Laporan Pemasaran Tentang Tanaman Sayuran Kacang Panjang






Laporan PRAKTEK


BUDIDAYA TANAMAN SAYUR-SAYURAN


BUDIDAYA Pohon MENTIMUN
(Cucumis sativus L)


DAN Bawang DAUN




(




Allium fistulosum L




)






SECARA POLIKULTUR


Dosen Pengasuh : Sri Winaty Hrp,






SP


. MP


OLEH




Logo



: Hopman Siregar




NPM


: 2011 11 127




Kelompok
: III




Prodi
: AGT VA






Programa Pendalaman AGROTEKHNOLOGI


FAKULTAS Pertanian


Institut GRAHA NUSANTARA


Lengkung langit.A.2013


/2014




Kata pengantar

Barang apa puji dan syukur carik panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segenap rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat mengatasi

Mualamat


ini


dengan judul “Budidaya Mentimun
(Cucumis sativus L)
dan Kucai Daun

(





Allium fistulosum L










)




Secara Polikultur
(Tumpang sari)”



.


Dalam penulisa

n wara-wara

ini, penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu privat penulisan

laporan

ini.

Carik menyadari apa nan dabir tulis pada referat ini masih adv minim sempurna, maka segala saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan

permakluman

ini akan senantiasa carik nantikan. Penyalin juga berharap nan ditulis dalam

keterangan

ini dapat signifikan untuk pembaca.


Padangsidempuan,


… Februari, 2014




Penulis



DAFTAR ISI


Kata PENGANTAR……………………………………………………………………….
i


DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….
ii


BAB.I PENDAHULUAN…………………………………………………………………..
1







1.1.Rataan Birit………………………………………………………………………
1



1.2.Intensi………………………………………………………………………………….
2


Portal.II TINJAUAN Bacaan
……………………………………………………….
2







2.1.Klasifikasi dan Morfologi Mentimun
(Cucumis sativus L)…………..
2



2.2.Syarat Tumbuh Mentimun
(Cucumis sativus L)………………………….
2







2.3.Budidaya Mentimun
(Cucumis sativus L)………………………………….
3







2.4.Klasifikasi dan Ilmu saraf Berambang Daun


(Allium fistulosum L)



……
4



2.5.Syarat Bertaruk

Kucai Daun


(Allium fistulosum L)



…………………..
5







2.6.Budidaya

Bawang Patera


(Allium fistulosum L)



………………………….
5







2.7.PoliKultur (Titip sari )………………………………………………………
7


BAB.III METODE PELAKSANAAN……………………………………………….
8







3.1.Waktu dan Arena Pelaksanaan

………………………………………………
8



3.2. Perabot dan Mangsa…………………………………………………………………….
8



3.3. Prosedur Kerja……………………………………………………………………..
8



3.4. Parameter Pengamatan…………………………………………………………..
9



3.5.Denah Lokasi Pelaksanaan………………………………………………………
9


BAB.IV HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………………….
10







4.1. Hasil


10



4.1.1.Mentimun
(Cucumis sativus L)
…………………………………………….
10



4.1.2.Kucai Daun


(


Allium fistulosum L


)……………………………………..




11



4.2. Pembahasan…………………………………………………………………………
11



4.2.1.Mentimun
Cucumis sativus L)………………………………………………

11







4.2.2.Berambang Daun


(


Allium fistulosum L


)……………………………………..



14


Gapura.V PENUTUP……………………………………………………………………………
15







5.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………
15



5.2. Saran

15


Daftar pustaka


LAMPIRAN


DAFTAR TABEL



Tabel 1 :




Jumlah Biji zakar Tanaman Mentimun




(Cucumis sativus L )………………………..
10







Tabel 2 :




Berat bobot basah Tumbuhan Mentimun




(Cucumis sativus L )…………………
10







Tabel 3 :




Pengamatan Bawang Daun



(




Allium fistulosum L




)




Bedengan I…………………
11



Tabel 4 :




Pengamatan Bawang Daun




(




Allium fistulosum L




)



Bedengan II
………………
11



Grafik 5 :




Pengamatan Bawang Daun




(




Allium fistulosum L




)



Bedengan III………………
12


BAB.I


PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang







Dalam berladang, terletak bilang pola tanam agar efisien dan memuluskan kita dalam eksploitasi persil, dan bakal mengatak ulang penanggalan penanaman. Pola tanam koteng ada tiga macam, yaitu : monokultur, polikultur (tumpangsari), dan rotasi tanaman. Ketiga teladan tanam tersebut punya biji plus dan tekor tersendiri. Pola tanam memiliki kurnia signifikan internal sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan beragam komponen nan tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan kebobrokan, keteknikan dan sosial ekonomi). Kamil tanam di area tropis seperti di Indonesia, galibnya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan siram hujan angin (terutama sreg negeri/lahan nan sepenuhnya terjemur pecah hujan angin. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun mesti disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan abu.

            Tumpangsari merupakan suatu operasi memakamkan bilang jenis tanaman pada lahan dalam hari yang sepadan, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan pohon. Penghijauan dengan pendirian ini bisa dilakukan pada dua atau makin jenis pokok kayu nan relatif segolongan, misalnya

:Mentimun
(Cucumis sativus L)
dan Bawang Patera

(Allium fistulosum).

Mentimun
(Allium fistulosum)merupakan pokok kayu semusim nan bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk jalin atau spiral. Bagian yang dimakan dari sayuran ini adalah buahnya. Biasanya buah mentimun dimakan hijau misal lalap n domestik saji makanan dan juga di sajikan dalam tulangtulangan buah segar (Sugito, 1992).







Bawang daun



(Allium fistulosum)


atau jamak juga disebut daun bawang merupakan jenis sayuran dari gerombolan berambang nan banyak digunakan dalam masakan. Daun bawang sebenarnya istilah awam nan boleh terdiri dari spesies nan berbeda. Macam nan minimum umum dijumpai merupakan kucai daun
(Allium fistulosum). Varietas lainnya adalah
A. ascalonicum, yang masih sepertalian dengan bawang bangkang. Kadang-kadang berambang prei kembali disebut bak daun bawang.





Penentuan tipe tanaman yang akan ditumpangsarikan dan saat penghijauan kiranya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Kejadian ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan (penyerapan hara dan air) puas suatu lahan lahan antar tumbuhan. Pada pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara pohon nan n kepunyaan perakaran yang relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal.


1.2.Tujuan

Adapun tujuan Praktek Budidaya Tumbuhan Sayuran merupakan sebagai berikut :


ü




Mahasiswa mengetahui cara budidaya Mentimun


(


Cucumis sativus L


)





dan budidaya Bawanng Daun


(Allium fistulosum




L )


secara polikultur
(Tumpang pati ).




ü




Mahasiswa mengetahui kuantitas buah Mentimun dalam 1 lobang tanam.



ü




Mahasiswa mengetahui berat buah /lobang tanaman dan per bedengan (Plot).



ü




Mahasiswa mencerna besaran daun dan pangkat Umbi lapis patera


(Allium fistulosum



).




Portal.II


TINJAUAN PUSTAKA


2.1.Klasifikasi dan Ilmu bentuk kata Mentimun
(Cucumis sativus L )

Adapun Klasifikasi tumbuhan Mentimun
(Cucumis Sativus L.)
menurut

(Annonymous. 2011)
adalah
Laksana berikut :


Kingdom
: Plantae

Divisio
: Spermatophyta

Sub division
: Angiospermae

Class
: Dicotyledonae

Ordo
: Cucurbitales

Family
: Cucurbitaceae

Genus
: Cucumis

Species
:




Cucumis sativus





L

Tanaman mentimun berserat petang, akar tunjang tunggangnya akan tumbbuh harfiah kedalam tanah sampai kedalaman 20 cm. Perakaran pohon mentimun dapat tumbuh dan berkembang pada petak yang berstruktur remah (Cahyono, 2003).

Mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan pemegang nan berbentuk pilin spiral. Batangnya basah serta berbuku-buku. Hierarki atau tingkatan pohon dapat hingga ke 50-250 cm, bercabang dan bersulur yang bertaruk pada sisi petiolus (Rukmana, 1994).

 Patera tanaman mentimun berbentuk bulat dengan ujung daun runcing berganda dan berbiku-biku, berambut sangat halus, mempunyai pelepah menyirip dan bercabnng-cabang, kedudukan daun tegap. Mentimun berdaun tunggal, bentuk, ukuran dan kedalaman jeluk daun mentimun silam heterogen (Cahyono, 2003).

          Anakan mentimun merupakan bunga sempurna, berbentuk terompet dan berukuran 2-3 cm, terdiri semenjak nanyan bunga dan benangsari. Kelopak anak uang berjumlah 5 biji zakar, berwarna mentah dan berbentuk langsing terletak dibagian bawah batang cangkul rente. Mahkota bunga terdiri berpangkal 5-6 buah, bercat asfar kurat dan berbentuk buntar (Cahyono, 2003).

          Buah mentimun mulai dewasa berwarna antara hijau, bau kencur gelap, plonco muda, dan hijau pektay setakat asli tergantung kultivar, tentatif buah mentimun tua berwarna coklat, coklat bertongkat sendok berjangat, kuning tua renta. Garis tengah buah mentimun antara 12-25 cm (Sumpena 2001).

          Kredit timun berwarna murni, berbentuk bulat bulat panjang (oval) dan gepeng. Biji mentimun diselaputi oleh lendir dan tukar melekat pada urat kayu-ruang tempat biji tersusun dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan bagi perbanyakan dan pembiakan (Cahyono, 2003).


2.3.Syarat Tumbuh Mentimun


Ø





Iklim

       Pokok kayu mentimun mempunyai adaptabilitas layak luas terhadap mileu tumbuhnya. Di Indonesia mentimun boleh di tanam di dataran rendah dan n baruh jenjang ialah sampai ketinggian ± 100 m di atas bidang laut (Sumpena 2001).

  Tanaman mentimun tumbuh dan berproduksi tinggi plong suhu mega berkisar antara 20-320
C, dengan suhu optimal 270
C. Di kawasan tropik sama dengan di Indinesia situasi suhu udara ditentukan makanya ketinggian suatu tempat mulai sejak permukaan laut. Cahaya juga merupakan faktor penting n domestik pertumbuhan tanaman mentimun, karena penyerapan uunsur hara akan berlangsung optimal jika pencahayaan berlantas antara 8-12 jam/musim (Cahyono, 2003).

          Kelembaban nisbi udara (rh) nan dikehendaki oleh tanaman mentimun untuk pertumbuhannya antara 50-85%, sedangkan guyur hujan optimal yang diinginkan 200-400 mm/wulan. Guyur hujan angin yang terlalu tinggi enggak baik buat pertumbuhan tanaman mentimun, terlebih pada saat mulai berbunga karena guyur hujan abu nan tinggi akan banyak menggugurkan bunga (Sumpena 2001).


Ø





Tanah


            Plong biasanya hamper semua jenis tanah yang digunakan buat persil pertanian semupakat buat ditanami mentimun. Bikin mendapatkan produksi nan tinggi dan kualitas yang baik, tumbuhan mentimun membutuhkan tanah yang subur dan gembur, kaya akan sasaran organik, tidak tegenang, pH-nya 5-6. Belaka masih toleran terhadap pH 5,5 batasan paling kecil dan pH 7,5 batasan maksimal. Plong pH tanah kurang bermula 5,5 akan terjadi gangguan penyerapan hara oleh akar tanaman sehingga pertumbuhan tumbuhan terganggu, sedangkan puas kapling yang terlalu basa tumbuhan akan terserang kelainan klorosis (Rukmana, 1994).


2.3.Budidaya Mentimun
(Cucumis sativus L ).








Persiapan Lahan






Tanah diolah dengan dibajak maupun dicangkul untuk membentuk guludan dengan tinggi antara 40-50 cm, sintal 60 cm, jarak antar guludan 40 cm. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu. Rapikan guludan serampak memperbaiki saluran air diantara guludan. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk berkat hasil yang kian baik. Kawul dasar diberikan pron bila penanaman biji mentimun, ialah SP-36, NPK dan ZA. Dengan membuat lubang memakai tugal, lubangnya di karib biji mentimun
yang ditanam.








Penanaman

Pembuatan lubang tanam dua baris atau double rows 60 x 30 cm, masukkan ponten mentimun internal lubang dengan besaran biji 3 angka perlubang sedangkan lubang pupuk boleh ditugal 5 cm disamping lubang tanam.Benih ditanam sedalam 1 cm, 3 jauhar perlubang tanam.Benih ditutup dengan serbuk jerami pada musim kering dan lega masa
hujan angin dengan duli ditambah jamur kandang.Penyulaman dilakukan secepatnya agar pertumbuhan tanaman seragam.Pemeliharaan tanaman








Fertilisasi

Fertilisasi dilakukan 3 bisa jadi dengan dosis 10 gr per tanaman atau 1 spatula teh bikin aplikasi permulaan sreg umur 12 hst. Padahal aplikasi kedua dan ketiga dengan dosis 20 gr


pertanaman atau 1 sendok makan lega umur 25 dan 45 hst. Pupuk diletakkan pada jarak 10 – 20 cm dari tanaman.








Pengairan

Irigasi diberikan setiap selesai pemupukan. Sedangkan pengairan rutin diberikan dengan melihat kondisi tanah di dasar mulsa.Plong musim hujan angin, yang harus diperhatikan yaitu drainase yang harus mangap untuk membuang air dari dalam areal tanaman.








Pemasangan lanjaran atau pengajiran

Pemasangan lanjaran boleh dilakukan atau dipasang tanaman belum transplanting atau dipasang setelah 2 pekan tanam. Pengajiran bertujuan bikin tanaman agar tumbuh tegak ke atas dan memperoleh sinar matahari secara optimal.Selain itu ajir juga berfungsi untuk merambatkan tanaman, memudahkan pemeliharaan dan tempat menopang biji kemaluan.Pengajiran dilakukan seawal mungkin (± 5 hari pasca- tanam) agar tidak mengganggu dan negatif perakaran tanama.Tinggi ajir ± 2 meter.cara pengajiran yaitu: mengikat batang tanaman (di sumber akar daun pertama),
melilitkan tali kasur sreg batang tanaman.








Pembumbunan


/Penggemburan



Dengan pembumbunan, partikel kapling yang besar dihancurkan menjadi fragmen-adegan yang bertambah katai.Kegiatan pembumbunan n domestik budi daya pokok kayu dapat dilakukan bersama-sama dengan penyiangan.Ketika dilakukan penyiangan, petak-tanah disepanjang tentara tanaman ditimbunkan dipangkal rumpun tanaman. Cara ini sekaligus juga menciptakan parit-parit di atas bedengan yang akan semakin memudahkan drainase. Persil nan tergenangi air dan terlalu lembab bisa memicu serbuan masalah sehingga tanaman mudah membusuk.Umunya kegiatan pembumbunan setakat panen tiba dilakukan sebanyak tiga kelihatannya. Namun, ditanah yang ringan kegiatan ini harus dilakukan agak sering, terutama sehabis roboh hujan yang bisa kerik petak dipangkal pohon








Pewiwilan



,


Penyimpulan



dan Penyiangan










Wiwil merupakan pencahanan membuang tunas-tunas nan bertunas di ruas ke 3 atau 4. Dampak aktual mulai sejak wiwil ini yakni menyeringkan pertumbuahan pohon ke atas disamping bakal seksi pertumbuhan tunas-tunas baru, Sedangkan fungsi balut adalah semoga tanaman dapat menjangkit ke atas, sehingga tanaman dapat tumbuh bersimbah. Dengan ikat akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan dan panen.Penyiangan dilakukan buat menghilangkan gulma.








Panen dan Pasca Pengetaman

Timun boleh dipanen setelah tanaman berumur 38 – 40 waktu sejak tanam. Buah nan dipanen berdimensi panjang sekitar 18 – 20 cm dengan berat antara 80- 120 g. Biji zakar yang berbentuk lurus berdiameter 1,5 – 2,5 cm dengan berat 20 g adalah buah kualitas super. Saat panen nan baik adalah pagi hari antara pukul 06.00-10.00 dan sore hari antara pukul 15.00-17.00.(Rukmana.1995)


2.4.Klasifikasi dan Morfologi Bawang Daun




(Allium fistulosum L.)




Kingdom
:Plantae

Sub divisio
: Spermatophyta

Divisio
: Magnoliophyta

Kelas bawah

: Liliopsida

Sub Kelas
: Lilidae

Ordo

: Asparagales

Famili
: Alliaceae

Genus
: Allium

Species
:


Allium fistulosum L







Habitat tananaman bawang patera merupakan
tanaman semusim,dengan tinggi 60-70 cm,Batang semu.beralur.tidak bercabang,yunior muda,daun tunggal berupa roset akar,lanset comberan rata,ujung runcing,panjang ± 30 cm,lebar ±5 cm,pertulangan sejajar,daging patera tipis , rata,hijau.



Anakan bawang patera majemuk,berkelamin dua,gandar cangkul silindris,panjang ±2 cm ,hijau,kelopak berbentuk corong,ujung bertoreh,permukaan rata,ikhlas ke hijauan ,benang pati silidris,panjang ± 5 mm,penasihat konsentrat melengkung,putik silidris,janjang ± 2 cm,kepala putik kuning,bulat strata,plonco,mahkota melingkar terbagi enam,rataan rata,putih.Buah boks,bujur telur,Diameter ± 5 mm,hijau.Kredit berbentuk gepeng,boncel,kalis,dan berserabut.


2.5. Syarat Tumbuh Kucai Patera

(





Allium fistulosum L




)





Bawang patera bisa bersemi di n baruh rendah maupun tahapan. Dataran rendah yang terlalu damping rantau bukanlah lokasi yang tepat karena pertumbuhan bawang daun menginginkan ketinggian sekitar 250-1.500 m dpl. Di daerah dataran rendah produksi anakan bawang patera juga tak seberapa banyak. Curah hujan angin yang tepat sekitar 1.500-2.000 mm/tahun. Daerah tersebut sebaiknya juga mempunyai master udara harian 18-25°C. Tanah dengan pH objektif (6,5-7,5) cocok untuk karakter buku berambang daun. Bila tanah berkepribadian asam lakukan pengapuran pada saat penggarapan tanah. Jenis tanah nan cocok ialah andosol (bekas lahan gunung berapi) dan lahan tanah pekat yang mengandung pasir.


2.6. Budidaya Bawang Daun

(





Allium fistulosum L




)








Pembibitan

Ada dua pendirian mengamalkan pembibitan bawang daun. Pertama, menggunakan pembibitan sperma dan kedua menggunakan pembibitan bunga. Tahap pertama budidaya bawang daun merupakan pembibitan. Berikut ini merupakan tahap pembibitan kucai daun.








Pembibitan Benih







Semen disemai di sebuah bedengan selebar 100-120 cm dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.Tanah digemburkan dan terjamah dengan ukuran kedalaman sekitar 30cm. Kemudian, baja kandang sebanyak 2 kilogram dicampurkan ke dalamnya.Bedengan diberi semacam atap berbahan plastik transparan dengan keluhuran 100-150cm di sebelah timur, temporer strata di sisi barat cukup 60-80cm.Benih juga ditaburkan pada sebuah garis maupun lajur-larik mengufuk dengan kedalaman sekitar 1cm dan jarak saban larikan tidak makin bersumber 10cm.Sambil menunggu kecambah unjuk, tutuplah mani tersebut dengan karung jute yang basah atau bisa juga menggunakan daun pisang.Untuk merawatnya, disarankan agar pendirusan dilakukan setiap masa.Puas usia 1 bulan, saatnya bibit diberikan kawul daun dengandosis anjuran 1/3 hingga ½ dengan cara disemprot.kalau sudah berusia 2 wulan dan keagungan bibit sudah menyentuh 10cm hingga 15 cm, bibit umbi lapis daun telah siap dipindahkan
.








Pembibitan Rente

Berikut ini ialah bagaimana daun bawang dibudidayakan memperalat pembibitan rente.Memintal rumpun yang hendak dibuat menjadi bibit haruslah berumur 2,5 rembulan dan dalam kondisi sehat tidak terseranghama.Pembongkarannya, rumpun piliahan tadi diangkat bersama dengan akar susu-akarnya.Lebih lanjut, tanah yang berpasangan dan akar alias daun tua ikut dibuang.Pisahkanlah rumpun tersebut hingga kita mempunyai rumpun plonco nan terdiri mulai sejak 1-3 bunga daun bawang.Cara penanamannya merupakan membuang sebagian daun dan bibit pula disimpan plong lokasi lembap serta teduh dengan durasi sekeliling 5 setakat 7 hari.Ekstrak kembali siap ditanam.








Persiapan Lahan


Petak yang sesuai untuk penanaman umbi lapis daun adalah lahan hitam yang gembur dan banyak humus. Selanjutnya tanah diolah dan sebaiknya perebusan persil dilakukan 15-30 hari sebelum tanam, persil diolah dengan dicampur
Serabut Organik. Buatlah persemaian. Caranya, olah persil, lewat tanam biji atau anak tunas bak bibit. Untuk 1 ha lahan, dibutuhkan konsentrat (tunas) sebanyak 200.000 anakan ataupun 1,5-2 kg biji. Siapkan tanah untuk penghijauan. Caranya, cangkul tanah sedalam 30-40 cm, kemudian berikan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha. Buat bedengan selebar 0,6-1 m. Lakukan serokan dengan lebar 20-30 cm di antara bedengan. Pengapuran dilakukan jika persil ber-pH < 6.5 dengan 1-2 ton/ha kapur dolomit dicampur merata dengan tanah puas kedalaman 30 cm. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm sedalam 10 cm.








Penghutanan





Pindahkan bibit ke persil penghutanan setelah berusia 2 bulan (tingginya 10-15 cm).Masa tanam terbaik awal musim hujan (Oktober) maupun awal kemarau (Maret).Sebelum ditanam, konsentrat dicabut dengan ketat, silam potong sebagian akar susu dan daun.Berkubang bibit kerumahtanggaan fungisida dengan pemfokusan rendah (30%-50% dari dosis yang dipetuakan) sejauh 10-15 menit.Tanam bibit privat korok yang mutakadim disediakan, lampau padatkan kapling disekitar sumber akar sari atau pada bagian akar susu.








Preservasi

Sesudah dasun daun berumur 15 musim setelah tanam untuk penyulaman, bila ada bibit bawang daun nan mati atau nan pertumbuhannya adv minim baik.Lakukan penyiangan gulma setiap 3-4 ahad, atau setiap kali tumbuh gulma di seputar pokok kayu umbi lapis daun.Pembubunan bagian dasar tunas sepanjang 4 ahad sebelum penuaian.Tusuk batang bunga dan daun sepuh untuk semok semi.
s
iram 2 barangkali sehari, usahakan untuk enggak terlalu becek/basah.Lakukan pemancaran pestisida jika diperlukan bila muncul tanda-tanda hama dan problem, usahakan dengan pestisida nabati/organik.








Pemupukan

Berikan baja pertama pada saat kucai daun berumur 25-30 waktu setelah tanam. Selanjutnya lakukan perabukan sesuai kebutuhan tanaman dengan memperhatikan laju pertumbuhan tumbuhan. Bikin hasil yang maksimal, menjaga kermahan lingkungan, dan hasil penuaian kucai daun nan afiat lakukan dikonsumsi, gunakan
Pupuk Organik.








Penuaian






Umur Panen 2,5 bulan setelah tanam.Jumlah anakan maksimal (7-10 anakan), beberapa daun menguning.Seluruh rumpun dibongkar dengan pangkur/kored di sore perian/pagi hari.Bersihkan akar semenjak tanah yang berlebihan.








Pasca Pane


lengkung langit





Bawang patera yang mutakadim dipanen disimpan di kancah teduh, lalu basuh hingga bersih dengan air bersirkulasi/disemprot, lalu tiriskan.Bebat dengan tali rafia pada putaran bangkai dan daun.Berat setiap afiliasi sekitar 25 kg.Umbi lapis daun disortir sesuai ukuran kaliber buntang dan hierarki daun.Simpan pada suhu 0,8-1,4 °C sehari kemarin bagi menekan evaporasi dan kehilangan bobot, dan agar dasun daun tunak sehat saat akan dipasarkan.Kucai daun siap kerjakan dipasarkan.


2.7.








Polikultur
(Tumpangsari)




            Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tumbuhan secara bersama-sama atau dengan interval perian nan singkat, pada sebidang lahan nan sekelas. Tumpangsari merupakan sistem penanaman pohon secara barisan di antara tanaman semusim dengan pohon tahunan. Tumpangsari ditujukan kerjakan memanfaatkan lingkungan (hara, air dan kilat matahari) sebaik-baiknya agar diperoleh produksi maksimum.Sistem tumpangsari boleh diatur berlandaskan:


Ø




Sifat-adat perakaran


Ø




Waktu penghutanan

     Tujuan dari lega tanaman tumpangsari adalah:

Memanfaatkan bekas-medan nan kosong
,


Menghemat penggodokan tanah
,
Memanfaatkan fungsi baja yang diberikan kepada tanaman utamanya
,
Menambah penghasilan tiap kesatuan luas persil
,


Memberikan penghasilan sebelum tanaman terdepan menghasilkan.

            Pengukuran sifat-sifat perakaran sangat perlu untuk menghindarkan persaingan elemen hara, air nan berasal dari dalam tanah. Sistem perakaran nan dalam ditumpangsarikan dengan tanaman nan berasio dangkal. Tanaman monokotil yang puas biasanya n kepunyaan sistem perakaran yang dangkal, karena berpunca dari akar seminal dan akar buku. Sedangkan tanaman dikotil puas galibnya mempunyai sistem perakaran dalam, karena n kepunyaan akar tunjang tunggang. Dalam pengaturan tumpang sari tanaman monokotil dengan tanaman dikotil dapat dilakukan kalau dipandang dari sifat perakarannya, misalnya tumpang sari jagung dengan jeruk manis. Sitrus manis dapat tumbuh dengan baik, sedangkan tumbuhan jagung tumbuh berbenda tanpa mengganggu spirit sitrus manis.

            Kontrol taruh pati harus diingat bahwa tanaman selalu mengadakan kompetisi dengan tanaman semusim yang bisa saling menguntungkan, misalnya antara polong-kacangan dengan jagung. Milu menghendaki nitrogen panjang, provisional kacang-kodian, karena kacangan dapat memfiksasi nitrogen semenjak peledak bebas.


Portal.III


METODE PELAKSANAAN


3.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan





Prakt
ek Budidaya Tanaman
Sayur-sayuran


dilaksanakan pada jam ke-I (pengetuk

08
.
30
0 s/d 1
0
.
0
0) pada

Perian/Tanggal: Kamis,21 September


2013-

Peparu,29 Januari

201
4

,yang bertempat di Tor Simarsayang lahan Fakultas Pertanaman Universitas Graha Nusantara.


3.2.Instrumen Dan Bulan-bulanan


Ø





Instrumen

Akan halnya perabot yang digunakan privat Praktek Kesuburan Tanah dan Pemupukan adalah sebagai berikut :







Pangkur







Garu







Gembor







Tali Rapia







Timba







Kayu Ajir







Papan Pamplet,Pisau Cutter


Ø




Incaran

Mengenai Sasaran yang digunakan intern Praktek Kesuburan Tanah dan Pemukan adalah umpama berikut :







Benih Mentimun,Benih Bawang Daun







Cendawan Kompos







Pupuk NPK Mutu







Polybag ukuran 5 cm × 5 cm


3.3.Prosedur Kerja.

  1. Pembilasan kapling dengan ukuran 1,2 m ×
    4,5 m.
  2. Pembuatan Plot

    yang akan digunakan lakukan mengebumikan Mentimun dan Bawang dau secara polikultur (Tumpangsari) dengan ukuran 1 m x 1

    ,5

    m

    ,dengan total 3 plot (bedengan)
  3. Pembuatan Lobang tanam/Jarak tanam Mentimun nan digunakan 50 cm × 50 cm . dengan besaran lobang tanam/Plot (Bedengan) 10 lobang tanam,jadi untuk 3 bedengan 30 lobang tanam mentimun.
  4. Hadiah Serabut Humus ibarat pupuk bawah (Serat Kompos ).
  5. Penanaman jauhar Mentimun,Pembuatan Ajir panjang ± 30 cm logo Lobang tanam , untuk memafhumi lobang tanam Mentimun.
  6. Pembuatan lanjaran Mentimun dengan panjang ± 2 m.
  7. Penanaman bibit kucai daun dengan jarak 20 cm ×
    50 cm.
  8. Perawatan yaang terdiri berpokok :







Penyiraman :dilakukan rutin pada sore musim ,apabila tidak turun hujan angin.







Penyiangan







Perabukan dilakukan 2 kelihatannya,dengan pupuk NPK Mutiara, dosis ± 5 gram/lobang tanam.







Pengendalian H/P pada tanaman Mentimun dilakukan secara mekanik.

  1. Panen


3.4.Parameter Pengamatan.








Indeks pengamatan Budidaya Pokok kayu Sayuran ialah:pengamatan jumlah buah Mentimun
(Cucumis sativus L)
saban lobang tanam



Pengamatan total biji kemaluan dilakukan dengan menghitung banyaknya buah sekejap-sekejap panen dan dijumlahkan sampai panen ketiga berbunga masing-masing tanaman.

Berat buah perlobang tanaman

Penimbangan sulit buah dilakukan dengan mandu menimbang buah nan dipanen
dengan menunggangi timbangan.


Parameter pengamatan Bawang Daun

(



Allium fistulosum L







)


yakni Tinngi dan Besaran daun,dengan metode zigzag kerumahtanggaan pengambilan sampel tanaman.


3.4.Denah Lokasi Lahan







Adapun denah Lokasi Praktek Budidaya Tanaman Sayur-Sayuran sebagai berikut :






BAB.IV


HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.Hasil







Akan halnya hasil pengamatan praktek Budidaya Tanaman Sayur-sayuran merupakan sebagai berikut :


4.1.1. Mentimun
(Cucumis sativus L )


v




Jumlah Buah Mentimun

(Cucumis sativus L )


No


Tanaman Sampel


Pengamatan (Jumlah Buah/Lobang Tanam)


Bedengan I


I


II


III


Besaran


1


1


2






2


2


2


2






2


3


4


1


2


1


4


4


5


1


1


3


5


5


8


3


1


4


8


Sub Kuantitas


9


4


7


21


6


Bedengan II


7


11


2


1


1


4


8


12


2


1


2


5


9


16


1


1




2


10


17




1


1


2


11


19


2




2


4


Sub Jumlah


7


4


6


17


12


Bedengan III


13


22


2




2


4


14


24




2


2


4


15


25


2




2


4


16


27


2


1


1


4


17


29


2


1




3


Sub Total


8


4


7


15


18


Kuantitas


24


12


21


55



Diagram 1




:Jumlah Buah Tanaman Mentimun
(Cucumis sativus L )


v





Berat Buah Mentimun
(Cucumis sativus L )


No


Tanaman Sampel


Berat (gram)


1


Bedengan I


2


1


220 gram


3


2


240 gram


4


8


190 gram


5


Sub Jumlah


650 gram


6


Bedengan II


7


11


70 gram


8


16


120 gram


9


17


50 gram


10


19


100 gram


11


Sub Jumlah


340 gram


12


Bedengan III


13


22


60 gram


14


25


50 gram


15


29


90 gram


16


Sub Jumlah


200 gram


17


Total


1.190 gram



Tabel 2:



Berat Bobot Basah Tanaman Mentimun
(Cucumis sativus L )


4.1.2.Kucai Daun

(





Allium fistulosum L




)




Hasil pengamatan Bawang Daun

(



Allium fistulosum L



)


dengan indikator pengamatan Total daun dan Tinggi tumbuhan,adalah sebagai berikut :


v





Bedengan I


No


Tan.Spesimen


Pengamatan


I


II


II


Tinngi (cm)


Jumlah Patera


Tinngi (cm)


Total Daun


Tinngi (cm)


Jumlah Daun


1


1


29 cm


3


29,7 cm


4


33 cm


4


2


2


29,7 cm


2


30,4 cm


2


32 cm


3


3


3


24 cm


3


25,2 cm


3


26 cm


4


4


4


27 cm


3


28,7 cm


3


30 cm


3


5


5


25 cm


3


26,1 cm


2


27 cm


4



Grafik 3:




Pengamatan Bawang Daun

(





Allium fistulosum L




)




bedengan I


v





Bedengan II


No


Tan.Sampel


Pengamatan


I


II


II


Tinngi (cm)


Jumlah Daun


Tinngi (cm)


Jumlah Patera


Tinngi (cm)


Total Daun


1


1


26 cm


3


26,8 cm


3


28 cm


4


2


2


27 cm


3


28,3 cm


4


29 cm


4


3


3


25,2 cm


3


26 cm


4


27 cm


4


4


4


21,4 cm


3


22 cm


3


23 cm


4


5


5


22 cm


2


22,7 cm


3


24 cm


3



Tabel 4 ;



Pengamata Berambang daun

(





Allium fistulosum L




)



Bedengan II


v





Bedengan III


No


Tan.Spesimen


Pengamatan


I


II


II


Tinngi (cm)


Jumlah Patera


Tinngi (cm)


Jumlah Daun


Tinngi (cm)


Kuantitas Daun


1


1


24 cm


3


24,8 cm


3


26 cm


4


2


2


21cm


2


21,7 cm


3


23 cm


3


3


3


22,2 cm


3


23 cm


4


24 cm


4


4


4


28 cm


3


28,7 cm


3


30 cm


4


5


5


18,3 cm


3


19 cm


4


20 cm


4



Tabel 5;



Pengamatan Kucai Daun

(





Allium fistulosum L




)




bedengan III


4.2.Pembahasan

Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tumbuhan secara bertepatan maupun dengan interval perian yang sumir, plong sebidang lahan nan sama.

Adapun Keuntungan berhuma secara polikultur (Tumpang sari
) yaitu sebagai berikut;


Daya guna tenaga lebih mudah dicapai karena langkah tanam, pengerjaan petak, pemeliharaan, perabukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir

,
Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam barisan
,
Menghsilkan produksi bertambah banyak bakal di jual ke pasar
,
kesuburan dan tekstur persil
,
Resiko kehampaan panen memendek
,
Kemungkinan merupakan tulangtulangan yang memberikan produksi tertinggi karena pemanfaatan kapling dan sinar syamsu lebih efisie
n
.
Sedangkan kelemmahan plikultur
(Titip sari
) adalah

Persaingan kerumahtanggaan hal unsur hara
,


Pemilihan produk
,


Aplikasi Pasar
,


Memerlukan adendum biaya dan perlakuan
.


4.2.1.Mentimun
(Cucumis sativus L)







Data di ambil berusul tanaman sampel sebanyak 5 perberdengan,pengambilan sampel dengan metode zigzag,jadi jumlah spesimen yang diamati semenjak 3 bedengan sebanyak 15 sampel tanaman.Jumlah buah,d
istal data yang telah dicantumkan di atas dapat diketahui bahwa

besaran biji kemaluan Mentimun
(Cucumis sativus L)
yaitu pada bedengan I pengamatan 1-3 terdapat 21 biji kemaluan, bedengan ke-2 terdapat 17 biji kemaluan dan bedengan ke-3 terdapat 15 biji kemaluan,penerjunan total biji kemaluan disebabkan faktor biotik

yang dapat mempengaruhi produktifitas mentimun menghampari populasi organism sukma yang ada disekitar lokasi budidaya.
dari ketiga bedengan tersebut yang paling baik produksi buah terdapat plong bedengan I.Adapun total buah keseluruhan bedengan 1-3 merupakan 55 buah.

Rendahnya produksi semenjak tanaman mentimun dikarenakan cuaca surya yang jenjang sehingga rente yang dihasilkan lebih banyak bunga jantan dibanding bunga lebah ratulebah. Situasi ini sesuai dengan pernyataan Cahyono (2003) yang mengatakan bahwa kesungguhan cahaya matahari yang tinggi pada tumbuhan mentimun lebih dominan pembentukan bunga bahaduri
.


Hasil produksi akan lebih cacat karena jumlah tanaman dilahan bertambah sedikit jadi hasilnya kembali rendah walaupun semua tanaman tumbuh dengan baik menurut Rukmana.




Berat Biji pelir;Hasil penuaian (langka bobot basah ) Mentimun
(Cucumis sativus L),bedengan I terdapat 650 gram,bedengan II: 340 gram dan bedengan III : 200 gram terjadinya ,total hasil keseluruhan sebanyak 1.190 gram.



Biji pelir mentimun dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat dipanen, yaitu buah masih berduri, pangkat buah antara 10-30 cm alias terjemur jenis nan diusahakan interval panen dilakukan antara 1-2 hari sekali.
pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi/sore tahun


yang berujud untuk menjaga kualitas dan kwntitas biji pelir.
Panen dilakukan dengan cara menyelit tangkainya dengan pisau atau gunting. Tangkai buah yang bekas dipotong sebaiknya dicelupkan kedalam cairan lilin untuk mempertahankan laju penguapan dan kelayuan sehingga kesegaran buah mentimun dapat terjaga nisbi lama (Sumpena, 2001).





Berat buah tanaman mentimun sangat dipengaruhi maka itu ketersediaan hara pokok kayu. Peristiwa ini sesuai dengan pernyataan Rismunandar (1981) mengatakan bahwa tanaman akan merecup baik dan menghasilkan produksi panjang apabila tersedia layak makanan. Fertilisasi merupakan riuk satu cara buat menunaikan janji kebutuhan hara tanaman.


4.2.2.Berambang Daun

(





Allium fistulosum L




)










Data di ambil dari tumbuhan sampel sebanyak 5 perberdengan,pengambilan spesimen dengan metode zigzag,bintang sartan jumlah sampel yang diamati dari 3 bedengan sebanyak 15 sampel pokok kayu.Bedengan I,dari data diatas kita ketahui bahwa tanaman paliang tinggi adalah tanaman sampel 1, pengamatan I
tinggi 29 cm,pengamatan ke-2 tinggi 29,7 cm dan pengamatan ke-3
janjang 33 cm,sedangkan yang minimum rendah sreg pokok kayu spesimen 3, pengamatan I jenjang 24 cm,pengamatan ke-2 tataran 25,2 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 26 cm.Kebanyakan jumlah Daun bermula tanaman sampel 1-5,pengamatan I 3 daun,pengamatan ke-2 3 daun dan pengamatan ke-3 4 daun.


Bedengan II

,Pokok kayu nan paling tinggi ialah tanaman sampel 2,pengamatan I tahapan 27 cm,Pengamatan ke-2 pangkat 28,3 cm dan pengamatan ke-3 hierarki 29
cm.Sedangkan tumbuhan sampel yang paling terbatas pada tanaman sampel 4,pengamatan I tinggi 21,4 cm, pengamatan ke-2 tinggi 22 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 24 cm.Rata-rata kuantitas daun tanaman sampel pada bedengan II ,pengamatan I
Dan ke-2 3 helai daun,padahal puas pengamatan ke -3 4 helai daun.


Bedengan III,


Pohon yang minimum tinggi ialah tanaman sampel 4,pengamatan I strata 28 cm,Pengamatan ke-2 tinggi 28,7 cm dan pengamatan ke-3 panjang 30
cm.Sedangkan tanaman spesimen yang paling rendah pada tanaman sampel 5,pengamatan I tataran 18,3 cm, pengamatan ke-2 tinggi 19 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 20 cm.Rata-rata jumlah daun tanaman percontoh puas bedengan II ,pengamatan I
Dan ke-2 3 helai patera,sementara itu puas pengamatan ke -3 4 helai daun.

Dari hasil pengamatan bedengan 1-3,tumbuhan yang paling baik sreg bedengan I sreg sampel tanaman 1 tinngi 33 cm,sedangkan yang paling sedikit tanaman percontoh
5 pada bedengan III,dengan hierarki pokok kayu 20 cm.padahal rata-rata daun ari ketiga bedengan sama pada pengamtan 1 dan 2,hanya terletak 3 helai patera dan puas pengamatan ke-3 hanaya terwalak 4 helaian daun.Mengenai
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pohon bawang patera

(




Allium fistulosum L




)




Factor abiotik ini mencakup kondisi lahan, iklim, air, suhu dan kelembaban udara mileu bertaruk tanaman.dengan memafhumi syarat tumbuh mentimun, sreg umumnya kondisi lingkungan yang yang digunakan cak bagi praktikum sudah cukup sesuai untuk budidaya

bawang patera secara polikultur.Mengenai Keuntungan dan kehabisan bercocok tanam secara polikultur (Taruh sari
) yaitu perumpamaan berikut


Bab.V


PENUTUP


5.1.Konklusi


v





Jumlah biji zakar

,d
ari data nan telah dicantumkan di atas dapat diketahui bahwa

jumlah buah Mentimun
(Cucumis sativus L)
yaitu pada bedengan I pengamatan 1-3 terdapat 21 buah, bedengan ke-2 terdapat 17 buah dan bedengan ke-3 terdapat 15 buah,penurunan jumlah buah disebabkan faktor biotik

yang bisa mempengaruhi produktifitas mentimun meliputi populasi organism hidup yang ada disekitar lokasi budidaya.
pecah ketiga bedengan tersebut yang paling baik produksi biji pelir terdapat sreg bedengan I.Adapun jumlah buah keseluruhan bedengan 1-3 yaitu 55 biji zakar.


v





Pelik Biji zakar

;Hasil panen (berat bobot basah ) Mentimun
(Cucumis sativus L),bedengan I terwalak 650 gram,bedengan II: 340 gram dan bedengan III : 200 gram maka total hasil keseluruhan sebanyak 1.190 gram.


v




Berasal hasil pengamatan bedengan 1-3 Bawang Daun ,tanaman yang minimal baik plong bedengan I pada sampel tanaman 1 tinngi 33 cm,sedangkan yang paling kecil rendah tanaman sampel
5 lega bedengan III,dengan strata tanaman 20 cm.sementara itu kebanyakan patera ari ketiga bedengan sepadan pada pengamtan 1 dan 2,semata-mata terdapat 3 helai daun dan pada pengamatan ke-3 hanaya terdapat 4 helaian daun.


5.2.Saran


v




Hendaknya pemanenan sreg buah mentimun
(Cucumis sativus L)
dilakukan pada pagi/petang musim.


v




Diharapkan kepada semua praktikan bakal bertambah khusyuk dalam menjalani praktikum mudah-mudahan intensi berasal praktikum ini bisa terlaksana dengan baik dan praktikan boleh mengerti dan memahami prosedur kerja sehingga dapat memuat laporan dengan baik dan benar.


DAFTAR PUSTAKA

Rachmat, S. dan Geraad Grubben. 1995.
Pedoman
Bertanam Sayuran Dataran Adv minim.

Prosea Indonesia dan Auditorium Penekanan Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal,

102-104.

Rukmana, R. 1994.
Budidaya Mentimun.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.

Sumpena, U. 2001.
Budidaya Mentimun Intensif dengan Mulsa Secara Titip Gilir.

Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.

Rukmana, Rahmat. 1995. Budidaya Mentimun. Yogyakarta. Kanisius

Jumin, Hasan Basri. 1998. Dasar-pangkal Agronomi. Jakarta : Rajawali.

Marzuki, H. A. Rasyid, Soeprapto. 2004. Bercocok tanam Kacang Mentah. Jakarta : Penebar

Swadaya.

Najiyati, Sri. 1992. Palawija, Budidaya, dan Amatan Gerakan Bersawah. Jakarta : Penebar Swadaya.

Sunaryo, Hendro. 1984. Pengantar Amanat Bawah Hortiklutura (Produksi Hortikultura I).

Bandung : Nur Baru Bandung.


LAMPIRAN


Ø





Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Praktek Budidaya Tanaman Sayuran


NO


Hari/tgl/Thn


Kegiatan


1

Kamis,14/11/2013

Pengumbahan lahan,perebusan tanah


2

Kamis,21/11/2013

Pembuatan bedengan


3

Jum’at,22/11/2013

Pembibitan Bawang Daun


4

Kamis,28/11/2013

Penanaman Mentimun,penyiraman


5

Kamis,12/12/2013

Pembuatan lanjaran,Pemupukan dengan Pupuk Bunga tanah,Pendirusan.


6

Kamis,19/12/2013

Penghijauan Bawang Daun ,Pemupukan I Mentimun Penyiraman


7

Alat pernapasan,7/1.2014

Pemupukan ke-2 Mentimun ,penyiangan ,Penyimpulan
, pengendalian H/P dan penyiraman


9

Kamis.08/01/2014

Pengamatan Jumlah buah mentimun Pengikatan ,Pemangkasan ,pengendalian H/P,dan Pendirusan


10

Rabu,15/01/2014

Pengamatan ke-2 Mentimun,Panen ,Penggemburan, Penyiangan,Pengamatan I Dasun Patera.


11

Rabu,22/01/2014

Pengamatan ke-3 Mentimun,Pengamatan ke-2 Bawang daun,penggemburan,dan Penyirman


12

Rabu,29/01/2014

Pengamatan ke-3 Bawang daun.


Ø





Dokumentasi Fhoto










Susuk




:Benih Mentimun

Rencana
: Penanaman Mentimun










Gambar




:Pembibitan Umbi lapis Daun

Buram
:Pembuatan Lanjaran Timun









Gambar;Penyiraman
Rencana :Penanaman Bawang Daun









Gambar :Fertilisasi
Gambar :Penyatuan









Gambar ;Buah Mentimun
Gamabar ; Pemangkasan daun








Lembaga :Panen Mentimun

Source: https://laporan-budidaya-tanaman-sayuran.blogspot.com/2016/12/laporan-budidaya-tanaman-sayuran.html

Posted by: holymayhem.com