Morfologi Aphis Gossypii Tanaman Cabai

(1)

Pewarisan Resan Ketahanan Cabai terhadap Infestasi


Aphis



gossypii


Glover (Hemiptera: Aphididae)


Inheritance of Chili Pepper Resistance Against Infestation of Aphis gossypii


Glover



(Hemiptera: Aphididae)


Ady Daryanto1*, Muhamad Syukur2, Awang Maharijaya2, dan Purnama Hidayat3
Dikabulkan 05 Desember 2016/Disetujui 22 Februari 2017


ABSTRACT

Aphis gossypii Glover is one of the major pests of chili pepper and can cause damage up to

65% when the population is not controlled. The objective of this research was to elucidate the

genetic control of resistance inheritance character of chilli (Capsicum annuum L.) to A. gossypii. Set

a population of six generations (P1, P2, F1, F2, BCP1, BCP2 was established from a cross between

IPB C20 (resistant parent) with IPB C313 (susceptible parent). Choice test based experiments was

applied with two aphids per leaf on a five-week-old seedlings. The results showed that based on

number of individual aphids masing-masing plant, segregation of resistance and susceptibility characters in the

F2 fitted to the sah distribution, indicated that resistance controlled by polygenic genes.

Subsequently based of scaling test analysis, resistance characteristics based on the number of aphids

per plant categorized overdominan against resistant parent and controlled by many genes. Genes

effect for controlling resistance to A. gossypii infestation was recessive. Broad-sense heritability was

relatively large for the infestation of aphids per plant, aphids per leaf, and winged aphids while the

narrow sense heritability relatively very low on the infestation aphids per plant and sendirisendiri leaf,

indicated by the dominant variance was greater than additive variance.

Keywords: action genes, Capsicum annuum, dominant varience, heritability

Teoretis

Kutudaun
Aphis gossypii
Glover ialah salah satu hama pengganggu terdepan dalam produksi pokok kayu cabai. Saat populasi kutudaun tidak terselesaikan dapat menyebabkan kerusakan tanaman cabai hingga 65%. Tujuan penelitian ini ialah mempelajari kendali genetik pewarisan sifat ketabahan cabai (Capsicum annuum
L.) terhadap infestasi
A. gossypii. Set populasi enam generasi (P1, P2, F1, F2, BCP1, BCP2) dibentuk dari persilangan tetua P1 (IPB C20) dengan nilai infestasi rendah dan vlek P2 (IPB C313) nan bernilai infestasi jenjang. Metode skrining yang digunakan yakni
choice test. Jumlah kutudaun yang diinfestasikan adalah dua ekor per daun sreg bibit berusia lima ahad. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa karakter ketahanan lombok terhadap infestasi kutudaun bersendikan total
A. gossypii
sendirisendiri tanaman adalah tetua rentan overdominan terhadap tetua resistan dan dikendalikan oleh banyak gen. Gen-gen pengendali kesabaran terhadap infestasi
A. gossypii
yaitu resesif. Nilai heritabilitas faedah luas tergolong besar untuk infestasi kutudaun sendirisendiri tanaman, kutudaun per daun, dan kutudaun bersayap, sedangkan heritabilitas kurnia sempit tergolong terlampau rendah pada infestasi kutudaun masing-masing tanaman dan tiap-tiap daun nan ditunjukkan oleh proposi ragam dominan makin besar dibandingkan polah aditif.

Pengenalan kunci: aksi gen,
Capsicum annuum, heritabilitas, ragam dominan

1*

Program Studi Agroteknologi, Universitas Gunadarma. Jl. Raya Margonda No. 100 Pondok Cina Depok 16424. Indonesia

(2)

PENDAHULUAN

Kutudaun
Aphis

gossypii
Glover merupakan wereng berarti pada pertanaman cabai di Indonesia. Kutudaun termasuk hama polifag yang punya banyak inang (Blackman dan Eastop, 2000), dalam kondisi tak terkendali hama ini menyebabkan kerusakan berangkat semenjak fase ekstrak hingga pokok kayu dewasa (Tilmon
et al., 2011). Kebinasaan yang terjadi antara lain klorosis, nekrosis, pengkerdilan, layu, aborsi bunga dan buah, serta digresi dan difoliasi daun cabai (da Costa
et al., 2011).

Makrifat pewarisan resan ketabahan cabai terhadap kutudaun masih minus dilaporkan dibandingkan dengan ketahanan cabai terhadap problem sehingga tipe lombok yang tahan terhadap infestasi hama kutudaun hingga saat ini belum banyak dikembangkan walaupun varietas hama ini terhitung penting pada daerah dataran rendah yang lembab (Messelink
et al., 2013) dan efektif sebagai vektor virus (Damayanti
et al., 2010; da Costa
et al.,
2011). Menurut Yoon (2003), paling kecil tidak terdapat tiga alasan kendala di internal merakit tanaman tahan cekaman biotik seperti keluasan pikiran terhadap hama kutudaun yaitu, (1) menentukan metode skrining, (2) ketersedian perigi gen ketahanan, dan (3) pesiaran pewarisan sifat yang bermacam rupa. Ekspansi spesies resistan hama memerlukan pengetahuan tidak tetapi terhadap pohon yang dimuliakan tetapi pun pengetahuan terhadap perilaku hama (pest
behaviour) serta interaksi keduanya (Chahal dan Gosal, 2003). Bersendikan hal tersebut, pengkhususan pewarisan sifat ketegaran embalau terhadap infestasi
A. gossypii
masih perlu dilakukan arti menentukan garis haluan dalam program deifikasi yang efektif dan efisien untuk memperoleh varietas cabai berdaya hasil tinggi dan tahan infestasi
A. gossypii
.

Analisis pewarisan karakter kualitatif dan kuantitatif sangat terdepan dalam program pemuliaan tanaman. Analisis pewarisan satu kepribadian tenar dilakukan melalui amatan kebanyakan generasi (generation means analysis) dari populasi bersegregasi hasil persilangan biparental (single cross) dengan melibatkan enam populasi (Poehlman, 1996). Analisis pewarisan aturan ketegaran terhadap kutudaun melewati populasi heksa- generasi dengan metode
choice test
telah dilaporkan plong

beberapa jenis tanaman seperti mentimun (Korok
et al., 2015), gandum (Turanli
et al.,

2012), melon (Boissot
et al., 2010), kacang (Mensah
et al., 2008), dan bin jenjang (Kuswanto
et al., 2007). Bilang hasil penelitian memberikan kesimpulan cais genetik yang berlainan-selisih yaitu, monogenik sebatas poligenik nan komplek (Dogimont
et

al.,
2010). Menurut Gua
et al.
(2015) ketahanan mentimun terhadap
A. gossypii

dikendalikan makanya satu gen mayor aditif-dominan dan poligenik aditif-dominan. Ketahanan melon terhadap
A. gossypii
adalah poligenik dengan empat aditif
Quantitative

Trait Loci
(QTL) dan dua epistasis QTL melalui populasi RIls,
recombinant inbreed

lines
(Boissot
et al., 2010).

Ketahanan terhadap kutudaun puas macam pokok kayu serta kutudaun yang berlainan juga sudah dilaporkan. Ketabahan tumbuhan bin terhadap
A. glycines
dilaporkan dikendalikan maka dari itu dua gen resesif nan berepistasis 15:1 (Mensha
et al., 2008). Toleransi gandum terhadap
Diuraphis noxia
dikendalikan oleh

single
gen-dominan (Turanli
et al.,
2012) padahal ketenangan kacang panjang terhadap

A. craccivora
dikendalikan maka dari itu gen dominan rangkap dengan rasio 15 toleran : 1 paham, serta terletak interaksi gen dominan x dominan sreg evaluasi populasi F2 (Kuswanto
et al., 2007).

Informasi genetik yang diperoleh berpangkal analisis pewarisan sifat terdiri atas aksi gen, kuantitas gen pengendali, keragaman genetik, heritabilitas serta kenyataan-embaran genetik lainnya (Arif
et al.,
2012; Mustafa
et al., 2016). Informasi genetik tersebut sangat berguna dalam tahapan penyortiran, sehingga seleksi diharapkan akan lebih efektif dan efisien. Penajaman ini bertujuan menduga sejumlah parameter genetik yang berkaitan dengan pewarisan resan ketahanan lombok terhadap infestasi
A. gossypii.

BAHAN DAN METODE

Percobaan dilakukan sreg rembulan April 2014 sampai September 2015 di Laboratorium Genetika dan Pendewaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Percobaan ini merupakan putaran ke-2 dari aliansi kegiatan penyelidikan yang menghampari beberapa percobaan yaitu: (1) Skrining ketenangan

(3)

plasma nutfah cabai terhadap infestasi
A.

gossypii. (2) Penelitian pewarisan ketegaran cili terhadap infestasi
A. gossypii. (3) Analisis silang dialel bagi menentukan penanda genetik ketabahan lombok terhadap infestasi
A.

gossypii. Material genetik yang digunakan adalah enam populasi ialah, IPB C20 (P1) ibarat tetua dengan nilai infestasi
A. gossypii

yang rendah, IPB C313 (P2) dengan biji infestasi
A. gossypii
tinggi, dan manusia purwa (F1) per 18 tanaman, tinggal basyar kedua (F2) 159 tumbuhan serta populasi silang benyot P1 dan P2 (BCP1 dan BCP2) per 28 dan 47 tanaman.

Bahan dan alat yang digunakan antara lain tray bersel 50, media tanam campuran: petak,
coco peat,
dan pupuk kandang (1:1:1), kotak insek (insect proof box), ruangan bertemperatur 28 ± 2 0C, pencahayaan 16 jam, dan kelembaban udara (RH) 65 ± 10% (Satar

et al., 2008) serta kaca lup dan mikroskop binokuler untuk menghitung jumlah nimfa
A.

gossypii. Benih ditumbuhkan hingga menjadi bibit berdaun 4-6 atau berumur panca minggu selepas semaian. Metode infestasi nan dilakukan adalah metode
choice test
dimana
A. gossypii

dibiarkan berpindah cak bagi makan dan bereproduksi secara bebas. Infestasi
A.

gossypii
diberikan sebanyak dua ekor kutudaun bukan bersayap (Apterous aphids) per bibit dan dilakukan di dalam peti berjaring

kedap serangga sehingga mewatasi

penyebaran kutudaun ke inang lainnya. Evaluasi dilakukan pada perian ke-12 terhadap jumlah kutudaun plong tiap individu pohon. Kajian data yang dilakukan ialah uji normalitas data, uji besaran nilai derajat dominansi serta besaran gen-gen pengendali fiil, uji suku cadang ragam, uji kelayakan ideal genetik, dan uji nilai heritabilitas (Zhang
et al., 2010; Arif
et al., 2012).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendugaan ketenangan tumbuhan dengan basis rekapitulasi jumlah koloni kutudaun yang diinfestasikan telah dilaporkan pada tanaman mentimun (Gorong-gorong
et al.,
2015),

chrysanthemum
(He
et al.,
2010), kedelai (Mensah
et al., 2008), dan kacang panjang (Kuswanto
et al., 2007). Sedangkan penggunaan kutudaun tidak bersayap (Apterous aphids) berdasarkan pertimbangan kemudahan dalam

penanganan saat melakukan infestasi telah dilakukan pula oleh Hesler dan Dashiell (2011) di keledai dan Doryanizadeh
et al.

(2017) plong tanaman mentimun.

Berdasarkan pengamatan data infestasi

A. gossypii
sendirisendiri tumbuhan, per daun, dan bersayap ceceran data semenjak populasi tetua lombok rentan (P2: IPB C313) berada sreg nilai yang bertambah tinggi dibandingkan sebaran nilai tetua cabai tahan (P1: IPB C20) (Bagan 1). Pamflet data populasi cili F1 pada ketiga data infestasi memusat ke pasak negeri cabai rentan. Hal tersebut mencerminkan bahwa gen pengendali ketegaran cabai terhadap infestasi

A. gossypii
bersifat resesif.

Taburan populasi F2 untuk ketiga data infestasi n kepunyaan jangkauan nan lebih demes dibandingkan populasi kedua tetua dan hibrida cabai IPB C20 x IPB C313. Jangkauan nan lebar disebabkan oleh perbuatan dan ponten tengah yang kian strata dibandingkan populasi tetua serta hibrida. Hal tersebut mencerminkan bahwa segregasi yang terjadi terhadap infestasi

A. gossypii
pada populasi F2 hasil persilangan lombok IPB C20 x IPB C313 terjadi dengan baik atau maksimal.

Uji Normalitas Frekuensi Populasi F2

Pendugaan semula bikin memahami banyaknya kendali gen pada karakter-fiil kuantitatif dilakukan dengan uji kenormalan data. Hasil sebaran data dan kurva kenormalan populasi F2 puas infestasi
A. gossypii
sendirisendiri pohon dan per daun pada sifat ketahanan sahang terhadap wereng kutudaun menunjukkan bahwa serakan frekuensi F2 ialah normal dengan nilai P>0.05 (Gambar 1 A dan B). Sebaran data lumrah dan bersambung-sambung tersebut mengindikasikan bahwa infestasi
A. gossypii

per tanaman dan sendirisendiri daun puas cabai persimpangan IPB C20 x IPB C313 dikendalikan makanya banyak gen (poligenik) alias gen-gen minor. Syukur
et al.
(2007) menyatakan kembali bahwa wujud prestasi kesabaran yang dikendalikan secara poligenik berupa ragam kontinu dengan peralihan perbedaan kesabaran nan kecil.

Menurut Yunianti (2007), Populasi F2 dapat bersegregasi dengan baik bila pasak negeri yang digunakan memiliki perbedaannya nan jelas dan jauh lega karakter nan diujikan. Selain itu tersedianya pasak negeri rentan dengan tingkat kerentanan yang tinggi (high susceptible)

(4)

dapat meminimalkan perubahan gen yang dapat mempengaruhi rasio segregasi (Chahal dan Gosal, 2003). Genotipe IPB C313 telah

terkonfirmasi tingkat kerentanannya terhadap infestasi
A. gossypii
berdasarkan percobaan antixenosis dan antibiosis (Daryanto, 2016).

Data Fr ek ue ns i 450 375 300 225 150 75 0 20 15 10 5 0 Mean 239.8 48.06 10 299.5 63.85 10 StDev Kaki langit 60 34.74 13 228.3 89.95 159 Variable Perbibt _P2 Perbibit_F1 Perbibit_P1 Perbibit_F2 Normal (A) Data Fr ek ue ns i 70 60 50 40 30 20 10 0 25 20 15 10 5 0 Mean 41.52 8.340 10 47.34 6.083 10 StDev N 36.43 12.47 159 12.35 6.671 13 Variable Perdaun_P2 Perdaun_F1 Perdaun_F2 Perdaun_P1 Baku (B) Data Fr ek ue ns i 18.0 13.5 9.0 4.5 0.0 -4.5 40 30 20 10 0 Mean 3.3 1.947 10 7 4.346 10 StDev N 4.956 4.040 159 1.6 1.506 10 Variable Bersayap_P2 Bersayap_F1 Bersayap_F2 Bersayap_P1 Normal (C)

Gambar 1. A. Selebaran data infestasi
A. gossypii
per pokok kayu, B. Tebaran data infestasi
A. gossypii

masing-masing daun, C. Sebaran data infestasi
A. gossypii
bersayap pada populasi cabai P1, P2, F1, dan F2.

Variabel

Variabel

(5)

Infestasi
A.

gossypii
bersayap menunjukkan pola penyebaran yang tidak normal, biji P<0.05 (Bentuk 1C) dan memiliki nilai
skewness
1.03 serta kurtosis 1.24. Menurut Roy (2000) sebaran data tidak lazim dengan poin
skewness
positif mencerminkan karakter tersebut dikendalikan maka itu propaganda gen aditif dengan pengaruh epistasis komplementer, padahal karakter dengan pola sebaran data tidak lazim dan angka

skewness
subversif mencerminkan adanya kekangan gen aditif dengan pengaruh epistasis duplikat. Berdasarkan pengumuman tersebut maka dapat dinyatakan bahwa karakter infestasi
A.

gossypii
bersayap dipengaruhi oleh aksi gen epistasis komplementer.

Derajat Dominansi dan Jumlah Gen

Pengendali

Pendugaan derajat dominansi dilakukan melalui pendugaan potensi neraca (hp) dari nilai tengah tetua P1, P2, dan F1 menggunakan perhitungan nan diterangkan maka dari itu Petr dan Frey (1966). Nilai potensi rasio destruktif (Tabel 1) mengilustrasikan bahwa rata-rata nilai paruh infestasi kutudaun plong populasi F1 berada lebih panjang dari nilai tengah datuk rentan. Hal ini mencerminkan preferensi kutudaun puas sesepuh rentan overdominan terhadap infestasi kutudaun di pasak negeri tahan, dengan kata lain kebiasaan ketahanan merica terhadap

A. gossypii
dikendalikan maka dari itu gen-gen resesif. Ketahanan jagung terhadap kutudaun

Rhopalosiphum maidis
Fitch dikendalikan oleh gen resesif (So
et al., 2010), dan ketahanan kedelai terhadap
A. glycines
dikendalikan pula oleh dua gen resesif yang berepistasis (Mensha

et al., 2008). Ketahanan cabai terhadap beberapa kebobrokan dilaporkan dikendalikan oleh gen-gen resesif seperti mana ketahanan terhadap antraknosa yang dikendalikan oleh gen resesif segmental (Syukur
et al., 2007).

Berdasarkan kuantitas faktor efektif (Horizon) minimum terdapat satu kerubungan gen-gen minor nan tanggulang ketiga karakter tersebut (kutudaun per pokok kayu 0.71= 1, kutudaun per daun 0.86= 1, dan kutudaun bersayap 0.07= 1). Ketenangan yang dikendalikan gen-gen minor atau banyak gen dinilai lebih stabil akan tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Chahal dan Gosal (2003) menyatakan bahwa eksemplar keluasan pikiran terhadap insekta yang dikendalikan maka itu poligen adalah varietas ketabahan mendatar (mengufuk

resistance). Posisi kendali gen-gen minor serta resesif pada infestasi
A. gossypii
terhadap ketahanan lada di kerumahtanggaan penekanan ini memberi takrif bahwa gen-gen ketahanan tersebut masih belum terpusat di dalam pasak negeri tahan yang digunakan sehingga perlu dilakukan proses pemujaan seterusnya kerjakan mengumpulkan gen-gen ketahanan tersebut.
Pendugaan Komponen Genetik

Pendugaan komponen genetik melalui pengujian skala individu (scaling test) dilakukan dengan membandingkan nilai falak-hitung dengan t-tabel. Biji duga parameter genetik uji perbandingan turunan karakter infestasi
A.

gossypii
per pokok kayu, per patera, dan bersayap disajikan pada Tabel 2. Beralaskan data tersebut cermin genetik yang sesuai buat ketiga karakter uji adalah model aditif-dominan (m[d][h]) nan ditunjukkan oleh nilai t-hitung nan lebih kecil berusul t-tabel. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapatnya efek epistasis pada preferensi kutudaun pada cabai hasil persimpangan IPB C20 x IPB C313. Hill
et

al.
(1988) menyatakan bila sempurna aditif-dominan sudah sesuai maka enggak diperlukan uji model skala asosiasi (joint scaling test). Konseptual genetik ketahanan lada terhadap antraknosa dilaporkan mengajuk ideal aditif-dominan (Syukur
et al., 2007).

Tabel 1. Nilai potensi neraca dan jumlah faktor efektif adat ketahanan lombok terhadap infestasi
A.

gossypii
pada populasi IPB C20 x IPB C313

Populasi Angka Perdua Infestasi
A. gossypii

Per Pokok kayu Masing-masing Daun Bersayap

Potensi perbandingan (hp) – 1.70 – 1.42 – 5.35

Operasi gen Overdominan Overdominan Overdominan

(6)

Tabel 2. Nilai duga parameter genetik uji untuk skala turunan infestasi
A. gossypii
sendirisendiri tanaman, per patera, dan bersayap lega cabai

Parameter Kutudaun Masing-masing Pohon Kutudaun Per Daun Kutudaun Bersayap m 228.30 36.44 4.96 D -70.66 -7.45 -1.12 H 48.83 1.85 -1.18 C 5.51 -4.60 0.92 SE C 52.89 6.46 3.13 t-hitung 0.10 -0.71 0.30 t-tabel 1.96 1.96 1.96

Keterangan: C = 4*permukaan F2 – 2*rataan F1 – rataan P1– rataan P2 (Roy, 2000); m: biji tengah, D: nilai aditif, H: nilai dominansi, C: nilai interaksi gen, SE C: standard error C.

Diagram 3. Komponen ragam dan nilai heritabilitas adat ketabahan cabai populasi persilangan IPB C20 x IPB C313 terhadap infestasi
A. gossypii

No Parameter Genetik Infestasi Kutudaun

Per Tanaman Per Daun Bersayap

1 Perbuatan aditif (σ2D) -4168.62 22.23 23.34

2 Ulah dominan (σ2H) 38165.40 527.04 10.28

3 Ragam lingkungan (σ2E) 2533.22 50.13 831

4 Ragam fenotipe (σ2F2) 12074.60 193.01 22.56

5 Ulah BCP1 dan BCP2 24149.20 374.90 33.44

6 Heritabilitas arti luas (h2bs) 79% 74% 63%

7 Heritabilitas maslahat sempit (h2ns) 0 6% 52%

Heritabilitas ialah refleksi pengaruh gen (genotipe) terhadap penampilan luar yang teramati (fenotipe). Nilai heritabilitas arti luas (h2bs) pada karakter infestasi kutudaun tiap-tiap tanaman, sendirisendiri daun, dan bersayap tergolong pangkat yaitu secara berurutan, 79%, 74%, dan 63% (Tabel 3) akan tetapi kredit heritabilitas kurnia sempit (h2ns) karakter infestasi kutudaun per tumbuhan dan masing-masing patera tergolong sangat invalid yaitu, 0% dan 6%. Poin hampa diperoleh karena ragam aditif yang subversif, sehingga dalam perhitungan selanjutnya dianggap bernilai nihil atau tidak terdapat pengaruh aditif.

Para peneliti menyatakan pentingnya nilai aditif karena terwariskan dari kamitua kepada keturunannya sehingga diharapkan memberikan kemajuan penyortiran yang segara dan cepat terhadap suatu karakter (Chahal dan Gosal, 2003; Terima kasih
et al., 2015). Nilai heritabilitas kurnia sempit di dalam penelitian ini jauh lebih rendah dibandingkan angka heritabilitas keefektifan luasnya buat infestasi kutudaun per tanaman dan per daun. Keadaan ini mencerminkan proporsi ragam aditif jauh kian kecil dibandingkan ragam dominan. Nilai

tersebut tercermin sekali lagi dari hasil uji skala anak adam nan mana pengaruh dominansi makin besar dibandingkan pengaruh aditif.

Heritabilitas arti sempit untuk infestasi kutudaun bersayap kerumahtanggaan kategori pangkat yaitu, 52% nan berarti perbandingan ragam aditif makin tataran dibandingkan kelakuan dominan sehingga pemilahan sifat ketahanan cabai terhadap infestasi kutudaun pada kutudaun bersayap bisa efektif dilakukan pada generasi penghabisan. Chahal dan Gosal (2003) menyatakan bahwa pemilihan pada generasi lanjur sesuai untuk kepribadian nan dikendalikan oleh banyak gen dan ragam aditif yang tinggi. Perigi keluasan pikiran terbiasa dipindahkan ke dalam galur elit dengan karakter hasil nan tinggi, maka rekombinan transgresif (convergent breeding) dan penyortiran berulang bisa digunakan untuk pendewaan dengan kendali gen-gen minor atau toleransi horizontal (Niks
et al., 2011; Syukur
et al., 2015).

Pengaruh aditif yang abnormal

berimplikasi terhadap efektivitas seleksi. Berdasarkan data tersebut, tidak efektif berbuat pemilihan terhadap sifat ketahanan lada lakukan infestasi kutudaun per tanaman

(7)

dan kutudaun per patera maka dari itu karena gerakan gen aditif yang rendah. Hasil penelitian Laing
et

al. (2015) menunjukan operasi gen aditif yang tinggi pada sifat ketahanan mentimun terhadap infestrasi
A. gossypii. Kejadian ini menunjukkan bahwa jenis pokok kayu maupun jenis yang farik memungkinkan perbedaan intern model pewarisan sifat ketegaran terhadap infestasi
A. gossypii
(Nashat dan Abdel-hafiz, 2008; Korok
et al., 2015).

KESIMPULAN

Kesimpulan berpunca penggalian ini adalah khuluk ketahanan berdasarkan total

kutudaun
A.

gossypii
pada tanaman

menunjukkan bahwa sesepuh rentan overdominan terhadap vlek tahan dan dikendalikan maka dari itu banyak gen. Gen-gen pengendali ketegaran terhadap infestasi
A. gossypii
yakni resesif yang ditunjukkan oleh sebaran data populasi lada F1 sreg ke tiga data infestasi mengarah ke kamitua cabai rentan (IPB C313). Skor heritabilitas kebaikan luas tergolong besar bikin infestasi kutudaun sendirisendiri pokok kayu, kutudaun per patera, dan kutudaun bersayap, sedangkan heritabilitas arti sempit tergolong suntuk minus pada infestasi kutudaun per pokok kayu dan per daun yang ditunjukkan oleh proposi ragam dominan kian lautan dibandingkan perbuatan aditif.

UCAPAN TERIMA Rahmat

Terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIRJEN-DIKTI) atas dukungan dana penelitian internal skema Hibah Kompetensi DIKTI waktu 2014 dan 2015 dengan No. kontrak 51/IT3.II/LT/2014 dan 083/SP2.H/PL/Ditlibamas/II/2015.

Daftar pustaka

Arif, A.B., S. Sujiprihati, M. Syukur. 2012. Pendugaan parameter genetik pada beberapa khuluk kuantitatif pada persilangan antara cabai samudra dengan cabai berkerut (Capsicum annuum
L.). J. Agron. Indonesia. 40(2): 119-124.

Blackman, R.L., V.E. Eastop. 2000.
Aphids on

The World’s Crops: Identification and

Information Guide. 2nd Edition. John Wiley and Sons Ltd. England (GB). Boissot, Lengkung langit., S. Thomas, N. Sauvion, C.

Marchal, C. Pavis, C. Dogimont. 2010. Mapping and validation of QTLs for resistance to aphids and whiteflies in melon. Theor. Appl. Genet. 121: 9-20. Chahal, G.S., S.S. Gosal. 2003. Principle and

Procedures of Plant Breeding, Biotechnological and Conventional Approaches. Narosa Publishing House. New Delhi.

da Costa, J.G., E.V. Pires, M.A. Birkett, E. Bleicher. 2011. Differential preference of
Capsicum
spp. culivars by
Aphis

gossypii

is conferred by variation in volatile semiochemistry. Euphytica. 177: 299-307.

Damayanti T.A, E. Muliarti, E. Sartiami. 2010. Tepat guna penularan virus mosaik bengkuang dengan
Aphis craccivora

Koch. dan
A.

gossypii
Glover. Agrivigor. 3(2): 101-109.

Doryanizadeh N., S. Moharramipour, V. Hosseininaveh, M. Mehrabadi. 2017. Antixenotic resistance of eight
Cucumis

genotypes to melon aphid,
Aphis

gossypii

(Hemiptera: Aphididae) and some associated plant traits. J. Crop Prot. 6(2): 207-214

Daryanto, A. 2016. Analisis genetik dan pewarisan aturan ketahanan cabai terhadap infestasi kutudaun
A. gossypii,

Aphis gossypii

Glover (Hemiptera: Aphididae) [Tesis]. Perhimpunan Pertanian Bogor. Bogor.

Dogimont, C., A. Bendahmane, V. Chovelon, N. Boissot. 2010. Host plant to aphids in cultivated crops: genetic and molecular bases, and interactions with aphid populations. C. R. Biologies. 333: 566-573.

(8)

He J.P., F.D. Chen, S.M. Chen., W.M. Fang. 2010. Aphid resistance of chrysantemem cultivars. Chin J. Ecol.29: 1382-1386. Hesler L.S., K.E. Dashiell. 2011. Antixenosis

to the soybean aphid in soybean lines. J. Ento. 5: 39-44.

Hill, J., H.C. Becker, P.M.A. Tigerstedt. 1998.

Quantitative and Ecological Aspects of

Plant Breeding. Capman and Hall. London (UK).

Kuswanto, L. Soetopo, A. Affandhi, B. Waluyo. 2007. Pendugaan jumlah dan peran gen toleransi kedelai panjang (Vigna sesquipedalis

L. Fruwirth) terhadap hama kutudaun. Agrivita. 29(1): 1-9.

Gua, D., Q. Hu, Q. Xa, X. Qi, F. Zhou, X. Chen. 2015. Genetic inheritance analysis of melon aphid (Aphis gossypii

Glover) resistance in cucumber (Cucumis sativus
L.). Euphytica. 250: 361-367.

Mensah, C., C. DiFonzo, D. Wang. 2008. Inheritance of soybean aphid resistance in PI 567541B and PI567598B. Crop. Sci. 48: 1-5.

Messelink, G., C.J. Bloemhard, M. Sabelis, A. Janssen. 2013. Biological control of aphids in the presence of thrips and their enemies. BioControl. 58: 45-55. Mustafa, M., M. Terima kasih, S.H. Sutjahjo, Sobir.

2016. Pewarisan Karakter Kualitatif dan Kuantitatif pada Hipokotil dan Kotiledon Tomat (Solanum lycopersicum

L.) Silangan IPB T64 x IPB T3. J. Hort. Indonesia. 7(3): 155-164.

Nashat, A., Abdel-hafiz. 2008. Resistance of certain cucumber varieties to the melon aphid,
Aphis

gossypii

(Glover). Zemdirbyste-Agri. 95: 293-297.

Niks, R.E., J.E. Parlevliet, P. Lindhout, Y. Bai. 2011. Breeding Crops with Resistance Disease and Pests.
Wageningen Academic. Netherlands (NL).

Petr, F.C., K.J. Frey. 1966. Genotypic correlation, dominance, and heritability of quantitative characters in oat.
Crop

Sci. 6: 259-262.

Poehlman, J.M., D.A. Sleper. 1996. Breeding Field Crops. Low State University (US): Press. Low. 494 p.

Roy, D. 2000. Plant Breeding, Analysis, and Exploration of Variation. Narosa Publishing House. New Delhi.

Satar, S., U. Kersting, Kaki langit. Uygun. 2008. Effect

of temperature on population

parameters of
Aphis gossypii

Glover and
Myzus persicae
(Sulzer) (Homoptera: Aphididae) on pepper. J. Plant. Dis. Protect.
2: 69-74.

So, Y-S., H.C. Ji, J.L. Brewbaker. 2010. Resistance to corn leaf aphid (Rhopalosiphum

maidis
Fitch) in tropical corn (Zea Mays
L.). Euphytica. 172(3): 372-381.

Syukur, M., S. Sujiprihati, J. Koswara, Widodo. 2007. Pewarisan ketahanan cabai (Capsicum annuum
L.) terhadap antraknosa yang disebabkan oleh

Colletotrichum acutatum. Bul. Agron. 35(2): 112-117.

Syukur, M., S. Sujiprihati, R. Yunianti. 2015. Teknik Pemuliaan Tanaman Ed Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tilmon, K.J., E.W. Hodgson, M.E. Ozon’Neal, D.W. Ragsdale. 2011. Biology of the soybean aphid,
Aphis

glysines

(Hemiptera: Aphididae) in the United States. J. Integ. Pest. Mngmt. 2(2):1-7. Turanli, F., E. Ilker, F.E. Dogan, L. Askan, D.

Istipliler. 2012. Inheritance of resistance to russian wheat aphid (Diuraphis noxia

Kurdjumov) in bread wheat (Triticum

aestivum
L.). Turkish J. Field Crops. 17(2): 171-176.

Yoon, J.B. 2003. Identification of genetic resources, interspecific hybridization, and inheritance analysis for breeding pepper (Capsicum annuum) resistant to

(9)

anthracnose [PhD thesis]. Seoul Natl University Seoul (KR).

Yunianti R. 2007. Analisis Genetik Pewarisan Sifat Kesabaran Cabai (Capsicum

annuum
L.) terhadap Masalah Endemi Phytophthora dan Sisi Pengembangan

Varietasnya [Disertasi]. Bogor (ID): Universitas Pertanian Bogor.

Zhang, W., P. Liu, D. Hong, A. Huang, S. Li, Q. He, G. Yang. 2010. Inheritance of seeds per silique in
Brassica napus
L. using joint segregation analysis. Field Crop. Res. 116:58-67.

Source: https://123dok.com/document/yr80xp8z-pewarisan-sifat-ketahanan-infestasi-gossypii-glover-hemiptera-aphididae.html

Posted by: holymayhem.com