Hasil Samping Dari Tanaman Sayuran Kentang Adalah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia objektif

Kentang
Solanum tuberosum

Edit the value on Wikidata

234 Solanum tuberosum L.jpg


Edit the value on Wikidata

Data
Sumur dari potato
(en)
Terjemahkan
dan Tepung kentang

Edit the value on Wikidata
Pokok kayu
Jenis buah Buah beri

Edit the value on Wikidata
Taksonomi
Divisi Tracheophyta
Subdivisi Spermatophytes
Klad Angiosperms
Klad mesangiosperms
Klad eudicots
Klad core eudicots
Klad asterids
Klad lamiids
Ordo Solanales
Famili Solanaceae
Subfamili Solanoideae
Tribus Solaneae
Genus Solanum
Varietas
Solanum tuberosum

Edit the value on Wikidata




Linnaeus, 1753

Kentang,
ubi ubi belanda,
ubi belanda, alias
singkong benggala
yakni pohon pecah suku Solanaceae yang memiliki pangkal pohon batang yang dapat dimakan dan disebut “kentang”. Umbi ubi benggala waktu ini sudah lalu menjadi salah satu makanan pokok bermanfaat di Eropa walaupun lega awalnya didatangkan dari Amerika Kidul.

Penjelajah Spanyol dan Portugis pertama siapa membawa ke Eropa dan menangkarkan pohon ini.

Tanaman kentang asalnya berusul Amerika Selatan dan telah dibudidayakan oleh penduduk di sana sejak ribuan tahun silam. Pohon ini yakni herba (tanaman pendek lain berkayu) semusim dan mengesir iklim nan sejuk. Di daerah tropis cocok ditanam di dataran tingkatan.

Rente abstrak dan tersusun majemuk. Dimensi cukup segara, dengan kaliber selingkung 3 cm. Warnanya berkisar dari ungu sampai putih.

Persebaran

[sunting
|
sunting sumur]

Menurut sejarahnya, kentang bersumber dari lembah-lembang lembang janjang di Chili, Peru, dan Meksiko. Macam tersebut diperkenalkan nasion Spanyol bermula Peru ke Eropa sejak periode 1565. Berpokok itulah, kentang memencar ke negara-negara lain -termasuk Indonesia-. Menurut catatan awal di Indonesia, pokok kayu ini tiba suka-suka bermula hari 1794, dimulai dengan penanaman di selingkung Cimahi.[1]
Semenjak itu, kentang dapat ditemui pula di Priangan dan Gunung Tengger. Pada tahun 1812, kentang sudah lalu dikenal dan dijual di Kedu. Sedangkan, di Sumatra pohon ini dikenal setahun sebelumnya, 1811. Ubi benggala merecup di gunung-gunung dengan ketinggian antara 1000 mdpl hingga 2000 mdpl, pada tanah humus. Tanah tempat salakan gunung berapi yang bersistem serpihan makin disukai.[1]

Manfaat dan venom

[sunting
|
sunting sumber]

Ubi benggala dikenali turunan andai lambung gerendel di asing negeri. Ini karena kentang mengandung karbohidrat. Di Indonesia sendiri, ubi benggala masih dianggap sebagai sayuran yang mewah. Doang demikian, ubi belanda adalah nafkah yang legit serta adv amat bervitamin.[2]
Juga dikenali mengandung sejumlah vitamin dari A, B-obsesi, hingga C, hingga asam folat. Lagi mineral, zat putih telur, fruktosa, karotenoid, dan polifenol. Privat tubuh kentang ini, juga ada zat solanin yang dikenal misal pembeli penenang, antikejang, antijamur, dan pestisidal.[3]
Vitamin C yang terkandung dalam kentang setiap 100 g merupakan 17 mg. Selain terkandung fruktosa dan rabuk-jamur, mineral yang cak semau padanya antara bukan merupakan zat besi, fosfor, dan kalium.[4]
Kompresan air kentang ini dikenal sangat membantu penyembuhan jejas pada kulit, sampai-sampai di negara miskin yang sulit menanamkan kulit. Sahaja demikian, manakala kentang terpapar cahaya, kentang dapat saja membuat glikoalkaloid nan dinamakan solanin secara berlebih, sehingga jadilah berbahaya untuk dikonsumsi. Bahaya nan bisa terjadi ialah terganggunya sistem saraf, gosong tenggorokan, sakit kepala, paralisis/lumpuh tungkai, dan raga mendingin. Apabila dosis sudah 3–6 mg, akibat boleh fatal. Pengobatan yang bisa dilakukan yakni menjatah arang aktif/norit, basuh lambung, dan diberi cairan infus.[3]
Sebab itu, bikin penangkalan terjadinya solanin pada kentang yang hendak dikonsumsi itu, maka letakkan ubi belanda di ajang yang gelap. Memasak solanin pada guru tinggi, dapat menghanyutkan sebagian solanin. Pun, hindari mengonsumsi kentang yang sudah berkecambah dan bercat bau kencur di bagian bawah kulit, karena alkaloid solaninnya sudah tinggi dan sudah sangat beracun.[3]

Kentang di picisan

[sunting
|
sunting sumber]

Bermacam-varietas umbi ubi belanda di pasar.

Di pasaran, kentang dipisah-pisahkan menurut ukurannya dan dinamakan kualitas A, B, C, dan D. Kualitas A yaitu yang terbaik. Pelafalan ‘ubi benggala kualitas AB’ berarti fusi dari kualitas A dan B.

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ubi belanda hitam (kentang kleci)

Referensi

[sunting
|
sunting sendang]

  1. ^


    a




    b



    Sastrapradja, Setijati; Soetjipto, Niniek Woelijarni; Danimihardja, Sarkat; Soejono, Rukmini (1981).
    Order Penelitian Potensi Sumber Pokok Ekonomi:Ubi-Ubian.
    7. hal. 45. Jakarta: LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka.

  2. ^


    Sunarjono, Hendro
    (2015).
    Berladang 36 Jenis Sayur. hlm.45 – 53. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 978-979-002-579-0.
  3. ^


    a




    b




    c




    Dalimartha, Setiawan; Adrian, Felix
    (2011).
    Manfaat Buah dan Sayur. hlm. 119 – 123. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 978-602-8661-51-5.

  4. ^


    Hermani; Rahardjo, Mono
    (2005).
    Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Hlm. 72 – 73. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 979-489-877-5.
  • Economist. “Llamas and mash”,
    The Economist
    28 February 2008 online
  • Economist. “The potato: Spud we like”, (leader)
    The Economist
    28 February 2008 online
  • Boomgaard, Peter (2003). “In the Shadow of Rice: Roots and Tubers in Indonesian History, 1500–1950”.
    Agricultural History.
    77
    (4): 582–610. doi:10.1525/ah.2003.77.4.582. JSTOR 3744936.



  • Hawkes, J.G. (1990).
    The Potato: Evolution, Biodiversity & Genetic Resources, Smithsonian Institution Press, Washington, D.C.
  • Lang, James. (2001)
    Notes of a Potato Watcher
    (Texas A&M University Agriculture Series) excerpt and text search* Langer, William L. “American Foods and Europe’s Population Growth 1750–1850”,
    Journal of Social History
    (1975) 8#2 pp. 51–66 in JSTOR
  • McNeill, William H. “How the Potato Changed the World’s History.”
    Social Research
    (1999) 66#1 pp 67–83. ISSN 0037-783X Fulltext: Ebsco, by a leading historian
  • McNeill William H (1948). “The Introduction of the Potato into Ireland”.
    Journal of Modern History.
    21
    (3): 218–21. doi:10.1086/237272. JSTOR 1876068.



  • Ó Gráda, Cormac.
    Black ’47 and Beyond: The Great Irish Famine in History, Economy, and Memory.
    (1999). 272 pp.
  1. Ó Gráda, Cormac, Richard Paping, and Eric Vanhaute, eds.
    When the Potato Failed: Causes and Effects of the Last European Subsistence Crisis, 1845–1850.
    (2007). 342 pp. ISBN 978-2-503-51985-2. 15 essays by scholars looking at Ireland and all of Europe
  • Reader, John.
    Propitious Esculent: The Potato in World History
    (2008), 315pp a bendera scholarly history
  • Salaman, Redcliffe N. (1989).
    The History and Social Influence of the Potato, Cambridge University Press (originally published in 1949; reprinted 1985 with new introduction and corrections by J.G. Hawkes).
  • Stevenson, W.R., Loria, R., Franc, G.D., and Weingartner, D.P. (2001)
    Compendium of Potato Diseases, 2nd ed, Amer. Phytopathological Society, St. Paul, Minnesota.
  • Zuckerman, Larry.
    The Potato: How the Humble Spud Rescued the Western World.
    (1998). 304 pp. Douglas & McIntyre. ISBN 0-86547-578-4.

Bacaan lanjutan

[sunting
|
sunting mata air]

  • Bohl, William H.; Johnson, Steven B., ed. (2010).
    Commercial Potato Production in North America: The Potato Association of America Handbook
    (PDF). Second Revision of American Potato Journal Supplement Volume 57 and USDA Handbook 267. The Potato Association of America. Diarsipkan berusul versi kudrati
    (PDF)
    tanggal 2012-08-16. Diakses tanggal
    2016-12-30
    .



  • Humble’ Potato Emerging as World’s Next Food Source”.
    column. Japan. 11 May 2008. hlm. 20.



  • Spooner, David M.; McLean, Karen; Ramsay, Gavin; Waugh, Robbie; Bryan, Glenn J. (October 2005). “A single domestication for potato based on multilocus amplified fragment length polymorphism genotyping”.
    Proc. Natl. Acad. Sci. USA.
    102
    (41): 14694–14699. doi:10.1073/pnas.0507400102. PMC1253605alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 16203994.



  • The World Potato Atlas at Cgiar.org Diarsipkan 2017-07-05 di Wayback Machine., released by the International Potato Center in 2006 and regularly updated. Includes current chapters of 15 countries:
    • South America: (English and Spanish): Bolivia, Colombia, Ecuador, Peru
    • Africa: Cameroon, Ethiopia, Kenya
    • Eurasia: Armenia, Bangladesh, China, India, Myanmar, Nepal, Pakistan, Tajikistan
    • 38 others as brief “archive” chapters
    • Further information links at Cgiar.org Diarsipkan 2017-07-05 di Wayback Machine..
  • World Geography of the Potato at UGA.edu Diarsipkan 2006-06-04 di Wayback Machine., released in 1993.
  • Gauldie, Enid (1981). The Scottish Miller 1700–1900. Pub. John Donald. ISBN 0-85976-067-7.
  • GLKS Potato Database
  • Centro Internacional de la Papa: CIP (International Potato Center)
  • World Potato Congress
  • British Potato Council
  • Online Potato Pedigree Database for cultivated varieties
  • Potato Information & Exchange
  • GMO Safety: Genetic engineering on potatoes Diarsipkan 2011-01-10 di Wayback Machine. Biological safety research projects and results
  • International Year of the Potato 2008
  • Solanum tuberosum (potato, papas): life cycle, tuber anatomy at GeoChemBio Diarsipkan 2022-04-08 di Wayback Machine.
  • Potato Genome Sequencing Consortium Diarsipkan 2009-09-01 di Wayback Machine.
  • Potato storage and value Preservation Diarsipkan 2020-08-06 di Wayback Machine.: Pawanexh Kohli, CrossTree techno-visors.
  • Potato, in Cyclopedia of American Agriculture Diarsipkan 2012-01-28 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kentang

Posted by: holymayhem.com