Panduan Praktis Bertanam Sayuran Di Pekarangan Dow

Kata sambutan

Pengunci-akhir ini, peningkatan jumlah penduduk cenderung terus bertambah. Kecenderungan tersebut secara kontan diikuti oleh kecenderungan eskalasi kebutuhan incaran pangan. Cuma demikian, kampanye pelampiasan bahan jenggala tersebut semakin banyak mendapatkan halangan, diantaranya fenomena persilihan iklim global, penurunan luasan dan produktivitas tanah, serta semakin banyaknya kasus serangan hama dan kebobrokan pohon yang menyebabkan terjadinya penerjunan hasil panen. Oleh sebab itu, strategi mentah n domestik meningkatkan kecukupan, ketabahan, dan kemandirian pangan mahajana, perlu untuk segera dikembangkan.

Salah suatu strategi baru dalam meningkatkan kelengkapan, ketahanan, dan kemandirian alas tersebut adalah melampaui pemanfaatan lahan jerambah. Data statistik menunjukkan bahwa luas lahan pekarangan di Indonesia mencapai luasan 10,3 juta hektar. Apabila pekarangan tersebut dapat dioptimalkan fungsinya, maka hal tersebut diduga akan berkontribusi nyata terhadap kelengkapan, keluasan pikiran, dan kedaulatan pangan masyarakat.

Manfaat mendukung kampanye optimalisasi jerambah tersebut maka kehadiran kunci katai ini yang memuat bermacam-macam petunjuk teknis pelaksanaan budidaya sayuran di petak pekarangan dirasa cukup diperlukan. Sebaiknya tulisan keteter ini dapat bermanfaat buat kita semua.


Pekarangan ialah areal petak yang biasanya berdampingan dengan sebuah bangunan. Jika konstruksi tersebut rumah, maka disebut pelataran kondominium. Pelataran dapat berada di depan, pinggul maupun samping sebuah bangunan, tergantung seberapa luas sisa petak yang terhidang setelah dipakai bakal gedung utamanya.

Budidaya sayuran di pekarangan bukan merupakan hal hijau. Praktek pemanfaatan demikian sudah lama dilakukan terutama di pedesaan. Namun demikian, seiring berjalnnya waktu kebiasaan tersebutsemakin ditiggalkan, dan banyak pekarangan di pedesaan justru tidak dimanfaatkan, dibiarkan terlantar dan gersang.

Bertolak bokong dengan kecendrungan di atas, besaran penduduk akhir-akhir ini terus mengalami peningkatan sehingga kebutuhan bahan panganpun semakin bertambah. Pemenuhan kebutuhan hutan tersebut banyak menemui permasalahan, diantaranya adalah fenomena perubahan iklim universal yang berpengaruh lega tingkat produksi dan distribusi bahan pangan, penyempitan tanah pertanian akibat pendayagunaan di satah non pertanian, dan tingginya tingkat degradasi lahan sehingga menyebabkan berkurangnya hasil penuaian.

Maka itu sebab itu, politik baru privat pemenuhan mangsa rimba, diantaranya melalui pemakaian persil pelataran, terlazim dikembangankan. Data perangkaan menunjukkan luas lahan pekarangan di Indonesia momen ini hingga ke 10.3 juta hektar. Apabila dimanfaatkan secara optimal maka permasalahan pelepasan kebutuhan pangan, begitu juga disebutkan di atas, probabilitas ki akbar boleh dikurangi.

Karakteristik dan Strategi Pemanfaatan Pekarangan

Berlainan dengan lahan pertanian secara mahajana, pekarangan apartemen mempunyai luasan yang relatif sempit, bersentuhan serentak dengan penghuni rumah, serta memiliki peran yang sangat mania. Oleh sebab itu, pemanfaatannyadalam budidayasayuran harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi optimal, baik dalam hal tingkat produksi atau internal pendayagunaan lainnya di apartemen tangga.

Beberapa keharusan yang harus dipenuhi dalam berbudidaya sayuran di pekarangan diantaranya yaitu harus memiliki nilai estetika maupun keayuan sehingga selain dapat dimakan juga dapat mempercantik pelataran rumah. Strategi yang bisa dilakukan, diantaranya melalui supremsi jenis, rancangan, dan warna tanaman. Selain itu, model nan digunakan sebaiknya bersifat mobile atau mudah buat dipindahkan. Hal ini diperlukan guna mengantisipasi pemanfaatan dan penataan jerambah. Model budidaya yang dapat menetapi kriteris demikian adalah komplet budidaya secara vertikal atau vertikultur dan budidaya dalam pot.

Budidaya Sayuran Model Vertikultur, Pot dan Bedengan

    1. Janis Sayuran

      Hampir semua spesies pokok kayu dapat ditanam dalam sistem vertikultur, pot dan bedengan, diantaranya bayam, bongkok, caisim, selada, kenikir, kemangi, umbi lapis, seledri, cili, tomat, terong, pare, polong pangkat, timun, oyong, dll. Namun demikianuntuk budidaya vertikultural menggunakan gelanggang makelar, bambu atau paralon nan dipasang secara horizontal, kurang cocok buat sayuran jenis buah seperti merica, terong, tomat, buncis merembas, peria, dll. Hal tersebut disebabkan dangkalnya gelanggang perkebunan sehingga tidak cukup kuat menahan tumbuh mengalir perlahan-lahan tanaman. Sayuran buah cocok lakukan ditanaman internal pot, polybag atau paralon dan bambu yang ditegakkan sehingga dapat menampung media tanam dalam jumlah cukup banyak.

  1. Penyiapan Wadah Perladangan

    Vertikultur dari Bambu atau Paralon

    Potong buntang buluh/paralon sepanjang kurang lebih 120 cm, dengan pencatuan 100 cm bikin bekas tanam dan 20 cm sisanya cak bagi ditanam ke tanah.

    1. Bersihkan ruas antar bambu dengan menggunakan linggis, kecuali ruas minimal asal. Kerjakan ruas terakhir tidak dibobol keseluruhan,melainkan hanya dibuat bilang lubang katai dengan pakis cak bagi mengatur khasiat air pendirusan. Jika memperalat paralon, buat penutupan pada dasar paralon menggunakan tutup paralon sesuai ukuran paralon yang digunakan.
    2. Kerjakan gua tanam di sepanjang putaran 100 cm dengan menunggangi bor, tatah atau pisau. Gaung dibuat secara nasihat seling puas keempat sisi bambu/paralon. Pada dua sebelah yang ubah berhadapan terdapat sendirisendiri tiga lubang tanam,plong dua sisi lainnya masing-masing dua gaung tanam, sehingga didapatkan 10 lubang tanam secara keseluruhan. Setiap lubang berdiameter duga-tebak 1,5 cm dan berjarang 30 cm.
    3. Selanjutnya bambu atau paralon ditanam dengan mengegolkan 20 cm episode bawah kedalam tanah

    Vertikultur dari Calo Sistem Rak

    Langkah-anju pembuatan unit vertikultur sistem rak yakni sebagai berikut :

    1. Bakal serangkaian rak dengan tataran kira-kira 1 m, pepat 1 m, panjang sesuai kebutuhan,
    2. Atur empat nikah rak secara berundak, dengan jarak antara undakan adalah kira-sangkil 30 cm, dan pepat masig-masing rak adalah 25-30 cm,
    3. Bacok broker air dengan format sesuai tulangtulangan rak yang dibuat, dulu masing-masing ujung broker ditutup menggunakan intiha talang lalu dilekatkan menggunakan lem secara permanen,
    4. Lubangi sumber akar broker dengan bor atau pisau, diameter gaung kurang lebih 1 cm dan jarak antar lubang berkisar 15-20 cm,
    5. Isi pialang menggunakan sarana tanam nan sudah lalu disiapkan, dan lakukan penyusunan pada rak.

    Wadah pot

    Keberagaman jambangan yang digunakan dapat positif jambang plastic, ember, gangsa, jambang gerabah, polybag, dll. Lega prinsipnya wadah atau vas tersebut boleh menampung alat angkut tanam dalam jumlah yang layak. Untuk tanaman sayuran patera, tagihan media tanam nan digunakan minimal seberat 1 kg, sedangkan cak bagi sayuran buah berkisar 3-20 kg. Apabila belum ada liang, maka lakukan pelubangan puas dasar pot dalam jumlah yang memadai banyak fungsi mengatak kelebihan air penyiraman.

    Wadah Bedengan

    Bedengan digunakan umpama tempat penghutanan. Tujuannya, bakal mencegah seharusnya tanaman tidak tergenang air pada perian hujan. Pangkat bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan, lakukan mempermudah perawatan dan pembuangan air. Lebar bedengan dibuat 110-120 cm karena digunakan cak bagi dua deret pohon. Tinggi bedengan disesuaikandengan periode. Bedengan dibuat makin tinggi pada musim hujan abu dengan tujuan seyogiannya perakaran tanaman tak terendam air dalam masa yang lama dan pembuangan airnya lancar.

    Bikin mempermudah pekerjaan, sebaiknya membuat plot bahkan dahulu menggunakan tali rafia sesuaikan dengan ukuran panjang, gempal dan tinggi bedengan yang kita kehendaki. Gunakan pangkur untuk membentuk bedengan. Caranya, naikkan tanah diluar plot untuk bedengan, sekalian haluskan tanah dan ambil sisa-sisa jukut, batu, kerikil dan tinja enggak nan dapat menggangu tanaman.

    Penyiapan Media Tanam

    Media tanam yang digunakan adalah fusi petak, pupuk kandang maupun komps dan sekam bakar yang telah dihilangkan bongkahannya atau disaring menggunakan sortiran kawat berdiameter 0,5-1 cm. Proporsi sarana tanam yang umum digunakan adalah 1 bagian tanah, 1 fragmen pupuk kandang atau baja kompos, dan 1 bagian sekam bakar. Namun demikian, formula tersebut bukan merupakan formula bau, yang penting bahan organik dan sekam nan ditambahkan memadai banyak sehingga cukup subur dan rongga.

    Gambar 8. Pembuatan Media Tanam

    Pembibitan

    Bekas pembibitan dapat berupa tray khusus pembibitan atau bisa lagi palagan lain sebagai halnya baki plastik, botol plastik, boks berpunca kayu, kantong plastik, polybag, dll.

    Ki alat pembibitan yang digunakan sama sebagaimana di atas namun perlu kian halus dengan menghindari retakan atau kerikil dengan kaidah disaring menggunakan saringan kawat berdiameter lubang 2-5 mm.

    Pembibitan rata-rata dilakukan untuk benih-sperma yang bermatra kerdil dan berharga relative mahal seperti sawi, selada, cabai, tomat, dll (kecuali bayam karena bayam rata-rata ditanam refleks). Padahal, benih berukuran besar umumnya ditanam langsung dalam wadah pertanaman..

    Langkah-anju penanaman pati maupun sperma :

    1. Buat liang kecil lega media tanam di dalam tray dengan kedalaman 0,5-1 cm dengan menggunakan lidi atau papan kecil. Untuk benih yang dibibitkan kerumahtanggaan wadah pembibitan yang lebar dilakukan dengan prinsip menebar secara merata jauhar pada permukaan ki alat tanam maupun membentuk liang tanam dengan jarak kurang lebih 1 cm.
    2. Masukkan benih ke dalam lubang tanam dan ditutup tipis memperalat kompos atau pupuk kandang halus. Lalu benih ditutup menggunakan pupuk kandang ataupun kompos halus dengan ketebalan 0,5-1 cm.
    3. Tebarkan furadan (apabila diperlukan) di permukaan media pembibitan sesuai resan yang terserah di kemasannya. Keadaan ini tersebut dilakukan untuk menghindari serangan wereng berupa semut atau ulat petak.
    4. Bikin penyiraman dengan diskriminatif sebatas media pembibitan basah secara merata. Penyiraman dilakukan 2-3 hari sekali pron bila jauhar hijau ditanam atau bibit mungil, pada saat bibit bersemi agak raksasa, bakal pendirusan sekali sehari.
    5. Letakkan wadah pembibitan pada arena yang terlindung dari deraan hujan secara langsung namun terena kurat matahari sepan, misalnya di bawah sungkup atau flat plastik.
    6. Setelah pati memilikidaun sempurna 2 sutra, kerjakan pemindahan konsentrat plong panggung pembibitan tunggal, misalnya polybag berdiameter 10 cm atau pot kecil kancah pak aqua gelas. Lakukan pemeliharaan seperti biasa higga siap pindah tanam.
      Lembaga 9. Proses Pembibitan Sayuran
  2. Penanaman

    Penanaman di privat rak vertikultur atau pot dilakukan setelah esensi memiliki daun lengkap 3-5 helai. Anju-anju penghutanan ialah :

    1. Pilih esensi yang sehat, tak abnormal, dan seragam
    2. Buat terowongan tanam seukuran bekas bibit. Pada system vertikultur rak berjenjang, jarak tanam berkisar 10-15 cm. Pada system sendirisendiri pot, kuantitas tanaman yang ditanam sebanyak 1 tanaman per jambangan sreg pot berukuran 3-10 kg, sedangkan buat botol berformat lebih besar jumlah tanaman berkisar 2-3 tanaman, khususnya lakukan sayuran buah meluas seperti mana pare, timun, oyong, dan tanaman sejenis lainnya.
    3. lempar konsentrat secara pilih-pilih dengan cara menggunting panggung atau membalikkan wadah sedemikian rupa sehingga ki alat dan perakaran bibit tidak terganggu.
    4. masukkan bibit ke dalam lubang tanam, selanjutnya tutup gorong-gorong tanam menggunakan media tanam yang sebelumnya dikeluarkan kapan takhlik lubang tanam.
    5. Bagi penyiraman hingga ki alat tanam menjadi basah secara merata.
  3. Perabukan

    Sayuran Organik

    Untuk sayuran organik nan dibudidayakan secara organik, varietas pupuk yang digunakan adalah serabut kandang atau pupuk kompos, baik berbentuk guyur ataupun granul. Pemberian pupuk dilakukan pron bila pembuatan media tanam dengan menambah volume baja soren atau pupuk kandang lebih banyak kerumahtanggaan media tanam, misalnya2 ataupun 3 bagian dibandingkan kapling dan sekam.

    serabut susulan dapat berwujud pupuk organik cair nan telah terhidang di toko-toko sarana perladangan alias dengan cara membuat sendiri. Keseriusan pemberian baja organik biasanya dilakukan 3-7 hari sekali dengan cara melarutkan 10-100 ml pupuk dalam 1 liter air dan disiramkan secara merata sreg media tanam.

    Puas sayuran biji kemaluan, disebabkan waktu pertumbuhan yang bertambah jenjang, maka selain pemberian kawul organik larutan lagi dapat dilakukan pemberian pupuk susulan berupa pupuk kandang atau pupuk kompos setiap 30 hari sekali sebanyak 50-100 g atau 2-3 genggam kawul masing-masing pohon.

    Susuk 10. Contoh Pupuk dan Pemupukan Tanaman

    Pembuatan pupuk organik cair (POC) bisa dilakukan dengan menggunakan bahan dan perabot sebagai berikut : (1) ember maupun gentong plastik berdosis 50lt, (2) Kantong kain, (3) Serat kandang atau kompos ataupun kascing 5 kg, (4) molase 2 lt, (5) EM 100 ml, dan (6) air 40 lt.

    Langkah-anju mewujudkan POC adalah bagaikan berikut :

    1. Masukkan air sebanyak 40 lt ke dalam ember atau gentong plastik,
    2. Tambahkan molase sebanyak 2 lt, lalu aduk hingga merata,
    3. Masukkan inokulum EM sebanyak 100 ml, tinggal aduk hingga merata,
    4. Masukkan serat kandang, komps, kascing sebanyak 5 kg ke privat kantong cemping, ikat bagian mulut saku sebagaimana saku teh, lewat masukkan ke dalam ember atau gallon plastik dengan posisi menggantung,
    5. Tutup dan ki akal tutup ember atau galon plastik menggunakan lem maupun lakban dengan rapat,
    6. Baja dapat dipakai setelah 3 ahad, kematangan pupuk ditandai dengan bau istimewa hasil fermentasi (seperti bau tape).
      Rangka 11.Alat pembuatan Pupuk Organik Enceran

    Sayuran Non Organik

    Untuk budidaya non organik, perabukan boleh dilakukan dengan menggunakan pupuk kimia seperti mana serat beraneka macam NPK; fusi pupuk spesifik Urea, TSP, dan KCL masing-masing suatu bagian; atau pupuk tambahan cair, Diversifikasi baja ilmu pisah tersebut bayak tersedia di toko sarana dan prasarana pertanaman maupun kios-kios tanaman hias.

    Fertilisasi boleh dilakukan dengan cara menghamburkan serabut sebanyak 1/2 – 1 sendok teh disekitar meres tumbuhan. Sesudah rabuk ditaburkan, maka harus lekas dilakukan penyiraman tanaman cak bagi pergi efek negatif kegaraman pupuk kimia terhadap pohon.

    Pemupukan susulan dapat dilakukan dengan cara melelehkan 1 sendok pupuk NPK ataupun sintesis baja urea, TSP, dan KCL ke dalam 10 liter air. Adv amat siramkan secara merata lega media tanam. Pengulangan dapat dilakukan setiap 3 alias 7 hari sekali.

  4. Penyiraman

    Intensitas penyiraman silam tersangkut pada volume sarana tanam, populasi pohon, dan fase pertumbuhan pokok kayu. Semakin mungil volume media tanam maupun semakin ki akbar dimensi tanaman serta populasinya, maka intensitas penyiraman harus makin gelojoh. Belaka demikian, pendirusan umumnya dilakukan 1 sampai 2 siapa sehari. Perlakukan penyiraman harus bermoral-etis diperhatikan pron bila fase pembuangan dan pembengkakan biji pelir. keterlambatan penyiraman akan menyebabkan rente alias bakal buah menjadi rontok.

    Penyiraman harus dilakukan secara pilih-pilih dengan menggunakan alat guyur berupa gembor atau selang plastik yang sudah lalu diberinozelpenyiraman pada ujungnya.

  5. Pengendalian Hama dan Penyakit

    Sayuran Organik

    Pengendalian Wereng. Pengendalian wereng dapat dilakukan secara fisik dengan cara mendabih alias membuang wereng nan terdapat pada pokok kayu dan media tanam atau bisa pula secara kimiawi dengan insektisida nabati. Insektisida nabati sudah banyak dijual di kios-kios pertanaman. Apabila memungkinkan, racun hama nabati dapat dibuat sendiri dengan memperalat sumberdaya yang terdapat di dapur dan pekarangan. Contoh teknis pembuatan racun hama nabati adalah ibarat berikut :

    • Ekstrak Patera Nimba, Tembakau, Brotowali

      Bahan-bahan : Daun mindi maupun nimbi 100 g, tembakau 2 g, brotowali 2 g, dan buah mengkudu 1 buah kg.

      Kaidah untuk :

      1. Semua bahan dihaluskan dengan cara ditumbuk, diblender atau dicacah secara terpisah,
      2. Tempatkan semua bahan dalam satu bekas, silam tambahkan air sebanyak 1 liter,
      3. Tutup rapat ajang, lewat fermentasikan atau diamkan sepanjang satu ahad,
      4. Merunjau bahan pestisida menggunakan kain kecil-kecil, dahulu siap digunakan,
      5. Sebelum digunakan, enceran pestisida nabati tersebut memperalat air dengan rasio 1:10 liter
    • Ekstak Patera Sirsak

      Bahan-bahan : Patera nangka belanda 10 lawai, serai 1 batang, dasun putih 1 sangir, sabun bubuk colek 2 g.

      Cara membuat :

      1. Daun nangka belanda, serai, dan daun bawang putih dihaluskan,
      2. Tambahkan 1 liter air, terlampau simpan selama 2 hari,
      3. Saring larutan,
      4. Untuk permohonan, 1 liter enceran dicampur dengan 10-15 liter air,
      5. Larutkan siap diaplikasikan
    • Ekstrak Sirih dan Tembakau

      Objek-target : Daun sirih 10 utas, daun tembakau 5 lembar atau satu batang sugi rokok, sabun cuci seujung jari, air 1 lt.

      Prinsip membentuk :

      1. Daun sirih dan daun tembakau ditumbuk halus,
      2. Bahan dicampur denga air dan diaduk hingga rata,
      3. Bahan didiamkan sejauh satu malam,
      4. Saring enceran, kemudian encerkan (ditambah dengan 50-60 air),
      5. Larutan siap digunakan.

    Pengendalian Penyakit. Pengendalian masalah bisa dilakukan dengan memberikan agensia hayati. Agensia hayati secara cacat sudah mulai tersuguh di kios-kios persawahan. Apabila tidak tersedia agensia hayati, pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan prinsip memusnakan tanaman terserang sehingga tak menulari pohon lainnya. Untuk keburukan virus yang penyebarannya diperantarai insekta, diantaranya kutu pucuk atau tuma daun, maka pengendalian dapat dilakukan dengan cara membancang insek vektor melalui aplikasi racun hama nabati.

    Sayuran Non Organik

    Untuk sayuran non organik, maka pengendalian hama dan problem boleh dilakukan memperalat pestisida kimia (racun serangga dan fungisida) sesuai cara dan dosis anjuran. Semata-mata demikian, diingatkan bahwa tuntutan racun hama ilmu pisah lega tanaman halaman seyogiannya dihindari karena besar resiko terhadap anggota tanggungan, khususnya anak asuh-anak. Seyogiannya dilakukan secara menanik dan era-dikatif.

    Gambar 12. Pengendalian Hama dan Penyakit

  6. Syarat Iradiasi Matahari

    Faktor penentu lainnya n domestik budidaya sayuran dipekarangan adalah iradiasi matahari. Pohon sayuran ialah jenis tumbuhan yang mengasakan penyinaran syamsu mumbung. Apabila keseriusan matahari tak mencukupi maka tanaman akan mengalami etiolasi atau tumbuh memanjang dan kurus. bilang jenis pohon, sebagaimana terong dan cili rawit cukup toleran dengan kurangnya sinar matahari, tetapi sebagian lautan sayuran daun dan biji kemaluan yang lain lampau sensitive dengan kurangnya intensitas penerangan..

  7. Pengetaman

    Sebagian sayuran daun dan bumbu dapat dilakukan panen secara berulang, diantaranya adalah kangkung, kemangi, kenikir, dasun, seledri. Pemanenan sayuran tersebut dilakukan dengan mencelah mayit atau pucuk daun cak bagi kecebong, kemangi, kenikir, dan kucao, sedangkan seledri dipanen dengan cara menyela daun yang mutakadim cukup tua.

    Sebagian sayuran lainnya dipanen cuma sekali dengan cara mencabut tanaman beserta akarnya, diantaranya bayam, sawi, selada, dll.

    Sementara itu, sayuran biji zakar, umumnya dipanen secara perlahan-lahan sesuai dengan fase pematangan biji kemaluan alias sesuai kehausan. Pemanenan sayuran buah sebaiknya menggunakan gunting atau pisau ekstrem, kecuali cabai,, yang bisa dipanen menggunakan tangan dengan mandu menarik biji kemaluan berlawanan arah dengan arah buah.

Source: http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi/panduan-petunjuk-teknis-brosur/132-budidaya-sayuran-di-lahan-pekarangan

Posted by: holymayhem.com