Pemeliharaan Lahan Budidaya Tanaman Sayuran Hendaknya Memenuhi Kriteria

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA Tanaman HORTIKULTURA

ACARA V

PENANGANAN PASCA Panen

Disusun makanya :

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN Tahapan

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN

PURWOKERTO

Ki I

PENDAHULUAN

A. Parasan Belakang Saat ini produk hortikultura di Indonesia sedang meningkat. Perbaikan mutiara yang semakin digencarkan pemerintah dan buram swasta sepertinya berhasil. Tumbuhan komoditas hortikultura terus melonjak. Bahkan masa ini sedang digalakkan tumbuhan hortikultura organik. Perbaikan loklok selain pecah segi produksi positif jauhar, pemgolahan tanah, pemeliharaan dan lainnya juga memerlukan perlakuan pasca panen. Perlakuan pasca penuaian membuat komoditas hortikultura bertambah tahan lama dalam situasi penyimpanan, sehingga pencatuan sayuran afiat masih bisa dipertahankan sampai tempat yang dituju. Perlakuan pasca pengetaman menciptakan menjadikan produk kian tahan lama, melindungi produk intern kejadian utuh dan segar serta meningkatkan nilai ekonomis. Ketika terjadi penanganan pasca pengetaman, suatu produk hottikultura akan punya skor tambah yang menciptakan menjadikan produk tersebut lebih dihargai. Selain itu konsumen juga akan kian tertarik dengan produk nan rapi. Salah satu penanganan pasca panen ialah pengemasan. Penyiapan yaitu suatu proses penyarungan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang ada di dalamnya bisa tertampung dan terlindungi.

Bab II

TINJAUAN Referensi

Buah dan sayuran merupakan jenis produk hasil perkebunan yang termasuk dalam tanaman hortikultura yang n kepunyaan potensi besar dalam perkembangannya. Potensi pengembangan buah-buahan dan sayuran di indonesia tinggal osean, pluralitas jenis dan jenisnya yang didukung makanya iklim yang sesuai untuk buah-buahan dan sayuran tropika akan menghasilkan berbagai buah dan sayuran yang habis berbagai macam dan menarik. Selain dapat dilakukan pengolahan selanjutnya, biji pelir- buahan dan sayuran pula dapat dikonsumsi secara berbarengan. Buah-buahan dan sayuran mengandung patut banyak mata air zat gizi yang diperlukan oleh raga misalnya protein dan vitamin. Kata hortikultura ( horticulture ) semenjak berusul bahasa latin, yakni hortus nan berarti kebun dan colere yang berfaedah menumbuhkan (terutama sekali mikrob) pada satu medium imitasi (Zulkarnain 2010). Secara harfiah, hortikultura bermakna aji-aji nan mempelajari pembudidayaan tanaman kebun ataupun pokok kayu sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan dan tanaman hias serta pokok kayu pelelang. Makhluk yang pakar mengenai hortikultura dikenal perumpamaan hortikulturist. Hasil panen hortikultura disebut lagi barang hortikultura. Menurut Saptana (2006) komoditas hortikultura tercatat biji kemaluan dan sayuran biasanya cepat rusak, cepat rusak dan susut raksasa. Hal ini merupakan kelainan nan menimbulkan resiko fisik dan harga. Harga ini berpengaruh besar pada tingkat pembelian.

Pada umumnya semua produk hortikultura setelah dipanen masih memilki jaringan kehidupan dan melakukan proses respirasi. Adanya pernapasan menyebabkan dagangan tersebut mengalami perubahan sebagai halnya pelayuan dan fermentasi. Respirasi sendiri yaitu reformasi bahan organik nan lebih komplek (konsentrat, asam organik dan sedap) menjadi produk yang lebih sederhana ( karbondioksida dan air) dan energi dengan uluran tangan oksigen. Aktivitas respirasi penting bagi mempertahankan sel hidup pada produk baik buah mapun sayuran. Dimana bila komoditas dengan lampias respirasi tinggi memfokus cepat mengalami kerusakan (Makfoeld, 1982).

Menurut Mutiarawati (2009), panen adalah jalan hidup akhir dari budidaya pokok kayu (bercock tanam) tapi ialah awal berbunga pekerjaan pasca pengetaman merupakan berbuat persiapan buat penyimpanan dan pemasaran. Penanganan pasca panen merupakan bervariasi kegiatan atau perlakuan terhadap tanaman yang sudah diambil berpangkal lahan yang menentukan kuaalitas selanjutnya.

Menurut Irawan (2007) mengungkapkan bahwa kebobrokan ekspansi agribisnis hortikultura pada biasanya lebih terwalak pada aspek di luar usahatani (off-farm) tinimbang aspek usahatani (on-farm) karena rintangan ekspansi agribisnis hortikultura lebih banyak dijumpai pada aspek penanganan pasca panen dan pemasaran.

Penanganan pasca penuaian dagangan hortikultura dibutuhkan karena merupakan produk yang terlampau mudah rusak tetap segar apabila dikirim kepada distributor. Secara masyarakat, menyimpan dagangan sayuran nan paling kecil sederhana adalah dengan meletakkan bahan di tempat yang bersih, kering, dan kelembaban lingkungan

  1. Pak memenuhi syarat keamanan dan kemanfaatan. Pak mencagar produk dalam perjalanannya berasal produsen ke konsumen. Produk-produk nan dikemas biasanya lebih bersih, menghirup dan resistan terhadap kehancuran nan disebabkan oleh binar.
  2. Pak dapat melaksanakan program pemasaran. Melampaui sampul identifikasi produk menjadi kian efektif dan dengan sendirinya mencegah pertukaran makanya barang pesaing. Kemasan merupakan satu-satunya kaidah perusahaan membedakan produknya.
  3. Kelongsong yaitu suatu kaidah buat meningkatkan laba perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus membuat sampul semenarik mungkin. Dengan kemasan nan sangat menarik diharapkan bisa menawan hati dan menarik perhatian konsumen. Jikalau pemakai banyak yang terdorong, permintaan akan naik sehingga lab meningkat.

Ki III

METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan internal program v penanganan pasca panen adalah beberapa macam pokok kayu sayuran.

Radas yang digunakan dalam acara v penanganan pasca pengetaman adalah plastik, sterofoam, selotip, stapler, dan sealer.

B. Cara Kerja Cak bagi melakukan penanganan pasca penuaian dilakukan cara kerja bagaikan berikut :

  1. Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan.
  2. Memisahkan masinh-masing tumbuhan sayuran
  3. Mencuci sayuran dengan air dulu mentiriskannya.
  4. Menyerang dan menyadari keadaan jasad tanaman meliputi rona, bau, kesegaran keutuhan dan tampilan secara keseluruhan.
  5. Mengemas pokok kayu sayur ke intern sterofoam dengan saban matra.
  6. Menjual tanaman yang sudah dikemas kepada pengguna.

tahan bertambah lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki maupun untuk pendayagunaan bukan. Ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan pabrik (Mutiarawati,2009).

Menurut Mutiarawati (2009) keuntungan maupun manfaat mengamalkan penanganan pasca panen yang baik:

  1. Dibanding dengan mengamalkan usaha pertambahan produksi, mengamalkan penanganan pasca pengetaman yang baik mempunyai sejumlah keuntungan antara lain: a. Besaran pangan yang dapat dikonsumsi lebih banyak. b. Lebih murah melakukan penanganan pasca panen (andai dengan penangan yang ketat, penyediaan) dibanding pertambahan produksi nan membutuhkaninput suplemen (andai pestisida, pupuk, dll). c. Risiko pil lebih kecil. Input yang diberikan pada peningkatan produksi bila gagal bisa berjasa gagal pengetaman. Plong penanganan pasca panen, bila gagal galibnya tidak menggunung “kehilangan”. d. Menghemat energi. Energi yang digunakan lakukan memproduksi hasil yang kemudian “hilang” dapat dihemat. e. Musim yang diperlukan lebih singkat (supremsi perlakuan buat peningkatan produksi baru tampak 1 – 3 bulan kemudian, merupakan saat panen; dominasi penanganan pasca panen dapat terlihat 1 – 7 hari setelah perlakuan)

  2. Meningkatkan nutrisi Melakukan penanganan pasca pengetaman yang baik dapat mencegah kesuntukan nutrisi,bermakna perombakan nutrisi bagi masyarakat.

  3. Mengurangi sampah, terutama di ii kabupaten-kota dan ikut mengatasi masalah pencemaran mileu. Ada beberapa strata pasca pengetaman yang galibnya digunakan menurut Mutiarawati (2009) diantaranya:

  4. Distribusi Revolusi adalah salah satu aspek semenjak pemasaran. Distribusi juga dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari penggarap kepada pengguna, sehingga penggunaannya sesuai dengan nan diperlukan (jenis, jumlah, harga, medan, dan saat dibutuhkan). Sehabis suatu produk dihasilkan oleh industri, produk tersebut dikirimkan (dan kebanyakan juga serempak dijual) ke suatu distributor. Distributor tersebut kemudian menjual produk tersebut ke pengecer atau pelanggan.

  5. Transportasi Transportasi merupakan faktor nan terdepan privat kegiatan industri alat angkut transportasi merupakan penghubung antar lokasi. Baik itu lokasi mangsa yunior dengan industry alias lokasi pabrik dengan daerah pemasaran. Kurnia transportasi berperan dalam memperlancar perpindahan produk berasal lokasi produksi setakat ke lokasi konsumen akhir. Fungsi transfortasi menyediakan barang dan jasa di daerah pengguna sesuai dengan kebutuhan pengguna baik menurut waktu, total dan kualitas. Guna pengangkutan mempunyai kegiatan perencanan : a) macam barang yang diangkut, b) volume yang akan diangkut, c) musim pengapalan dan d) jenis alat angkutan yang digunakan. Efisiensi pengangkutan adalah barang hingga di tangan konsumen

a. Mampu melindungi barang selama penanganan transportasi dan pengumpulan b. Tidak mengandung bahan ilmu pisah c. Menetapi persyaratan pasar baik tulangtulangan,ukuran,dan berat d. Kekuatan pengepakan tidak mempengaruhi kelembaban e. Kemudahan pembuangan f. Dapat didaur ulang 4. Kasih Merek Label ialah setiap deklarasi atau pernyataan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain nan disertakan pada pangan ,dimasukkan ke dalam, ditempelkan sreg, atau merupakan babak kemasan pangan (Ordinansi Pemerintah RI No periode 1999). Label tersebut ditempelkan langsung plong pak memperalat media riil kertas, stiker, dll. Lega label terwalak permakluman produk nan sebenarnya, foto ataupun gambar tidak menimbulkan kegelisahan pengguna, penciri produsen (dapat kasatmata merk dalam bentuk garitan atau susuk), bulan-bulanan pereka cipta (dibuat dengan jelas), dan berat komoditas. 5. Standarisasi dan Grading Guna penyeragaman dan grading dimaksudkan untuk menyederhanakan dan mempermudah serta meringankan biaya pemindahan komoditi melalui kanal pemasaran. Grading adalah tindakan mengklasifikasi hasil pertanian menurut standardisasi yang diinginkan ataupun penyortiran produk-barang ke kerumahtanggaan satuan atau unit tertentu. Penyeragaman adalah justifikasi kualitas nan seragam antara pembeli dan penjual, antar arena dan antar periode. Pembakuan adalah

format ataupun penentuan mutiara barang dengan menggunakan berbagai dimensi, seperti : warna, hubungan kimia, bentuk, kekuatan/ketahanan, kadar air, tingkat kematangan, rasa dan bukan-tak. Manfaat standardisasi dan grading dalam pemasaran: a. Mempermudah remedi dan produsen memasrahkan nilai dagangan tersebut b. Mempermudah proses jual beli c. Mengurangi biaya pemasaran dan menekan resiko dalam pengangkutan d. Memperluas picisan, sesuai dengan kualitas yang diinginkan dan kemampuan pengguna. e. Syarat mutlak bagi pemasaran berjangka (future market) Pelecok suatu penanganan pasca panen yang banyak dilakukan yaitu pengemasan bahan pangan harus menunjuk-nunjukkan panca fungsi-fungsi utama, adalah :

  1. Harus dapat mempertahankan barang sepatutnya kudrati dan mengasihkan perlindungan terhadap kotoran dan kontaminasi lainnya.
  2. Harus memberi perlindungan puas korban jenggala terhadap kerusakan jasad, air, oksigen, dan cahaya mentari.
  3. Harus berfungsi secara benar, efisien, dan ekonomis dalam proses pengepakan adalah selama pemasukan objek pangan ke dalam kemasan. Hal ini berarti bahan pengemas harus telah dirancang cak bagi siap pakai pada mesin-mesin yang ada atau yang plonco akan dibeli atau disewa untuk keperluan tersebut.
  4. Harus mempunyai suatu tingkat fasilitas bagi dibentuk menurut rancangan dimana tak cuma memberi kemudahan pada konsumen misalnya kemudahan membuka atau menutup kembali wadah tersebut, doang juga harus bisa

Teknik pengemasan ini menunggangi heat sealer secara manual. Gawai ini juga disebut misal hand sealer. Cara kerjanya yaitu dengan menaruh ujung terbuka pengemas nan sudah berisi korban, tepat di adegan sealer. Lalu perabot ditekan bikin merekatkan kedua putaran pengemas sehingga ujung terbukanya menutup. Terletak parameter bola lampu yang menunjukkan tenggang daya sealing. Jika sesak lama, bahan pengemas dapat robek justru terputus. Seandainya sesak cepat, pengemas tidak tertutup dengan baik, masih suka-suka ruji-ruji nan memungkinkan udara alias air masuk sehingga penyiapan menjadi sedikit sempurna. 2. Penyediaan dengan Vacuum Packaging. Pengemasan dengan metode vakum, cara kerjanya adalah dengan menekan tombol ON sreg perlengkapan, acara diaktifkan bikin kontrol, gas diatur sesuai permintaan, vakum dan seal diatur, kenop Reprog ditekan, tutup pengemas dibuka. Seterusnya pengemas yang sudah diisi alamat makanan dimasukkan ke dalam vacuum sealer. Ujung terbuka pengemas diletakkan tepat plong bagian sealer. Selanjutnya, penutup vacuum sealer diturunkan setakat rapat, tunggu sampai proses sealing selesai, buka penghabisan peranti terlampau tekan tombol power puas posisi OFF. 3. Pengemasan dengan Alat Pengemas Bertekanan. Penyiapan dengan alat pengemas bertekanan memiliki cara kerja adalah dengan memasukkan gas nitrogen ke dalam pengemas sehingga bahan di dalamnya lebih resistan/lain rusak karena adanya tekanan. Cara kerja perabot ini mirip dengan peranti pengemas vakum yaitu dengan memasukkan pengemas yang sudah berisi bahan pangan ke dalam gawai pengemas bertekanan. Ujung melenggong pengemas dikaitkan dan diletakkan tepat pada bagian sealer, silam penutup perkakas

diturunkan. Tabun nitrogen dialirkan, kemudian perangkat dinyalakan. Tunggu hingga sealing radu. Hasil akhirnya adalah kemasan yang berbentuk gembung karena detik di-seal asap masih ada privat kemasan (Dea Tio Mareta,2011). Sesuai praktikum yang telah dilakukan, dalam penanganan pasca panen diperlukan sejumlah panjang. Nan pertama menyiapkan perlengkapan dan bahan yang digunakan lakukan mempermudah dan mempercepat proses penanganan pasca panen. Memisah masing masing sayuran yang disebut sortasi dan grading. Menurut Afrianto dkk (2008), sortasi adalah separasi komoditi selama dalam aliran barang, misalnya sortasi di lokasi pemanenan yang didasarkan pada jenis, ukuran yang diminta pasar. Sortasi adalah serangkaian kegiatan memisahkan korban dengan berjenis-jenis cara bikin mendapatkan bahan sesuai dengan tolok tertentu. Sedangkan grading ialah proses pemecahan mangsa hutan berdasarkan mutu, misalnya ukuran, bobot, kualitas. Sortasi pada target hasil pertanaman adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan tujuan merarai hasil pertanian yang baik dan nan jelek atau mengakurkan benda lain yang bukan diharapkan. Signifikansi hasil panen yang baik ialah yang tidak mengalami kerusakan tubuh dan terpandang menarik (Afrianto dkk, 2008). Mencuci sayuran dengan air dan tiriskan. Pecucian berguna lakukan mencegah ampas yang mungkin terlambat pada sayuran. Mentiriskan berguna agar lain adanya air dalam sayuran sehingga sayur tidak mudah kemungkus. Mencatat keadaan fisik tanaman nan menutupi warna,bau, kesegaran, kesempurnaan dan tampilan keseluruhan. Sesuai Aked (2000) yang menyatakan bahwa buah dan sayur mengalami proses fisiologi nan berlanjut termasuk respirasi, diikuti perubahan- persilihan fisiologi seperti antara lain proses pelunakan jaringan, penurunan kadar

diwaspadai adalah kemungkinan terjadinya migrasi bersumber monomer stirena kedalam pangan yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Menjual sayuran kepada konsumen. Cak memindahtangankan sayuran bertujuan cak bagi membuat mahasiswa mengeatahui dan sparing tentang pemasaran. Menurut Kotler dan Keller (2008), pemasaran merupakan suatu proses sosial dan eksekutif dimana manusia dan kerumunan memperoleh apa yangmereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara adil mempertukarkan produk dan jasa bernilai dengan pihak bukan. Sayuran yang sudah dikemas kemudian dijual kepada kepada konsumen. Kosumen yang membeli semuanya ibu-ibu. Hal ini menunjukkan sasaran pemasaran sayuran merupakan ibu-ibu. Wortel dengan harga mulanya Rp 5,00 sebanyak 2 buah selepas dikemas harganya menjadi Rp 7,00. Selada dengan harga awal Rp 3,00 sebanyak 1 buah setelah dikemas harganya menjadi Rp 5,00. Tomat dengan harga awal Rp 2,00 sebanyak 2 biji zakar setelah dikemas harganya menjadi Rp 3,00. Keuntungan yang diperoleh barang wortel sebanyak Rp 2,00 , selada sebanyak Rp 2,00 dan tomat sebanyak Rp 1,00. Kejadian ini menunjukkan dengan penyediaan yang baik nilai jual satu komoditas akan meningkat. Seperti pernyataan Buchari Alma (2007:153), konsumen lebih tertarik dengan produk yang sudah dikemas karena dengan adanya pembungkus produk akan konsisten bersih dan praktis bikin dibawa kemana belaka, tahan lama, dan mudah disimpan, dengan pembungkus berjasa timbangan di dalamnya benar, pengemasan menunjukan kualitas barang seperti membersihkan isi yang dibungkus, pembeli dapat membeli dengan jumlah yang sepan (diperlukan), pembungkus nan isinya telah habis terpakai masih dapat digunakan untuk gelanggang penyimpan barang lain, pembungkus yang memberi informasi akan memberi

dorongan sreg pembeli lakukan mengaji dulu dan sambil berfikir akan membelinya, pembungkus dapat menimbulkan martabat bagi nan membawa.

Source: https://www.studocu.com/id/document/universitas-jenderal-soedirman/budidaya-tanaman-hortikultura/1-laporan-praktikum-acara-v-penanganan-pasca-panen/40794558

Posted by: holymayhem.com