Harga Tanaman Petani Sayur Yang Harganaya Relatif Stabil

AMBULU,

RADARJEMBER.ID –
HARGA
barang pertanian sayur-mayur sepan fluktuatif. Misalnya cili, tomat, atau kubis. Beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya harga galibnya adalah semarak dan permohonan pasar. Jika cuaca baik dan petisi pasar tinggi, maka harga boleh melejit. Tetapi, ketika cuaca tidak bersahabat dan permintaan pasar lesu, maka harga kodrati lagi roboh.

Namun, tak semua spesies tanaman hortikultura bernasib seperti mana itu. Keseleo satunya merupakan terong. Harga sayuran berwarna ungu ini nisbi stabil dan menguntungkan. Oleh karena itu, Suroso, petani sumber akar Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, memilih membudidayakan tanaman tersebut karena dinilai lebih resistan kondisi. Tercantum di masa pandemi sebagai halnya sekarang ini.

Kepada
Jawa Pos Radar Jember, Suroso menyanggupi, awalnya dia sering mendulang untung ketika menanam brokoli. Menurutnya, brokoli lebih menjanjikan ketimbang embalau dan tomat. Selain harganya stabil, juga tidak banyak petani nan ikut-turutan memakamkan sayuran itu. “Dulu merica mahal, tomat murah. Sekarang sebaliknya. Cabai murah, tomat mahal. Karena memang banyak petani nan ikut-ikutan menanam. Jadi, suplai terhadap pasar bersisa banyak,” tuturnya.

Dia menyanggupi, puas awal pandemi perian lalu banyak komoditas pertanian, termasuk sayur-mayur, yang ambruk akibat pengapalan ke luar daerah tingkat tersendat. Namun, bagi brokoli tidak terpengaruh karena bagi mencukupi kebutuhan pasar lokal saja sudah cacat. Hanya, pada masa dahulu dia merugi karena tanaman brokoli banyak yang tembelang akibat terlambatnya perian hujan. “Brokoli ini suka dengan air. Kalau tidak anjlok hujan abu, maka enggak kaprikornus bermula dan boleh gagal pengetaman,” terangnya.

Pria yang juga Wakil ketua Ranting NU Ambulu ini menuturkan, meski waktu semalam dirinya menanam brokoli, tapi tetap tak meninggalkan terong. Sebab, selain perawatannya yang mudah dan murah, harganya kembali relatif stabil. Maka dari itu hingga waktu ini, bersama anggota kerubungan taninya, Suroso tidak korespondensi melepaskan tanaman terong. “Harga per kilogram minimum mahal sekitar Rp 12 mili, pernah juga Rp 2.500 masing-masing kilogram,” ucapnya.

Lain hanya menguntungkan secara ekonomi, Suroso mengungkapkan, tanaman terong sekali lagi bisa menjadi alat berbagi. Sebab, produksinya memang melimpah. Setelah memasuki perian panen, n domestik sepekan dirinya dapat memanen dua kali. Internal satu kali musim tanam, bisa mencapai 13 setakat 15 mungkin penuaian. Lebih lagi kian. Makanya, dia cangap mengangkut terong saat menunaikan salat Subuh bakal dibagikan kepada jamaah masjid.

“Terong ini suka-suka angka sedekahnya. Dan nan diberi biasanya lebih senang ketimbang dikasih uang dengan nominal yang sebagaimana nilai terong,” tuturnya. Persuasi berbagi terong inilah nan diyakininya menjadi jalan pembuka pintu tembolok. Jikalau waktu mungil anda bekerja menggembala sapi, masa ini berbalik. Dia sudah bukan lagi merawat sapi, tapi lembu-lembu miliknya itu dirawat oleh orang lain.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih

AMBULU,

RADARJEMBER.ID –
HARGA
produk pertanian sayur-mayur patut fluktuatif. Misalnya cabai, tomat, ataupun kubis. Beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya harga biasanya merupakan semarak dan tuntutan pasar. Jikalau cuaca baik dan permintaan pasar tinggi, maka harga bisa melejit. Sahaja, saat cuaca enggak bersahabat dan permohonan pasar lesu, maka harga otomatis juga anjlok.

Doang, tak semua varietas tanaman hortikultura bernasib seperti itu. Riuk satunya adalah terong. Harga sayuran berwarna ungu ini relatif stabil dan menguntungkan. Oleh karena itu, Suroso, pekebun asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, memilih membudidayakan tanaman tersebut karena dinilai lebih resistan kondisi. Termasuk di masa hawar sama dengan sekarang ini.

Kepada
Jawa Pos Radar Jember, Suroso mengaku, awalnya dia sering mendulang untung ketika menanam brokoli. Menurutnya, brokoli lebih prospektif ketimbang cabai dan tomat. Selain harganya stabil, juga tidak banyak pekebun yang ikut-sertaan mengebumikan sayuran itu. “Dulu cabai mahal, tomat murah. Waktu ini sebaliknya. Cabai murah, tomat mahal. Karena memang banyak penanam yang ikut-ikutan menanam. Jadi, suplai terhadap pasar terlalu banyak,” tuturnya.

Dia mengaku, pada sediakala pandemi tahun suntuk banyak barang pertanian, termasuk sayur-mayur, nan runtuh akibat pengangkutan ke luar kota tersendat. Namun, bagi brokoli tidak terpengaruh karena bikin mencukupi kebutuhan pasar tempatan namun sudah kurang. Hanya, plong tahun habis dia merugi karena tanaman brokoli banyak nan rusak akibat terlambatnya tahun hujan. “Brokoli ini suka dengan air. Kalau tidak anjlok hujan, maka lain jadi berbunga dan bisa gagal panen,” terangnya.

Pria yang juga Duta Ketua Ranting NU Ambulu ini menuturkan, kendati masa kemarin dirinya menguburkan brokoli, tapi tetap tidak meninggalkan terong. Sebab, selain perawatannya yang mudah dan murah, harganya juga relatif stabil. Makanya hingga kini, bersama anggota kelompok taninya, Suroso tidak pergaulan melepaskan tanaman terong. “Harga sendirisendiri kilogram paling mahal sekeliling Rp 12 mili, pernah juga Rp 2.500 per kilogram,” ucapnya.

Tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, Suroso mengungkapkan, tanaman terong juga bisa menjadi alat berbagi. Sebab, produksinya memang meluap. Setelah memasuki masa pengetaman, dalam seminggu dirinya bisa menuai dua kali. Kerumahtanggaan satu kali waktu tanam, bisa hingga ke 13 sampai 15 kali panen. Lebih lagi kian. Makanya, dia kerap mengirimkan terong detik menunaikan salat Pagi buta bikin dibagikan kepada jamaah masjid.

“Terong ini terserah nilai sedekahnya. Dan nan diberi biasanya lebih gemar ketimbang dikasih uang dengan nominal yang begitu juga nilai terong,” tuturnya. Kampanye berbagi terong inilah yang diyakininya menjadi urut-urutan pembuka pintu perut. Jika perian katai sira berkarya menggembala sapi, waktu ini berbalik. Dia sudah tak lagi merawat sapi, tapi lembu-lembu miliknya itu dirawat maka dari itu orang tak.

Nyamuk pers : Dwi Siswanto

Juru foto : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih

AMBULU,

RADARJEMBER.ID –
HARGA
produk perladangan sayur-mayur cukup fluktuatif. Misalnya cabai, tomat, atau kubis. Beberapa faktor yang memengaruhi menaiki turunnya harga galibnya merupakan cerah dan permohonan pasar. Takdirnya kilauan baik dan permintaan pasar tinggi, maka harga boleh melejit. Tetapi, momen nur tidak bersahabat dan petisi pasar lesu, maka harga kodrati sekali lagi anjlok.

Namun, tak semua diversifikasi pohon hortikultura bernasib seperti itu. Salah satunya yaitu terong. Harga sayuran bercat ungu ini relatif stabil dan menguntungkan. Oleh karena itu, Suroso, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, melembarkan menernakkan tanaman tersebut karena dinilai bertambah tahan kondisi. Termasuk di masa pandemi seperti sekarang ini.

Kepada
Jawa Pos Radar Jember, Suroso mengaku, awalnya dia sering mendulang untung ketika menanam brokoli. Menurutnya, brokoli lebih menjanjikan daripada lada dan tomat. Selain harganya stabil, pula tidak banyak pekebun nan latah menanam sayuran itu. “Dulu merica mahal, tomat murah. Sekarang sebaliknya. Merica murah, tomat mahal. Karena memang banyak petani yang latah menguburkan. Bintang sartan, suplai terhadap pasar bersisa banyak,” tuturnya.

Dia menanggung, pada awal pandemi perian dahulu banyak dagangan pertanian, teragendakan sayur-mayur, nan anjlok akibat pengiriman ke luar kota tersendat. Namun, bagi brokoli tak terpengaruh karena untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal saja sudah kurang. Doang, pada tahun habis sira merugi karena pokok kayu brokoli banyak yang rusak akibat terlambatnya musim hujan. “Brokoli ini senang dengan air. Takdirnya tidak turun hujan, maka tidak jadi berpangkal dan boleh gagal penuaian,” terangnya.

Pria nan pula Wakil ketua Ranting NU Ambulu ini menuturkan, kendati tahun kemarin dirinya menanam brokoli, tapi kukuh tak memencilkan terong. Sebab, selain perawatannya yang mudah dan murah, harganya juga relatif stabil. Maka dari itu sampai waktu ini, bersama anggota kelompok taninya, Suroso tidak pernah melepaskan pohon terong. “Harga per kilogram paling mahal sekitar Rp 12 ribu, pernah pun Rp 2.500 masing-masing kilogram,” ucapnya.

Bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, Suroso mengungkapkan, pohon terong juga bisa menjadi perkakas berbagi. Sebab, produksinya memang melimpah. Setelah memasuki masa panen, dalam sepekan dirinya dapat memanen dua barangkali. N domestik satu mungkin musim tanam, bisa mencapai 13 sampai 15 kali panen. Bahkan makin. Makanya, anda besar perut membawa terong saat menunaikan salat Fajar untuk dibagikan kepada jamaah sajadah.

“Terong ini suka-suka kredit sedekahnya. Dan yang diberi galibnya lebih senang ketimbang dikasih uang dengan nominal yang sama dengan nilai terong,” tuturnya. Gerakan berbagi terong inilah yang diyakininya menjadi jalan pembuka gerbang rezeki. Jikalau musim kecil dia bekerja menggembala sapi, saat ini berbalik. Ia sudah tak juga merawat sapi, tapi lembu-lembu miliknya itu dirawat oleh orang enggak.

Kuli tinta : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Pengedit : Mahrus Sholih

Source: https://radarjember.jawapos.com/ekonomi-bisnis/02/09/2021/buka-jalan-rezeki-dengan-terong/

Posted by: holymayhem.com