Gambar Tanaman Sayur Di Malino Kab Gowa

ASWIN RIZAL HARAHAP

Selain dikenal bak kawasan wisata, dataran panjang Malino, Kabupaten Gowa, menghasilkan plural spesies sayur-mayur yang melembak. Selama bertahun-masa, produk hortikultura terbit kewedanan di kaki Jabal Bawakaraeng itu menopang kebutuhan warga Kalimantan Timur hingga Papua.

N baruh tinggi Malino yang sejuk yakni keseleo suatu sentra sayuran terbesar di Sulawesi Daksina. Areal penghijauan sayur-mayur terhampar di Kecamatan Tinggimoncong, Tombolo Pao, dan Bungaya, selingkung 70 km arah tenggara Kota Makassar. Sayuran pun menjadi urat nadi perekonomian penduduk setempat.

Hampir 80 persen bersumber 30.000 semangat penduduk tiga kecamatan tersebut hidup sebagai petani. Ditemui di Kelurahan Pattapang, Tinggimoncong, Minggu (13/5), Suhardi (36), tengah memanen tomat biji kemaluan di atas lahan seluas 0,25 hektar miliknya. Setelah dua bulan menanam, ia bisa memanen panen 7-8 kali selama tiga bulan ke depan. Dengan produktivitas 1,5 ton per hektar, ia boleh mendapat rata-rata 600 kilogram (kg) tomat sekali panen.

Sebanyak enam kuintal tomat nan terkumpul dalam panen kali ini terjual ke pedagang pecah Merauke, Papua, seharga Rp 1,8 miliun. Suhardi mengantongi keuntungan 30-40 uang lelah setelah dipotong biaya operasional, begitu juga pupuk dan obat-obatan.

Penjualan hasil pengetaman ke luar wilayah juga dirasakan Baharuddin (38), warga Desa Kanreapia, Tombolo Pao. Sebanyak 2 ton kubis dan wortel dibeli pendatang dari Bontang, Kalimantan Timur, seharga Rp 3 juta.

Berusul transaksi itu, ia meraup laba bersih hingga 50 komisi. ”Selama tiga bulan masa pengetaman, ia boleh mendapat untung Rp 10 juta-Rp 12 juta,” ujar lelaki yang menggapil 0,5 hektar petak ini.

Proses penjualan itu terjadi atas peran serta petualang pengumpul yang lazimnya menjadi orang asisten juragan sayur-mayur asal Kaltim dan Papua. Saja, harga jual Rp 3.000 per kg (tomat) dan Rp 1.500 saban kg untuk kubis dan wortel merupakan wewenang petugas kecamatan yang menyurvei harga di beberapa pasar tradisional di Kota Makassar.

Menurut Suhardi, keberadaan pengelana penadah justru mendukung hasil panen cepat terjual sehingga tidak mudah tembelang.

Ismail (40), petani yang kini menjadi perantau penampung, mengatakan, alih profesi itu dipicu tingginya permohonan sayuran dari asing wilayah plong pertengahan tahun 1990.

Para pedagang pengumpul di sentra penghasil sayur-mayur masa ini berjumlah 12 orang. Mereka menampar ratusan ton komoditas hortikultura berbunga petani setiap minggu dan menjualnya ke berbagai provinsi di Sulsel, Kaltim, dan Papua. Dalam sehari, sebanyak 10 truk berkapasitas 9 ton mengapalkan sayuran melangkaui Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar.

Menurut Ismail, sayur-mayur diantarpulaukan menunggangi lima kapal feri yang tiap-tiap mampu membawa 14 ton. Biaya kapal feri berpokok Makassar ke Samarinda Rp 4,2 juta. Suka-suka tambahan biaya Rp 400.000 cak bagi pengangkutan sayur ke Bontang lewat perjalanan darat. Provisional kontrak kapal feri dari Makassar ke Merauke sebesar Rp 5,5 juta.

Atasan Dinas Persawahan Gowa, Asriawan Umar, mengatakan, produksi sayuran di lembang tinggi Gowa tahun lalu mencapai 109.970 ton berpokok areal tanam seluas dekat 5.000 hektar. Sebanyak 18 tipe barang hortikultura ditanam di dataran panjang Gowa. Delapan di antaranya komoditas primadona, sebagaimana ubi belanda, tomat biji zakar, wortel, kubis, daun kucai, buncis, tomat sayur, dan lombok merah.

Kubis dan tomat biji kemaluan menjadi komoditas terbanyak nan dikirim ke luar daerah. Sedikitnya 42 ton kubis dan 38 ton tomat buah dikirim ke Kaltim dan Papua setiap ahad. Sementara heksa- produk ulung tak secara rutin didistribusikan 5-10 ton tiap pekan.

Geliat perekonomian di dataran tinggi Gowa itu kian tampak terasa setelah Pemerintah Kabupaten Gowa membenahi sarana infrastruktur. Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo mengemukakan, pihaknya mengalokasikan dana APBD Rp 150 miliar untuk pembangunan 300 km kronologi puas perian 2006-2011. Sekitar 30 persen jalan di antaranya dibangun di kawasan sentra hortikultura.

Akselerasi pembangunan infrastruktur turut mengubah tampang desa pada umumnya. Petani enggak kesulitan lagi mengekspor hasil panen. Kuda yang sangat digunakan ibarat sarana pengangkut hasil panen atau ”pateke”, kini tergusur oleh sepeda biang kerok dan oto boks.

Pemkab Gowa juga membangun 11 barap di lima kecamatan di kawasan sentra hortikultura senilai Rp 1,1 miliar sejak masa 2008. Waduk berdosis kecil yang berfungsi menampung air hujan itu untuk mengantisipasi kehilangan bilamana tuarang tiba.

Membaiknya kondisi infrastruktur menembakkan motivasi para petambak cak bagi meningkatkan produksi. Mereka juga ramai-gegap-gempita bergabung dalam kelompok tani mudah-mudahan mendapat akomodasi untuk melebarkan usaha. Saat ini terdapat 36 kerumunan tani di Kanreapia. Sejak tahun silam, Pemkab Gowa memberikan pertolongan Rp 56 juta bagi tiap kelompok secara bergilir. Uluran tangan itu riil benih unggul, cendawan organik, pembeli-obatan, dan pelatihan penanaman dengan metode terkini.

Acara penyiapan fasilitas itu perlahan-persil tapi pasti efektif mengangkat taraf spirit warga dataran tinggi Gowa.

Dapatkan update
berita seleksian
dan
breaking news
setiap hari semenjak Kompas.com. Silakan bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://ufuk.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram malar-malar tinggal di ponsel.

Source: https://travel.kompas.com/read/2012/05/28/02541138/sayur-mayur.gowa.melintas.provinsi?page=all

Posted by: holymayhem.com