Ketahanan Pangan Tanam.sayuran.di.halaman.koramil

Ini adalah artikel bagus. Klik untuk informasi lebih lanjut.

Berpangkal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pertumbuhan produksi pangan sendirisendiri kapita pelahap meningkat sejak tahun 1961. Sumber: Food and Agriculture Organization.

Kober massal anak-anak yang meninggal karena kelaparan di Afrika Timur

Peta kerawanan pangan ekstrem.[1]

Ketahanan alas
adalah ketersediaan rimba dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah apartemen tangga dikatakan n kepunyaan ketegaran pangan kalau penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan.[2]
Ketenangan rimba ialah ukuran kelentingan terhadap bisikan lega periode depan atau ketiadaan tandon wana penting akibat berbagai rupa faktor seperti kehabisan, gangguan perkapalan, kelangkaan bahan bakar, ketidak stabilan ekonomi, resistansi, dan sebagainya. Penilaian kesabaran jenggala dibagi menjadi keswadayaan ataupun keswasembadaan perorangan (self-sufficiency) dan ketergantungan eksternal yang menjatah serangkaian faktor risiko. Supaya bermacam ragam negara suntuk menginginkan keswadayaan secara perorangan kerjakan menghindari risiko frustasi transportasi, namun hal ini terik dicapai di negara maju karena profesi masyarakat yang sudah lalu beragam dan tingginya biaya produksi alamat pangan jika bukan diindustrialisasikan.[3]
Kebalikannya, keswadayaan perorangan yang tinggi sonder perekonomian yang memadai akan menciptakan menjadikan suatu negara memiliki kerawanan produksi.

World Health Organization mendefinisikan tiga suku cadang terdahulu ketahanan pangan, ialah ketersediaan alas, akses pangan, dan penggunaan pangan. Ketersediaan pangan ialah kemampuan mempunyai sejumlah pangan nan patut buat kebutuhan dasar. Akses rimba yakni kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun awak, lakukan mendapatkan objek pangan bervitamin. Penggunaan pangan adalah kemampuan kerumahtanggaan memanfaatkan bahan pangan dengan bermartabat dan tepat secara sama. FAO menambahkan komponen keempat, merupakan kestabilan pecah ketiga suku cadang tersebut n domestik kurun periode yang tingkatan.[2]

Garis haluan sebuah negara dapat mempengaruhi akses masyarakat kepada bulan-bulanan pangan, seperti nan terjadi di India. Majelis tinggi India menyetujui susuk ambisius bagi memberikan subsidi bagi dua pertiga populasi negara itu. Rancangan Undang-Undang Ketenangan Wana ini mengusulkan menjadikan rimba bagaikan properti warga negara dan akan memberikan lima kilogram bahan pangan berharga murah per rembulan bikin 800 juta penduduk miskinnya.[4]

Sejarah

Ketahanan pangan adalah sebuah kondisi nan tersapu dengan ketersediaan korban pangan secara berkelanjutan. Kekhawatiran terhadap ketahanan pangan sudah lalu ada dalam sejarah. Sejak 10 mili tahun yang sangat lumbung telah digunakan di Tiongkok dengan kekuasaan pemakaian secara terpumpun di peradaban di Tiongkok Historis dan Mesir Kuno. Mereka melepaskan stok rimba di momen terjadinya kelaparan. Namun ketahanan hutan hanya dipahami pada tingkat nasional, dengan definisi bahwa negara akan tenang dan tenteram secara rimba jika produksi rimba meningkat bikin menunaikan janji kuantitas permintaan dan kestabilan harga. Definisi baru tentang ketahanan pangan dibuka pada tahun 1966 di World Food Summit yang menekankan ketahanan pangan n domestik konteks perorangan, bukan negara.[5]
[6]

Pilar ketegaran pangan

Kesiapan

Embek dapat menjadi sebuah solusi persoalan ketegaran pangan mondial karena mudah dipelihara

Ketersediaan pangan berhubungan dengan stok hutan melalui produksi, perputaran, dan pertukaran.[7]
Produksi pangan ditentukan oleh beraneka ragam jenis faktor, termuat kepemilikan persil dan penggunaannya; spesies dan manajemen tanah; seleksi, pengultusan, dan manajemen tanaman perladangan; pemuliaan dan manajemen hewan ternak; dan pemanenan.[8]
Produksi tanaman pertanian bisa dipengaruhi maka dari itu persilihan temperatur dan curah hujan.[7]
Penggunaan lahan, air, dan energi untuk menumbuhkan mangsa rimba sering mana tahu berkompetisi dengan kebutuhan enggak.[9]
Pemanfaatan lahan kerjakan persawahan dapat berubah menjadi pemukiman atau hilang akibat desertifikasi, salinisasi, dan abrasi tanah karena praktik perkebunan yang tidak kuat.[9]

Produksi tanaman pertanaman bukanlah satu kebutuhan yang mutlak bagi suatu negara bikin menjejak ketahanan pangan. Jepang dan Singapura menjadi komplet bagaimana sebuah negara nan tidak punya sumber daya alam lakukan memproduksi korban pangan namun produktif mencapai ketahanan pangan.[3]
[10]

Perputaran pangan mengikutsertakan penyimpanan, pemrosesan, transportasi, pengemasan, dan pemasaran sasaran pangan.[8]
Infrastruktur rantai cadangan dan teknologi penyimpanan pangan pula dapat mempengaruhi jumlah bahan pangan yang hilang selama distribusi.[9]
Infrastruktur transportasi yang tidak memadai bisa menyebabkan peningkatan harga hingga ke pasar universal.[9]
Produksi pangan per kapita manjapada mutakadim melebihi konsumsi per kapita, namun di majemuk tempat masih ditemukan kerawanan pangan karena peredaran sasaran pangan telah menjadi penghalang utama privat mencapai ketenangan pangan.[10]

Akses

Akses terhadap bahan jenggala mengacu kepada kemampuan membeli dan besarnya alokasi objek rimba, sekali lagi faktor selera pada suatu individu dan rumah tahapan.[7]
PBB menyatakan bahwa penyebab kelaparan dan malagizi sering siapa lain disebabkan oleh kelangkaan bahan pangan namun ketidakmampuan mengakses bahan wana karena kefakiran.[11]
Kemiskinan membatasi akses terhadap mangsa pangan dan pula meningkatkan kerentanan suatu cucu adam atau apartemen tangga terhadap kenaikan harga bahan pangan.[12]
Kemampuan akal masuk bergantung pada besarnya pendapatan suatu rumah janjang bikin membeli sasaran wana, atau kepemilikan lahan kerjakan memaksimalkan makanan untuk dirinya seorang.[13]
Kondominium tangga dengan perigi daya yang memadai dapat mengatasi ketidakstabilan panen dan kelangkaan pangan setempat serta mampu mempertahankan akses kepada bahan pangan.[10]

Terdapat dua perbedaan akan halnya akses kepada bahan pangan. (1) Akses bertepatan, yakni flat jenjang memproduksi mangsa pangan sendiri, (2) akses ekonomi, adalah rumah tangga membeli bahan rimba yang diproduksi di panggung lain.[8]
Lokasi bisa mempengaruhi akses kepada bahan rimba dan jenis akses yang digunakan sreg rumah tangga tersebut.[13]
Supaya demikian, kemampuan akses kepada suatu target hutan tidak sayang menyebabkan seseorang membeli bulan-bulanan pangan tersebut karena ada faktor selera dan budaya.[12]
Demografi dan tingkat edukasi suatu anggota rumah tangga juga gender menentukan kedahagaan memiih incaran pangan yang diinginkannya sehingga kembali mempengaruhi tipe pangan yang akan dibeli.[13]
USDA menambahkan bahwa akses kepada sasaran pangan harus cawis dengan cara yang dibenarkan oleh umum sehingga alat pencernaan tidak didapatkan dengan cara memungut, maling, atau malah cekut berusul suplai kandungan darurat ketika tidak sedang dalam kondisi temporer.[14]

Pengusahaan

Ketika objek pangan sudah lalu didapatkan, maka majemuk faktor mempengaruhi jumlah dan kualitas pangan yang dijangkau oleh anggota batih. Bahan pangan yang dimakan harus aman dan menunaikan janji kebutuhan fisiologis satu individu.[12]
Keamanan alas mempengaruhi pengusahaan wana dan dapat dipengaruhi maka dari itu cara penyiapan, pemrosesan, dan kemampuan memasak di suatu komunitas maupun rumah tataran.[7]
[8]
Akses kepada fasilitas kebugaran kembali mempengaruhi pemanfaatan pangan karena kesehatan suatu individu mempengaruhi bagaimana suatu nafkah dicerna.[8]
Misal keberadaan parasit di dalam usus dapat mengurangi kemampuan jasmani mendapatkan nutrisi tertentu sehingga mengurangi kualitas eksploitasi wana oleh sosok.[10]
Kualitas sanitasi juga mempengaruhi kesanggupan dan persebaran komplikasi yang boleh mempengaruhi eksploitasi jenggala[8]
sehingga edukasi mengenai zat makanan dan pengemasan bahan wana dapat mempengaruhi kualitas pendayagunaan pangan.[10]

Stabilitas

Pemantapan pangan mengacu pada kemampuan satu orang dalam mendapatkan korban pangan sepanjang waktu tertentu. Kerawanan hutan bisa berlangsung secara transisi, musiman, atau kronis (permanen).[8]
Pada keluasan pikiran pangan perubahan, hutan kemungkinan tidak tersedia plong suatu periode waktu tertentu.[12]
Petaka dan kekeringan ki berjebah menyebabkan kekecewaan panen dan mempengaruhi kesiapan pangan lega tingkat produksi.[8]
[12]
Konflik sipil juga boleh mempengaruhi akses kepada bulan-bulanan rimba.[12]
Ketidakstabilan di pasar menyebabkan peningkatan harga pangan sehingga sekali lagi menyebabkan kerawanan pangan. Faktor bukan misalnya hilangnya tenaga kerja atau produktivitas yang disebabkan oleh wabah penyakit. Musim tanam mempengaruhi penstabilan secara musiman karena incaran pangan hanya suka-suka lega musim tertentu belaka.[8]
Kerawanan alas permanen atau kronis bersifat paser panjang dan persisten.[12]

Stabilitas pangan yakni taraf teratas dari tingkatan kepemilikan maupun penguasaan wana. Urutan tingkatan yang dimaksud berangkat dari yang terendah sebatas yang tertinggi yaitu mula-mula: ketahanan pangan, kedua: kemandirian pangan, dan ketiga: ketangguhan maupun stabilitas pangan.
[butuh rujukan]

Tantangan buat hingga ke ketabahan wana

Abrasi kapling; kilangangin kincir meniupkan saduran tanah atas yang kering

Keruntuhan petak

Pertanian intensif mendorong terjadinya penjatuhan kesuburan lahan dan penurunan hasil.[15]
Diperkirakan 40% dari petak perkebunan di bumi terdegradasi secara tekun.[16]
Di Afrika, jika kecenderungan degradasi lahan terus terjadi, maka benua itu hanya mampu memberi makan seperempat penduduknya saja sreg tahun 2025.[17]

Wereng dan penyakit

hama dan penyakit mampu mempengaruhi produksi budi daya tanaman dan peternakan sehingga memiliki dampak bagi ketersediaan objek alas. Contoh penyakit tanaman Ug99, salah satu tipe komplikasi karat batang pada gandum bisa menyebabkan kehilangan hasil persawahan hingga 100%. Kelainan ini telah terserah di berbagai negara di Afrika dan Timur Tengah. Terganggunya produksi pangan di negeri ini diperkirakan mampu mempengaruhi ketahanan alas global.[18]
[19]
[20]

Keanekaragaman genetika dari kerabat palsu garai dapat digunakan bikin memperbarui spesies modern sehingga makin tahan terhadap karat batang. Garai gelap ini boleh diseleksi di habitat aslinya lakukan mencari jenis yang tahan karat, lalu informasi genetikanya dipelajari. Anak bungsu spesies modern dan varietas liar disilangkan dengan pemuliaan pohon modern bikin menularkan gen dari varietas liar ke varietas modern.[21]
[22]

Krisis air mendunia

Kanal irigasi mutakadim menjadikan kawasan padang pasir yang kering di Mesir menjadi lahan pertanian

Berbagai negara di dunia mutakadim berbuat pengimporan gandum yang disebabkan maka itu terjadinya defisit air,[23]
dan kemungkinan akan terjadi pada negara besar seperti China dan India.[24]
Tahapan tampang air tanah terus menurun di beberapa negara dikarenakan pemompaan yang berlebihan. China dan India telah mengalaminya, dan negara setangga mereka (Pakistan, Afghanistan, dan Iran) mutakadim tergoyahkan keadaan tersebut. Hal ini akan memicu kelangkaan air dan menurunkan produksi tanaman pangan.[25]
Ketika produksi tanaman jenggala menurun, harga akan meningkat karena populasi terus bertambah. Pakistan masa ini masih mampu menetapi kebutuhan rimba di dalam negerinya, sahaja dengan peningkatan populasi 4 juta jiwa masing-masing tahun, Pakistan prospek akan melirik pasar dunia dalam menepati kebutuhan pangannya, seimbang seperti negara lainnya nan telah mengalami defisit air begitu juga Afghanistan, Ajlazair, Mesir, Iran, Meksiko, dan Pakistan.[26]
[27]

Secara regional, kelangkaan air di Afrika yaitu yang terbesar dibandingkan negara lainnya di dunia. Dari 800 juta hidup, 300 juta penduduk Afrika sudah lalu hidup di lingkungan dengan stres air.[28]
Karena sebagian segara penduduk Afrika masih bergantung dengan tendensi hidup berbasis pertanaman dan 80-90% pemukim desa memproduksi hutan mereka sendiri, kelangkaan air adalah sama dengan hilangnya ketahanan pangan.[29]

Pendanaan jutaan ringgit yang dimulai lega waktu 1990an oleh Bank Bumi telah mereklamasi padang kersik halus dan memungkiri lembah Ica yang kering di Peru menjadi pensuplai akar parsi dunia. Tetapi hierarki muka air persil terus melandai karena digunakan sebagai irigasi secara terus menerus. Sebuah amanat sreg periode 2010 mengijmalkan bahwa pabrik ini tidak berwatak lestari.[30]
Mengubah arah aliran air sungai Ica ke lahan akar parsi sekali lagi telah menyebabkan kelangkaan air kerjakan masyarakat pribumi yang hidup sebagai penggembala satwa ternak.[31]

Perebutan lahan

Kepemilikan lahan lintas sempadan negara semakin meningkat. Firma Korea Utara Daewoo Logistics sudah lalu mengamankan satu latar petak yang luas di Madagascar bagi mebudidayakan jagung dan tanaman pertanian lainnya lakukan produksi biofuel. Libya sudah lalu mengamankan 250 ribu hektare lahan di Ukraina dan sebagai gantinya Ukraina mendapatkan akses ke sumber tabun alam di Libya. China telah memulai eksplorasi lahan di sejumlah tempat di Asia Tenggara. Negara di semenanjung Arab telah mengejar lahan di Sudan, Ethiopia, Ukraina, Kazakhstan, Pakistan, Kamboja, dan Thailand. Qatar berencana mencarter lahan di sepanjang panyai di Kenya untuk mengoptimalkan sayuran dan buah, dan sebagai gantinya akan membangun pelabuhan besar damping Lamu, pulau di osean Hindia yang menjadi harapan pariwisata.[32]
[33]
[34]

Peralihan iklim

Fenomena kurat nan radikal sama dengan kehabisan dan banjir diperkirakan akan meningkat karena perubahan iklim terjadi.[35]
Kejadian ini akan n kepunyaan dampak di sektor pertanian. Diperkirakan plong masa 2040, dempet seluruh area sungai Nil akan menjadi padang pasir di mana aktivitas kepribadian daya tidak dimungkinkan karena keterbatasan air.[36]
Dampak pecah sinar drastis mencangam perlintasan produktivitas, mode roh, pendapatan ekonomi, infrastruktur, dan pasar. Toleransi pangan plong futur akan terkait dengan kemampuan adaptasi budi pokok bercocok tanam masyarakat terhadap perubahan iklim. Di Honduras, perempuan Garifuna membantuk meningkatkan toleransi pangan lokal dengan mengetanahkan pohon umbi tradisional refleks membangun metode perawatan tanah, melakukan pelatihan perkebunan organik dan menciptakan pasar pembajak Garifuna. Enam belas kota telah sandar-menyandar membangun bank jauhar dan peralatan perladangan. Upaya cak bagi menernakkan macam pokok kayu biji zakar bawah tangan di selama rantau membantu mencegah erosi tanah.[37]

Diperkirakan 2.4 miliar warga usia di daerah tangkapan air hujan angin di sekeliling Himalaya.[38]
Negara di sekitar Himalaya (India, Pakistan, China, Afghanistan, Bangladesh, Myanmar, dan Nepal) boleh mengalami banjir dan kekeringan pada dekade mendatang.[39]
Bahkan di India, sungan Ganga menjadi sumur air minum dan irigasi bagi 500 juta jiwa.[40]
[41]
Kali besar yang berpunca semenjak gletser lagi akan terpengaruh.[42]
Kenaikan permukaan laut diperkirakan akan meningkat seiring meningkatnya guru bumi, sehingga akan mengurangi sejumlah tanah yang dapat digunakan untuk pertanian.[43]
[44]

Semua dampak dari perubahan iklim ini berpotensi mengurangi hasil pertanian dan peningkatan harga pangan akan terjadi. Diperkirakan setiap kenaikan 2.5% harga pangan, jumlah manusia yang kelaparan akan meningkat 1%.[45]
Berubahnya tahun dan musim tanam akan terjadi secara drastis dikarenakan perubahan temperatur dan kelembaban tanah.[46]

Lihat pula

  • Mangsa pangan vs bahan bakar
  • Daftar kasus kelaparan
  • Ekologi pertanian
  • Ekonomi nutrisi
  • Ekonomi pertanian
  • Ilmu permukaan bumi wana
  • Hak terhadap bulan-bulanan pangan
  • Irigasi defisit
  • Krisis harga pangan
  • Kegentingan subsisten
  • Norman Borlaug
  • Pembangunan pertanian
  • Persawahan berkelanjutan
  • Persawahan urban
  • Reformasi lahan
  • Sanitasi ekologi
  • Survivalisme

Wacana


  1. ^

    [1]
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  2. ^


    a




    b




    FAO Agricultural and Development Economics Division (June 2006). “Food Security”
    (PDF)
    (2). Diarsipkan bermula varian asli
    (PDF)
    rontok 2017-05-18. Diakses tanggal
    June 8,
    2012
    .




  3. ^


    a




    b



    Food self-sufficiency rate fell below 40% in 2010 Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine., Japan Times, Aug. 12, 2011

  4. ^


    “RUU Pangan Polemis India Disetujui”. BBC. 3 September 2013.




  5. ^


    Raj Patel (20 Nov 2013). “Raj Patel: ‘Food sovereignty’ is next big idea”
    ((perlu mendaftar)).
    Financial Times
    . Diakses tanggal
    17 Jan
    2014
    .





  6. ^


    Food and Agriculture Organization (November 1996). “Rome Declaration on Food Security and World Food Summit Plan of Action”. Diakses tanggal
    26 October
    2013
    .




  7. ^


    a




    b




    c




    d




    Gregory, P. J.; Ingram, J. S. I.; Brklacich, M. (29 November 2005). “Climate change and food security”.
    Philosophical Transactions of the Boros Society B: Biological Sciences.
    360
    (1463): 2139–2148. doi:10.1098/rstb.2005.1745.




  8. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    FAO (1997). “The food system and factors affecting household food security and nutrition”.
    Agriculture, food and nutrition for Africa: a resource book for teachers of agriculture. Rome: Agriculture and Consumer Protection Department. Diakses tanggal
    15 October
    2013
    .




  9. ^


    a




    b




    c




    d




    Godfray, H. C. J.; Beddington, J. R.; Crute, I. R.; Haddad, L.; Lawrence, D.; Muir, J. F.; Pretty, J.; Robinson, S.; Thomas, S. M.; Toulmin, C. (28 January 2010). “Food Security: The Challenge of Feeding 9 Billion People”.
    Science.
    327
    (5967): 812–818. doi:10.1126/science.1185383.




  10. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Tweeten, Luther (1999). “The Economics of Menyeluruh Food Security”.
    Review of Agricultural Economics.
    21
    (2): 473–488. Diakses copot
    15 October
    2013
    .





  11. ^


    United Nations Committee on Economic, Social, and Cultural Rights (1999).
    The right to adequate food. Geneva: United Nations.




  12. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    Ecker and Breisinger (2012).
    The Food Security System
    (PDF). Washington, D.D.: International Food Policy Research Institute. hlm. 1–14.




  13. ^


    a




    b




    c




    Garrett, J and Ruel, M (1999).
    Are Determinants of Rural and Urban Food Security and Nutritional Status Different? Some Insights from Mozambique
    (PDF). Washington, D.C.: International Food Policy Research Institute. Diakses sungkap
    15 October
    2013
    .





  14. ^


    “Food Security in the United States: Measuring Household Food Security”. USDA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-09-18. Diakses tanggal
    2008-02-23
    .





  15. ^


    “The Earth Is Shrinking: Advancing Deserts and Rising Seas Squeezing Civilization”. Earth-policy.org. Diarsipkan dari versi tahir tanggal 2009-08-10. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  16. ^


    Ian Sample in science correspondent (August 30, 2007). “Mendunia food crisis looms as climate change and population growth strip fertile land”.
    The Guardian. UK. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  17. ^


    “Africa may be able to feed only 25% of its population by 2025”. News.mongabay.com. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  18. ^


    Robin McKie and Xan Rice (April 22, 2007). “Millions face famine as crop disease rages”.
    The Guardian. UK. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  19. ^


    “Billions at risk from wheat super-blight”.
    New Scientist Magazine
    (2598): 6–7. April 3, 2007. Diarsipkan terbit versi jati rontok 2007-05-09. Diakses tanggal
    2007-04-19
    .





  20. ^


    “IRAN: Killer fungus threatens wheat production in western areas”. Alertnet.org. Diarsipkan pecah versi polos tanggal 2009-09-18. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  21. ^

    Hanan Sela, University of Haifa, Israel See DIVERSEEDS short video Diarsipkan 2009-03-05 di Wayback Machine.

  22. ^


    Vincent HA, Wiersema J, Dobbie SL, Kell SP, Fielder H, Castañeda Alvarez NP, Guarino L, Eastwood R, Leόn B, Maxted N. (2012),
    A prioritised crop wild relative inventory to help underpin mondial food security. (in preparation)





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



  23. ^


    “Water Scarcity Crossing National Borders”. Earth-policy.org. September 27, 2006. Diarsipkan berpokok varian kudus rontok 2009-07-08. Diakses sungkap
    November 13,
    2011
    .





  24. ^


    “India grows a grain crisis”.
    Asia Times. July 21, 2006. Diarsipkan berbunga versi tulen tanggal 2018-02-21. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  25. ^


    “Outgrowing the Earth”. Globalenvision.org. November 23, 2005. Diarsipkan dari versi zakiah tanggal 2016-06-11. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  26. ^


    “The Food Bubble Economy”. I-sis.org.uk. April 12, 2002. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  27. ^

    Mondial Water Shortages May Lead to Food Shortages-Aquifer Depletion Diarsipkan 2007-07-04 di Archive.is. Greatlakesdirectory.org.

  28. ^


    “Conference on Water Scarcity in Africa: Issues and Challenges”. Diarsipkan berbunga versi asli tanggal 2016-04-01. Diakses tanggal
    18 March
    2013
    .





  29. ^


    “Coping With Water Scarcity: Challenge of the 21st Century”
    (PDF)
    . Diakses tanggal
    18 March
    2013
    .





  30. ^


    Felicity Lawrence (September 15, 2010). “How Peru’s wells are being sucked dry by British love of asparagus | Environment”.
    The Guardian. UK. Diakses tanggal
    2011-03-16
    .





  31. ^


    Lawrence, Felicity (September 15, 2010). “Big business clear winner in Peru’s asparagus industry | Global development | guardian.co.uk”.
    The Guardian. UK. Diakses terlepas
    2011-03-16
    .





  32. ^

    Rich countries launch great land grab to safeguard food supply, The Guardian, November 22, 2008

  33. ^


    “Arable Land, the new gold rush : African and poor countries cautioned”. En.afrik.com. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  34. ^


    “Futehally, Ilmas, The Geopolitics of Food, Virtue Science”. Virtuescience.com. Diarsipkan berpangkal versi kalis tanggal 2011-01-08. Diakses terlepas
    November 13,
    2011
    .





  35. ^

    Harvey, Fiona. 2011.
    Extreme weather will strike as climate change takes hold, IPCC warns

  36. ^


    Strategic Foresight Group (March 2013). “Blue Peace for the Nile”.




  37. ^

    Climate & Development Knowledge Network. 2012.
    Managing Climate Extremes and Disasters in the Agricultural Sector: Lessons from the IPCC SREX Report

  38. ^


    “Big melt threatens millions, says UN”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-08-19. Diakses tanggal
    2014-01-05
    .





  39. ^


    english@peopledaily.com.cn (July 24, 2007). “Glaciers melting at alarming speed”.
    People’s Daily
    . Diakses copot
    November 13,
    2011
    .





  40. ^


    “Ganges, Indus may titinada survive: climatologists”. Rediff.com. December 31, 2004. Diakses rontok
    November 13,
    2011
    .





  41. ^


    Singh, Navin (November 10, 2004). “Himalaya glaciers melt unnoticed”. BBC News. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  42. ^


    “Glaciers Are Melting Faster Than Expected, UN Reports”. ScienceDaily. March 17, 2008. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  43. ^


    “Issues In Food Security”
    (PDF). Diarsipkan dari versi steril
    (PDF)
    rontok 2009-11-06. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .





  44. ^

    Loading the Climate Dice July 22, 2012 Paul Krugman

  45. ^


    “Impacts of Climate Change on Food Security”. Diarsipkan dari versi nirmala tanggal 2008-10-16. Diakses rontok
    2014-01-05
    .





  46. ^


    “Issues In Climate Change”
    (PDF). Diarsipkan dari versi nirmala
    (PDF)
    copot 2009-11-06. Diakses tanggal
    November 13,
    2011
    .




Bahan bacaan tersapu

  • Cox, P. G., S. Mak, G. C. Jahn, and S. Mot. 2001. Impact of technologies on food security and poverty alleviation in Cambodia: designing research processes. pp. 677–684 In S. Peng and B. Hardy [eds.] “Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation.” Proceeding the International Rice Research Conference, March 31, – April 3, 2000, Cak dol Baños, Philippines: International Rice Research Institute. 692 p.
  • Singer, H. W. (1997). A mendunia view of food security.
    Agriculture + Rural Development, 4: 3–6. Technical Center for Agricultural and Rural Development (CTA).
  • von Braun, Joachim; Swaminathan, M. S.; Rosegrant, Mark W. 2004. Agriculture, food security, nutrition and the Millennium Development Goals (Annual Report Essay) Washington, D.C.: International Food Policy Research Institute (IFPRI)
  • Biotechnology, Agriculture, and Food Security in Southern Africa edited by Steven Were Omamo and Klaus von Grebmer (2005) (Brief and Book available)
  • Brown ME, Funk CC (February 2008). “Climate. Food security under climate change”.
    Science.
    319
    (5863): 580–1. doi:10.1126/science.1154102. PMID 18239116.



    .
  • Lobell DB, Burke MB, Tebaldi C, Mastrandrea MD, Falcon WP, Naylor RL (February 2008). “Prioritizing climate change adaptation needs for food security in 2030”.
    Science.
    319
    (5863): 607–10. doi:10.1126/science.1152339. PMID 18239122.



  • Introduction to the Basic Concepts of Food Security EC-FAO Food Security Programme (2008) Practical Guide Series
  • The environmental food crisis Diarsipkan 2016-12-18 di Wayback Machine. A study done by the UN on feeding the world population (2009)
  • Climate change: Impact on agriculture and costs of adaptation A report by the International Food Policy Research Institute that presents research results that quantify the impacts of climate change, assesses the consequences for food security, and estimates the investments that would offset the negative consequences for human well-being.
  • Moseley, W.G. and B.I. Logan. 2005. “Food Security.” In: Wisner, B., C. Toulmin and R. Chitiga (eds). Toward a New Map of Africa. London: Earthscan Publications. Pp. 133–152.
  • Food Security Communications Toolkit from the Food and Agriculture Organization of the UN
  • Nord, Mark. “Struggling To Feed the Family: What Does It Mean To Be Food Insecure?”.


  • Food Insecurity, a special issue on the topic by the Journal of Applied Research on Children. (2012)

Pranala asing

  • FAO Food Security Statistics
  • World Summit on Food Security
  • The World Food Summit
  • The Mendunia Food Security and Nutrition Forum (FSN Forum)
  • e-learning about Right to Food
  • Global Food Security Threatened by Corporate Land Grabs in Poor Countries – video report by
    Democracy Now!
  • Video: Food Security and Its Impact on International Development and HIV Reduction Diarsipkan 2009-01-03 di Wayback Machine. (October 16, 2006) A Woodrow Wilson Center event featuring Jordan Dey, UNFP; William Noble, Africare; and Suneetha Kadiyala, IFPRI
  • CSRL, Iowa State’s cooperative aid program
  • Can China Feed Itself? A System for Evaluation of Policy Options. Diarsipkan 2013-10-01 di Wayback Machine.
  • Food Security Communications Toolkit from FAO
  • Food Security: Center for Global Studies at the University of Illinois Diarsipkan 2013-08-03 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Ketahanan_pangan

Posted by: holymayhem.com