Lidah Buaya Termasuk Tanaman Hias

Berbunga Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Lidah buaya
Aloe vera

Edit the value on Wikidata

Aloe vera flower inset.png

Tanaman lidah buaya.
Inset: Bunga aloevera.

Data
Sumber pecah Aloe vera
(en)
Terjemahkan,
Aloe extract
(en)
Terjemahkan,
Aloe vera juice
(en)
Terjemahkan,
Aloe vera fibre
(en)
Terjemahkan
dan
Aloe vera leaf
(en)
Terjemahkan

Edit the value on Wikidata
Taksonomi
Divisi Tracheophyta
Subdivisi Spermatophytes
Klad Angiosperms
Klad monocots
Ordo Asparagales
Famili Xanthorrhoeaceae
Subfamili Asphodeloideae
Genus Aloe
Diversifikasi
Aloe vera

Edit the value on Wikidata




Burm.f., 1768
Pengelolaan nama
Basionim Aloe perfoliata var. vera
(en)
Terjemahkan

Edit the value on Wikidata
Padanan kata takson
  • Aloe barbadensis
    Mill.
  • Aloe barbadensis
    var.
    chinensis
    Haw.
  • Aloe chinensis
    (Haw.) Baker
  • Aloe elongata
    Murray
  • Aloe flava
    Pers.
  • Aloe indica

    Royle
  • Aloe lanzae
    Tod.
  • Aloe maculata
    Forssk.
    (tidak sahih)
  • Aloe perfoliata
    var.
    vera

    L.
  • Aloe rubescens
    DC.
  • Aloe variegata
    Forssk.
    (tidak sah)
  • Aloe vera
    Mill. (lain lumrah)
  • Aloe vera
    var.
    chinensis
    (Haw.) A. Berger
  • Aloe vera
    var.
    lanzae

    Baker
  • Aloe vera
    var.
    littoralis
    J.Koenig ex Baker
  • Aloe vulgaris
    Lam.
    [1]
    [2]
Ex taxon author
(en)
Terjemahkan
L.

Edit the value on Wikidata

Lidah buaya katak
(Aloe vera) ialah spesies tumbuhan dengan patera berdaging tebal dari genus
Aloe.[3]
Tanaman ini berwatak menahun, semenjak dari Semenanjung Arab, dan tanaman liarnya telah menyebar ke kewedanan beriklim tropis, semi-tropis, dan kering di berbagai belahan mayapada.[3]
Tanaman aloevera banyak dibudidayakan untuk pertanian, pengobatan, dan tanaman hias, dan dapat juga ditanam di dalam pot.[3]
[4]

Lidah buaya banyak ditemukan intern komoditas seperti minuman, olesan bakal selerang, kosmetika, atau obat luar kerjakan luka bakar. Walaupun banyak digunakan secara tradisional atau bisnis, uji klinis terhadap tanaman ini belum membuktikan kekuatan atau keamanan sari lidah buaya untuk terapi alias kecantikan.[5]
[6]

Ciri-ciri

[sunting
|
sunting sumber]

Aloe vera
adalah tumbuhan tanpa batang ataupun berbatang ringkas, dengan pangkat hingga 60–100 cm dan dapat berkembang biak dengan tunas.[3]
Dedaunannya berdaging baplang, bercat plonco alias hijau keabuan, dan sebagian spesies memiliki bintik tahir sreg permukaan batangnya.[7]
Pinggir daunnya berbentuk
serrata
(begitu juga gergaji) dengan gerigi putih katai. Rente-bunganya tumbuh sreg musim panas di sebuah kayu cangkul separas sampai 90 cm. Setiap bunga tersebut berposisi menggantung, dan mahkotanya berbentuk tabung selama 2–3 cm.[7]
[8]
Seperti variasi-spesies
Aloe
lainnya,
Aloe vera
menciptakan menjadikan simbiosis mikoriza arbuskula bersama jamur, sehingga meningkatkan kesiapan mineral dari tanah.[9]

Patera
Aloe vera
mengandung senyawa-paduan fitokimia nan sedang diteliti bioaktivitasnya, seperti senyawa manan terasetilasi, polimanan, antrakuinon C-glikosida, dan senyawa antrakuinon tidak seperti mana emodin dan senyawa-senyawa lektin.[10]
[11]

Penggolongan dan penamaan

[sunting
|
sunting sumber]

Selain
Aloe vera, lidah buaya memiliki banyak nama ilmiah sinonim:
A. barbadensis
Mill.,
Aloe indica
Royle,
Aloe perfoliata
L. var.
vera
and
A. vulgaris
Lam.[12]
[13]
Nama kedua (epitet spesial)
vera
berasal dari bahasa Latin yang berharga “cak benar” atau “asli”. Sejumlah literatur memanggil
Aloe vera
dengan bintik-bintik putih sebagai
Aloe vera
var.
chinensis;[14]
[15]
terdapat juga pendapat bahwa
Aloe vera
berbintik tersebut masih satu spesies dengan
A. massawana.[16]
Deskripsi macam pengecap bicokok pertama barangkali dibuat makanya Carolus Linnaeus pada 1753 dengan nama
Aloe perfoliata
var.
vera.[17]
Deksripsi aloevera kemudian dibuat lagi maka itu Nicolaas Laurens Burman dengan cap
Aloe vera
intern
Flora Indica
lega 6 April 1768, dan sekali juga maka dari itu Philip Miller dengan jenama
Aloe barbadensis
kerumahtanggaan
Gardener’s Dictionary
sepuluh hari kemudian.[18]

Eksplorasi dengan teknik-teknik perbandingan DNA menunjukkan bahwa
Aloe vera
berkerabat nisbi dekat dengan
Aloe perryi, sebuah spesies endemik dari Yaman..[19]
Perbandingan DNA lain dengan teknik perbandingan usap DNA kloroplas dan pemrofilan mikrosatelit menunjukkan kekerabatan dekat dengan
Aloe forbesii,
Aloe inermis,
Aloe scobinifolia,
Aloe sinkatana, and
Aloe striata.[20]
Kecuali
A. striata
yang berasal dari Afrika Selatan, spesies-spesies
Aloe
tersebut berasal dari Kepulauan Suquthra/Sokotra di Yaman, Somalia, serta Sudan.[20]
Akibat tak jelasnya radiks populasi alamiah dari lidah buaya, beberapa notulis berpendapat bahwa
Aloe vera
kemungkinan berasal dari hasil persimpangan.[21]

Revolusi

[sunting
|
sunting sumur]

Lidah buaya dianggap sebagai spesies sejati Jazirah Arab bagian barat daya.[22]
Namun, orang telah menanamnya di majemuk belahan bumi, sehingga mengalami naturalisasi di berbagai tempat seperti Afrika Utara, Sudan dan negara-negara sekitarnya, Spanyol Selatan, Kepulauan Kanarias, Tanjung Verde, Kepulauan Madeira.[12]
Spesies ini lagi tiba dibudidayakan di Tiongkok dan Eropa episode kidul sejak abad ke-17.[23]
Waktu ini, tanaman ini banyak dibudidayakan di negeri tropis dan subtropis, serta area-distrik sangar di Kontinen Amerika, Asia, dan Australia.[3]

Budidaya

[sunting
|
sunting sumber]

Budidaya lidah bicokok kerumahtanggaan rasio besar terjadi di Australia,[24]
Bangladesh, Kuba, Republik Dominika, Tiongkok, Meksiko,[25]
India,[26]
Jamaika,[27]
Spanyol,[28]
Kenya, Tanzania, Afrika Kidul,[29]
dan Amerika Perseroan.[30]
Hasil pertanian lidah bicokok banyak dijadikan bahan baku kosmetika.[3]
Diversifikasi ini juga banyak ditanam perumpamaan tanaman hias karena kekhasan bentuknya, bunganya, serta daunnya yang berdaging baplang. Selain itu, lidah bingkatak juga ditanam di kebun karena secara reputasinya misal tumbuhan obat. Karena daunnya yang tebal sehingga memudahkan menyimpan air, pohon ini cocok lakukan kebun-kebun di daerah bercurah hujan kurang.[7]
Tanaman ini mampu spirit di zona 8 hingga 11 dalam sistem digital Kementerian Pertanian AS, belaka bukan resistan jalad (uap air beku) atau salju.[8]
[31]
Spesies ini memiliki ketahanan relatif tinggi terhadap kebanyakan hama serangga, belaka rentan terganggu oleh kelompok
Tetranychidae
(“tungau gonggo”),
Pseudococcidae
(“koya”),
Coccoidea
(“serangga sisik”), dan
Aphidoidea
(“kutu daun”).[32]
[33]

Seandainya ditanam internal jambang, lidah buaya katak membutuhkan tanah yang layak kering dan berpasir serta kilap mentari nan cukup. Tanaman
Aloe
boleh “ketaton bakar” jika terkena matahari yang terlalu kuat dan dapat mengerut jika tanahnya sesak lembap.[34]
Pot tanah liat (terakota) yang berpori bisa kontributif menjaga kapling konsisten gersang.[34]
Penyiraman tanaman ini hanya disarankan sehabis lahan telah sungguh-sungguh gersang. Di intern pot, tunas-semi boncel dapat bertaruk di sekeliling pokok kayu kudrati, dan dapat dipindahkan ke pot lain agar tanaman induknya punya ruang sepan untuk merecup dan buat menghindari serangan wereng. Pada negara dengan periode dingin, lidah buaya boleh cak jongkok tumbuh sementara momen suhu sesak dingin, sehingga dibutuhkan tambahan kelembapan. Di negeri yang mengalami jalad ataupun salju, tanaman ini dapat disimpan dalam ruangan ataupun di kondominium kaca yang dihangatkan.[8]

Penggunaan

[sunting
|
sunting sendang]

Komoditas kesehatan komersial

[sunting
|
sunting sumber]

Dua zat nan diambil dari lidah buaya digunakan dalam produk kesehatan jual beli, yaitu gelnya yang lain berwarna alias lateksnya yang berwarna kuning.[5]
[35]
Gel lidah buaya digunakan untuk obat oles untuk berbagai gejala kulit, seperti jejas bakar, luka, radang, radang tawar rasa, psioriasis, Herpes labialis, atau kulit terlalu sangar.[5]
[35]
Lateks aloevera dijadikan produk (baik bahan itu sendiri maupun digabungkan dengan bahan lain) buat obat nan ditelan bikin menyembuhkan sembelit.[5]
[35]

Pendalaman fungsi

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut Sekolah tinggi Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH), tidak ada bukti ilmiah yang cukup bahwa aloevera mendalam efektif kerumahtanggaan penggunaannya maka itu galengan umum, termasuk seumpama pemohon asing untuk pengobatan luka.[5]
Sementara itu, situs kesehatan Drugs.com menyebut bahwa terdapat bukti yang saling bertentangan (mendukung maupun menolak) tentang pemanfaatan lidah buaya bagi menyembuhkan jejas dan luka bakar. Situs itu sekali lagi menamakan adanya sedikit bukti bahwa pemakaian topikal produk-produk aloevera dapat mendukung penyembuhan gejala psioriasis maupun radang tertentu puas kulit.[6]

Tambahan tembolok

[sunting
|
sunting sumber]

Gel lidah buaya banyak ditambahkan kerumahtanggaan dagangan-produk menggalas sebagaimana yogurt, minuman, dan makanan-makanan manis.[36]
Jus lidah buaya sering dipromosikan manfaatnya kerjakan sistem pencernaan, namun penelitian ilmiah bukan menemukan bukti klaim ini dan jasmani-badan peramal nafkah dan obat-obatan pun belum ada nan menyetujui klaim tersebut.[35]

Terapi tradisional

[sunting
|
sunting sumber]

Lidah bicokok digunakan dalam berjenis-jenis ilmu pengobatan tradisional cak bagi mengobati jangat. Catatan sejarah terawal pemanfaatan lidah buaya terwalak di Papirus Ebers dari Mesir abad ke-16 SM.[37]

:18

Pada abad ke-1 M, penggunaannya dicatat kerumahtanggaan
De Materia Medica
karya tabib Yunani Pedanius Dioskorides, dan
Naturalis Historia
karya penulis Romawi Plinius Tua.[37]

:20

Di Bizantium abad ke-6 M, penggunaan tanaman ini dicatat internal Juliana Anicia Codex.[36]

:9

Kerumahtanggaan penyembuhan Ayurweda tumbuhan ini disebut
kathalai
(seimbang dengan tumbuhan agave).[38]

:196 (lidah buaya), 117 (agave)

Barang lain

[sunting
|
sunting sendang]

Lidah bingkatak digunakan privat komoditas tisu wajah dan dipromosikan bagaikan pelembap dan anti-radang bikin hangit. Perusahaan-perusahaan kosmetik menambahkan getah aloevera ataupun bahan-objek turunan lainnya dalam dagangan-produk seperti
makeup, tisu, pelembap, sabun cair, tabir mentari, krim cukur, dan kejamas.[36]
Sebuah tinjauan akademis menunjukkan bahwa bahan-bahan lidah buaya ditambahkan karena efeknya sebagai pelembap dan pelunak.[11]

Resan venom

[sunting
|
sunting sumber]

Fusi aloin nan dihasilkan sebagian spesies
Aloe
merupakan mangsa masyarakat dalam pencahar yang dijual bebas di Amerika Perkongsian hingga tahun 2002. Pada waktu tersebut, Jasad Pengawas Obat dan Makanan AS melarang bahan tersebut karena perusahaan-perusahaan produsennya tidak menyempatkan data keselamatan yang sepan.[5]
[39]
Lidah buaya berpotensi punya resan racun, dan pada dosis tertentu akan menghasilkan sifat venom terutama ketika ditelan.[5]
[6]
[40]
Adat racun ini bisa dikurangi saat senyawa aloin dipisahkan saat penggarapan, nan terjadi ketika rona aloevera dihilangkan. Terdapat bukti kuat bahwa konsumsi ekstrak alat perasa buaya berlebihan meningkatkan aktivitas karsinogen (pembentukan tumor) pada tikus percobaan, tetapi surat berharga ini tidak terjadi plong esensi yang warnanya dihilangkan. Indra perasa bicokok yang dikonsumsi dengan cara ditelan juga bisa mengurangi ketentuan gula pembawaan, menyebabkan kram lambung, mencuru, dan radang hati akut, sekadar bukti bilyet-efek ini masih belum pasti.[5]
Konsumsi indra perasa bingkatak secara koran atau terus-menerus (1 gram per hari) dapat menimbulkan sekuritas samping aktual hematuria, penurunan berat badan, serta penyakit jantung atau ginjal.[6]
Menurut NIH, pendayagunaan ekstrak aloevera dengan cara dioles kebolehjadian besar aman.[5]
Mengikuti pedoman dari Ajuan 65 Kalifornia 1986, Kantor Penilaian Bahaya Kesehatan Mileu (OEHHA) negara adegan tersebut memasukkan pengecap buaya bagaikan “bahan kimia yang diketahui negara bagian ini menyebabkan puru ajal dan racun bakal fungsi reproduksi”.[41]

Komoditas lidah buaya yang ditelan boleh menimbulkan surat berharga samping akibat interaksi dengan obat-pemohon resep, seperti peminta talenta beku, glikosuria, kelainan dalaman, korban-objek penurun kadar potasium (begitu juga Digoxin), dan diuretik.[35]

Galeri

[sunting
|
sunting sendang]

Referensi

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^

    Aloe vera (L.) Burm. f. Tropicos.org

  2. ^

    Aloe vera (L.) Burm.f. is an accepted name . theplantlist.org
  3. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    “Aloe vera (true aloe)”.
    CABI. 13 February 2019. Diakses tanggal
    2019-10-15
    .





  4. ^


    Perkins, Cyndi. “Is Aloe a Tropical Plant?”.
    SFgate.com
    . Diakses sungkap
    13 February
    2016
    .




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    “Aloe vera”. National Center for Complementary and Integrative Health, US National Institutes of Health. 1 September 2019. Diakses tanggal
    24 August
    2019
    .




  6. ^


    a




    b




    c




    d




    “Aloe”. Drugs.com. 18 September 2017. Diakses tanggal
    8 September
    2018
    .




  7. ^


    a




    b




    c



    Yates A. (2002)
    Yates Garden Guide. Harper Collins Australia
  8. ^


    a




    b




    c



    Random House Australia
    Botanica’s Pocket Gardening Encyclopedia for Australian Gardeners
    Random House Publishers, Australia

  9. ^


    Gong M, Wang F, Chen Y (2002). “[Study on application of arbuscular-mycorrhizas in growing seedings of Aloe vera]”.
    Zhong Yao Cai
    (internal bahasa Chinese).
    25
    (1): 1–3. PMID 12583231.





  10. ^


    King GK, Yates KM, Greenlee PG, Pierce KR, Ford CR, McAnalley BH, Tizard IR (1995). “The effect of Acemannan Immunostimulant in combination with surgery and radiation therapy on spontaneous canine and feline fibrosarcomas”.
    J Am Anim Hosp Assoc.
    31
    (5): 439–447. doi:10.5326/15473317-31-5-439. PMID 8542364.




  11. ^


    a




    b




    Eshun K, He Q (2004). “Aloe vera: a valuable ingredient for the food, pharmaceutical and cosmetic industries—a review”.
    Critical Reviews in Food Science and Nutrition.
    44
    (2): 91–96. doi:10.1080/10408690490424694. PMID 15116756.




  12. ^


    a




    b




    Aloe vera, African flowering plants database”. Conservatoire et Jardin botaniques de la Ville de Genève. Diakses terlepas
    19 November
    2017
    .





  13. ^


    “Taxon: Aloe vera (L.) Burm. f.” Germplasm Resources Information Network, United States Department of Agriculture. Diarsipkan mulai sejak versi asli sungkap 24 September 2015. Diakses copot
    16 July
    2008
    .





  14. ^


    Wang H, Li F, Wang T, Li J, Li J, Yang X, Li J (2004). “[Determination of aloin content in callus of Aloe vera var. chinensis]”.
    Zhong Yao Cai
    (internal bahasa Chinese).
    27
    (9): 627–8. PMID 15704580.





  15. ^


    Gao W, Xiao P (1997). “[Peroxidase and soluble protein in the leaves of Aloe vera L. var. chinensis (Haw.)Berger]”.
    Zhongguo Zhong Yao Za Zhi
    (dalam bahasa Chinese).
    22
    (11): 653–4, 702. PMID 11243179.





  16. ^


    Lyons G. “The Definitive
    Aloe vera, vera?”. Huntington Botanic Gardens. Diarsipkan berusul versi sejati terlepas 25 July 2008. Diakses tanggal
    11 July
    2008
    .





  17. ^

    Linnaeus, C. (1753).
    Species plantarum, exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas.
    Vol. 2 pp. [i], 561–1200, [1–30, index], [i, err.]. Holmiae [Stockholm]: Impensis Laurentii Salvii.

  18. ^


    Newton LE (1979). “In defense of the name
    Aloe vera“.
    The Cactus and Succulent Journal of Great Britain.
    41: 29–30.





  19. ^


    Darokar MP, Rai R, Gupta AK, Shasany AK, Rajkumar S, Sunderasan V, Khanuja SP (2003). “Molecular assessment of germplasm diversity in
    Aloe
    spp. using RAPD and AFLP analysis”.
    J Med. Arom. Plant Sci.
    25
    (2): 354–361.




  20. ^


    a




    b




    Treutlein J, Smith GF, van Wyk BE, Wink W (2003). “Phylogenetic relationships in Asphodelaceae (Alooideae) inferred from chloroplast DNA sequences (rbcl, matK) and from genomic finger-printing (ISSR)”.
    Taxon.
    52
    (2): 193–207. doi:10.2307/3647389. JSTOR 3647389.





  21. ^

    Jones WD, Sacamano C. (2000)
    Landscape Plants for Dry Regions: More Than 600 Species from Around the World. California Bill’s Automotive Publishers. USA.

  22. ^


    Aloe vera“.
    World Checklist of Selected Plant Families. Porah Botanic Gardens, Kew. Diakses rontok
    19 November
    2017
    .





  23. ^

    Farooqi, A. A. and Sreeramu, B. S. (2001)
    Cultivation of Medicinal and Aromatic Crops. Orient Longman, India. ISBN 8173712514. p. 25.

  24. ^


    Aloe vera
    producer signs $3m China deal”. Australian Broadcasting Corporation. 6 December 2005.





  25. ^


    “Korea interested in Dominican ‘aloe vera“. DominicanToday.com—The Dominican Republic News Source in English. 7 July 2006. Diarsipkan dari versi sejati tanggal 6 December 2008.




  26. ^


    Varma, Vaibhav (11 December 2005). “India experiments with farming medicinal plants”. channelnewsasia.com.




  27. ^


    “Harnessing the potential of our aloe”. Jamaica Gleaner, jamaica-gleaner.com. Diarsipkan bermula varian nirmala tanggal 24 March 2008. Diakses rontok
    19 July
    2008
    .





  28. ^


    “Córdoba is the Spanish province with more aloe vera crops (translated from Spanish)”. Abc-Córdoba. 23 August 2015.




  29. ^


    Mburu, Solomon (2 August 2007). “Kenya: Imported Gel Hurts Aloe Vera Market”. allafrica.com.




  30. ^


    “US Farms, Inc. – A Different Kind of Natural Resource Company”. resourceinvestor.com. Diarsipkan dari varian asli terlepas 17 September 2008. Diakses tanggal
    19 July
    2008
    .





  31. ^


    “BBC Gardening,
    Aloe vera“. British Broadcasting Corporation. Diakses tanggal
    11 July
    2008
    .





  32. ^


    “Pest Alert:
    Aloe vera
    aphid
    Aloephagus myersi
    Essi”. Florida Department of Agriculture and Consumer Services. Diarsipkan pecah versi tahir terlepas 12 June 2008. Diakses tanggal
    11 July
    2008
    .





  33. ^


    “Kemper Center for Home Gardening:
    Aloe vera“. Missouri Botanic Gardens, USA. Diakses terlepas
    11 July
    2008
    .




  34. ^


    a




    b




    Coleby-Williams, J. “Fact Sheet:
    Aloes“. Gardening Australia, Australian Broadcasting Corporation. Diarsipkan dari varian polos copot 6 July 2008. Diakses tanggal
    8 July
    2008
    .




  35. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Aloe
    (Aloe vera)”. Mayo Clinic. 17 September 2017. Diakses tanggal
    21 January
    2020
    .




  36. ^


    a




    b




    c



    Reynolds, Tom (Ed.) (2004)
    Aloes: The genus Aloe (Medicinal and Aromatic Plants – Industrial Profiles. CRC Press. ISBN 978-0415306720
  37. ^


    a




    b



    Barcroft, A. and Myskja, A. (2003)
    Aloe Vera: Nature’s Silent Healer. BAAM, USA. ISBN 0-9545071-0-X

  38. ^

    Quattrocchi, Umberto (2012)
    CRC World Dictionary of Medicinal and Poisonous Plants: Common Names, Scientific Names, Eponyms, Synonyms, and Etymology
    (5 Volume Set) CRC Press. ISBN 978-1420080445

  39. ^


    Food Drug Administration, HHS (2002). “Prestise of certain additional over-the-counter drug category II and III active ingredients. Final rule”.
    Fed Regist.
    67
    (90): 31125–7. PMID 12001972.





  40. ^


    Cosmetic Ingredient Review Expert Panel (2007). “Final Report on the Safety Assessment of Aloe Andongensis Extract, Aloe Andongensis Leaf Juice, Aloe Arborescens Leaf Extract, Aloe Arborescens Leaf Juice, Aloe Arborescens Leaf Protoplasts, Aloe Barbadensis Flower Extract, Aloe Barbadensis Leaf, Aloe Barbadensis Leaf Extract, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Aloe Barbadensis Leaf Polysaccharides, Aloe Barbadensis Leaf Water, Aloe Ferox Leaf Extract, Aloe Ferox Leaf Juice, and Aloe Ferox Leaf Juice Extract”
    (PDF).
    Int. J. Toxicol.
    26
    (Suppl 2): 1–50. doi:10.1080/10915810701351186. PMID 17613130. Diarsipkan terbit versi nirmala
    (PDF)
    sungkap 2017-12-15. Diakses sungkap
    2020-01-21
    .





  41. ^

    Proposition 65. Chemicals Listed Effective December 4, 2015, as Known to the State of California to Cause Cancer: Aloe Vera, Non-Decolorized Whole Leaf Extract, and Goldenseal Root Powder. U.S. Office of Environmental Health Hazard Assessment (4 December 2015)

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumur]



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Lidah_Buaya

Posted by: holymayhem.com