pertanian yang dikelola lain intensif, seperti :

  • Kapling wana dan lahan manuver berladang tanaman tahunan (tumbuhan industri dan buah-buahan) rasio kecil yang dikelola pekebun tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia imitasi, seperti mana lahan usaha tani tanaman hutan, karet, akta, coklat, durian, mangga, jambu mete dan Tanaman sayuran ditanam laksana tanaman sadel (di antara tanaman industry dan buah-buahan).
  • Tanah persuasi tani tanaman semusim atau tanaman wana yang dikelola tidak intensif dan tanpa input agrokimia campuran.
  • Lahan bera alias terlantar seperti lahan lalang, tegalan, dan pekarangan.

Penyiapan lahan nan berasal dari jenggala sekunder maupun persil yang dikelola tidak intensif dilarang  dengan mandu dibakar atau menggunakan objek kimia (herbisida kimia dan sejenisnya), seharusnya dilakukan penyiapan persil secara manual.  Pelanggaran dilakukan penyiapan lahan dengan cara pembakaran dapat  berbuah gagal dalam mendapatkan sertifikasi dagangan organik.

2. Tanah Pertanian Intensif

Lahan perkebunan intensif menggunakan serabut dan pestisida-herbisida kimia dalam budidayanya. Tanah tersebut boleh dikonversi bakal budidaya pertanaman organik melalui perlintasan waktu.  Waktu konversi yaitu upaya untuk meminimalkan kandungan residu kimiawi yang terdapat n domestik kapling, memulihkan unsur sato dan jasad renik petak.  Lama periode konversi tersidai dari intensitas pertanaman, diversifikasi tumbuhan dan mandu bersesuai tanam dengan syarat, sebagai berikut :

  • Dua tahun cak bagi tumbuhan semusim.
  • Tiga hari lakukan tanaman tahunan.
  • Masa konversi dapat diperpanjang maupun diperpendek berdasarkan pertimbangan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO), namun tidak bisa kurang berpokok 12 bulan. Pertimbangan lama tahun metamorfosis dipengaruhi makanya sejarah penggunaan objek kimia, intensitas perladangan,  masalah kontaminasi sreg lahan tersebut dan tindakan yang dilakukan untuk mengelola pencemaran agrokimia dan polusi di kebun.

Penulis : Ely Novrianty, SP (Penyuluh BPTP Lampung)

Sumber : Badan Pengkhususan dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Perladangan

Source: http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/99086/PENYIAPAN-LAHAN-BUDIDAYA-SAYURAN-ORGANIK/

Posted by: holymayhem.com