Jelaskan Menurut Anda Kesalahan Utama Dalam Memulai Bisnis E Commerce

Melakukan niaga di dunia lelembut (e-commerce) sekelas sekali berbeda dengan mengelola firma jamak. Selain dibutuhkan ketekunan dan kreativitas yang terus-menerus, strategi yang tepat perlu disusun dan dikembangkan agar keunggulan kompetitif yang dimiliki dapat terus dipelihara dan ditingkatkan. Statistik mencatat bahwa dari seluruh perusahaan berbasis internet yang tumbuh, hanya selingkung 20% yang rani bersikeras untuk beroperasi privat perian masa nan cukup jenjang. Amir Hartman dan rekan-rekan dalam bukunya “Net Ready” menemukan 7 (tujuh) kesalahan mendasar yang menyebabkan terjadinya kegagalan cak bagi mayoritas pelaku memikul e-commerce yang ada di bumi (Hartman, 2000). Dikatakan mendasar karena hampir seluruh situs yang “mati” mengamalkan satu atau lebih kesalahan umum tersebut. Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai kesalahan-kesalahan tercalit.

“Field of Dreams” Syndrome

Sindrom “Field of Dreams” menempati pujuk pertama sebagai jenis kesalahan klasik yang minimal banyak terjadi di plural perusahaan e-commerce. Yang dimaksud dengan Sindrom “Field of Dreams” adalah keyakinan para pembina dan pengelola situs bahwa seandainya sebuah hipotetis niaga e-commerce tertentu diperkenalkan, maka pelanggan akan hinggap dengan sendirinya (kodrati) karena sosi tarik dagangan atau servis yang terserah. Keyakinan nan cenderung berkepribadian oper confidence ini berhasil tidak adanya kehausan cak bagi mengerjakan usaha-persuasi semacam studi kelayakan alias market testing terlebih lewat. Atau dengan kata tak, tanpa ki memenungkan apakah barang/jasa yang ditawarkan akan laku atau bukan, penanaman modal buat membangun dan mengembangkan bisnis e-commerce spontan dilakukan. Antisipasi keuangan sekali lagi biasanya disusun dengan mempergunakan asumsi best case scenario karena unsur pengapit diri yang berlebihan tersebut. Model bisnis ini lazimnya akan segera mati jikalau harapan akan datangnya pelanggan dengan jumlah yang telah ditargetkan lain terjadi. Bisnis sulit buat bangkit kembali mengingat alokasi keuangan (keuangan) telah dilakukan sedemikian rupa dengan anggapan bahwa best case scenario akan terwujud.

Sumber: Amir Hartman, 2000

Inadequate Architecture

Tidak rumit suatu bisnis model e-commerce nan berpeluang ki akbar untuk sukses harus kandas karena enggak adanya fasilitas atau spesifikasi arsitektur teknologi proklamasi nan memadai. Contohnya adalah pemutaran film atau multimedia melalui internet (e-movie) yang belaka dapat terwujud jikalau tersaji bandwidth komunikasi yang memadai. Contoh enggak yaitu kemusykilan sejumlah situs yang menawarkan free download untuk memperoleh jumlah pelanggan yang diharapkan karena rata-rata konsumen internet di negara berkembang merasa rugi untuk melakukan download nan memakan periode cukup lama, sehingga mereka harus membayar mahal biaya telepon. Belum tingginya faktor kehampaan karena sering putusnya asosiasi komunikasi saat proses download semenjana berjalan. Hal serupa lagi dialami oleh beberapa pelanggan yang ingin berkomunikasi menerobos instrumen semacam infotalk hendaknya pulsa telepon internasional dapat dibayar dengan harga tempatan. Relasi berbasis Voice over Internet Protocol ini tidak akan efektif jika provider yang bersangkutan sedang berada dalam peak traffic.

Putting Lipstick on a Bulldog

Terlepas mulai sejak bermacam ragam jenis maupun kategori e-commerce seperti mana B-to-B ataupun B-to-C, secara paradigma arsitektur teknologi informasi yang dipergunakan bisa dibagi menjadi dua sistem raksasa, adalah sistem front office (SFO) dan sistem back office (SBO). Plong dasarnya, situs alias website adalah user interface dari SFO karena sifatnya yang menghubungkan pengguna dengan firma. Sehingga seringkali perusahaan mengalokasikan sebagian besar sumber daya-nya untuk membangun sistem ini agar tanpak bagus dan menyedot di mata pemakai. Situasi ini wajar untuk dilakukan mengingat dalam dunia niskala, konsumen hanya berhadapan dengan sebuah situs bagaikan representasi bersumber perusahaan. Penelitian memperlihatkan bahwa desain situs yang kurang meruntun dan tidak user friendly mengurangi minat pengguna untuk melakukan transaksi atau interaksi bisnis lainnya. Karena terlalu menegaskan diri pada SFO, sama sekali perusahaan lupa untuk membangun sistem administratifnya atau SBO, yang sebenarnya ialah aktivitas penunjang transaksi bisnis yang ada. Contohnya adalah situs yang menawarkan jasa lelang (auction) di internet. Setelah seseorang memenangkan sebuah sesi lelang, nan berkepentingan harus segera berhubungan dengan SBO untuk menguasai permasalahan hukum dan administratifnya, seperti transfer pembayaran, serah terima barang, pesong nama, komplikasi perpajakan, dan enggak sebagainya. Jika perusahaan gagal menawarkan suatu penyelesaian SBO yang baik kepada konsumen, tidak mustahil lambat laun firma akan kekurangan para pelanggan. Harap diperhatikan bahwa terserah dua keberagaman SBO, yaitu yang masih dikelola secara manual, dan yang sudah lalu menggunakan akomodasi tuntutan dan komputer (mekanisasi).

Islands of Webification

Konsep pengembangan situs yang berbasis obyek, selain memudahkan ahli grafis dan pengembang sistem aplikasi lakukan menambah dan mengurangi modul, menimbulkan pula permasalahan tersendiri di kemudian hari. Kebanyakan desainer situs biasanya lebih memilih pendekatan “sumbat kerawang” dibandingkan dengan berbuat perencanaan nan matang tentang konsep situs cak bagi jangka pendek, sedang, dan tataran. Hal ini sepan dapat dimengerti karena tak jarang bermula mereka nan masih menggunakan pendekatan trial-and-error dalam menargetkan icons yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan minat pelanggan. Terlepas dari apakah perusahaan telah memiliki konsep pembangunan situs secara sedikit berangsur-angsur atau tidak, yang harus diperhatikan adalah dimilikinya satu konsep blue print untuk mencegah terjadinya efek-efek destruktif yang mana tahu ditimbulkan karena adanya pengembangan situs website yang tidak terorganisasi. Adanya islands of webification nan tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya akibat sebagai berikut:
1. Hubungan antar data menjadi tidak terkontrol sehingga mengurangi tingkat reliability dan accuracy data ataupun informasi nan diolah;
2. Menurunnya tingkat sistem keamanan (security system) karena banyaknya modul-modul “terlarang” yang belum terdeteksi;
3. Semakin lambatnya kinerja sistem karena semakin besarnya beban aplikasi nan dibangun secara lain optimum;
4. Sulitnya melakukan updating karena jumlah modul yang semakin kian besar dan tak terkendali;
5. Minimnya kontrol terhadap tiap-tiap modul karena keterbatasan perigi ki akal nan dimiliki perusahaan; dan lain sebagainya.

Tidak mustahil chaos dapat terjadi terhadap situs yang tidak terkelola dengan baik. Belum pula jika adanya faktor-faktor kesengajaan lain seperti halnya ragam hackers dan crackers.

“Me too” Strategies

Internal bahasa Indonesia, strategi “ee too” buruk perut diistilahkan dengan “latah” ataupun “ikut-ikutan”. Lihatlah bagaimana seluruh firma meniru-niru cak bagi terjun ke e-commerce tanpa mengetahui dasar-dasar pemikiran dan filosofi yang melatarbelakanginya. Maupun membanjirnya perusahaan-perusahaan lokal bagi membentuk situs gapura, sonder mengetahui seluk beluk atau aspek bisnis yang ditawarkan. Sesungguhnya konsep me too ini bukan riuk sejauh nan bersangkutan paham benar mengenai peluang-peluang menggalas yang ditawarkan dan mengapa berbagai macam perusahaan mencoba cak bagi memanfaatkannya. Sebab jika tidak, yang akan terjadi adalah sebuah pemborosan sumber sendi yang dimiliki, kesulitan buat menemukan keunggulan kompetitif, kekusutan privat mencampuri manajemen operasional sehari-musim, yang akan bermuara pada ketidakmampuan bisnis untuk bertahan. Contohnya adalah pemberitahuan bahwa bisnis ki marak di Amerika karena adanya faktor exit strategy yang cenderung berkepribadian hit-and-run setelah perusahaan yang bersangkutan memiliki market value yang tinggi. Kredit pasar sangat ditentukan oleh hitting rate berbunga situs nan bersangkutan, karena masyarakat Amerika memiliki potensi bikin mengerjakan bisnis melalui e-commerce. Semakin banyak manusia nan mengakses situs ki akan semakin menambah biji pasar perusahaan. Apakah hitting rate juga dapat secara efektif meningkatkan value berpunca perusahaan di Indonesia?


One-Time-Effort-Mentality


Tak semua perusahaan e-commerce yaitu a start up company. Umumnya justru yaitu anak perusahaan atau bahkan salah satu divisi berpokok perusahaan-perusahaan yang telah lama berkembang. Terhadap varietas firma yang bungsu ini, biasanya berkembang suatu “kelainan” turunan merupakan kepuasan nan timbul setelah situsnya berhasil diluncurkan ke internet (launching). Mereka cenderung menganggap remeh maupun enteng proses sesudah itu, karena lakukan mereka tidak lebih pecah urusan operasional atau administratif biasa. One-Time-Effort-Mentality ini akan mengakibatkan perusahaan nan bersangkutan hanya makmur bertahan seumur milu saja, karena di dalam dunia tanwujud, suntuk mudah untuk meniru apa yang dilakukan makanya firma tidak. Daya sukses kulak e-commerce merupakan ketekunan buat memelihara sistem yang berjalan dan selalu membuat kreasi nan baru secara kontinyu. E-commerce adalah business of its own, artinya jual beli ini tak dapat disambi melainkan harus dianggap umpama sebuah perusahaan sendiri. Alokasi sumberdayanyapun harus didedikasikan sedemikian rupa sehingga tak menggangu jalannya proses bisnis yang cak semau (jangan dirangkap dengan aktivitas bisnis konvensional).

Thinking too Small

Berbisnis di dunia maya berarti berinteraksi dengan seluruh konsumen yang cak semau di seluruh marcapada, sehingga pola pikir sempit harus segera diubah. Boleh jadi perbahasaan yang tepat dalam menekuni kulak ini merupakan “think globally, act globally” karena di n domestik dunia internet dikenal konsep “sebuah perusahaan tidak perlu besar untuk menjadi besar”, yang artinya bahwa nilai aset bukan memiliki relevansi yang tinggi terhadap tingkat keberhasilan bisnis. Berfikir sederhana ataupun terlalu sempit dalam melakukan kulak e-commerce akan mempermudah perusahaan lain untuk memenangkan persaingan. Di samping itu perlu diperhatikan pula bahwa konsumen perumpamaan koteng manusia tidak hubungan berhenti dalam memperoleh kepuasannya. Yang bersangkutan akan terus menerus menuntuk sesuatu hal yang baru dan lebih baik. Firma dengan visi dan misinya harus mampu untuk menjawab permintaan pasar ini. Filosofi firma sahih dapat dipergunakan di sini, yaitu suatu prinsip bahwa jikalau mendirikan sebuah perusahaan, tuan dan pengelola harus menjawat mandu bahwa firma tersebut akan last forever, dalam arti prolog akan terus berkembang sampai beberapa generasi

Source: https://yurindra.wordpress.com/e-commerce/kesalahan-utama-memulai-bisnis-di-dunia-maya/

Posted by: holymayhem.com